
Budi duduk termenung di kamarnya. Matanya jauh melihat ke luar rumah. Pikirannya saat ini sedang kusut. Ada banyak hal yang membuat ia merasa lelah akan keadaan yang tiba-tiba saja berubah setelah dirinya dihampiri mahkluk gaib.
Budi sering merasa di awasi ke manapun ia pergi. Badannya selalu terasa panas, seolah-olah sedang berada di bawah teriknya sinar matahari. Hatinya juga selalu terasa resah, entah apa yang sedang ia resah kan, Budi juga tidak mengerti.
"Budi."
Sebuah suara tiba-tiba membuyarkan lamunan Budi. Sontak saja, Budi menoleh kearah suara tersebut. Di sana, Yuni tersenyum manis sambil duduk di atas ranjang Budi.
"Mau apa kamu?" tanya Budi dengan malas.
Budi sudah terbiasa dengan kehadiran Yuni. Jadinya, ia tidak terlalu ambil pusing ketika Yuni muncul tiba-tiba. Mau kapanpun Yuni muncul, Budi tidak mau tahu lagi. Jika ditanya kaget atau tidak, sebenarnya, Budi masih merasa kaget ketika Yuni muncul. Karena Yuni muncul selalu mendadak.
Yuni berjalan pelan mendekati Budi. Gaun putihnya selalu menyentuh lantai ketika ia berjalan pelan. Yuni selalu terlihat cantik dan anggun. Namun, tidak pernah bisa meluluhkan hati Budi dengan kecantikan yang ia miliki.
"Kamu sedang apa?" tanya Yuni setelah mendekat.
"Bukan urusan mu." Budi menjawab dengan nada kesal.
"Ya, ya, ya. Aku tahu kamu akan menjawab pertanyaan ku dengan jawaban itu," kata Yuni dengan senyum tipis di bibirnya. Yuni seolah-olah sudah terbiasa dan tahu betul apa yang akan Budi katakan padanya.
"Budi, ayo ikut aku!"
"Tidak mau."
"Kenapa langsung memutuskan tidak mau padahal kamu belum tahu aku ingin mengajakmu kemana."
"Aku tidak perlu tahu karena aku tidak mau," ucap Budi kesal.
"Kamu yakin tidak mau, Budi?" tanya Yuni.
__ADS_1
"Ya." Budi menjawab singkat.
"Apa kamu tidak rindu dengan kekasih mu?"
Budi terdiam. Pertahanannya mulai goyah ketika Yuni menyingung soal Suci. Karena sesungguhnya, yang ada dalam pikiran Budi saat ini adalah, bagaimana keadaan Suci sekarang? Apakah dia baik-baik saja, atau tidak?
"Aku akan bawa kamu bertemu Suci, jika kamu mau."
"Apakah mungkin?" Budi mulai terpancing.
"Ya, itu sangat mungkin. Tentunya jika kamu setuju."
"Setuju soal apa?"
"Setuju ikut dengan ku," kata Yuni mulai merasa senang.
Usai Budi bicara seperti itu, tiba-tiba ia merasakan ada yang aneh dengan dirinya. Budi merasakan tubuhnya menjadi ringan.
"Kenapa ini?" tanya Budi mulai panik.
"Aku hanya bisa membawa sukma mu pergi ke tempat Suci. Aku tidak bisa membawa tubuhmu ikut serta."
"Kenapa?"
"Karena aku hanya ingin kamu melihat Suci, bukan Suci yang melihatmu."
"Kamu curang, Yuni."
"Aku tidak curang, Budi. Aku rasa itu cukup adil buat kita. Kamu temani aku jalan-jalan, sedangkan aku menemukan kamu dengan kekasih mu. Adil bukan?"
__ADS_1
"Adil menurutmu, tapi tidak adil menurutku," kata Budi dengan perasaan sangat kesal.
"Kita sudah sampai," ucap Yuni mengalihkan perhatian Budi yang sedang kesal.
Benar saja apa yang Yuni katakan. Saat Budi memperhatikan sekelilingnya, suasana sudah berbeda. Mereka tidak lagi berada di dalam kamar Budi, melainkan depan pintu rumah Suci saat ini.
Kekesalan yang ada dalam hati Budi tiba-tiba lenyap seketika saat melihat pintu rumah Suci di hadapannya. Ia bergegas berjalan maju memasuki rumah tersebut. Sedangkan Yuni, ia mengikuti Budi dari belakang.
"Ngapain kamu ikut aku?" tanya Budi kesal.
"Apa salahnya aku ikut kamu?"
"Aku tidak ingin kamu ikut aku bertemu Suci," ucap Budi kesal.
"Lalu? Aku harus apa?"
"Terserah kamu, yang penting tidak ikut aku."
"Dasar manusia, sudah ditolong tidak berterima kasih." Yuni mengumpat kesal.
"Hei! Siapa yang minta bantuan kamu, hah! Aku tidak pernah minta bantuan kamu, tapi kamu yang mau membawa aku jalan-jalan. Jadi tolong, jangan banyak omong."
Yuni terdiam. Ia tidak punya kata-kata untuk menjawab perkataan Budi barusan. Karena memang, apa yang Budi katakan adalah benar adanya. Budi melanjutkan langkah kakinya mencari di mana keberadaan Suci, sedangkan Yuni, ia diam di tempat di mana dia berdiri tadinya.
Budi sampai di kamar Suci. Dia terdiam beberapa saat di depan pintu kamar. Hatinya masih bimbang untuk masuk ke dalam kamar. Tapi, jika dia tidak masuk, maka dia tidak akan bertemu Suci. Sia-sia saja dia datang ke rumah Suci, kalau tidak bertemu dengan orangnya.
Budi menerobos masuk. Sukmanya yang bisa menembus apa saja memudahkan Budi untuk melakukan apa saja yang dia inginkan. Ke mana saja ia ingin pergi, maka dia bebas melakukannya. Tanpa harus susah payah mencari pintu masuk atau membuka kunci, Budi sudah bisa masuk ke dalam.
Budi menemukan Suci sedang duduk melamun di depan meja riasnya. Tatapan mata kosong dengan mata sembab itu membuat hati Budi bertanya, apakah yang sedang terjadi pada Suci? Mengapa Suci kelihatannya baru saja selesai menangis? Apa yang membuat Suci bersedih?
__ADS_1