
"Agggghhhh."
Yuni tidak mendengarkan apa yang Ki Agung katakan. Dia mengeram keras sambil menggenggam kedua tangannya. Ki Agung dan Sarah benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka berniat untuk melarikan diri, tapi tidak bisa. Tubuh keduanya terasa sangat kaku seperti sedang diikat dengan tali yang sangat ketat.
"Karena kalian berdua aku harus merasakan penghinaan ini. Terimalah akibat dari kebodohan kalian ini," kata Yuni sambil berteriak.
"Yuni jangan. Aku mo--hon." Sarah berkata dengan suara terputus-putus.
"Su--ci to--long bun--nda .... "
"Yuni hentikan!" Suci berteriak keras. Namun sayangnya terlambat. Tubuh Sarah sudah jatuh kelantai seiring selesainya kalimat yang ia ucapkan.
"Bunda!" Suci berteriak keras sambil berlari menghampiri tubuh Sarah yang tergeletak lemas di atas lantai.
"Bunda! Bangun bunda!" Suci mengoyang-goyangkan tubuh Sarah.
Yuni tersenyum puas saat melihat Sarah tergeletak tak bernyawa di atas pangkuan Suci. Yuni meninggalkan tubuh kedua manusia yang ia anggap sudah menjadi penyebab dari penghinaan yang ia alami barusan. Yuni berjalan mendekati Budi.
Budi terlihat sedikit cemas dengan kedatangan Yuni. Ia bersiap-siap untuk semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
"Budi, tidak perlu cemas. Aku tidak akan menyakitimu. Sebaliknya, aku ingin mengucapkan selamat padamu. Kau sudah terbebas dari perjanjian itu. Apa kau sudah puas sekarang? Aku tidak akan mengganggu hidup kalian lagi. Selamat tinggal."
__ADS_1
Yuni menghilang secepat angin berlalu. Tanpa sempat menunggu jawaban dari Budi lagi. Dia lenyap begitu saja.
Setelah Yuni menghilang, ayahnya dan para pengawal pun ikut serta. Mereka hilang tanpa bekas seolah tertelan alam semesta. Kepergian mereka tak berbekas, tapi meninggalkan luka buat Suci. Walau bagaimanapun, sejahat apapun, Sarah tetaplah orang yang telah membesarkan Suci.
Dari kecil hingga ia remaja, Sarah sudah berusaha bersikap baik pada Suci. Layaknya anak kandung yang ia lahirkan dari rahimnya sendiri, begitulah ia merawat Suci. Meskipun semua itu ia lakukan karena sebuah maksud yang terselubung, tapi tetap saja, ia sudah berbuat baik pada Suci. Suci tidak bisa menutupi hal itu.
"Bunda, maafkan Suci," ucap Suci sambil menangis saat pemakaman Sarah berlangsung.
"Suci, ini bukan salah kamu, Nak." Mama membawa Suci ke dalam pelukannya.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti ini," kata mama lagi sambil membelai rambut Suci dengan lembut.
"Iya, Nak. Kamu tidak perlu merasa bersalah atas apa yang Sarah alami. Sarah pantas mendapatkannya," kata ayah membenarkan apa yang mama katakan.
"Nak, lupakan apa yang telah terjadi. Kita tata hidup baru sekarang." Ayah tersenyum tulus pada Suci.
"Tapi ayah .... "
"Sayang, jangan buat ayah mengingat kebodohan ayah yang telah lalu. Semua ini bukan salah mu, nak. Semua ini salah ayah. Ayah yang telah .... "
"Sudahlah, sebaiknya kita pulang sekarang. Tidak baik mengingat keburukan orang yang telah tiada, di depan makamnya pula," kata papa pula menjadi penengah.
__ADS_1
"Kamu benar Edi. Ayo kita pulang, Nak!" Ayah mengajak Suci untuk pulang bersama.
"Nak, sebaiknya kamu istirahat di rumah ya. Jangan pikirkan apa yang membuat hatimu merasa sedih," kata mama.
"Iya bibi. Terima kasih untuk semuanya."
"Tidak sayang. Seharusnya, bibi sekeluarga lah yang berterima kasih padamu. Jika bukan karena kamu, kami saat ini pasti sedang berduka karena kehilangan anak sulung kami."
"Iya Suci. Kalau bukan karena bantuan dari kamu, kami pasti sudah kehilangan Budi," kata papa pula.
"Kalau gitu, berikan anak sulung kalian pada putriku, sebagai tanda terima kasih kalian padanya," kata ayah sambil tersenyum bercanda pada mama dan papa. Dibalik canda itu, ada sebuah harapan yang tersembunyi.
"Ayah." Suci memandang ayah dengan mata melotot. Tapi, pipinya merona akibat candaan yang ayah lontarkan.
"Ya Tuhan! Aku merasakan seperti sedang berada di alam mimpi saja. Dapat durian runtuh yang jatuh tepat depan muka," kata papa sambil tersenyum bahagia.
"Iya. Ini seperti dapat berlian yang jatuh dari ketinggian," kata mama pula.
"Kapan kita nikahkan mereka?" tanya papa cepat.
"Aku rasa, mereka berdua sudah tidak sabar lagi untuk hidup bersama," ucap papa lagi sambil melihat Budi dan Suci.
__ADS_1
"Papa (paman)," ucap Budi dan Suci serentak.
"Cie ... kompak." Irfan angkat bicara.