
"Cie ... kompak." Irfan angkat bicara.
"Ya sudah. Sebaiknya kita pulang sekarang. Nanti kita bahas lagi soal dua sejoli ini," kata mama menjadi penengah buat semuanya.
Semuanya setuju dengan saran mama. Mereka memutuskan pulang ke rumah segera. Orang tua Budi akan datang ke rumah Suci untuk membahas soal lamaran dan pernikahan nanti.
"Mmmm, Ma, aku antar Suci pulang ya," ucap Budi saat mereka berada di persimpangan menuju rumah Budi dan Suci.
"Iya."
"Ciiieee ... udah main antar mengantar kayaknya," kata ayah menggoda Suci dan Budi.
"Kayaknya sih, udah gak sabar lagi nih," kata papa ikut menggoda.
"Udah-udah, kalian berdua ini sukanya menggoda melulu. Kalian gak kasihan apa pada Suci dan Budi. Lihat tuh, mereka berdua jadi salah tingkah," kata mama.
Budi dan Suci hanya bisa tersenyum-senyum saja saat mendapatkan godaan dari papa dan ayah. Budi yang merasa malu, hanya bisa garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Sedangkan Suci, hanya bisa tersenyum malu menyembunyikan wajah merah merona akibat bahagia. Yang paling merasa tidak nyaman adalah Irfan. Mau ikut menggoda, tapi tidak enak sama para orang tua. Yang ia bisa hanyalah diam sambil melihat apa yang orang tua lakukan.
Setelah merasa puas menggoda Budi dan Suci, mereka pun berpisah. Budi ikut Suci kearah rumahnya untuk mengantarkan Suci pulang sampai ke rumah. Irfan juga ikut abangnya.
"Kalian berdua enaknya, dapat restu dari semuanya," kata Irfan dari belakang.
"Kamu iri ya?" Suci menggoda Irfan pula.
"Iri? Siapa yang iri?"
"Kamu." Suci menjawab singkat sedangkan Budi hanya diam sambil senyum saja.
"Iri dari mana? Aku gak iri kok. Ngapain harus iri pada kalian berdua. Aku itu malahan senang banget lho ya, kalian berdua akhirnya bisa bersatu. Dan yang paling penting, abang ku tidak menjadi korban dari mahkluk ter*ku*tuk itu." Irfan bicara panjang lebar.
"Sayang juga kamu sama abang mu ini ya, Fan."
__ADS_1
Suci menyenggol bahu Budi.
"Ya sayang lah. Orang dia teman aku satu-satunya di rumah."
Budi hanya bisa tersenyum mendengarkan apa yang irfan katakan. Ada sedikit rasa bangga yang menyusup ke dalam hati Budi saat Irfan mengatakan kalau dia sayang pada abangnya. Budi bersyukur punya adik seperti Irfan. Walau agak kasar, tapi sangat penyayang.
"Kenapa kamu senyum-senyum, Bud?" tanya Susi membuyarkan lamunan Budi.
"Nggak."
"Kamu mikir apa, Bang?" tanya Irfan.
"Apa kamu menghayal saat kamu menikah dengan Suci?" tanya Irfan lagi.
"Ih kamu ini, ya Fan. Terbukti lho kamu sedang iri." Suci mengatakan hal itu sambil senyum-senyum sendiri.
"Apaan sih. Aku nggak iri."
"Biarkan saja. Orang dia pantas iri sama aku."
"Lho kenapa?" tanya Suci bingung.
"Aku beruntung soalnya."
"Karena?"
"Aku bisa memiliki kamu."
"Cieee ... kalian gak berdua doang di sini. Ada aku dan juga paman di depan sana," kata Irfan menganggu suasana romantis yang hampir saja tercipta.
"Irfan ganggu aja." Suci kesal.
__ADS_1
"Iya nih. Ngerti dikit napa kamu, Fan." Budi ikut bicara.
"Iya deh. Aku ngertiin kalian berdua. Kalian jalan belakang, biar aku jalan duluan. Barengan sama paman aja deh," ucap Irfan sambil berjalan cepat mendahului Budi dan Suci.
Setelah Irfan agak jauh dari mereka berdua. Suasana diam pun tercipta. Budi dan Suci sama-sama memikirkan sesuatu yang menimbulkan pertanyaan dalam benak mereka masing-masing.
"Bud, ada yang ingin aku tanyakan."
"Apa? Tanyakan saja apa yang ingin kamu ketahui dari aku."
"Kamu jawab jujur ya."
"Iya."
"Ini tentang alam gaib dan juga Yuni."
Budi belum menjawab. Ia hanya diam saja sambil melihat wajah serius yang Suci perlihatkan.
"Apa yang ingin kamu ketahui tentang alam gaib dan Yuni?"
"Benarkah kamu sudah pernah mengunjungi istana gaib milik Yuni, Bud?"
"Iya." Budi menjawab singkat.
"Bagaimana istana itu?"
"Bagus."
"Bisakah kamu menceritakan setiap sudut istana yang sudah kamu kunjungi padaku?"
Budi lalu menceritakan apa yang ada dalam istana Yuni. Ia juga menceritakan setiap bagian-bagian dari istana gaib yang ada di belakang rumahnya. Bukan hanya keadaan istana saja, Budi juga menceritakan keadaan kerajaan dan semua rakyat penghuni hutan belakang rumah pada Suci dengan detail.
__ADS_1
"Ternyata lebih bagus dari yang aku bayangkan," kata Suci sambil menatap ke depan.