
"Ada apa sih, Ma? Kok kalian pada rebutan kipas angin hari ini," kata Budi pada mama dan adiknya.
"Panas bang. Apa abang tidak merasakan kalau rumah kita hari ini panas banget?" tanya Irfan.
"Iya, Bud. Apa kamu tidak merasakan adanya hawa panas yang berbeda gitu?" tanya mama pula.
"Tidak, Ma. Aku gak merasakan ada perubahan hawa di rumah kita."
"Masa sih bang? Orang suasana rumah kita kayak di neraka gini, abang malah tidak merasakan apa-apa."
"Iya, aku tidak merasakan apa-apa. Bagiku, suhu di rumah kita biasa saja. Sama seperti hari-hari biasanya."
Irfan dan mama tidak menjawab. Mereka hanya bisa saling tatap saja. Karena saat ini, yang mereka rasakan adalah, suhu panas yang semakin tinggi saja. Sedangkan Budi, dia sedikitpun tidak merasakan apa-apa.
Budi merasa ada yang aneh dengan rumahnya. Ia memutuskan untuk bertanya pada Yuni soal perubahan yang keluarganya rasakan, sedangkan dia tidak merasakan apa-apa.
"Ya sudah, aku ke kamar dulu ya, Ma, Fan."
"Iya," jawab mama dan Irfan serentak.
Saat Budi berjalan menuju ke kamar, ia berpas-pasan dengan papanya yang baru saja keluar dari kamar.
"Apa papa juga merasakan suhu rumah kita berubah, Pa?" tanya Budi.
"Iya." Papa menjawab singkat.
"Apa kamu juga merasakannya?" tanya papa lagi.
"Tidak, Pa."
"Tidak?" tanya papa seperti tak percaya dengan apa yang Budi katakan.
__ADS_1
"Iya, Pa. Aku tidak merasakan apa-apa."
"Lalu dari mana kamu tahu kalau rumah ini panas sekarang?"
"Dari mama dan Irfan, Pa. Mereka sedang kepanasan saat ini. Tapi anehnya, aku tidak merasakan apa-apa," kata Budi dengan wajah bingung.
"Ada yang tidak beres di rumah ini," ucap papa sambil berlalu pergi meninggalkan Budi dengan wajah bersalah.
Budi tahu apa yang papa maksudkan dengan kata-kata ada yang tidak beres. Ia merasakan kata-kata itu papa tujukan padanya, papa seolah-olah mengatakan secara tidak langsung bahwa apa yang terjadi di rumah ini bersumber dari Budi. Budi lah biang masalahnya.
Dengan rasa sedih, Budi masuk ke kamar. Ia menghempas bokongnya kasar ke kursi yang berada tak jauh dari jendela kamarnya. Mata Budi melihat lurus keluar jendela.
"Kenapa semua ini terjadi? Benarkah aku penyebab dari semua masalah yang terjadi di rumah ini?" tanya Budi pada dirinya sendiri.
"Bukan! Bukan kamu penyebabnya, Budi."
Budi tersentak kaget saat suara Yuni menyentuh telinganya. Ia bangun dari duduk dengan tatapan tidak suka melihat ke arah Yuni.
"Aku akan membantu kamu dan keluargamu."
"Ayo ikut aku!" kata Yuni lagi.
"Tunggu! Kamu mau ajak aku ke mana?"
"Ikut saja! Nanti juga kamu akan tahu ke mana aku membawamu."
Tanpa banyak pikir lagi, Budi segera mengikuti langkah Yuni.
"Tutup matamu!" ucap Yuni sambil menyentuh pundak Budi. Budi melakukan apa yang Yuni katakan tanpa ada satu pertanyaan pun yang ia lontarkan. Demi mama dan juga adiknya, Budi tak banyak bernegosiasi lagi. Yang ada dalam benak Budi hanyalah, orang-orang yang ada di sekitarnya tidak terluka hanya karena dirinya.
"Buka matamu!"
__ADS_1
Budi membuka mata dengan cepat. Ia memperhatikan sekelilingnya yang terasa tidak asing lagi. Itu masih di dalam kamarnya. Ternyata, Yuni tidak membawanya pergi ke mana-mana. Buktinya mereka masih berada dalam kamar yang sama tanpa menggeser satu langkah pun kaki dari kamar itu.
"Ini .... "
"Ya, kita tidak ke mana-mana. Kita masih berada di dalam kamar kamu."
"Lalu, untuk apa kamu meminta aku menutup mataku?"
"Perhatikan sekelilingmu, apakah ada yang berbeda, Budi?" tanya Yuni.
"Tidak ada," ucap Budi dengan malas tanpa memperhatikan sekelilingnya. Ia pikir Yuni sedang mengerjainya saat ini.
"Lihat sekelilingmu Budi!"
"Untuk apa?"
"Untuk tahu sesuatu."
"Apa yang kamu ingin aku tahu, hah! Ini masih di kamarku. Tempat yang sama yang setiap hari aku lihat. Kamu mengerjai aku, aku tidak akan tertipu lagi."
"Aku tidak mengerjai kamu. Aku minta kamu tutup matamu, karena aku ingin membawa kamu ke alam yang berbeda. Tempat ini memang sama, tapi dimensinya sudah berbeda." Yuni menjelaskan dengan seksama.
"Maksud kamu?" Budi mulai memperhatikan sekelilingnya. Dia mulai bisa merasakan sesuatu yang berbeda sekarang.
"Aku bawa kamu ke alam yang berbeda. Alam yang kamu bisa melihat mahkluk tak kasat mata dengan mata manusia mu itu."
Budi tidak menanggapi apa yang Yuni katakan lagi. Ia mulai menangkap makhluk halus yang sedang berkeliaran di luar jendelanya. Ada bermacam-macam wujud menyeramkan yang berada di luar rumahnya saat ini.
Budi tiba-tiba merasa ngeri ketika melihat satu mahkluk yang sedang berada tepat di depan jendelanya. Mahkluk itu berwajah seperti merah kehitaman. Persis seperti wajah yang baru saja terbakar api.
"Ya Tuhan!" Budi berucap kaget sambil menutup matanya dengan kedua tangan.
__ADS_1