
"Ternyata lebih bagus dari yang aku bayangkan," kata Suci sambil menatap ke depan.
"Memangnya, apa yang kamu bayangkan?" tanya Budi agak bingung.
"Tidak ada. Aku hanya membayangkan sebuah istana seperti istana pada umunya."
"Oh ya, apakah kamu betah tinggal di sana, Bud?"
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" Budi balik bertanya.
"Tidak ada. Aku hanya ingin tahu saja. Seindah itu istana gaib, tanpa harus memikirkan susahnya kehidupan yang kita jalani saat ini, apakah tidak membuat hati mu ingin menetap di sana?"
"Tidak."
"Kenapa? Bukankah hidup di sana sangat enak?"
"Tidak. Aku tidak tertarik hidup mewah tanpa ada tantangan."
Suci terdiam. Ada raut tidak puas di wajah Suci saat ini. Sebenarnya, bukan jawaban itu yang ingin ia dengar dari mulut Budi. Ia berharap, Budi tidak ingin menetap di istana gaib karena dirinya.
"Ada apa, Suci? Apakah ada yang tidak enak di hati?"
"Tidak ada. Aku hanya berpikir, bagaimana jika suatu hari, Yuni kembali lagi menemui kamu? Apakah semuanya akan kembali kacau?"
"Tidak."
Sontak, Suci kaget bukan kepalang saat mendengarkan kata tidak yang datang dari arah belakang mereka.
__ADS_1
"Ada apa, Chi?" tanya Budi heran.
"Apakah kamu mendengarkan suara orang dari arah belakang?"
"Tidak." Budi merasa heran dengan pertanyaan Suci. Karena memang dari tadi Budi tidak mendengarkan sedikit suara pun selain suara mereka berdua.
"Aku di sini, Suci. Dan, laki-laki di samping mu itu memang tidak mendengarkan suara aku. Karena hanya kamu yang bisa mendengarkan aku," kata sesosok laki-laki yang tiba-tiba muncul dari samping kiri Suci.
"Siapa kamu?" tanya Suci keras karena kaget.
"Ada apa, Chi? Kamu bicara sama siapa?"
"Apa kamu tidak melihatnya?" tanya Suci tak percaya.
Budi hanya bisa menggelengkan kepalanya karena ia memang tidak melihat satu mahkluk pun selain mereka berdua. Jangankan manusia, hewan saja tidak ada di sana.
"Baraj?"
"Ya. Aku bukan manusia, Suci. Jadi jangan heran kalau hanya kamu yang bisa melihat kehadiranku saat ini. Karena aku adalah mahkluk dari bangsa jin."
"Oh." Sekarang, Suci mengerti kenapa Badi tidak melihat laki-laki itu.
"Suci, aku datang untuk berpamitan padamu?"
"Berpamitan?"
"Ya. Berpamitan."
__ADS_1
"Lho, bukannya kamu baru muncul? Kenapa baru muncul langsung berpamitan?"
"Suci, apakah kamu ingat dengan suara yang berbicara padamu saat kamu mengambil kotak kayu di kamar bunda mu?"
Suci mencoba memutar memori yang terlupakan dari benaknya. Perlahan ia mengingat suara-suara yang membantu dirinya saat dalam keadaan mencekam waktu mengambil kotak kayu dari kamar bunda waktu itu.
"Ya, aku ingat sekarang. Apakah itu kamu?"
"Ya, itu aku. Aku sudah bilang padamu kalau suatu saat nanti kamu akan tahu siapa aku. Inilah saatnya, saat aku berpamitan padamu."
"Tapi kenapa kamu harus berpamitan padaku? Bukankah kamu bisa tetap tinggal di dunia ini bersama ku?"
"Tugasku sudah selesai, Suci. Aku tidak bisa tetap berada di alam manusia. Aku harus kembali ke alam ku. Alam gaib."
"Tugas? Tugas apa? Siapa yang menugaskan kamu di dunia manusia ini?"
Baraj menceritakan dari mana asal usulnya.
Dia adalah makhluk peliharaan guru Susi, ibunda Suci yang telah tiada. Guru menghadiahkan Baraj pada Susi karena Susi adalah murid terbaik bagi gurunya.
Susi berhati lembut dan sangat pandai dalam berbagai ilmu pengobatan dan juga perdukunan. Susi dengan senang hati mengobati orang yang sedang sakit tanpa meminta imbalan dari pengobatan itu.
Hal ini bertolak belakang dengan Sarah. Ia begitu kasar dan penuh pertimbangan. Sarah tidak akan membantu orang lain jika tidak ada imbalan. Setiap yang ia kerjakan, harus ada imbalannya. Hal ini membuat guru sedikit kecewa dengan sikap Sarah.
Tapi, walaupun guru mereka merasa kecewa, tetap saja, guru tidak pernah membedakan antara Sarah dengan Susi. Guru tetap berlaku adil pada keduanya. Sayangnya, Sarah yang berhati jahat merasa kalau gurunya pilih kasih pada dirinya.
Sarah yang merasa di nomor duakan oleh guru, ia memilih mencari guru baru dalam diam. Tanpa sepengetahuan guru dan Susi, ia mencari seseorang yang bisa ia angkat menjadi guru.
__ADS_1
Sarah pun bertemu dengan Ki Agung. Ki Agung yang memang berilmu hitam dan sama-sama berhati jahat, menerima Sarah dengan senang hati. Jadi lah Sarah murid dari Ki Agung.