
"Apa hubungannya dengan aku?" tanya Budi bingung.
"Bundanya ingin menjadikan kamu sebagai tumbal kejayaan yang selama ini ia dambakan."
"Apa!? Mengapa aku?" tanya Budi tak habis pikir.
"Karena kamu adalah laki-laki berdarah suci."
"Maksud kamu?" Budi terlihat bingung.
"Kamu punya tanda lahir berbentuk daun berwarna hitam di bahu sebelah kiri mu. Tanda itu adalah tanda yang paling langka bagi manusia apalagi laki-laki. Karena tanda itulah kamu dikatakan sebagai laki-laki berdarah suci."
"Apakah karena tanda itu juga kamu memilih aku untuk menjadi calon suami mu?" tanya Budi setelah terdiam beberapa saat lamanya.
"Tidak." Yuni menjawab singkat membuat Budi
mengerutkan dahinya.
"Lalu?"
"Itu karena sebuah perjanjian."
"Katakan padaku perjanjian apa yang membuat kamu memilih aku!"
"Kau akan tahu nantinya."
"Kapan?"
"Ketika sudah tiba waktunya, maka kamu akan tahu."
"Kenapa kamu tidak katakan saja sekarang padaku agar aku tidak menyimpan rasa penasaran? Bukankah kamu bilang akan menjawab semua yang ingin aku ketahui?"
"Ya, tapi bukan soal aku dan kamu."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena aku tidak berhak menjelaskan soal itu."
"Lalu siapa yang berhak menjelaskan?"
"Orang tua mu, terutama papa mu. Dia tahu segalanya."
"Aku harus pergi," ucap Yuni cepat. Ia tidak ingin berlama-lama di kamar Budi lagi. Karena ia tahu, semakin lama dia berada di kamar ini, maka semakin banyak pertanyaan yang Budi lontarkan.
"Tunggu!"
"Apa lagi?? " tanya Yuni kesal.
"Jawab dulu satu pertanyaan ku sebelum kamu pergi."
"Pertanyaan apa?"
"Bagaimana cara aku bisa melepas sukma ku jika kamu tidak ada di sampingku?"
Yuni tidak menjawab. Ia malah menutup matanya rapat-rapat samping meletakkan tangannya ke dada. Dengan mulut tertutup rapat, Yuni terlihat sangat fokus dengan apa yang ia lakukan. Sampai-sampai, Budi tidak berani untuk berbicara padanya.
Sebuah cahaya berwarna kuning tiba-tiba muncul dari dada Yuni. Cahaya itu muncul secara tiba-tiba, menghilang juga tiba-tiba. Secepat kedipan mata, seperti itulah cahaya itu muncul lalu lenyap.
"Apa ini?" tanya Budi sambil mengulur tangannya untuk menerima pemberian Yuni.
"Itu adalah barang yang akan membantu kamu untuk melepaskan sukma mu jika kamu ingin pergi ke mana kamu mau. Pakai kalung itu dan katakan apa yang kamu inginkan. Maka kalung itu akan melakukan apa yang seharusnya dia lakukan."
"Baiklah."
"Aku harus pergi."
Yuni pun menghilang setelah mengatakan hal itu, meninggalkan Budi yang masih tidak percaya dengan apa yang ia dapatkan barusan. Rasa penasaran pun menyusup ke dalam hati Budi. Ia ingin mencoba apakah kalung itu benar bisa melakukan yang ia inginkan atau tidak.
Budi memakai kalung itu lalu mengatakan kalau dia ingin melepas sukmanya. Tiba-tiba, ia merasakan tubuhnya ringan seperti saat pertama ia diajak Yuni jalan-jalan dengan melepaskan sukmanya.
Budi tersenyum bahagia. Ia memejamkan matanya dan mengatakan kalau dia ingin jalan-jalan ke rumah Suci lagi. Saat Budi membuka matanya, kalung itu meluluskan niat Budi. Budi pun telah berada di depan pintu masuk rumah Suci saat ia membuka matanya.
__ADS_1
"Suci, aku kembali," ucap Budi sambil berjalan masuk.
Budi kembali menuju kamar Suci. Ia masuk menembus tembok kamar dengan mudah. Setelah sampai dalam kamar, Budi melihat Suci sedang tertidur di depan meja rias dengan beralaskan tangannya sendiri.
"Chi, jangan sedih. Aku baik-baik saja kok Chi, kamu tidak perlu mencemaskan aku," kata Budi sambil membelai lembut rambut Suci. Walaupun ia tidak bisa menyentuhnya, yang penting ia merasakan kalau dirinya telah berhasil membelai Suci.
________
Bunda telah kembali. Suci tidak berniat menyambut kedatangan bunda, karena dia sudah tahu kalau bundanya telah berbohong. Bunda pergi bukan mengunjungi kerabat lama, melainkan bertemu gurunya.
"Kenapa tidak menyambut bunda, Suci?" tanya ayah heran.
"Tidak perlu, Yah. Bunda tidak butuh di sambut, apalagi oleh aku," ucap Suci pelan.
"Ada apa, sayang? Apa yang tidak enak di hati sampai kamu bicara seperti itu?" tanya ayah dengan wajah polos.
"Tidak ada ayah. Aku hanya sedang tidak enak badan saja."
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya bunda dengan wajah kesal karena tidak Mendapatkan sambutan dari anak dan suaminya.
"Tidak ada bunda. Maaf, ayah tidak sempat menyambut bunda, karena ayah juga baru saja pulang dari kerja," kata ayah sambil senyum.
"Aku permisi dulu," ucap Suci tanpa basa-basi lagi.
"Iya." Ayah menjawab singkat.
"Suci, tunggu!"
Langkah Suci terhenti saat suara keras bunda menyentuh daun telinganya. Suci membalikkan badan dengan malas.
"Kenapa kamu?" tanya bunda dengan nada masih tinggi.
"Tidak ada. Hanya capek saja. Aura di sini terasa panas soalnya."
"Apa maksud kamu?" tanya bunda dengan nada tinggi yang terdengar sangat tidak suka dengan jawaban yang Suci berikan.
__ADS_1
"Bunda, tidak perlu bicara dengan nada tinggi seperti itu. Suci sekarang tidak enak badan, jadi bunda tidak usah marah-marah padanya," ucap ayah menengahi.
"Permisi ayah, aku mau istirahat." Suci berbalik arah dengan cepat meninggalkan bunda dan ayahnya.