
Yuni yang berada beberapa langkah di depan Budi merasa kasihan dengan Budi. Ia menoleh ke belakang untuk berbicara dengan Budi yang sedang kebingungan saat ini.
"Barang itu tidak rusak, hanya saja, apa yang kau bawa dari dunia manusia tidak akan berfungsi di dunia kami. Berbeda dengan apa yang kamu bawa dari dunia kami, semuanya akan berfungsi di dunia manusia."
"Masa sih?"
"Kalau tidak percaya, bawa saja setangkai bunga yang ada di tamanku. Bunga itu berbau sangat wangi, meskipun semua anggota keluargamu tidak bisa melihat bunga itu, tapi mereka pasti bisa mencium aroma dari bunga itu."
"Baiklah, akan aku coba nanti," kata Budi masih tidak yakin.
Taman itu sangat indah. Budi merasa tidak puas hanya dengan melihatnya, ia ingin mengabadikan suasana yang ia lihat di taman ini.
Sekali lagi, apa yang ia lakukan hanya sia-sia saja. Ponselnya tidak mampu menangkap indahnya taman yang tertata dengan begitu rapi ini. Yang tertangkap oleh kamera ponselnya hanya gelap, semuanya hitam.
Berkali-kali ia melakukan hal itu, tapi tetap saja tidak bisa. Yang ia lihat dalam foto hanyalah warna hitam saja.
"Sudah aku katakan, kau tidak bisa menggunakan benda itu di sini," kata Yuni sambil tersenyum.
"Tapi kenapa? Bukankah aku hanya ingin mengambil foto saja."
"Benda itu tidak akan berfungsi di sini. Karena ini bukan alam kasat mata, sedangkan benda yang kamu bawa dari dunia mu itu adalah benda yang hanya digunakan di dunia kamu."
Budi tidak terlalu mengerti dengan apa yang Yuni katakan. Tapi yang ia tau, ponselnya tidak akan bisa ia gunakan selama ia berada di dunia gaib ini.
______
Tiba saatnya Budi pulang. Yuni mengantarkan Budi sampai ke depan gerbang saja. Entah berapa lama Budi di alam gaib, dia juga tidak tahu. Karena yang ia tahu dia tidak bermalam di alam gaib ini.
"Budi, bawa ini pulang!" kata Yuni sambil menyerahkan setangkai bunga berwarna merah muda.
"Bunga apa ini?" tanya Budi bingung.
__ADS_1
"Ini bunga yang ada di tamanku. Bunga ini memang tidak bisa dilihat oleh anggota keluarga mu, tapi mereka bisa mencium aromanya. Dengan begitu, kamu bisa membuktikan kalau apa yang kamu bawa dari alam ku bisa kau gunakan di alam mu."
Budi menerima bunga merah muda yang lebih mirip mawar tapi bukan. Bunga itu hanya memiliki satu lapisan kelopak sedangkan mawar punya banyak. Tapi memang, bunga itu sangat harum baunya. Baru memegangnya saja sudah tercium bau harumnya, belum mencium langsung ke hidung, mungkin bau parfum akan kalah dengan bau harum dari bunga merah muda ini.
"Jika kau butuh materi, kamu tinggal bilang saja. Maka apa yang kau butuhkan akan segera kau dapatkan."
"Apakah aku bisa minta selain materi?"
"Apa yang kau inginkan selain materi?" tanya Yuni balik.
"Tidak ada. Aku hanya bertanya saja."
"Jika kau ingin kejayaan, kekuatan, dan kekuasaan. Maka kau juga bisa memintanya," kata Yuni menjelaskan dengan serius.
"Oh tidak, aku tidak membutuhkan semua itu."
"Tapi ... mengapa kau menawarkan semua itu padaku sekarang?" tanya Budi mulai curiga.
"Ada apa dengan hari ulang tahun ku?"
"Aku harus pergi sekarang. Selamat tinggal."
Yuni menghilang dari pandangan Budi. Seiring menghilangnya Yuni, hutan belakang rumah kembali kebentuk aslinya, yaitu, hutan semak yang tidak ada apa-apa selain semak belukar.
Pikiran Budi masih dipenuhi dengan tanda tanya. Sikap Yuni begitu berbeda dari biasanya. Budi merasakan keanehan dari perkataan-perkataan yang Yuni ucapkan barusan.
"Abang!"
Suara keras itu menyadarkan Budi akan di mana dia saat ini. Dengan cepat, Budi menoleh kearah asal suara yang memanggil namanya barusan.
"Irfan."
__ADS_1
"Kau ke mana saja, Bang? Mama sangat cemas dengan keadaan mu sekarang," kata Irfan dengan nada kesal.
"Aku ... aku ... ah, sudahlah, jangan dibahas lagi soal itu. Sekarang, di mana mama?"
"Mama di rumah. Ia sedang tidak enak badan. Ia begitu cemas memikirkan kamu yang pergi tanpa pamit dahulu. Bisakah kamu tidak membuat kepanikan dalam keluarga kita, Bang?"
"Ya, aku salah, aku minta maaf. Lain kali, aku tidak akan membuat kalian khawatir lagi," ucap Budi merasa begitu bersalah.
Budi mengerti apa yang Irfan rasakan, meskipun kata-katanya agak melukai hati Budi, tapi rasanya memang pantas Irfan berkata seperti itu padanya. Budi tak ingin ambil hati dengan perkataan Irfan barusan, ia memilih tersenyum sambil melangkah mendahului Irfan yang berdiri tegak sambil melihatnya.
"Bang, tunggu!"
"Ada apa?" tanya Budi bingung.
"Bau apa ini?"
"Bau?"
"Ya. Aku mencium bau yang sangat harum saat kau melewati aku."
"Itu bau bunga."
"Bunga?"
"Sebenarnya kamu datang dari mana sih, bang?" tanya Irfan lagi.
"Nanti akan aku ceritakan padamu. Sekarang, ada hal yang lebih penting lagi yang ingin aku selesaikan. Di mana papa?" tanya Budi.
"Papa ... di rumah."
"Oh." Budi menjawab singkat sambil melangkah meninggalkan Irfan yang sedang kebingungan.
__ADS_1