INJUSTICE : Save Human Or Surrender

INJUSTICE : Save Human Or Surrender
#14 Pulang (REVISI)


__ADS_3

"Rika?"


"Woi, bangun coeg!"


Aku langsung membuka mataku. Posisi kedua mataku yang menyentuh kedua lenganku sehingga menimbulkan efek pusing dan pandangan yang tidak jernih ketika aku mencoba untuk membukanya.


Aku mendengar dengan jelas suara-suara berisik. Seperti di dalam kelas.


"Tidur mulu lo!" sahut Amanda, sahabatku sejak masa orientasi SMA. Dia menyenggolkan sikunya kepadaku.


Detik demi detik, pandanganku mulai jelas. Tampak Amanda yang berdiri di hadapanku yang sedang tertidur di atas meja dengan kedua lengan yang disilangkan sebagai tumpuan kepalaku. Rambut hitamnya terurai panjang sebahu dengan wajahnya yang tersenyum menatapku.


Pikiranku bercampur-aduk.


Aku udah balik?


"Lu gak usah kayak gitu ekspresinya," ucapnya.


"Minum dulu, nih!" lanjutnya sambil menyerahkan botol minum plastik milikku yang sedari tadi di atas meja.


Aku pun langsung mengambil air minumku dari atas meja dan meneguknya. Aku meneguknya sambil mengamati sekitarku.


Aku benar-benar sudah pulang!


Teman-teman kelasku saling berdiskusi mengenai tugas. Sebagian besar pada bermain gadgetnya masing-masing. Sebagian lagi sedang tidur.


Memang tipikal anak-anak sekolah banget gak, tuh!


Kulihat diriku. Lengkap memakai atribut sekolah, dengan dasi abu-abu yang terdapat logo sekolah, rok abu-abu yang panjang, dan kemeja putih.


"Ada apa, sih, Rika?"


"MANDA, SUMPAH DEMI APA GUE DI SEKOLAH?" tanyaku padanya dengan penuh perasaan tidak percaya. Suaraku meninggi sehingga membuatnya terkejut denganku.


"Lah, emang dari tadi lu udah di sekolah koplak!" jelasnya dengan raut wajah heran. "Kata Evelyn, lu udah tidur dari sejam yang lalu malah."


"Pas sebelum istirahat," lanjutnya.


"Aneh banget lu."


"Evelyn kemana?" tanyaku.


"Lagi nge-print di koperasi," jawab Amanda.


"Rik, kok tiba-tiba lu begitu, sih?" tanyanya penasaran. Dirinya mengamati tingkah lakuku yang tidak wajar.


"G—gue," Aku tidak bisa berkata-kata. Air mata jatuh ke pipiku.


Aku langsung beranjak dari kursi sekolah dan memeluk dirinya.


"GUE KANGEN BANGET SAMA LO, MANDA!!" kupeluk erat dirinya. "Demi dah!"


"Sumpah lu kenapa, sih?" tanyanya setelah aku melepaskan pelukanku. "Ngeri gue!"


Aku ingin mengatakan kebenaran yang kualami selama ini, namun sulit sekali untuk mengatakannya.


"Gak kok, gak apa-apa!" jawabku. Kemudian aku langsung kembali ke tempat dudukku.


Di satu sisi bila aku mengatakan padanya yang sebenarnya, kemungkinan besar aku akan dianggap gila olehnya.


Tiba-tiba seseorang datang menghampiri kami berdua.


"Weh," sapa Stevany kepada kami berdua sambil membawa jajanan kentang goreng yang sudah diberi saus dan bumbu.


"Lihat catatan Ekonomi lu dong, zheyenk!" Dirinya langsung duduk di sebelahku yang kosong.


"Manda, lu ekonomi udah?" tanya Stevany kepada Amanda.


"Lah, emang ada tugas?"


"Ada coy," jawab Stevany. "Catatan inflasi."


"Kelas gue belum dikasih tahu," jawabnya.


"Kocak dah!" jawab Stevany sambil memakan kentang goreng yang dibelinya.


"Bagi!" ucap Amanda sambil mengambil dua batang kentang goreng dari Stevany. Stevany pun menyodorkan bungkusan kentang gorengnya yang dia beli dari kantin.


"Orang baru bangun udah minta Ekonomi," ucapku sambil mengambil satu batang kentang goreng milik Stevany yang sudah tercampur saus tomat.


"Gue kan anak malas," jawabnya santai sambil tertawa. Menertawai dirinya yang malas lebih tepatnya.


"Parah parah!" ucap Amanda sambil mengunyah kentang goreng.


Aku langsung mengambil buku catatan Ekonomi dari dalam tas yang berada balik punggungku dan memberikannya kepada si malas, Stevany. "Tuman lo!"


"Cuy," panggil Amanda. "Temenin gue ke toilet dong!"


"Mau boker lo?" tanyaku.


"Gila lu!" jawabnya sambil tersenyum kepadaku sehingga menampilkan senyuman giginya yang khas.


"Buruan coeg!"


"Iya et dah!" kataku.


"Bang, jangan ambil buku gue, ini buku mahal!" lanjutku dan langsung meninggalkannya yang sedang menyalin catatan Ekonomi dari bukuku.


Sebutan 'Bang' sering kali kugunakan dengan teman-teman dekatku. Walau mereka semua adalah perempuan namun entah kenapa aku suka memanggil mereka dengan sebutan itu.


Sebaliknya pun juga terkadang mereka memanggilku dengan sebutan itu juga.


Sepertinya Stevany menjawab perkataanku, namun aku tidak mendengarnya dengan jelas sebab tanganku sudah keburu ditarik oleh Amanda.


"Buru-buru amat, sih, lu!" ucapku.


"Kebelet banget gue."


Untung saja toilet di lantai 3 tidak sedang dalam perbaikan sehingga kami tak perlu turun ke lantai dasar. Karena di lantai dasar sekolahku terdapat toilet juga. Akan tetapi, cukup jauh untuk ke sana karena terletak di ujung.


Amanda langsung bergegas masuk ke toilet kosong.


"Jagain!"


"Iya!" kataku sambil berdiri di depan pintu toilet yang baru saja dirinya masuk.


Sepi sekali di sini.


Anehnya hanya kami berdua di toilet.


Kutunggu selama beberapa menit sambil mengingat ingatan yang barusan terjadi padaku.


Louis,


Alexa,


Komandan Regu Clèment,


Dan Mama Mathilda ... Apakah mereka benar-benar nyata?


"Duh mulai deh ngigo nya kebangetan!" gerutuku.


Tapi bila dipikir kembali, aneh sekali tiba-tiba aku terbangun di sekolah!


Aku menunggu Amanda yang sedang berada di dalam toilet.


Aku merasakan ada sesuatu yang aneh sedang terjadi.


Amanda yang biasanya cepat keluar, namun, dirinya sungguh lama sekali sekarang.


"Amanda?" tanyaku dari balik pintu. "Lama amat lu!"


Tidak ada respon darinya. Aku kembali terdiam.


Tumben banget ini bocah lama.


Kutunggu selama beberapa menit lagi. Kira-kira sudah 13 menit lebih aku menunggu dirinya dari balik pintu.


Ku ketuk pintunya.


Tok tok tok..


"MAN," panggilku. "GUE SERIUS JANGAN NAKUT-NAKUTIN GUE!!"


Perasaanku mulai tidak enak. Dirinya tidak merespon. Aku semakin bingung. "Gue tinggalin lu, ya?"


Tetap tidak ada respon.


Namun, saat aku memegang ganggang pintu toiletnya, tidak bisa terbuka alias terkunci.


"Amanda, sumpah gue dobrak, ya!" ucapku. Sama sekali tidak ada respon darinya. Tanpa berpikir lama, aku langsung mendobrak pintu toilet di hadapanku menggunakan kakiku.


BRAAAKKK


Sungguh aneh sekali.


Aku tidak melihat sosok Amanda sama sekali di dalam toilet tersebut. Dirinya menghilang seketika.


"Amanda!" panggilku. "APA-APAAN, NIH?!"


Panik mulai menjalar ke dalam diriku. Tubuhku mulai keringat dingin. Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang sedang kusaksikan sekarang. Padahal Amanda benar-benar sudah masuk ke toilet tepat di depan mataku sendiri!


Bagaimana bisa dirinya menghilang?!!


Kini hanya aku seorang diri di dalam toilet. Terang namun mulai menyeramkan. Bulu kudukku naik. Aku langsung bergegas meninggalkan toilet.


Tiba-tiba suasana sekitar berubah seketika.


Tidak di sekolah, melainkan seperti di luar negeri.


Danau Zürichsee?


Pandanganku tertuju pada danau cantik tersebut. Airnya tenang sekali. Langit biru yang cerah. Angin yang berhembus pelan. Orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarku tidak peduli dengan apa yang kualami.


"K—kok?"


"Dek?"


"HAH KAK EVI?!!" ucapku kaget setengah mati melihat kehadirannya tiba-tiba tepat di sampingku.


"Maaf maaf, Dek, gak ada maksud buat ngagetin kamu!" ucapnya sambil tersenyum.


"K—Kak Evi," ucapku gugup. "Kok tiba-tiba Rika di sini?"


"Lho, emang dari tadi kau di sini, Dek!" jawabnya dengan raut wajah heran. "Kan kita lagi dikasih waktu bebas."


"Tapi tadi Rika di sekolah, Kak!" kataku yang bersikeras.


"Halu mulu!" ucap Kak Evi sambil tersenyum tidak percaya atas apa yang aku katakan padanya. "Orang kamu di sini terus kok sambil foto-foto."


"KAK, PLIS PERCAYA SAMA RIKA!!" Lalu kupandang pakaian yang kukenakan saat ini. Seketika berubah menjadi pakaian bebas.


Apa?!


Kak Evi tidak memperdulikanku.


Tidak mungkin! Tidak mungkin!


Aku langsung mencubit pipiku sekencang-kencangnya sambil diriku meringis kesakitan.


Ini nyata.


Tapi, kenapa aku tiba-tiba berpindah ke sini?


"Ayo!" ajak Kak Evi kepadaku. "Makan siang!"


"O—oke, Kak!" sahutku. Namun saat aku melangkah, kedua kakiku terasa berat sekali. Seperti ada yang menahan kedua kakiku oleh ratusan tangan. Kupaksakan untuk bergerak, tetapi rasa berat ini justru semakin menyusahkanku untuk berjalan.


"Sial kakiku!" gerutuku.


Kulihat Kak Evi yang semakin menjauhi diriku.


"KAK, TUNGGU, KAK!!!" teriakku. "KAK EVI, RIKA TIDAK BISA BERGERAK, KAK!!!"


Namun, Kak Evi tidak membalas dan terus berjalan. Bahkan dirinya tidak menoleh kepadaku yang berada jauh di belakangnya.


Aku mulai kehilangan jejaknya.


Suasana berganti lagi.


Tiba-tiba aku berada di kamarku yang sunyi. Hanya ada kasur yang empuk dan dingin akibat pendingin ruangan yang sudah terlalu lama dihidupkan.


Dengan gadgetku yang menyala ....


Survival game akan dimulai dalam beberapa detik lagi.

__ADS_1


Tersisa 3 detik lagi.


Aku langsung mengetuk tombol "Exit" di layar gadgetku berkali-kali. Akan tetapi, usahaku nihil. Masih saja layar gadgetku menampilkan permainan survival itu.


Layar gadgetku tiba-tiba mati dengan sendirinya.


Aku pun menjauh darinya, Takut terjadi hal yang tidak diinginkan.


"AKU INGIN KEMBALI KE KEHIDUPAN NORMALKU!!" teriakku. "AKU GAK MAU KE SANA LAGI!!"


Hening seketika.


Tiba-tiba aku merasakan hal tidak enak. Aku ... merasa sedang terjatuh dari ketinggian beberapa kaki. Entah aku merasa seakan-akan aku melayang di angkasa sekarang.


"KELUARKAN AKU DARI SINI!!" teriakku. "AKU GAK MAU MAIN!"


Tiba-tiba diriku berada di sebuah rumah. Aku hanya berbekal senapan serbu M-16 di tanganku dan alat-alat perang lainnya yang melekat dalam di tubuhku.


Tiba-tiba muncul seorang musuh dari bawah tangga sambil membawa senapan serbu, namun tidak begitu jelas jenis apa yang dibawanya. Aku pun langsung menembaknya berkali-kali sampai tumbang. Kuamati orang itu. Terdapat kalimat kode biner di lengannya.


01001101 01100001 01110010 01100011 01100101 01101100


Aku tidak tahu apa arti kode tersebut namun kode tersebut terlihat seperti tato permanen.


Aku langsung beranjak pergi meninggalkan orang itu yang sudah tewas di dalam rumah. Lalu kuamati sekelilingku yang sunyi.


Sunyinya berbeda.


Hanya ada perumahan yang tidak terhuni di sini.


Seperti kota hantu.


Namun, terdapat sebuah objek yang menyita perhatianku bila diamati secara seksama. Sebuah plang kecil dari kayu yang tertancap di tanah.


'Enfer'


Sungguh aku tidak pernah melihat kota ini sebelumnya di dalam survival game di gadgetku. Aku tidak pernah melihat nama kota ini di dalam petanya. Pantas saja aku merasakan ada yang janggal dengan aura di kota ini.


Sungguh berbeda sekali, seperti kota hilang atau kota tersembunyi.


Aku langsung menuju lokasi teman satu timku berada menggunakan sebuah kendaraan menyerupai 'mobil'.


Tiba di lokasi,


Aku melihat kedua teman satu timku yang sedang dihadang oleh beberapa musuh dari balik pohon besar. Granat asap bermunculan sehingga membuat pandanganku perih dan tidak jelas. Suara tembakan terdengar jelas, memekakkan kedua telingaku.


"Buruan cover kami!" ucap seorang laki-laki dengan posisi duduk dibalik pohon. "Ada musuh!"


Aku langsung berlari menuju mereka.


"Ayo kita kabur!" kataku, setibanya di lokasi mereka yang berada dibalik pohon rindang yang besar.


"Hah?" tanyanya. Karena ribut sekali disini sehingga lelaki itu tidak dapat mendengarku.


"AYO KITA KABUR SEKARANG JUGA!"


"KAU GILA, YA?!" katanya. "AKU TIDAK MUNGKIN MENINGGALKAN TEMANKU DISINI SENDIRI!"


Terdengar suara tembakan lagi dari depan.


"PERCUMA DIRINYA TIDAK AKAN SELAMAT!" ucapku. "RELAKAN DIA!"


"Biarkan aku sendiri di sini. Selamatkan diri kalian!" kata orang itu. Dirinya menyuruh kami berdua pergi meninggalkannya yang sedang menahan penderitaan.


Pandanganku tertuju pada kalimat kode biner di lengannya.


01001110 01101111 01100101 01101100


Lelaki itu tewas seketika.


"Maaf banget kawan!" bisiknya, sambil menggenggam tangannya dan meletakkan tubuh lelaki itu di atas rerumputan dengan posisi terlentang dan kedua tangan di atas perut.


Asap granat perlahan-lahan mulai pudar dan wujud kami pun tampak oleh musuh. Sekitar 4 orang musuh menodongkan senapan serbunya tepat ke arah kami berdua yang berada dibalik pohon besar.


"Ayo kita habiskan para brengsek itu!" ucapnya yang bersemangat sekali. Kemudian tangannya mulai melemparkan granat ke arah musuh.


DUAAAARRRR


Suara keras itu cukup memekakkan kedua telingaku. Kami pun mulai menembak mereka sampai mereka tewas ditempat. Aku lebih berhati-hati menembak mereka sebab jika tidak, betisku akan terkena peluru lagi seperti dalam ingatanku yang lalu. Akan tetapi, usahaku dalam menghindari tembakan lawan gagal. Betisku tetap saja mengenai pelurunya.


Takdir memang tidak bisa diubah ....


Anehnya, rasa sakit ini tidak terasa olehku.


Kok gak sakit??


Betisku mulai mengeluarkan banyak darah.


"Kau harus diperban!" Lelaki itu menyadari bahwa betisku terkena peluru musuh.


"Tidak," ucapku. "Aku tidak apa-apa."


"Kita harus bergegas pergi dari sini dan segera mencari rumah untuk beristirahat sementara!" jelasku.


"Baiklah," jawabnya sambil membantuku untuk berdiri.


Tiba-tiba pandanganku tertuju pada senapan serbunya. Persis seperti punyaku yang berjenis AK-47, pemberian dari Mama Mathilda. Lalu aku juga melihat sebuah ukiran kalimat dalam bahasa latin. Tidak jelas.


ITU KAN PUNYAKU!!


Otakku penuh sekali pertanyaan-pertanyaan tentang senapan serbu miliknya.


Apakah lelaki ini ada hubungannya dengan Mama Mathilda?


Lelaki ini siapanya Mama Mathilda?


Berarti selama ini,


Senapan serbu pemberian Mama Mathilda sebelumnya adalah milik lelaki ini?


Aku juga melihat kalimat kode biner di lengannya.


01010100 01101001 01100010 01100101 01110010 01101001 01110101


"Oh ya, namaku Oliver!" ucap lelaki itu tiba-tiba.


"Rika," Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi.


"Terima kasih sudah menolongku. Maaf ya ngerepotin banget."


Tak lama kemudian, kami tiba di sebuah rumah. Aku tahu rumah ini sangat berbahaya sebab terdapat beberapa musuh di dalam sana yang sedang mengincar kami sekarang.


"Oliver!" panggilku. Dirinya menoleh ke arahku.


"Aku memiliki firasat buruk," kataku. "Sebaiknya kita cari rumah lain saja!"


"Mau sampai kapan kita cari rumah lagi?" jelasnya. "Sudah jelas ada rumah tepat di depan kita."


"Tapi Oliv—"


Perkataanku tidak di dengar olehnya.


DORRR


Oliver tumbang seketika tepat di hadapanku.


Tampak 3 orang musuh sedang menodongkan senapan serbu mereka kepada kami berdua. Oliver berhasil dijatuhkan oleh mereka dan sekarang giliran aku yang menjadi target mereka.


Aku langsung berlari sejauh mungkin dari mereka sambil melancarkan tembakan random. dua dari mereka berhasil tumbang olehku.


01001001 01100001 01101110


01001011 01101001 01101011 01101001


Tiba-tiba aku tersandung dengan sebuah ranting kayu pohon.


Aku yakin cepat atau lambat, salah satu dari mereka yang masih selamat, akan menghampiri diriku yang sedang terkulai di tanah akibat tersandung ranting kayu. Tak sampai beberapa menit, salah satu dari mereka hadir tepat di hadapanku.


Manusia bertopeng badut. Mematung di hadapanku.


01001011 01100001 01110011 01101001 01100101


… langsung menembak perutku dalam 5 kali tembakan secara brutal sehingga aku mengalami pendarahan hebat.


Inilah proses kematianku.


Aku hanya menatap tubuhku yang sudah tidak bernyawa terbaring di atas tanah dengan penuh darah dan penuh dengan bolongan peluru yang bersarang di sana.


Meratapi jasadku yang masih menjadi manusia.


"Kau tidak bisa kembali ke duniamu,"


Sosok suara wanita menggema mengejutkanku dari belakang.


Tiba-tiba suasana menjadi terang-berderang. Hanya aku seorang diri dan suara wanita yang besar dan menggema. Aku menoleh pelan ke arah sumber suara tersebut. Sosok bayangan hitam muncul di belakangku. Cukup jauh jaraknya.


"Kau sudah menjadi bagian iblis ras Vôint."


"Vôint?" tanyaku bingung.


"Ras paling tertindas di dunia iblis," katanya.


"Ras ini dianggap lemah sehingga mereka selalu dipekerjakan sebagai budak atau selir untuk para raja dan bangsawan."


"Tapi kau berbeda," ucapnya. "Walau kau bagian dari ras Vôint, akan tetapi tidak sepenuhnya."


"Kau masih memiliki darah manusia."


"Quelin adalah iblis dari ras Vôint," ucapnya.


"Siapa Quelin?"


"Mathilda," jawabnya. "Mathilda adalah nama samarannya."


Aku terkejut atas perkataannya. Akan tetapi, satu sisi di pikiranku, aku tidak tahu siapa sosok bayangan ini dan hubungannya dengan Mama Mathilda sampai dirinya mengetahui nama asli Mama Mathilda.


"Oh," kataku. "Tapi sebelumnya kau siapanya Mama Mathilda?"


"*Aku adalah kembarannya yang mati, Qualin*"


Aku terdiam mematung menatapnya.


MAMA MATHILDA PUNYA KEMBARAN?


"Adat iblis melarang lahirnya dua anak perempuan, jadi salah satu dari mereka harus dibunuh," jelasnya.


"Lihatlah!" perintahnya kepadaku. Aku langsung menoleh kembali ke depan.


Tampak diriku yang sedang terbaring lemah di sebuah laboratorium. Hanya sehelai kain yang lebar, menutupi area tubuhku. Seorang perawat wanita memasukkan tubuh-tubuh manusia yang tewas melaksanakan survival game ke sebuah inkubator khusus. Inkubator khusus agar kesegaran tubuh tiap manusia tetap terjaga sampai proses distribusi ke pasar-pasar untuk dijual.


Namun, hanya diriku saja yang tidak dimasukkan ke sana. Melainkan dibiarkan terbaring dan hanya berselimutkan sehelai kain putih.


Wanita itu, tidak jelas wajahnya sebab tertutup oleh masker dan jaket dokter yang melekat di tubuhnya. Menghampiri wujudku yang terbaring lemah. Sepertinya wanita itu membawakan sebuah suntikan ....


Darah?


"Darah apa itu?"


"Darahnya Quelin," jawab sosok bayangan itu.


Lalu wanita itu menyuntikkan di salah satu lenganku.


Seketika aku langsung mengingat perkataan Mama Mathilda di dalam mimpiku dulu,


"—aku menyuntikan darah iblis ke tubuhmu."


"Oh jadi ini,"


Wanita itu langsung melepas maskernya dari wajahnya. "Sebentar lagi kau akan bereinkarnasi."


"Demi mewujudkan keadilan di dunia yang kejam."


Seketika wujud diriku berubah menjadi sosok perempuan yang berbeda. Warna rambutku seketika berubah menjadi kemerahan. Warna kulitku berubah menjadi lebih pucat dari kulit normalku.


Seperti diriku sekarang.


Aku langsung menyentuh wajahku.


Ternyata diriku yang sebenarnya telah mati.


"Tunggu, tunggu!" ucapku sambil menoleh ke arah sosok bayangan hitam itu kembali.


"Jadi selama ini, Mama Mathilda bekerja—"


"Dia menyamar demi bertahan hidup."

__ADS_1


Bertahan hidup?


"Quelin atau biasa kau sebut Mathilda adalah selir Raja Iblis, Raja Loritz XI yang dibuang," jelasnya.


"Tapi hubungan antarkeduanya telah melahirkan seorang anak laki-laki."


"Anaknya beralih hak asuh ke Raja Loritz XI sepenuhnya," lanjutnya. "Namun, sekarang anak hasil di luar nikah antara Quelin dan Raja Loritz XI tersebut kabur dari kaumnya beberapa tahun terakhir."


"Kemungkinan dirinya sedang berada di lingkungan manusia .... " jelasnya panjang lebar.


"Kenapa dia kabur?"


"Tidak tahu," jawabnya.


"Apakah Mama Mathilda tahu akan hal ini?"


"Tidak sama sekali," jawabnya.


"Siapakah nama anaknya kalau boleh aku tahu?" tanyaku.


"Nanti kau akan mengetahui sendiri."


"Kenapa kau tidak memberitahuku sekarang?" tanyaku yang semakin penasaran dibuatnya. Namun, sosok bayangan kembaran Mama Mathilda menertawai pertanyaanku yang kuajukan padanya.


"AKU SERIUS DAN AKU TIDAK BERCANDA!!" tegasku.


"Percuma saja bila kau tetap bersikeras menanyakan hal itu, aku tetap tidak akan menjawab pertanyaanmu itu!" jelasnya.


Aku menghela nafas.


"Quelin memutuskan mengembangkan kemampuannya dalam dunia kesehatan," lanjutnya.


"Tetapi resikonya dirinya harus menyamar menjadi manusia."


"Awalnya dia bekerja sebagai dokter otopsi di salah satu lembaga pemerintahan iblis dalam menangani mayat-mayat dari survival game ini," jelasnya. "Namun setelah ketemu kau, dirinya langsung keluar dari pekerjaannya dan beralih menjadi dokter dalam menangani masyarakat di Rainville."


"Bentar," sela ku. "Kata kau, anak hasil dari hubungan Mama Mathilda dengan Raja Lo— apalah itu, berarti lagi jadi buronan dong sekarang?"


"Ya!" katanya. "Buronan di kalangan iblis dan kalangan manusia."


"Quelin juga menjadi buronan, sebab dirinya juga kabur dari kaumnya sendiri," jelasnya.


Memoriku seketika langsung mengingat kembali kejadian saat di Rainville beberapa tahun yang lalu. Depan mataku sendiri, Mama Mathilda dibunuh secara tragis.


"Ini mengejutkan sekali!" ucapku. Tanpa sadar aku meneteskan air mata dari kedua mataku.


Aku mulai mendekati sosok bayangan hitam itu. "Qualin!"


"AKU PASTI BISA KEMBALI KE DUNIAKU!" ucapku bersungguh-sungguh. "TIDAK ADA YANG TIDAK MUNGKIN!"


Qualin terdiam.


"Kita lihat saja!" ucapnya. Tiba-tiba dirinya menghilang sekejap dari hadapanku.


"Eh?"


Tiba-tiba aku menyadari bahwa sebagian dari tubuhku mulai ikut menghilang. Berubah wujud menjadi segerombolan kupu-kupu hitam yang berterbangan ke langit.


Mulai dari kaki, perut, hingga kedua tanganku.


Menghilang ....


--


Aku terkejut,


Aku langsung membuka kedua mataku. Menatap langit-langit sebuah ruangan.


Sel.


Ternyata aku masih berada di dalam dunia yang aneh ini.


Tiba-tiba aku berada di atas ranjang putih yang empuk. Tubuhku berselimut putih. Diriku sambil menggenggam secarik kertas dan sebuah pensil kayu.


Bertuliskan kode-kode biner.


"Kau sudah sadar?" tanya Louis tiba-tiba. Dirinya beranjak dari kursi kayu dan duduk di sisi ranjangku. "Kau kejang-kejang!"


"Kejang-kejang?" tanyaku heran. Aku tidak mengerti dengan apa yang dia katakan barusan.


"Ya!" jawabnya. "Sambil menuliskan kode biner di kertas."


"Dan juga, siapa Amanda, Kak Evi, dan Rika?" tanyanya tiba-tiba. Raut wajahnya penuh rasa penasaran.


"Anu—"


"Kau terus menyebut nama ketiganya!"


seru Louis yang mulai khawatir. "Dan juga kau terus-terusan menyebut dirimu Rika."


Aku menghela nafas.


"Jadi, aku mengingat kembali dunia asalku."


"Amanda teman sekolahku," jawabku. "Kak Evi adalah kakak perempuanku."


"Aku bertemu dengan mereka di dalam ingatanku tadi," jelasku. "Ini sungguh nyata sekali!"


"Aku kira aku sudah pulang," lanjutku. "Ternyata hanya ingatan semata."


"Rika adalah ...." Sulit sekali diriku untuk melanjutkan kalimat ini. "Nama asliku."


"Aku baru mengingatnya."


"Rika," Louis menatapku tidak percaya. "Jadi, kau berasal dari dunia lain?"


"Ya," jawabku. "Namun, diriku tewas saat bertahan hidup di survival game dan akhirnya aku bereinkarnasi."


"Survival game?" tanya Louis bingung dengan perkataanku.


"Ya," jawabku. "Permainan itu sengaja dibuat oleh iblis untuk mendapatkan daging manusia yang lebih banyak dalam kurun waktu sehari saja."


"Mama Mathilda ternyata sebelumnya bekerja di sebuah lembaga bagian dalam pemerintahan iblis sebagai dokter yang bertugas menyalurkan daging-daging manusia yang tewas dalam permainan itu."


"Tapi Mama Mathilda tidak membiarkanku dimakan oleh iblis," kataku. "Itulah sebabnya aku bereinkarnasi akhirnya."


"Bereinkarnasi kembali akibat—" Aku tidak kuasa melanjutkan kalimatku. Dadaku terasa sesak sekali.


"Suntikan darah iblis dari Mama Mathilda."


"Mama Mathilda menyuntikkanmu darah iblis?" tanya Louis memastikan.


Aku mengangguk. "Darahnya."


"Kurang ajar sekali dia!" bentaknya tiba-tiba.


Aku langsung menggenggam tangannya yang hangat. "Tidak seperti yang kau pikirkan, Louis."


Pandangannya langsung tertuju padaku.


"Mama Mathilda menyimpan harapan padaku untuk berperang menegakkan keadilan di dunia ini," jelasku. "Dia mengatakan di dalam mimpiku bahwa aku memiliki potensi akan hal tersebut,"


Kedua mata Louis membulat, tidak percaya dengan apa yang aku katakan.


"Itulah sebabnya aku menjadi setengah iblis seperti sekarang ini."


"Sulit dipercaya!" ucapnya.


"Aku juga baru tahu," kataku. "Ternyata Mama Mathilda selama ini menjadi buronan kalangan iblis."


"Buronan?"


"Jadi tadi, aku bertemu dengan kembarannya yang bernama Qualin. Dia bercerita kepadaku bahwa sebenarnya Mama Mathilda adalah selir Raja Iblis, Raja Loritz XI yang dibuang," jelasku.


"Mama Mathilda pada akhirnya memutuskan untuk memulai hidup baru dengan menjadi dokter di Rainville setelah dirinya tidak lagi bekerja sebagai dokter di suatu lembaga iblis," jelasku.


"Sampai akhirnya waktu di Rainville beberapa tahun yang lalu, dirinya tertangkap dan dibunuh saat itu juga oleh sekelompok iblis karena kabur dari kaumnya."


"Tapi resikonya anak-anak jadi terbunuh!" ucap Louis.


"Nah itu!" jawabku. "Emangnya Mama Mathilda gak pernah kasih tahu kau mengenai pribadinya yang sebenarnya?"


"Tidak sama sekali!" jawabnya. "Dirinya bahkan terlihat tidak ada masalah sama sekali."


"Bahkan ketika kau hadir di rumah, Mama Mathilda mengatakan bahwa kau adalah anak perempuan yang dia temukan di pinggir jalan," jelasnya.


"Kapan dia mengatakannya?"


"Saat kau tertidur pulas," jawabnya. "Mama menceritakan bagaimana dirinya menemukanmu."


"Mungkin dia tidak ingin membuatmu tahu akan identitas atau tujuan aslinya untuk sementara waktu, " jawabku. "Mungkin dia takut kalau kau akan membencinya."


Louis langsung menghela nafas panjang. "Bisa jadi ...."


"Padahal diriku diambil dari suatu lembaga iblis," ucapku.


Yakali aku anak jalanan ....


Aku kembali melihat secarik kertas yang sudah banyak kucoret-coret dengan pensil kayu. Terdapat sebuah kalimat terakhir dalam kode biner di bagian bawah,


01010011 01000101 01001100 01000001 01001101 01000001 01010100 01001011 01000001 01010101 01000010 01000101 01010010 01001000 01000001 01010011 01001001 01001100 00100001


Terjemahan:


Selamat kau berhasil!


Tanpa kusadari bahwa aku telah menyelesaikan permainan 'ingatan' yang dibuat oleh Komandan Regu Clèment.


"Udah selesai?"


"Udah," jawab Louis.


"Aku tidak sadar."


"Karena kau sedang memasuki ingatanmu yang hilang," ucap Louis. "Makanya kau tak sadar."


"Omong-omong, aku pingsan berapa jam?"


"Sekitar 5 jam lamanya," jawabnya. "Awalnya kau terbaring di lantai."


"Tapi karena aku merasa kasihan, aku gendong dirimu ke atas ranjang," lanjutnya.


"Oh," kataku. "Maaf aku telah banyak merepotkanmu di waktu yang tidak tepat."


Tangannya mengelus rambutku dan tersenyum menatapku. "Aku akan berusaha untuk selalu berada di sisimu, Nica!"


Aku tersenyum sambil menatap pandangan Louis yang lembut.


Aku kembali menatap secarik kertas itu. Dibalik kertas tersebut, terdapat tulisan-tulisan kode biner yang acak-acakan.


Ya, itu adalah tulisanku yang berasal dari dalam ingatan alam bawah sadarku.


"Nama-nama orang yang kutemui di survival game," ucapku dengan memperlihatkan tulisan-tulisan dalam kode biner kepada Louis. Dia tampak mengamati setiap nama-nama dalam kode biner yang sudah kutulis di kertas.


"Orang yang pertama kali kubunuh adalah Marcel, " kataku. "Noel dan Tiberiu adalah teman satu timku, namun Noel tewas lebih dulu."


"Bentar bentar," sela Louis tiba-tiba.


"Kau serius satu tim dengan Tiberiu?!" tanya Louis sambil menunjuk ke salah satu nama yang kutulis dalam kode biner.


"Iya," jawabku. "Memangnya ada apa?"


"Tiberiu adalah sosok iblis yang sedang menjadi buronan semua aliansi," jelas Louis. Seketika penjelasannya membuatku terkejut dan pandanganku langsung tertuju padanya.


"SERIUS?!" Tiba-tiba pikiranku tertuju pada kalimat yang dilontarkan kembaran Mama Mathilda, Qualin.


"—anak hasil di luar nikah antara Quelin dan Raja Loritz XI tersebut kabur dari kaumnya beberapa tahun terakhir."


"Kemungkinan dirinya sedang berada di lingkungan manusia ...."


Apakah yang dimaksud Qualin adalah Tiberiu yang menyarungi menjadi sosok Oliver?


Seketika otakku dipenuh oleh banyak pertanyaan.


"Iya," jawabnya. "Semua aliansi sedang menyelidiki keberadaannya."


"Berarti Tiberiu terbukti anak Mama Mathilda yang kabur dari kaumnya sendiri."


Tiba-tiba pandangan Louis mengarah padaku. Matanya membesar. "Apa maksudmu?"


"Kembaran Mama Mathilda mengatakan kepadaku bahwa Mama Mathilda memiliki seorang anak laki-laki dari Raja Loritz XI, dimana Mama Mathilda berkedudukan menjadi selir raja," jelasku. "Namun anaknya tersebut kabur dari kaumnya dan dirinya sedang menjadi buronan kaum iblis dan kaum manusia!"


"Kita harus memberitahu ini kepada Komandan Regu Clèment segera!" tegas Louis.


Penyelidikan dimulai.

__ADS_1


__ADS_2