
Nica's POV
"Nica,"
"Nak, bangunlah!" ucap suara lirih seorang wanita. Ternyata suara tersebut adalah suara Mama Mathilda.
Aku pun membuka mataku. Pandanganku kabur sekali. Namun, perlahan kabur tersebut hilang seketika. Tampak sebuah cahaya matahari dari jendela yang menyilaukan pandanganku.
Aku kenal tempat ini,
Kamar di mana aku terbangun dari mimpi yang panjang dan pertama kali menatap wajah Mama Mathilda.
Kini dirinya terduduk di sisi ranjangku. Mengamatiku dengan seulas senyuman di wajahnya. Hangat sekali.
"Ma," panggilku. Aku langsung merubah posisiku menjadi duduk dengan beralaskan selimut. Kulihat Mama Mathilda yang terdiam sambil menatapku.
"Nica," panggilnya lirih sambil menyentuh tanganku yang menyentuh selimut. Pandangannya seperti ingin mengungkapkan sesuatu. "Bagaimana keadaanmu?"
Aku terdiam sesaat dan menjawab, "Baik, Ma. Hanya saja masih lemas."
"Daya regenerasimu cukup cepat," ucap Mama Mathilda.
Hah? Daya regenerasi?
"Maksud Mama?" tanyaku heran.
"Rata-rata seorang iblis memiliki kekuatan regenerasi dalam tubuhnya lambat atau bahkan tidak bergenerasi sama sekali, " jelas Mama Mathilda sambil mengelus rambutku.
"Kau berbeda, Nica," lanjutnya. Kedua mata berwarna coklat hazelnut-nya menatap mataku.
Aku terdiam membisu. tidak menyangka dengan apa yang sudah dijelaskan oleh Mama Mathilda kepadaku.
Aku menangis.
Menangis sekencang-kencangnya di hadapannya.
"Mama, kenapa aku menjadi iblis?" tanyaku kepadanya dengan suara isak tangis yang tersendat di tenggorokanku. Tak kuasa diriku menahan emosiku.
"Untuk mengubah dunia ini," jawabnya.
"Sebenarnya kau sudah tewas di permainan survival yang diadakan oleh iblis," katanya sambil menatap langit biru dari balik jendela.
"Tapi aku menyuntikan darah iblis ke dalam dirimu," lanjutnya lagi. Pandangannya berubah menjadi pandangan datar. Menatap cahaya matahari yang tembus dari celah jendela berkayu.
Aku memandang wajahnya yang sekaligus terlihat sedih hingga dirinya meneteskan setetes air mata yang membasahi wajahnya.
"Dan kau memiliki potensi tersebut!" katanya dan menyentuh kedua tanganku. Lalu kembali menatapku. "Kau adalah harapan umat manusia."
Seketika kedua mataku membulat membalas tatapannya yang hangat itu. Tatapannya menyimpan harapan kepadaku.
Harapan manusia.
Kalimat tersebut terus mengelilingi pikiranku. Aku tidak bisa berkata-kata. Tidak kusangka selama ini aku adalah iblis. Bereinkarnasi menjadi iblis walau tidak sepenuhnya iblis di dalam diriku.
Inilah misiku yang sebenarnya. Menegakkan keadilan bagi umat manusia di dunia yang kejam.
--
Aku terbangun dari mimpiku. Pertemuanku dengan Mama Mathilda tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku.
Kulihat jendela di samping ranjang tempatku terbaring. Hujan di siang hari sehingga suhu ruangan terasa lebih dingin daripada biasanya.
Aku baru menyadari bahwa kini aku memakai pakaian pajama putih serta balutan perban yang cukup menyesakkan di bagian perutku.
Kutatap kedua tanganku, tangan setengah iblis.
"Louis?" Tiba-tiba aku menyadari kehadirannya tepat berada di sampingku. Tertidur pulas seharian sambil menjengukku. Wajah lelahnya terlihat jelas sekali.
Jantungku berdebar-debar seketika ketika menatap tingkah laku Louis yang terlalu perhatian padaku. Aku langsung menyentuh dan mengelus pelan kepalanya. Rambut biru tuanya yang kusut mengenai telapak tanganku.
Kasihan sekali dirimu, Louis.
"Eh?" Kedua matanya terbuka dan menatap kedua mataku. Kini pandangan kami saling bersahutan. Aku yang sedang mengelus kepalanya seketika langsung menarik kedua tanganku.
"M—maaf gak ada maksud buat bangunin kau."
"Sumpah dah!" lanjutku sambil mengacungkan dua jari dan menatap kedua matanya yang terbuka gara-gara aku. Aku berusaha meyakinkan dirinya.
Dia pun bangkit dari posisi tidurnya dan duduk dengan tegap. "Maaf, aku ketiduran."
Kantung matanya cukup terlihat di wajahnya.
"Kau sudah tertidur selama dua hari penuh."
Apa?!
Aku terkejut mendengar durasi tidurku yang lama.
"Lah, lama banget!" jawabku.
"Memang."
"Jadi kau menungguku di sini selama dua hari penuh?" tanyaku yang penasaran.
Louis hanya mengangguk pelan.
"Gak makan dong?" tanyaku lagi. "Gak mandi dong?"
"Ya tidaklah!" jawabnya senyum. "Aku tetap makan dan mandi tapi setelah itu aku jenguk kau lagi."
Ya ampun ngerepotin banget dah lu, Nica!
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya tiba-tiba sambil menatapku.
"Sudah lebih baik," jawabku.
"Syukurlah kalau begitu," katanya. "Kau harus banyak istirahat karena kondisimu belum terlalu pulih."
Aku terdiam.
Aku masih tidak menyangka bahwa Louis sangat perhatian padaku di saat aku sedang terbaring lemah.
Aku merasa ... Berutang budi padanya.
"Terima kasih sudah menjengukku sampai matamu terlihat lelah sekali," kataku sambil memandang kedua matanya yang tertuju padaku.
Wajahnya tersenyum lega. "Aku akan selalu menjagamu, Nica!"
"Maaf aku tidak bisa hadir di saat kau sedang kesusahan kemarin!" lanjutnya sambil memasang raut wajah menyesal.
Aku menyentuh pipinya menggunakan tangan kananku. Wajah penuh kekhawatiran dan kesedihan. Kedua mata berwarna birunya membulat.
"Santuy aja, sih, lagian juga itu iblis dah mati," ucapku.
Seketika momen di mana aku melawan wanita iblis di tengah-tengah hutan, terlintas di pikiranku. Tubuhku berubah menjadi iblis sama sepertinya dengan taring dan kuku-kuku yang sangat panjang, bahkan aku tidak bisa mengingat bagaimana aku bisa membasmi sekawanan iblis yang datang menyerangku saat itu juga. Jiwa ragaku terasa lepas dan hilang kendali di saat itu.
Sebaiknya aku tidak memberitahu Louis mengenai diriku yang sebenarnya.
"Oh iya," Tiba-tiba aku teringkat dengan suatu hal. "Komandan Regu Clèment gimana?"
Jangan bilang dia udah meninggal!!
"Dia baik-baik saja," jawab Louis datar. "Dia sudah pulih dari ketidaksadarannya 8 jam setelah ekspedisi."
"Syukurlah." ucapku dengan perasaan lega.
"Kenapa?" tanya Louis tiba-tiba dengan tatapan heran. "Kelihatannya kau khawatir sekali padanya."
"Tahu gak, sih, dia hampir mau dibunuh sama wanita iblis!" jawabku dengan suara agak meninggi. "Kan panik! Depan mataku pula."
Dirinya tampak menyimak penjelasanku. Sepertinya Louis ingin menanyakan sesuatu. Akan tetapi ....
Tok tok tok
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Dengan refleks, leherku menoleh ke arah sumber suara. Louis pun sama sepertiku.
Komandan Regu Clèment memasuki ruangan dengan rambut pirang—ikalnya yang diikat menyerupai ekor kuda serta jaket khasnya yang berwarna ungu tua.
Sambil memasang raut wajah tanpa tersenyum,
Aku dan Louis langsung melakukan salam hormat di hadapannya.
Langka sekali.
Tidak pernah sebelumnya Komandan Regu Clèment seperti ini.
"Komandan Regu Clèment!" ucap Louis sambil mengangkat tangan kanannya tepat di ujung alisnya.
"Maaf aku datang secara tiba-tiba," ucap Komandan Regu Clèment sambil mengibaskan poninya yang jatuh tepat di atas alisnya.
"Tidak, Komandan Regu. Kami sangat menghargai kedatangan Anda!" ucapku, berusaha untuk bersifat sopan.
"Sebelumnya aku ingin bicara empat mata dengan Nica," ucap Komandan Regu Clèment.
Ada apa ini tiba-tiba?
Pernyataan Komandan Regu Clèment membuat Louis langsung bangkit dari posisi duduknya dan menatap wajahku sambil tersenyum dan menyentuh kedua tanganku sambil mengisyaratkan "Bye" secara tersirat. Lalu pergi meninggalkanku dan Komandan Regu Clèment.
"Jadi kau orang yang membicarakanku waktu sarapan pagi, ya?" tanyanya tiba-tiba. Seketika perkataannya tersebut menusuk dadaku.
Skak mat!
Perasaan terkejut dan panik bercampur-aduk dalam diriku.
"S—saya minta maaf, Komandan Regu Clèment. Saya benar-benar tidak bermaksud begitu!" ucapku yang berusaha untuk mencairkan suasana yang mulai mencekam.
"Aku tahu karena aku tampan jadi kau membicarakanku," katanya. Benar-benar percaya diri sekali. Sifat aslinya pun keluar.
"T—tidak Komandan Regu, bukan begitu!" jawabku yang gugup sekaligus bingung apa yang harus kukatakan.
"Oh jadi aku tidak tampan?" bentaknya tiba-tiba sambil mendekatkan wajahnya padaku.
Seperti mengancamku.
"Eh em—iya maksud saya Anda cakep kok ehe!" ucapku, berusaha untuk tidak salah bicara dengannya.
__ADS_1
Iyain aja dah.
Dia akhirnya menjauhkan wajahnya dariku. Kedua mata hijaunya benar-benar menatapku sinis. Dia tersenyum miring menatapku. Aku langsung memalingkan pandanganku sambil menatap dinding berwarna krem di belakangnya. Tidak berani menatapnya secara langsung.
"Bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Komandan Regu Clèment kepadaku, mengalihkan pembicaraan dan dirinya langsung menarik sebuah kursi kayu dan mendudukinya. Suara kayu yang berasal dari kursi kayu tersebut terdengar jelas karena bergesekan dengan permukaan lantai yang sama halnya terbuat dari kayu.
Ini merupakan pertama kalinya Komandan Regu Clèment menegurku.
Sebuah keajaiban.
Karena selama ini, Komandan Regu Clèment selalu terlihat misterius dan kaku dengan bawahannya.
Kan segan ....
"Sudah lebih baik, Komandan Regu!" jawabku. Tetap dengan perasaan segan ketika aku menjawab pertanyaannya.
"Syukurlah kalau begitu," ucapnya. "Terima kasih sudah menyelamatkanku!"
"Eh?" Hanya itu saja yang keluar dari mulutku.
Perasaan bingung dan penasaran saling bercampur-aduk di benakku.
Kenapa dia bisa mengetahui kejadian itu?
"Aku sudah tahu bagaimana kejadian ekspedisi kemarin," katanya.
"Berkat ini," lanjutnya sambil menunjukkan dahinya menggunakan jari telunjuknya.
"Ada micro-chip di sini."
"Micro-chip ini berhubungan langsung dengan otakku dan benda ini berperan penting dalam merekam berbagai kejadian selama aku hidup," jelasnya.
Aku terpana melihat area yang ditunjuknya yang dikatakan bahwa ada sebuah micro-chip di sana. Namun, anehnya tak ada benjolan atau sejenisnya.
"Saya tidak melihat ada benjolan atau goresan di dahi Komandan Regu sedikitpun!"
Rasa penasaranku harus cepat dijawab.
Dia hanya tersenyum. "Perhatikan baik-baik!"
Aku pun memperhatikan area dahinya tersebut dengan seksama. Tiba-tiba suatu hal menyita perhatianku. Ada sebuah goresan kecil yang hampir tidak kelihatan bila tidak diperhatikan dengan seksama. Goresan kecil yang masih membekas.
"Kau bisa melihat ada goresan kecil di sana," katanya sambil menunjukkan letak micro-chip nya tersebut berada.
"Saya bisa melihatnya!" ucapku. Kedua mataku terpana oleh goresan kecil di dahi Komandan Regu Clèment.
"Kenapa bisa ada micro-chip di sana, Komandan Regu Clèment?" tanyaku penasaran. "Dan juga Anda pingsan waktu itu, bukan?"
Dia tersenyum miring. "Aku memiliki ingatan yang kurang baik atau bisa dibilang pikun dini sejak kecil sehingga aku dipasangkan sebuah micro-chip di dahiku untuk merekam setiap kejadian," jelasnya.
"Dan walaupun aku tertidur ataupun pingsan, micro-chip ini selalu merekam dan terhubung dengan otakku," lanjutnya. "Kau satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini."
Apa?
Jadi selama ini, dirinya telah merahasiakan itu dengan semua orang, bahkan dengan teman-teman seangkatan dengannya!
Aku hanya termenung menatapnya, sekaligus menatap goresan transparan di dahinya.
Diriku dibuatnya terpukau setelah mendengar penjelasan langsung mengenai micro-chip Komandan Regu Clèment.
"Aku tidak menyangka kau ternyata seorang iblis," ucapnya secara terang-terangan.
"S—saya juga gak tahu kenapa saya bisa berubah menjadi iblis," jawabku terbata-bata.
Perasaan panik dan cemas merasuki jiwaku.
Kalau bisa pilih aku gak mau jadi iblis!
"Saya tidak ingin mengecewakan para anggota aliansi lain mengenai hal ini, " kataku. "Saya tidak tahu harus bagaimana lagi."
"Lambat laun mereka juga akan mengetahui dirimu yang sebenarnya," ucap Komandan Regu Clèment. "Baiklah, aku akan merahasiakan hal ini untuk sementara waktu."
"Apakah Louis sudah sadar akan hal ini?"
Aku menggelengkan kepalaku.
"Bahkan dia sendiri dendam terhadap iblis." jawabku. "Bisa bisa saya bakal dibunuh juga sama dia."
"Kau bisa menceritakan kejadian ini dengannya," katanya. "Aku yakin dia tidak akan membencimu."
"Dia pasti akan mengerti kondisimu!" jelasnya. "Daripada kau pendam sendirian kan tidak enak!"
"Ya gimana ya, Komandan Regu ...," ucapku ragu.
Aku menghela napas panjang.
Memang benar perkataan Komandan Regu Clèment. Memang benar jika aku pendam emosiku akan hal ini, sama saja seperti menyakiti diri sendiri.
Tapi,
Aku tetap tidak bisa menceritakan kejadian ini padanya. Aku takut dia akan membenciku, seperti halnya dia membenci para iblis di luar sana. Aku tidak ingin pertemanan kami hancur karena ini.
"Semua tergantung pada dirimu," ucap Komandan Regu Clèment. "Hanya dirimu sendiri yang bisa memutuskan."
Aku terdiam, lalu berkata, "Terima kasih Komandan Regu Clèment atas pengertian Anda tentang masalah ini."
"Jangan memanggilku Komandan Regu Clèment!" ucapnya sambil tersenyum miring. Satu alisnya diangkatkan ke atas. "Panggil aku Clèment saja."
Iya deh iya biar cepet.
"Siap, Koman—eh maksudnya Clèment, maaf!" ucapku sambil menutup mulutku dengan tangan kanan.
"Oke," ucapnya sambil bangkit dari posisi duduknya dan mengembalikan kursi kayu yang ditempatinya ke posisi semula.
"Kau harus beristirahat penuh agar cepat pulih dari luka parahmu itu!" katanya dengan penuh perhatian. Tumben sekali!
"Karena kita akan ada kunjungan ke Aliansi Azalea jam 4 besok pagi," katanya. "Komandan Lucian bilang kau harus ikut serta dalam kunjungan ini."
"Baiklah!" ucapku tersenyum sambil melakukan hormat padanya.
Dia pun hanya tersenyum dan melambaikan tangannya sembari berjalan ke arah pintu. "Dah!"
Wujudnya pun menghilang dari kamar. Kini hanya aku sendiri di kamar. Suasana menjadi hening seketika.
Aku langsung merebahkan diriku kembali di atas kasur yang empuk, melepaskan segala kecemasan dan kegelisahanku untuk sementara waktu. Aku menarik napas sedalam-dalamnya dan menghembusnya secara perlahan membuat diriku merasa tenang seketika.
Aku masih memikirkan perkataan dari Komandan Regu Clèment tadi,
"Kau bisa menceritakan kejadian ini dengannya."
"Aku yakin dia tidak akan membunuhmu."
"Dia pasti akan mengerti kondisimu."
Kalimat-kalimat tersebut terus merayap di sekujur urat-urat otakku. Perasaan gelisah semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba aku teringat dengan senyuman Louis yang hangat berubah menjadi dendam dan benci. Seketika air mata menetes dari kedua mataku.
"PUSING!!!" teriakku. Aku melampiaskan segala kegelisahanku di bawah bantal putih yang masih suci ini. Kudekapkan wajahku di bawah bantal sambil berteriak sekencang-kencangnya.
--
Louis's POV
Louis termenung sambil menatap langit-langit lorong yang disinari oleh cahaya lilin yang berada di setiap sisi dinding.
Sepi sekali.
Hanya Louis seorang diri di sini.
Karena tidak ada tempat duduk, terpaksa Louis harus berdiri sambil menunggu Komandan Regu Clèment keluar dari kamar Nica.
Kira-kira apa, ya yang sedang mereka bicarakan?
Percuma saja bila dirinya menempelkan telinganya di pintu sebab Kamar Nica terlalu kedap suara. Louis menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ingin rasanya menanyakan hal itu langsung kepada Nica.
Akan tetapi, Louis merasa tidak enak menanyakan hal pribadi kepada Nica.
"Lupakan lupakan lupakan!" gerutu Louis sambil bersender di dinding lorong.
Tiba-tiba pintu kamar Nica terbuka. Komandan Regu Clèment baru saja keluar dengan wajah datar seperti biasa. Louis pun terkejut dan merubah posisinya menjadi tegap sempurna.
Pandangannya heran menatap Louis.
"Louis!" panggil Komandan Regu Clèment kepada Louis tiba-tiba. Ini merupakan pertama kalinya dia menyapa Louis, biasanya Komandan Regu Clèment hanya menatap dirinya saja.
"Iya, Komandan Regu Clèment," kata Louis sambil melakukan salam hormat di hadapan Komandan Regu Clèment.
"Besok pagi, tepat jam 4 akan ada kunjungan ke Aliansi Azalea," katanya tiba-tiba sambil menepuk bahu Louis. Tingginya yang setara dengan leher Louis membuatnya menatap Komandan Regu Clèment sambil menunduk. "Kau dan Nica harus ikut dalam kunjungan ini."
"Tapi Komandan Regu Clèment," sela Louis. "Nica belum pulih total!"
Dia pun tersenyum miring. "Siapa bilang?"
Cukup membuat dirinya terkejut mendengar pernyataan Komandan Regu Clèment secara tiba-tiba.
Maksudnya?
Komandan Regu Clèment langkah–demi–langkah mulai meninggalkan Louis seorang diri di lorong yang cukup gelap. Louis terdiam sambil mengamati langkah Komandan Regu Clèment yang mulai menjauh.
"Oh iya," ucapnya tiba-tiba. Langkahnya terhenti. "Panggil aku Clèment saja!"
Kemudian suara langkah kakinya terdengar kembali dan meninggalkanku.
Aku tidak merespon perkataannya.
Apa-apaan ini?
"Hey Loulou!" panggil Alexa tiba-tiba menghampiri Louis yang sedang berdiri mematung sambil membawa sebuah nampan berisi segelas air putih dan piring yang ditutup oleh tudung saji besi sehingga tidak terlihat makanan yang sebenarnya ada di piring tersebut serta sebuah obat kapsul.
"Kenapa melamun?" tanyanya.
Seketika membuyarkan lamunan Louis.
"Tidak kok, tidak apa-apa." jawab Louis sambil menatap wajah Alexa yang menatapku bingung.
"Barusan aku ketemu Komandan Regu Clèment di elevator tadi."
"Wajahnya kaku," lanjutnya. "Sepertinya dia habis menjenguk Nikki, ya?"
__ADS_1
"Hmm," jawab Louis. "Makanya aku keluar karena dia ingin bicara empat mata dengan Nica."
"Aku penasaran apa yang sedang mereka bicarakan tadi," lanjutnya.
"Kenapa tidak kau tanya dengan Nikki nanti?" tanya Alexa.
Louis menggelengkan kepalanya.
"Tidak enak bila menanyakan pembicaraan orang lain," jawabnya.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada nampan berisi makanan yang dipegang oleh Alexa.
"Buat Nica?" tanya Louis dengan menunjuk nampan tersebut.
Alexa pun mengangguk.
"Oh,"
"Yaudah ayo masuk!" ajakku kepada Alexa ke dalam kamar Nica. Dirinya pun masuk duluan dengan aku yang membukakan pintu.
Tiba di dalam kamar Nica,
"NIKKI!!" teriak Alexa setelah meletakkan nampan berisi makanan di atas meja dan langsung memeluk Nica yang sedang terbaring dengan bantal yang menutupi wajahnya.
"ALEXA!!" seru Nica yang sama histerisnya dengan Alexa. Bantal putih yang awalnya menutupi wajahnya, kini dia lemparkan ke segala arah. Mereka kalau sudah bertemu ya seperti ini jadinya.
Seperti tidak bertemu selama bertahun-tahun.
"Aku kangen sekali padamu!" ucap Alexa memeluk erat Nica.
"Aku juga, Alexa!" jawab Nica membalas pelukan Alexa. Kini mereka sama-sama berpelukan.
Louis hanya menyimak apa yang sedang mereka berdua lakukan tepat di hadapannya. Alexa langsung melepaskan pelukannya pada Nica dan duduk di sisi ranjang Nica. "Aku membawamu makan siang!"
Diriku langsung mengambil segelas air minum dari atas nampan yang dibawa oleh Alexa dan memberikannya kepada Nica.
"Wiiih" kata Nica sambil bertepuk tangan seperti anak kecil.
"Biar aku saja, Louis," ucapnya sambil mengambil segelas air mineral dari genggaman Louis dan meneguknya. "Aku telah banyak merepotkan kalian berdua."
"Tidak," jawab Louis sambil tersenyum menatapnya. "Aku senang melakukan ini semua untukmu."
"Iya!" seru Alexa. "Ini kemauanku mengantarkan makan siang ini kepadamu."
"Terima kasih banyak teman-teman!" jawab Nica dengan pandangan menatap Louis dan Alexa secara bergantian. Dia langsung memeluk kami berdua dengan erat.
"Tanpa kalian mungkin aku sudah sekarat."
Louis pun membalas pelukan Nica.
"Kami akan selalu hadir untukmu," ucap Alexa yang sedang berada di dalam dekapannya Nica.
Nica menyelesaikan pelukannya.
Louis langsung mengambil sepiring makanan yang masih ditutup oleh tudung saji. Saat dia membukanya, ternyata di dalamnya adalah risotto dengan krim keju serta ikan salmon yang dipotong dadu, menyebar di setiap sisi risotto. Bau harum tercium memekakkan saraf penciumannya. Dia langsung mengambil sendok dan meletakkannya di pinggir risotto.
"Aku suapin!" katanya sambil membawa sepiring risotto dengan potongan dadu ikan salmon yang menjadi topping-nya.
Louis menempati kursi kayu yang berada di sisi ranjang Nica.
"Biar aku saja!" ucap Nica bersikeras.
"Tidak," jawab Louis ketus. "Buka mulutmu!"
Dia pun akhirnya pasrah dan membuka mulutnya. Louis langsung menyuapinya sesendok risotto padanya. Wajahnya langsung memerah.
"Kalian cocok sekali!" ucap Alexa memerhatikan Louis yang sedang menyuapi Nica makan siang. Kedua mata bulatnya menatap mereka berdua.
Wajah Nica langsung merah padam. Louis menatap wajah Nica yang memerah sambil tertawa kecil. Canda tawa menyelimuti ruangan ini membuat hidup penuh kebahagiaan. Mereka bertiga pun saling bercerita mengenai apa yang telah mereka lakukan selama di Aliansi Amdis.
Perlahan-lahan Louis juga mulai terbiasa berkomunikasi dengan Alexa. Tidak kaku seperti awal kenal dulu.
Suap–demi–suap akhirnya risotto di dalam piring tersebut habis tanpa sisa. Louis meletakannya kembali di atas nampan.
"Kenyang banget!" ucap Nica yang sudah merasa kenyang sekali. Wajahnya seperti seekor beruang hutan yang sudah kekenyangan.
"Oke!" ucap Alexa sambil merapikan piring dan gelas di atas nampan.
"Alexa!" panggil Louis. "Apakah kau di ajak oleh Komandan Regu Clèment atas kunjungan ke Aliansi Azalea?"
"Yup!" jawabnya. "Tapi bukan Komandan Regu Clèment yang bilang begitu, melainkan Komandan Lucian."
"Sama, aku juga gitu!" jawab Nica tiba-tiba. "Emang ada apa, sih?"
"Tidak tahu," jawab Louis. "Aku juga diajak oleh Komandan Regu Clèment tadi."
"Mungkin mengenai ekspedisi kemarin?" kata Alexa dengan jari telunjuk ditempel di dagunya seakan-akan seperti memikirkan sesuatu.
"Yaelah," ucap Nica dengan memasang raut wajah malas. "Masih aja ekspedisi kemarin dibahas!"
Louis terdiam.
"Oh iya," tiba-tiba Alexa dengan suara bocahnya. "Kau tadi bicara mengenai apa dengan Komandan Regu Clèment?"
Alexa menanyakan hal yang ingin Louis ketahui. Akan tetapi, tidak seharusnya seperti itu, Alexa!
"Alexa!" Louis memberikan kode padanya. Namun, dirinya tidak mengerti dengan kode mata.
Nica terdiam beberapa detik setelah mendengar perkataan langsung dari Alexa.
Tiba-tiba Nica tersenyum dan berkata, "Tadi dia menanyakan kondisiku dan .... "
"DIA MASIH INGAT DONG KEJADIAN YANG KITA
OMONGIN DIA DIAM-DIAM!"
Seketika pandangan Louis dan Alexa menatap Nica dengan perasaan terkejut serta kedua mata yang membulat.
"Serius?" tanya Alexa.
"Iya gila," serunya panik. "Kan panik!"
"Kau, sih, natap dia terang-terangan!" sahut Nica kepada Alexa.
"Kan aku disuruh kau lihat dia!" jawab Alexa.
"Ya gak gitu juga lihatnya, sayang!" jawab Nica yang frustasi menjawab perkataan Alexa yang super polos. "Matamu bulat banget, sih!"
"Tidak kusangka dia masih mengingatnya." ucap Louis.
"Sumpah aku langsung mati rasa waktu dia menanyakan akan hal itu!" ucap Nica sambil mencakar bantalnya.
"Tapi syukurlah kau bisa menjawab pertanyaan mautnya." ucap Louis sambil tersenyum.
"Nah itu," jawabnya. "Kalau dipikir-pikir lagi, sih, malu-maluin banget!"
Mereka bertiga tertawa bersama mengingat kejadian makan pagi tersebut. Tidak disangka bahwa Komandan Regu Clèment masih mengingat hal ini. Bahkan diri Louis sendiri hampir lupa tentang kejadian itu!
--
Clèment's POV
Huh
"Kira-kira masih ada sepotong kue tar gak ya di kantin?" ucap Clèment sambil melangkah keluar dari elevator.
Tiap sudut markas terdapat koridor yang cukup luas. Koridor yang remang, hanya ada lilin yang meneranginya di tiap sudut koridor. Walaupun dirinya sudah pulih dari jatuh pingsannya, tetapi setiap kali dia bergerak cepat, lengan kirinya masih terasa nyeri sekali.
Karena pada saat ekspedisi kemarin, lengan kirinya lah yang membentur tanah duluan.
"Clèment!" panggil Komandan Lucian. Dirinya tiba-tiba muncul dari belakang.
Langkah Clèment terhenti.
"Aku sedang lapar," ucap Clèment dengan ketus dan kembali berjalan.
"Ini penting!" seru Lucian. "Ada yang ingin kutunjukkan padamu."
"Akan kutraktir kue blueberry habis ini." Seketika perkataannya membuat langkah Clèment terhenti kembali dan menoleh ke arahnya.
"Oke," jawabnya. Dirinya pasti akan mau bila makanan manis menjadi jaminannya.
Clèment diajak ke dalam ruangan Komandan Lucian yang cukup luas. Ada ventilasi jendela yang besar. Setiap rintik hujan terlihat jelas di kaca jendela. Terdapat dua sofa kecil berwarna hitam yang menyuruh dirinya untuk duduk di sana.
"Kopi atau teh?" tanyanya sambil memegang sebuah cangkir putih yang anggun.
"Tidak keduanya," jawab Clèment. Karena dirinya tidak merasa haus sama sekali. "Aku sedang tidak haus."
"Baiklah." katanya sambil mengembalikan kembali cangkir putih nan anggun tersebut ke tempat semula dengan posisi terbalik. Dirinya langsung menduduki sofa kecil berwarna hitam di hadapan Clèment.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Clèment.
Lucian tampak membersihkan tenggorokannya terlebih dahulu. Kemudian dia angsung memberikan bukti berupa sebuah taring yang masih berbekas darah. Langsung dilemparkan benda tersebut di atas meja kaca yang antik ini.
"Ini bukti sampel ekspedisi kemarin," ucap Lucian, langsung terduduk di sofa kecil menghadap Clèment. "Baru saja aku dapatkan dari tim Greer yang menyelidiki tempat terjadinya kematian iblis secara misterius."
Clèment terdiam sambil mengamati taring tersebut yang dibungkus di dalam kemasan plastik jenis ziplock.
"Taring ini bukan berasal dari iblis-iblis yang mati, " katanya. "Sudah dicocokkan dengan DNA iblis dan hasilnya tidak cocok sama sekali kaitannya dengan taring ini."
Clèment masih terdiam sambil mengamati taring tersebut. Lancip dan besar.
Tidak mungkin bila ini adalah taring manusia.
Sebab taring ini cukup besar dibandingkan dengan taring manusia pada umumnya. Seperti taring macan bisa dibilang.
"Bahkan tidak ada hewan di sana," kata Lucian. "Jadi mustahil saja bila ini adalah taring hewan."
"Apakah kau yakin ada salah seorang anggota pasukan yang memiliki taring seperti ini?" tanya Lucian.
"Mana mungkin!" jawab Clèment. "Taring ini terlalu besar untuk seukuran manusia."
Apakah ini ada hubungannya dengan Nica ?Tidak tidak, mana mungkin dia punya taring besar seperti ini!
Bahkan ketika Clèment memperhatikan gigi Nica tadi tidak ada taring di sana!
"Aku yakin sekali ini pasti ada kaitannya dengan terbunuhnya sekumpulan iblis secara misterius dengan taring ini!" jelas Lucian yang yakin dengan pendapatnya sendiri.
__ADS_1
"Aku punya kenalan dengan salah seorang pasukan dari Aliansi Azalea," kata Clèment. "Dia bisa menerawang masa lalu dari benda yang ia pegang."
"Mungkin dirinya bisa membantu memecahkan masalah ini."