
Budi sampai ke rumah diikuti Irfan di belakangnya. Irfan yang terbuai mencium bau wangi bunga tak terasa menabrak tubuh Budi yang berhenti di depan pintu masuk rumah.
"Budi." Mama bergegas menghampiri Budi saat melihat Budi di hadapannya.
"Dari mana aja kamu, Nak? Kenapa pergi gak pamit sama mama dahulu?"
"Maaf, Ma. Budi tidak bermaksud buat mama cemas. Budi ada urusan mendadak, makanya lupa pamitan sama mama."
"Lain kali jangan lupa lagi ya, nak. Mama sangat khawatir saat tahu kamu gak ada di rumah."
"Iya Ma, Budi gak akan lupa lagi. Maafkan Budi yang udah bikin mama cemas."
"Bau apa ini, Nak?" tanya mama baru tercium harumnya bunga yang Budi bawa.
"Ini bau bunga, Ma."
"Bunga? Bunga apa?"
"Bunga merah muda. Budi gak tahu apa nama bunganya, yang Budi tahu, bunga ini berwarna merah muda."
"Mana bunganya?" tanya mama penasaran saat tidak melihat bunga itu.
"Ini." Budi mengangkat tangan kirinya yang seolah-olah sedang memegang setangkai bunga.
Mama semakin bingung saat Budi mengangkat tangannya. Mama dan Irfan saling berpandangan. Budi lupa kalau tidak ada yang bisa melihat bunga itu selain dirinya.
"Ma--maaf, Ma, Fan. Aku lupa. Kalian tidak bisa melihat bunga yang aku bawa ini. Kalian hanya bisa mencium aromanya saja."
"Dari mana kamu dapatkan bunga itu?" tanya mama mulai cemas.
__ADS_1
"Kerajaan Yuni."
"Yuni?"
Saat itu, papa muncul dari pintu belakang. Pembicaraan pun terhenti. Sedangkan Budi, ia segera menghampiri papa.
"Budi mau bicara sama papa."
"Bicara apa?"
"Apa papa mencium bau harum di sekitar sini?"
"Ya. Aku menciumnya. Ada apa memangnya?"
"Apa papa tahu itu bau apa?"
"Tidak."
"Budi, jangan banyak bertele-tele. Bicara saja pada pokok pembicaraan. Tidak perlu berbelit-belit," ucap papa mulai kesal.
"Baiklah, Pa. Bau harum yang papa cium itu berasal dari bunga merah muda yang berada di istana gaib milik Yuni. Aku baru saja pulang dari sana," kata Budi menjelaskan sambil menatap lekat wajah papa.
Perkataan Budi membuat wajah papa berubah seketika. Wajahnya sedikit pucat dengan kaget yang luar biasa terlihat sangat kuat.
"Apa--apa kamu bilang? Kamu dari istana gaib?"
"Ya, aku baru pulang dari istana gaib yang berada di belakang rumah kita."
"Budi!" Mama memanggil Budi dengan keras.
__ADS_1
"Ma, Pa, aku minta kalian bicara jujur soal hutan belakang rumah ini. Jangan ada yang kalian tutup-tutup kan lagi dari aku. Katakan saja soal perjanjian apa yang telah kalian sepakati dengan penghuni hutan belakang rumah ini," ucap Budi penuh penegasan namun raut wajahnya terlihat sangat sedih dan kecewa.
Papa dan mama saling pandang. Untuk sesaat, rumah itu terasa sangat sepi akibat tidak ada satu suara pun yang terucap dari empat penghuni rumah.
"Perjanjian apa yang kalian buat, Pa, Ma? Kenapa kalian melibatkan abang dalam perjanjian kalian?" tanya Irfan tak sabar lagi.
"Irfan! Diam!" Papa membentak Irfan dengan keras.
"Pa, sudahlah, jangan marah-marah pada anak-anak kita. Mungkin sudah saatnya mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lagipula, ini bukan salah papa kan?"
"Dan ... dua hari lagi adalah ulang tahun Budi. Kita benar-benar tidak punya waktu untuk tetap merahasiakan semuanya ini dari mereka," kata mama lagi.
"Baiklah." Papa berkata dengan suara lemah hampir tidak terdengar sama sekali.
"Budi, Irfan. Kalian berdua adalah anak laki-laki papa. Tidak sedikitpun terbesit dalam benak papa untuk melukai hati kalian, apa lagi tubuh kalian. Kalian adalah anakku. Anak yang aku besarkan dengan penuh cinta, sepenuh hatiku. Tapi .... "
"Tapi apa, Pa?" tanya Irfan begitu tak sabar untuk mendengarkan kelanjutan dari cerita yang papa gantung.
"Perjanjian itu bukan aku yang buat. Tapi, kakek buyut ku lah yang telah membuat kesalahan sehingga terciptanya perjanjian yang menyakitkan ini."
"Perjanjian apa?" Irfan terus saja bertanya dengan nada marah yang tidak bisa ia sembunyikan, walau, sang papa bercerita dengan raut wajah sedih.
Papa tidak menjawab apa yang Irfan tanyakan. Ia malah memeluk Budi dengan erat sambil menangis tersedu-sedu. Sedangkan mama, ia hanya bisa tertunduk sambil melihat buliran bening yang terus saja berjatuhan setitik demi setitik dari kedua matanya.
"Pa!" Irfan tak sabar lagi. Sebenarnya, ia juga merasakan sebuah kesedihan yang mendalam dari kedua irang tuanya. Ia ingin menangis, namun tertahan oleh amarah yang semakin lama semakin naik.
"Ada apa, Pa?" tanya Budi lembut sambil membalas pelukan papa.
"Maafkan papa, Budi. Maafkan papa."
__ADS_1
"Katakan saja, Pa. Budi tidak akan marah sama papa."