
"Aggghhhhh." Suci kaget sambil menutup wajahnya.
Sebuah wajah hancur tanpa kulit berada di belakang Suci. Suci kaget bukan kepalang saat melihat wajah hancur itu. Wajah yang sangat amat mengerikan. Membuat jantung Suci hampir copot melihatnya.
Suci memang sudah biasa dengan hal-hal gaib seperti mahkluk tak kasat mata. Mereka ada yang menampakkan diri dengan wujud sempurna alias cantik, ada juga yang sengaja memperlihatkan wujud mereka dengan wajah buruk rupa alias sangat menyeramkan.
Suci tidak takut dengan wajah hancur tanpa kulit ini. Hanya saja, dia kaget ketika tiba-tiba melihat wajah hancur itu.
"Bawa kotak itu pergi dari kamar ini jika kamu ingin tahu apa yang bunda mu rahasiakan."
Sebuah suara yang berbeda dari suara milik si wajah hancur menyentuh telinga Suci. Suci yang menutup wajahnya karena kaget, sontak langsung membuka mata untuk melihat siapakah yang sedang bicara dengannya barusan.
Ketiak Suci membuka mata, tidak ada satu mahkluk pun yang ia lihat. Kamar itu kembali kosong. Hanya dia seorang diri di kamar ini. Tidak ada si wajah hancur, maupun wanita pemilik suara yang menyuruhnya membawa kotak kayu itu.
Mata Suci liar menelusuri setiap sudut kamar bunda. Mana tahu dia bisa menemukan mahkluk lain selain dirinya di kamar bunda. Tapi sayangnya, tidak ada siapa-siapa selain dia. Dia tetap sendiri di kamar ini. Sama seperti sebelumnya, saat pertama ia masuk ke dalam kamar bunda.
"Cepat Suci. Bawa kotak itu pergi jika kamu ingin tahu apa yang bunda mu rahasiakan." Suara itu kembali lagi. Namun, wujud dari pemilik suara itu tetap saja tidak bisa Suci lihat.
"Siapa kamu?" tanya Suci penasaran.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku. Bawa saja kotak itu secepat mungkin. Maka kamu akan tahu apa yang bunda mu sembunyikan."
Suci tidak mengulangi pertanyaannya. Ia langsung melaksanakan apa yang suara itu katakan. Karena sebenarnya, ia memang sangat amat ingin tahu apa yang sebenarnya bunda rahasiakan selama ini.
__ADS_1
Suci membawa kotak itu ke kamarnya. Perlahan, Suci membuka kotak kayu tersebut dengan hati yang berdebar-debar.
Saat kotak terbuka, yang terlihat di dalam kotak itu hanyalah buku tua. Suci tidak merasa ada yang aneh dengan buku tua ini. Buku itu sama seperti buku tulis pada umumnya. Hanya saja, terlihat begitu lusuh dan sangat buruk.
Suci mengambil lalu membuka buku tua itu. Sebuah cahaya muncul ketika Suci membuka buku tua tersebut. Cahaya itu seakan menarik Suci untuk masuk ke dalam. Suci tidak bisa menahannya. Ia hanya bisa menutup mata rapat-rapat tanpa sepatah katapun mampu ia ucap.
Beberapa saat kemudian, Suci mendengarkan sebuah suara yang sanga familiar di telinganya. Suci membuka mata perlahan untuk melihat apa yang terjadi. Di hadapannya saat ini sedang duduk sang bunda bersama seorang laki-laki tua.
Suci melihat sekeliling dan menyadari satu hal, dia saat ini tidak berada di kamarnya. Semua yang ia lihat sekarang adalah dinding kayu, bukan batu. Suci bisa menyimpulkan satu hal, saat ini, dia sedang berada di alam yang berbeda.
Suci tidak menghiraukan di mana dia sekarang ketika ia mendengar apa yang bunda dan orang laki-laki itu bicarakan. Mereka berbicara soal kekayaan, kejayaan, kekuasaan, dan juga tumbal. Hal yang paling menarik perhatian Suci ada pada saat mereka menyebutkan tentang tumbal untuk meraih semua yang mereka inginkan.
"Sarah, jika kamu ingin semua kenikmatan ini, kamu harus mendapatkan tumbal yang paling suci," kata laki-laki tua itu.
"Maksud guru? Tumbal apa yang paling suci?"
"Bagaimana saya bisa mendapatkannya, guru?"
"Gampang sekali. Bukankah kamu punya seorang putri?"
"Maksud guru?" tanya Sarah benar-benar bingung.
"Pancing anak laki-laki itu mendekati putrimu. Suruh putrimu mencari tahu apakah anak laki-laki itu punya tanda lahir atau tidak."
__ADS_1
"Kalau sudah ketemu, harus saya apakan guru?"
"Tunggu bulan purnama penuh."
"Lalu? Akan kita apakan tumbal itu guru?"
"Kita bunuh, lalu ambil darahnya. Darah itu akan kita serahkan pada jin penunggu hutan."
"Baiklah guru, aku akan carikan tumbal itu secepatnya."
Suci seolah-olah ditarik kembali secepat mungkin setelah ia mendengarkan perkataan yang terakhir bunda ucapkan. Tanpa bisa menyentuh, atau mengatakan sesuatu, Suci ternganga akibat kaget.
"Kau sudah tahu bukan? Apa yang bunda mu inginkan sebenarnya," ucap suara yang rasanya sudah pernah Suci dengar sebelumnya.
Suci tersadar dari lamunannya. Ia melihat sekeliling. Mencari asal suara yang terus berbicara tapi tidak menampakkan rupa.
"Siapa kamu sebenarnya! Ayo tunjukkan dirimu! Jangan terus bersembunyi dari ku," ucap Suci sambil terus mencari keberadaan suara itu.
"Belum saatnya kamu tahu siapa aku, Suci."
"Kenapa? Kenapa belum saatnya?" tanya Suci kesal.
"Kamu tidak perlu tahu alasannya. Yang jelas, suatu hari nanti, kamu pasti akan tahu siapa aku."
__ADS_1
"Aku tidak ingin suatu hari nanti, aku inginkan sekarang."
Tidak ada jawaban dari suara itu. Yang ada hanya keheningan saja. Suci mencari ke seluruh sisi kamarnya. Tidak ada siapa-siapa. Suci juga memanggil suara itu berkali-kali, tetap tidak ada jawaban. Suara itu sudah pergi meninggalkan kamar Suci.