Hutan Belakang Rumah

Hutan Belakang Rumah
30. Kedatangan Suci


__ADS_3

"Bang, tidak perlu sok kuat di hadapanku. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Kamu tidak setuju bukan?"


"Setuju atau tidak, itu bukan urusan kamu."


"Bang!"


"Apa kamu mau keluarga kita dikutuk untuk yang kedua kalinya, Fan!?" tanya Budi kesal namun sedih sekaligus bangga dengan pembelaan adiknya.


"Biarkan mereka mengutuk sepuas hati mereka."


"Irfan!" Mama dan papa membentak Irfan secara bersamaan.


Sebenarnya, Budi sangat amat sedih. Papa dan mama tidak mempertahankannya. Yang bertahan untuk mempertahankannya hanyalah Irfan.


Budi maklum, mungkin kedua orang tuanya takut untuk melawan. Melawan? Siapa yang bisa mereka lawan? Yuni?


Budi tertawa dalam hati. Yang sedang berhadapan dengan mereka saat ini bukan manusia, tapi makhluk halus tak kasat mata. Bagaimana caranya mereka melawan makhluk yang tidak bisa mereka lihat?


Ketukan terdengar lantang menghentikan perdebatan antara mama papa dengan Irfan. Budi yang tidak ikut berdebat, langsung bergegas menuju pintu untuk melihat siapakah yang datang bertamu.


"Su--Suci?"


Saat pintu terbuka, Budi seakan tak percaya dengan sosok yang sangat ia rindukan sedang berdiri tegak di depan pintu masuk rumahnya.


"Boleh aku masuk?" tanya Suci pelan membuyarkan lamunan Budi yang masih berada dalam keadaan kaget.


"Bo--boleh, silahkan."


"Terima kasih," ucap Suci sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


"Selamat sore, bibi, paman, Irfan."


"So--sore," ucap mama. Sedangkan papa dan Irfan hanya diam saja sambil melihat kearah Suci dengan tatapan bingung.

__ADS_1


"Maaf, aku telah mengganggu waktu kalian pada waktu sore menjelang senja ini. Aku datang ingin bicara sesuatu."


"Bicara apa?" tanya Budi dengan cepat mendahului yang lainnya.


"Ini soal masalah yang sedang kalian hadapi. Aku punya solusi untuk masalah besar ini."


"Maksud kamu?" tanya papa pula.


"Paman, aku tahu kalian sedang mengalami saat sulit sekarang. Dua hari lagi adalah hari ulang tahun Budi, bukan?"


"Iya, lalu?" tanya papa.


"Tepat di hari ulang tahun Budi yang kedua puluh, dia akan ditarik ke alam gaib karena sebuah perjanjian. Perjanjian itu bisa diubah," kata Suci dengan mantap.


"Apa!? Bagaimana caranya?" Satu keluarga kompak serentak menanyakan hal itu pada Suci.


Keluarga Budi terlihat begitu semangat menanyakan cara mengubah perjanjian itu. Terlihat kebahagiaan di wajah mereka masing-masing. Tergambar semangat dalam setiap wajah.


"Caranya .... "


Teriakan keras yang datang dari depan pintu rumah Budi, menghentikan kata-kata yang ingin Suci ucapkan. Mata yang awalnya terfokus pada Suci, kini semuanya berpaling kearah pintu. Di sana, Sarah sedang berdiri tegak dengan wajah marah.


"Bunda (Sarah) (bibi Sarah)," ucap semuanya serentak.


"Pulang!"


"Ada apa ini Sarah?" tanya mama.


"Ini bukan urusan kalian. Sebaiknya, kalian jangan ikut campur urusan aku dan anakku," kata Sarah sambil berjalan masuk.


"Suci, pulang!" kata Sarah lagi.


"Tidak!"

__ADS_1


"Aku bilang, pulang!" ucap Sarah sambil ingin menggapai tangan Suci.


"Jangan sentuh dia," ucap Budi yang menghalang tangan Sarah dengan cepat.


Tatapan mematikan Sarah lontarkan pada Budi. Ia begitu kesal dengan perlakuan Budi yang berani mencampuri urusannya.


"Budi." Sarah memanggil nama Budi dengan nada marah.


Papa dan mama hanya bisa saling tatap. Ia tidak mengerti harus berbuat apa sekarang. Di satu sisi, ia tidak ingin ikut campur dalam urusan keluarga Sarah, tapi, di sisi lain, mereka sangat ingin menahan Suci, karena Suci tahu bagaimana cara membatalkan perjanjian itu.


"Bibi Sarah. Aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti Suci."


"Siapa yang ingin menyakiti Suci? Dia anakku, aku tidak mungkin menyakiti darah daging ku sendiri."


"Siapa darah daging mu?" tanya Suci dengan mata berlinang.


"Apa--apa kamu sudah tahu rahasia besar itu, Chi?" tanya Budi.


Suci mengangguk pelan. Air mata perlahan jatuh melintasi pipi putihnya. Buliran bening itu tidak bisa ia tahan lagi.


"Iya, aku tahu. Apa kamu juga tahu tentang rahasia itu?" tanya Suci pelan.


Belum sempat Budi menjawab, papa malah melontarkan pertanyaan. "Ada apa ini sebenarnya? Rahasia apa yang kalian bicarakan?"


"Rahasia .... "


"Kalian semua telah berani ikut campur urusanku. Kalian ingin mati bersama-sama atau mati sendiri-sendiri, hah!"


Belum sempat menjawab, Sarah sudah mulai melafalkan mantra untuk memanggil peliharaannya. Seketika, suasana tiba-tiba terasa panas akibat kedatangan mahkluk peliharaan Sarah. Meskipun tidak ada yang bisa melihat keberadaan mahkluk tersebut, tapi suasananya terasa sangat berbeda.


"Jin seribu khandak, aku ingin kau mencelakai mereka semua," kata Sarah sambil mengarahkan telunjuknya kearah Budi sekeluarga.


"Sarah!"

__ADS_1


Suara itu mengangetkan semuanya. Suara berat yang terdengar penuh amarah, membuat semuanya semakin bingung dan panik. Tiba-tiba, sesosok wanita cantik dengan gaun putih muncul di tengah-tengah tegangnya suasana.


__ADS_2