INJUSTICE : Save Human Or Surrender

INJUSTICE : Save Human Or Surrender
#21 Rapat Malam (REVISI)


__ADS_3

Pukul 19.40


Malam hari yang berawan di Kota Amdis,


Setelah jamuan makan malam.


Setelah jamuan makan malam, kami semua diberi waktu bebas. Boleh melakukan apa saja akan tetapi tetap di wilayah markas saja.


Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk aku dan Louis sebab kami berdua diperintahkan oleh Komandan Lucian untuk tiba di ruang rapat tepat setelah makan malam. Kami berdua langsung bergegas menuju ke ruang rapat sebelum rapat akan dimulai beberapa menit lagi.


Awalnya, aku ingin menemui Simas mengenai jamuan makan malamnya, akan tetapi waktu tidak memungkinkan dan menyuruhku untuk fokus dengan tujuan awal.


"Gini amat jadi orang penting!" gerutuku sambil berjalan menyusuri lorong markas menuju ruangan rapat bersama Louis.


Cukup banyak yang menuju ruang rapat. Namun, kebanyakan adalah komandan regu karena mereka yang akan memimpin tiap regunya dalam sebuah ekspedisi bila nantinya akan di adakan kegiatan ekspedisi lagi.


Bau-bau ekspedisi lagi nih ....


Entah mengapa tiap kali menghadiri acara rapat, jantungku berdegup kencang. Mungkin ini karena faktor takut salah satunya.


Khawatir dan sejenisnya.


Louis langsung menggenggam tanganku. Dia mengetahui perasaanku saat ini. Genggamannya mengobati segala kekhawatiran yang terbesit di dalam diriku. Perlakuannya mengingatkanku tentang percakapan antara aku dan Komandan Regu Clèment tadi sore.


--


Tadi sore,


"Selamat datang kembali!" ucapnya tiba-tiba tanpa sedikitpun menoleh ke arahku.


Aku terdiam.


Lah, kok?


"Aku tahu itu kau, Nica!" katanya. "Duduklah!"


Aku pun menuruti perintahnya untuk duduk di sampingnya sambil mengamati langit sore yang dingin ini. Komandan Regu Clèment sambil meneguk secangkir teh panas.


"Terima kasih, Clèment."


"Terima kasih untuk?" tanyanya. Pertanyaannya membuatku bingung seketika.


Apa, sih?


"Ya terima kasih karena Anda sudah menyuruh saya duduk di sini bersama Anda," jawabku sebisanya.


"Perlukah hal itu untuk berterima kasih?"


"Perlu karena untuk menunjukkan kesopanan dan menghargai kebaikan seseorang."


"Oh," Hanya itu saja yang keluar dari mulutnya.


Gabut banget dia.


Terjadi keheningan dan kecanggungan antara kami berdua.


"Clèment, " panggilku pelan. Perasaan ragu menjalar ke dalam diriku. "Anu—"


Pandangannya menoleh ke arahku. Menunggu kalimatku yang belum terselesaikan. "Apa?"


"Maaf saya telah memaksa Anda untuk menceritakan masalah Anda ke saya," kataku yang berusaha memberanikan diri. "Saya berniat membantu masalah Anda tapi cara saya salah sehingga saya telah membuat Anda marah."


Tiba-tiba dirinya tertawa.


Emang aku ngelawak?


Aku bingung seketika.


"Kau masih saja memikirkan hal itu," ucapnya setelah dirinya berhenti tertawa.


"Aku bahkan sudah mengikhlaskan hal itu dalam hidupku."


"Kasie adalah ibuku, akan tetapi dia menghilang tanpa jejak dan ternyata ...." Komandan Regu Clèment sulit menyelesaikan kalimat terakhirnya.


"Jan yang membunuh ibuku."


Aku terdiam seribu kata.


KAPTEN JAN?


Aku benar-benar terkejut mendengar pernyataannya. Kapten Jan yang kukenal adalah sosok orang yang ramah dan suka bercanda. Perilakunya selama di markas tidak menunjukkan ada beban dalam hidupnya.


"Kau boleh menyebut aku sedang berhalusinasi atau sebagainya akan tetapi aku mengatakan sesuai faktanya!" jelasnya.


"Jan adalah iblis asli dan dia telah menjadi mata-mata untuk mengirim informasi tentang kehidupan manusia kepada kaumnya sendiri. Akan tetapi, dirinya semakin menyadari tindakannya yang salah setelah dia berbaur dengan lingkungan manusia."


"Maka dari itu, dia rela melawan iblis-iblis yang kuat di luar sana demi menebus dosa-dosanya yang berat ...."


"Awalnya aku benar-benar tidak percaya kalau Jan lah yang melakukan ini," katanya. Pandangannya fokus melihat awan-awan berwarna jingga begerak seiring angin yang berhembus pelan sambil menyeruput secangkir teh.


"Dia adalah orang yang pertama kali menjadi temanku di Aliansi Amdis."


"Aku harap dirinya bisa kembali dengan selamat dan aku bisa melihatnya lagi sebelum aku mati," lanjutnya sambil tersenyum kecil. Mengharapkan kedatangan Kapten Jan yang saat ini sedang 'menebus dosanya' di luar sana.


"Ingatanmu membuatku kembali teringat dengan ibuku karena di kertas lembar itu kau menulis nama 'Kasie' dalam kode biner," jelasnya. "Itulah yang membuatku ingin menyendiri."


"M—maaf, saya tidak bermaksud membuat Anda seperti ini,"


"Ya, aku sudah tahu," ucapnya sambil menghela nafas yang panjang.


"Ibuku sudah berada di tempat yang lebih baik. Jadi aku tidak perlu bersedih, " katanya yang berusaha untuk tegar atas hidupnya.


"Menyendiri pun juga tidak akan menyelesaikan masalah tapi justru memperburuk situasi."


"Pacarmu, Louis," Tiba-tiba dia menyebut Louis di sela-sela pembicaraan. "Dia telah menyelamatkanku saat ekspedisi gabungan ke Desa Kimo kemarin."


"Nica?"


"Halo?" Louis membuyarkan lamunanku. Aku langsung tersadar dan menatap wajahnya yang berada di sampingku.


Menatapku heran.


"Kenapa?" tanyanya bingung.


"G—gak kok, gak."


"Dari tadi aku ajak bicara kenapa diam?"


"Maaf aku hanya kelelahan saja," jawabku. "Jadi aku tidak fokus dengan sekitarku."


"Oh," jawabnya. "Jangan bikin aku takut!"


Raut wajahnya berubah seketika menjadi cemberut, seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen oleh ibunya. Aku menatapnya sambil tertawa kecil melihat raut wajahnya yang tidak biasa.


Sebuah fenomena langka.


Dasar Louis super-protektif!


Tak lama kemudian, karena kami tidak sadar melangkah sampai sejauh ini, kami berdua tiba di ruang rapat yang sudah dipenuhi orang-orang. Salah satunya adalah Komandan Regu Clèment juga turut hadir dalam rapat ini. Meja bundar menyambut kedatangan kami di sini. Aku dan Louis langsung duduk di kursi yang telah disediakan.


Komandan Lucian dengan seragamnya yang rapi, membuka kegiatan rapat ini sambil berdiri di antara para peserta yang hadir.


"Para hadirin sekalian, selamat malam semuanya!" ucap Komandan Lucian tanpa menggunakan mic ataupun alat bantu pengeras suara lainnya.


"Terima kasih sebelumnya sudah menyempatkan diri untuk datang," ucap Komandan Lucian. "Baik, rapat ini saya buka!"


"Kita akan membahas mengenai kekuasaan iblis yang semakin merajarela dari tahun ke tahun."


"Ini perkembangannya," Komandan Lucian melemparkan selembar koran edisi hari ini di atas meja bundar. Aku tidak bisa melihat dengan jelas tulisan koran tersebut karena ukurannya yang kecil. Namun, sudah pasti adalah berita buruk.


"Situasi kita gawat total!" jelasnya. "Iblis berhasil menaklukkan seluruh kota-kota kecil di sebelah Selatan Steich."


"Banyak korban jiwa atas kejadian ini."


"Ini gawat bila dibiarkan, maka mereka bisa menguasai kota-kota besar!"


Raut wajah Komandan Lucian panik.


"Berdasarkan penelitianku, mereka adalah ras Levtient, ras iblis penyerang," ucap Mr. Geovani selaku profesor ahli iblis terkemuka di Steich. "Ras ini harus di waspadai karena keagresifannya!"


Ras yang dimiliki oleh Civa.


Tiba-tiba aku teringat dengannya.

__ADS_1


"Kami sudah meningkatkan kualitas Garrison di seluruh kota sampai kota terkecil pun semaksimal mungkin, akan tetapi anehnya para iblis masih bisa memasuki kota-kota itu," ucap Komandan Olav, selaku Kepala Garrison Nasional yang menghadiri acara rapat ini.


"Karena mereka lebih kuat daripada manusia," sela Mr. Geovani dengan kedua tangan yang dilipat di dada. "Rasio keberhasilan manusia sangat kecil."


"Kami sudah mengevakuasi beberapa warga di sepanjang perbatasan garis Homer yang berhasil menyelamatkan diri dari serangan iblis," jelas Komandan Olav sambil menunjukkan data-data warga yang selamat dari invasi iblis.


"Bisa dihitung dengan jari."


Para aliansi saat ini sedang di ambang kebingungan.


"Mereka langsung kami serahkan kepada pihak medis untuk dikarantina dalam masa pengobatan fisik serta mengatasi trauma mereka selama kurun waktu sebulan."


"Menurut saya, upaya awal demi mencegah korban manusia yang lebih banyak kedepannya, dari sekarang kita harus mengimbau para warga untuk tidak berpergian ke wilayah bagian Selatan," ucap Komandan Morgan dari Aliansi Yuzu.


"Dan untuk warga yang bertempat tinggal di kawasan yang dekat dengan wilayah yang sudah di kuasai iblis, harus segera mengevakuasi diri dengan fasilitas dari pihak Garrison yang menyerahkan bantuan dan dibawa ke tempat yang lebih aman."


"Akan tetapi, bukannya upaya tersebut tidak akan muat dengan jumlah penduduk manusia di kota-kota aman yang semakin membludak?" sela Komandan Luna, dari Aliansi Azalea. "Kendalanya di situ."


"Kami akan mencoba membandingkan terlebih dahulu data jumlah penduduk dari kota satu dengan kota yang lain berdasarkan data yang ada sebelum mengevakuasi warga," ucap Komandan Olav.


"Maaf, saya ingin menyanggah!" Tiba-tiba Louis mengangkat tangannya. Seketika para anggota yang menghadiri acara rapat ini menatap Louis.


"Upaya tersebut tidak akan berhasil bila makhluk itu masih berkeliaran."


"Tiberiu."


Semua pandangan menuju ke arahnya.


"Kemungkinan besar tujuan dia sengaja berkeliaran di lautan manusia sebagai mata-mata untuk disampaikan kepada kaumnya yang menyebabkan kota-kota kecil di wilayah Selatan berhasil di babat habis," jelas Louis dengan memasang raut wajah yang menyakinkan.


"Bila manusia yang bertempat tinggal di dekat kawasan iblis langsung dievakuasi sebelum menemukan Tiberiu, maka hal tersebut kemungkinan besar dapat dijadikan berita bagus untuk Tiberiu buat menjajah manusia dan bahkan karena hal itu, iblis dapat langsung menyergap kota-kota besar yang berpenduduk banyak!"


"Mereka gencar sekali memburu daging manusia untuk dikonsumsi," jelasnya panjang lebar. "Hal tersebut harus kita waspadai!"


"Menarik sekali!" ucap Komandan Lucian dengan seulas senyuman tipis di wajahnya.


"Bagaimana perkembangan pencarian Tiberiu saat ini?" tanya Komandan Lucian kepada Komandan Olav.


"Tidak ada jejak sama sekali," jawab Komandan Olav. "Kami sudah pantau menggunakan radar wilayah Steich dengan skala maksimum akan tetapi tidak menemukan hasil."


"Bagaimana dengan para aliansi lainnya?"


"Sama, kami tidak menemukan jejaknya," jawab Komandan Jake dari Aliansi Oryza.


"Tidak," jawab Komandan Franz dari Aliansi Tigris.


"Tidak sama sekali," jawab Komandan Luna dari Aliansi Azalea.


"Tidak," jawab Komandan Morgan dari Aliansi Yuzu.


"Sudah kami pantau, akan tetapi kami tidak menemukan jejaknya juga!" ucap Komandan Regu Lewis dan beberapa anggota lainnya yang mewakili Aliansi Amdis yang telah ditugaskan untuk memantau jejak Tiberiu melalui radar oleh Komandan Lucian.


"Ya Tuhan," Komandan Lucian langsung menghela nafas.


Para anggota yang hadir pun juga sama halnya seperti Komandan Lucian.


Tantangan yang harus kita hadapi.


Manusia sedang di ambang kepanikan demi bertahan hidup.


"Selagi makhluk itu masih ada, upaya kita untuk menghalangi musuh pasti gagal!" ucap Komandan Regu Hannah.


"Nica," Komandan Regu Clèment yang duduk hanya beda dua kursi denganku, memanggilku tiba-tiba. "Apa kau bawa kertas kode binernya?"


Aku langsung memeriksa setiap saku di jaketku. Akhirnya aku menemukannya walau sudah agak rusak. Komandan Regu Clèment memberiku isyarat untuk menunjukkannya kepada seluruh para anggota rapat. Aku pun langsung menunjukkannya di atas meja bundar, membiarkan para peserta rapat untuk melihat isi kertas ini.


"Ini adalah kertas 'ingatan' saya dalam bentuk kode biner," ucapku. Berusaha memberanikan diri berbicara di muka umum. Apalagi berbicara di depan orang-orang 'tinggi' seperti sekarang.


"Jadi saya benar-benar pernah bertemu Tiberiu dengan nama samaran Oliver di


survival game dan dia satu tim dengan saya pada waktu itu."


"Survival game?" tanya Komandan Lucian. Seketika semua pandangan langsung menuju ke arahku.


"Permainan yang sengaja dibuat oleh iblis," kataku. "Di sana kita harus menjadi yang satu-satunya hidup dari sekian banyaknya manusia yang saling membunuh satu sama lain."


"Apakah ini ada hubungannya dengan peristiwa hilangnya manusia selama kurun waktu 3 tahun sekali secara berturut-turut?" tanya Komandan Regu Lewis penasaran.


"Iya memang," jawabku. "Mereka sengaja merekrut manusia untuk saling diadukan dan pada akhirnya yang tewas akan dijadikan pasokan daging konsumsi mereka."


Seketika suasana rapat menjadi berisik.


"Mohon untuk tidak berisik!" seru Komandan Lucian menyuruh para anggota rapat untuk tetap tenang dan menjaga suasana rapat agar tetap kondusif.


"Sekali lagi saya tegaskan bahwa saya benar-benar tidak tertarik dengan darah ataupun daging manusia dan tujuan saya tetap pada pendirian saya yaitu menyelamatkan manusia," jelasku untuk memastikan para anggota rapat yang masih ragu terhadapku.


Aku bisa merasakan beberapa tatapan seram dari mereka.


"Di sana terdapat nama-nama orang yang pernah bertemu dengan saya, termasuk ibunya Clèment," kataku sambil menunjuk kertas yang terlipat itu di atas meja bundar.


"Pada waktu itu, jelas Oliver ditembak tepat di bagian kepalanya," jelasku. "Akan tetapi, nyatanya dia berhasil mengelabui kematiannya dan berkeliaran ke dunia manusia."


"Dalam motif apa dia ikut permainan itu?" tanya Komandan Morgan.


"Masih belum pasti tapi menurut saya dia hanya ingin merasakan alur permainan itu dengan cara menyamar sebagai manusia," jelas Louis.


"Kenapa kau bisa masuk ke permainan itu?" tanya Komandan Luna. Seketika diriku terkejut mendengar pertanyaan Komandan Luna yang langsung bersikap frontal.


"Saya tidak tahu, Komandan. Maaf."


"Kenapa kau bisa tidak tahu padahal sudah jelas sekali kau bisa masuk permainan itu!" jelas Mr. Geovani.


Ya aku gak tahu masa mau dipaksain tahu, sih!


"Nica memiliki memori yang kurang bagus jadi dia tidak bisa mengingatnya terlalu dalam," sela Louis, menyelamatkan diriku yang semakin terpojok oleh pertanyaan mereka.


"Baiklah, maafkan aku!" kata Mr. Geovani atas pertanyaannya yang terlalu berlebihan.


"Sulit sekali mencari Tiberiu karena kemampuan rata-rata iblis yang bisa menyamar menjadi manusia itu sangat menguntungkan mereka!" ucap Komandan Regu Illyana yang mulai putus asa.


"Berdasarkan penelitianku kemarin, aku berhasil menemukan perbedaan antara manusia asli dengan iblis yang menyarungi sebagai manusia," jelas Mr. Geovani sambil membuka buku catatan kecilnya.


"Di kemampuan terkena sinar matahari."


"Iblis tidak bisa terkena sinar matahari," lanjut Mr. Giovani. "Sedangkan manusia bisa terkena sinar matahari dalam waktu yang lama."


"Iblis hanya bisa berkeliaran pada malam hari. Berbeda dengan manusia yang harus istirahat pada malam hari."


"Juga dari cara berjalannya, walaupun iblis telah menyarungi sebagai manusia akan tetapi cara jalannya masih mengikuti cara jalan mereka dalam bentuk iblis," jelasnya.


"Cara jalan inilah yang perlu diperhatikan dengan sangat teliti karena jika di keramaian manusia, akan sulit sekali dibedakan."


Semua anggota rapat tampak menyimak penjelasan dari Mr. Geovani.


"Menurutku, pencarian kita kurang maksimal karena dipantau dari jarak jauh dan aku rasa ini juga kurang efektif!" Tiba-tiba Komandan Regu Clèment angkat bicara.


"Sebaiknya kita semua fokus pantau pergerakkan Tiberiu dengan serius mulai detik ini!" kata Komandan Regu Clèment. "Pihak Garrison Nasional akan memantau pergerakan Tiberiu tetap melalui radar, akan tetapi seluruh aliansi memantau pergerakan Tiberiu di lapangan melalui ekspedisi ke berbagai wilayah yang belum di sentuh oleh iblis."


"Dengan ini, pencarian Tiberiu akan berjalan maksimal dan tidak melalui radar semuanya."


"Tapi kita harus tetap menghindari wilayah Selatan."


Komandan Regu Clèment menjelaskan panjang lebar mengenai strategi yang terbesit di kepalanya. "Strategi ini harus dilakukan secara diam-diam agar tidak ketahuan oleh Tiberiu."


"Berarti kita menggunakan strategi 'on the sly'?" tanya Komandan Luna sambil memahami pernyataan panjang lebar yang dilontarkan oleh Komandan Regu Clèment.


"Ya, dan satu hal lagi jangan ketahuan identitas kita sebagai prajurit!" seru Komandan Regu Clèment.


"Pertama-tama, Aliansi Amdis bergerak menyusuri wilayah Utara," jelas Komandan Regu Clèment sambil menyusun strategi dengan memindahkan balok berwarna-warni di atas peta Pulau Steich yang membentang di atas meja bundar.


"Aliansi Tigris dan Aliansi Azalea bergerak menyusuri wilayah Barat," jelasnya sambil memindahkan balok berwarna biru ke sebelah Barat peta.


"Selanjutnya, Aliansi Yuzu dan Aliansi Oryza bergerak menyusuri wilayah Timur."


"Untuk Garrison, sembari kau memantau jejak Tiberiu di semua wilayah melalui radar, seperti yang dikatakan Morgan tadi bahwa Garrison juga mulai detik ini harus segera mengevakuasi para warga yang bertempat tinggal dekat dengan wilayah kekuasaan iblis ke tempat yang lebih aman."


"Diusahakan untuk segera mengimbau seluruh warga tidak melakukan perjalanan keluar daerah dan Garrison mulai menerapkan travel warning di semua kota," jelas Komandan Regu Clèment. "Tidak hanya di wilayah Selatan saja."


"Operasi ini serentak dan menyeluruh. Kita semua harus siap dan cepat sebelum mereka menguasai daerah-daerah manusia lebih banyak lagi!"


"Sampai sini ada yang ingin bertanya?" Komandan Regu Clèment memberikan kesempatan untuk anggota rapat bertanya mengenai usulannya.


"Apakah di daerah Selatan sudah benar-benar tidak ada lagi warga yang masih selamat?" tanyaku.

__ADS_1


"Sudah dipastikan tidak ada, karena manusia tidak bisa bertahan hidup lebih dari sehari di lingkungan yang sudah dikuasai oleh iblis," jawab Komandan Regu Clèment.


"Hanya data nama warga ini saja yang kami dapatkan beberapa jam setelah kejadian," jelas Komandan Olav sambil menunjukkan data-data nama warga dari daerah Selatan yang berhasil menyelamatkan diri.


"Setelah Tiberiu berhasil ditemukan, kita karantinakan dia di kota ini dan dibuatkan ruang bawah tanah yang lengkap dengan cahaya di tiap sudut," jelasnya. "Karena iblis sendiri tidak kuat dengan cahaya yang menyilaukan."


"Polisi Militer Amdis yang akan mengurus ruang bawah tanah ini dan keamanan lebih lanjut," lanjutnya.


"Operasi ini kita namakan 'Operasi Tiberiu'."


"Ide bagus!" ucap Komandan Lucian.


"Menurutku, operasi ini dapat dilaksanakan beberapa hari ke depan karena kami sebagai komandan aliansi harus memberitahukan kepada seluruh anak buah kami yang berjumlah banyak!" kata Komandan Morgan.


"Ya secepatnya sebelum iblis menguasai kota lebih banyak lagi!" kata Komandan Regu Clèment.


"Apakah ada yang ingin ditanyakan lagi?" tanya Komandan Regu Clèment yang memberi kesempatan kepada anggota rapat untuk menyanggah dan menanyakan usulannya.


"Aku rasa ini sudah jelas," jawab Komandan Luna.


"Aku setuju!" jawab yang lainnya.


"Baik, jadi rapat kali ini sudah dapat kita temukan titik cahayanya dan Clèment ...," kata Komandan Lucian sambil menatap Komandan Regu Clèment.


"Kau yang akan mengendalikan alur operasi ini."


Komandan Regu Clèment seketika terdiam dan setelah itu dia menjawab, "Oke."


"Mulai lusa kita akan melakukan operasi ini," seru Komandan Regu Clèment dengan sangat yakin dan semangat yang bergelora.


Aku dapat merasakan dirinya yang akan membawa beban demi keberhasilan misi ini.


Komandan Regu Clèment,


Anda pasti bisa!


"Semoga operasi ini menjadi awal keberhasilan kita untuk menyejahterahkan manusia di ambang kepunahan!" jelas Komandan Lucian. "Semoga keberuntungan berada di pihak kita,"


"Amin."


"Baik, rapat ini kita tutup," ucap Komandan Lucian. "Terima kasih."


Seluruh anggota rapat berangsur-angsur keluar dari ruangan rapat.


Tak terasa setelah aku melihat jam dinding, jarum pendek sudah menunjukkan angka romawi sepuluh (X).


Tiba-tiba Komandan Regu Clèment menghampiri kami berdua sebelum kami keluar dari ruang rapat. Dirinya tersenyum menatap kami.


"Kalian hebat," ucap Komandan Regu Clèment dengan tangan yang menyentuh pundak kami berdua. Dirinya langsung memeluk kami dan membuat kami berdua heran.


Entah apa yang merasuki dirinya tiba-tiba.


"Clèment?"


Komandan Regu Clèment pun melepaskan pelukannya.


"Nyalimu kuat!" ucap Komandan Regu Clèment kepadaku. "Kau tahu ketika kau menjelaskan asal usul kau menjadi iblis, rata-rata mereka langsung kaget mendengarmu, termasuk si Geovani maniak iblis itu."


"Maafkan dia karena dia terlalu menyebalkan!"


"Dan kau, Louis," kata Komandan Regu Clèment sambil menatap Louis. "Nyalimu juga cukup berani dengan memberikan sanggahan kepada orang yang lebih tinggi darimu."


"Ya saya hanya memberikan pernyataan yang menurut saya bertentangan dengan ke depannya," jawab Louis sambil memberikan senyuman tipis di wajahnya.


"Pokoknya aku menaruh harapan kesejahteraan manusia di diri kalian, tanamkan itu!" kata Komandan Regu Clèment sambil melepaskan kedua tangannya dari pundak kami. Kami langsung memberikan salam hormat di hadapannya.


"Mulai lagi," kata Komandan Regu Clèment dengan wajah yang sengaja dibuat cemberut. Akan tetapi, pada akhirnya dia ikut membalas salam hormat kami.


"Baiklah, selamat malam!" lanjutnya sambil berangsur-angsur meninggalkan kami berdua di tengah keramaian.


Akan tetapi sebelum dia lenyap, aku memanggilnya dan mungkin suaraku cukup besar sehingga beberapa orang menoleh ke arahku. "Clèment!"


Komandan Regu Clèment menoleh ke arahku.


"Semangat!" Dengan menggunakan bahasa isyarat dengan mengangkat tanganku sambil dikepal.


Komandan Regu Clèment hanya tersenyum menatapku dan membalas 'semangat' dalam bahasa isyarat. Detik—demi—detik dirinya pun lenyap di antara keramaian manusia.


Setelah itu, kami juga langsung keluar dari ruang rapat dan menuju halaman markas Aliansi Amdis untuk mencari udara segar. Udara malam yang sangat dingin menusuk diriku yang tidak memakai jaket tebal. Sebuah asap keluar dari hidungku tiap kali aku menghembuskan nafas ke udara.


Aku yakin cuaca malam ini berkisaran minus derajat.


Kami pun duduk di tangga sambil menikmati udara dingin dan langit malam yang berawan.


Entah kenapa hari ini Komandan Regu Clèment terlihat lebih suka tersenyum dan lebih bahagia ketimbang sebelumnya.


Atau ini hanya perasaanku aja?


"Louis," panggilku. Louis pun langsung menatapku.


"Sadar gak, sih, Komandan Regu Clèment hari ini lebih murah senyum daripada sebelumnya?" tanyaku. "Apalagi tadi dia juga meluk kita tanpa sebab."


"Aku juga berpikir demikian," jawab Louis yang sama bingung sepertiku. "Mungkin dia sengaja melakukan itu semua untuk melupakan kejadian yang dia alami kemarin."


"Masuk akal, sih."


"Louis," panggilku lagi.


"Kau telah menyelamatkan Komandan Regu Clèment waktu ekspedisi kemarin?"


"Dia bilang?" tanyanya.


Aku mengangguk. "Kau hebat!"


Louis hanya tersenyum dan kembali menatap langit yang berawan. "Aku tidak bisa melupakan saat-saat kejadian itu."


Aku mendengarkan dirinya yang mulai menceritakan perjalanan ekspedisi kemarin. Ceritanya tersebut seperti dongeng bagiku. Louis pandai sekali dalam bercerita sehingga membuat jiwa dan pikiranku ikut merasakan kejadian itu.


"Aku melihat Komandan Regu dicekik oleh iblis dan sejujurnya penampilan iblis itu membuatku mengalami mimpi buruk selama 3 hari berturut-turut," jelasnya.


"Masa, sih? Segitunya."


"Iya, aku serius!" ucapnya dan lanjut bercerita lagi. "Bayangkan tubuhnya dipenuhi oleh kepala anak kecil yang menggeliat satu sama lain."


"Jangan dilanjutin penjelasan rupa iblisnya, nanti kau muntah!" kataku padanya yang mulai menghayati dan membayangkan.


"Oke oke baiklah. Kembali ke topik!" Louis kembali menceritakan kronologi ekspedisi kemarin sambil menghayati.


"Lalu, muncul seorang bocah laki-laki dari balik pintu bawah tanah dan berusaha menusuk jantungku," lanjutnya.


"TERUS GIMANA?!"


"Ya aku menahan aksinya itu dan bodohnya aku tidak sadar kalau pisaunya tersebut mengandung racun."


Aku langsung menarik kedua tangannya dan mencari bekas lukanya. Akan tetapi, aku tidak menemukan bekas luka goresan di sana.


"Kau telat," kata Louis sambil tersenyum menatapku. "Tanganku sudah sembuh berkat bantuan Alexa dan tim Greer lainnya."


"Bodoh!" kataku sambil memasang wajah cemberut. Tiba-tiba, Louis mengelus rambutku seperti kucing.


"Aku membenci kau 99%!!" ucapku sambil memukul pundaknya pelan.


"1% nya sayang."


Perkataannya membuat pipiku seketika memerah. Aku tidak sanggup bila dirinya mulai berulah lagi seperti ini.


Aku nyerah.


"Terserah kau aja deh."


Louis hanya tertawa melihat kelakuanku. Dirinya pun memperlakukanku seperti anak kecil.


"Aku khawatir bila tanganmu sampai harus di amputasi, nanti gimana melawan iblis kalau sampai diamputasi?!"


"Kan ada kau, kau lah yang akan menyelamatkanku," jawabnya dengan mudah. "Seperti halnya kau akan menyelamatkan umat manusia seperti visimu itu."


"Aku gak mau lah!"


"Harus mau!"


Aku langsung mencubit kedua pipinya sampai dirinya meringis kesakitan. Namun, aku tidak menghiraukannya dan menambah kekuatan cubitanku.


Malam yang berawan diselimuti dengan kegembiraan yang berarti. Hanya menatap langit dan bangunan-bangunan sekitar saja sudah membuat diriku memahami artinya hidup. Aku akhirnya bisa menghirup kehidupan kembali setelah sebulan lamanya di dalam sel yang menyiksaku untuk beraktivitas. Sekarang aku sudah merasakan kebebasan kembali,

__ADS_1


Kehidupan yang ingin aku rasakan sepanjang masa dan tidak ingin saat-saat seperti ini berakhir.


__ADS_2