
Nica's POV
Malam yang berawan.
Para anggota pasukan diberi waktu bebas sampai keluar markas setelah makan malam bersama. Kami diperbolehkan berjalan-jalan di luar kawasan markas tepat sebelum pukul 21.00 malam oleh Komandan Luna, selaku Komandan dari Aliansi Azalea sendiri. Dia mengatakan bahwa lusa pagi akan diadakan ekspedisi bersama antar kedua aliansi untuk menaklukkan kembali Desa Kimo yang sudah dikuasai oleh Iblis.
Aku memutuskan untuk berjalan-jalan dengan mengajak beberapa temanku keluar markas untuk mengetahui seperti apa rasanya berjalan-jalan di Kota Azalea pada malam hari. Namun, mereka menolakku dan mengatakan bahwa mereka sedang ingin berada di dalam markas sambil bersantai.
Louis sedang berurusan dengan Komandan Lucian di ruangannya sehingga aku tidak mau menganggunya. Alexa yang sedang tertidur di kamar karena saking lelahnya yang tidak tidur selama belasan jam lamanya dan kini dirinya langsung menjatuhkan diri di lautan kasur yang empuk.
Oke fine, aku gak apa-apa kok!
Padahal di dalam hatiku yang terdalam meringis kesedihan.
Kulihat Rin seorang diri yang sedang termenung menatap bulan purnama penuh yang bersinar terang di langit malam.
Wah, kesempatanku untuk mengajaknya ngobrol!
Aku langsung menghampirinya. Dirinya tidak sadar bahwa aku mendekatinya. Aku menepuk pundaknya dan berkata, "Rin!"
"Maaf, nih, gak ada maksud buat ngagetin," kataku. "Mau jalan-jalan keluar, gak?"
"Gabut."
"Boleh," ucapnya dengan raut wajah datar sambil menolehku. Dia pun menyetujui ajakanku.
Beberapa pasukan lainnya juga sama halnya denganku, berjalan-jalan keluar Aliansi Azalea. Akan tetapi, aku tidak mengenal mereka.
Akhirnya aku jalan berdua dengan Rin. Entahlah, diriku menjadi kaku dan canggung.
Tidak seperti biasanya. Mungkin karena faktor sudah lama tidak mengobrol satu sama lain.
Lampu-lampu di setiap sudut menerangi jalan raya. Suasana Kota Azalea yang sepi dan beberapa toko-toko mulai bertutupan, ada juga beberapa toko lainnya masih terbuka. Padahal masih pukul 19.30 malam. Beda sekali dengan Kota Amdis, di mana semua gerai toko masih terbuka bahkan jika sudah melewati pukul 21.00 malam sekalipun. Orang-orang bahkan tidak terlalu banyak berlalu-lalang di jalanan malam ini.
Malam hari di Kota Azalea seperti kota hantu rasanya.
"Rin," Aku membuka pembicaraan. Berusaha untuk memberanikan diri. "Bolehkah aku bertanya sesuatu? Kalau gak juga gak apa-apa kok!"
"Boleh," jawabnya tanpa menolehku. Dirinya mengizinkanku untuk bertanya sesuatu padanya.
"Kenapa kau menjauhi aku dan Louis?"
Dia terdiam.
Seketika terjadi keheningan di antara kami berdua. Tiba-tiba bibirnya tersenyum miring tanpa menatapku dan terus melangkah.
"Aku ...."
Aku menunggu jawaban dari Rin dengan penuh penasaran. Jantungku berdegup kencang.
"Aku kenapa?" tanyaku untuk memastikan.
"Aku membenci kalian."
He?
Kedua pandanganku langsung menatapnya yang sedang menatap ke depan. Tanpa menghiraukanku.
"Apa salah kami terhadapmu?" tanyaku.
"Tidak perlu dijelaskan."
Apa, sih, random banget!
"Tapi aku ingin memintamu satu hal," ucapnya. "Maukah kau bergabung menjadi salah satu dari kaumku?"
KAUM? APA MAKSUDNYA?!!
--
4 jam sebelumnya.
Louis memberikanku sebuah benda kecil, namun berat bila kupegang. "Aku mau kau menyimpan alat ini."
"Flashdisk?"
"Bukan," sahutnya. "Ini alat perekam mini."
"Aku membuatnya beberapa hari yang lalu untuk menyelidiki Rin," lanjutnya.
"Bagaimana bisa kau membuatnya?!" tanyaku penasaran.
Dia tersenyum miring. "Aku bereksperimen dengan benda-benda bekas yang kutemukan di tempat sampah."
NIAT BANGET!
__ADS_1
"Alat ini untuk merekam percakapan antara kau dengan Rin yang dilengkapi dengan memori sebesar 8 giga-byte dan baterai lithium di dalamnya," jelasnya. "Kau tinggal pencet on atau off-nya saja."
"Oke," jawabku. "Akan kuusahakan memulai percakapan dengannya."
"Tapi aku nervous, gimana dong?!"
Louis menyentuh pundakku dengan kedua tangannya. Wajahnya di dekatkan padaku.
"Kau bisa!" tegasnya. "Tanamkan itu di pikiranmu!"
"Jangan sampai ketahuan!"
--
Saat kejadian berlangsung.
"Maaf aku tidak mengerti apa yang kau maksud," ucapku.
"Mungkin kita harus istirahat sejenak agar bicaramu tidak melantur," lanjutku, berusaha untuk mencairkan suasana walau sebenarnya otakku sedang berpikir keras atas pernyataannya yang dia lontarkan.
"JANGAN KARENA KAU LEBIH KUAT DARIKU, KAU SEENAKNYA MENGALIHKAN PEMBICARAAN!" Rin langsung melemparkanku sampai terpental. Punggungku sampai terbentur salah satu bangunan tua di sekitarku sampai bangunan berupa ruko tua tersebut hancur.
Dirinya seketika menjadi kuat sekali. Untung saja daerah ini sepi dan tidak ada ada orang berlalu-lalang di sekitar sini. Hanya gedung-gedung tua di sisi kanan dan sisi kiriku yang tidak berpenghuni.
"WOI RIN, APA-APAAN DENGANMU?!" teriakku.
"Kau sudah membuatku kesal," jawabnya. Rin yang kukenal berbeda dengan Rin yang sekarang. Wajah cantiknya berubah menjadi sosok iblis yang sangat menyeramkan.
"R—Rin?" ucapku terbata-bata. Tidak menyangka yang awalnya kukira dia teman baik, ternyata menusuk dari belakang.
Dia telah mengkhianatiku.
Dirinya adalah iblis yang menyamar menjadi bagian dari pasukan Aliansi Amdis.
Air mata langsung mengalir deras membasahi pipiku. "SADAR, RIN! INI TEMANMU!"
"HAH? TEMAN?" katanya. Suaranya berubah menjadi lebih menyeramkan. "Aku tidak menganggap kau temanku."
"Aku adalah Iblis ras Levtient!" ucapnya. "Namaku adalah Civa, sang dewi Levtient!"
"Tidak level berteman dengan manusia setengah iblis sepertimu!"
Aku shock dengan perkataannya yang cukup menusuk diriku paling dalam. Perkataan yang sangatlah pedas. Meremehkanku seperti seorang budak menyedihkan.
Sejak kapan dia mengetahui diriku yang setengah iblis?
Energinya semakin kuat. Paru-paruku semakin sesak dibuatnya.
"LO UDAH BERUBAH, RIN, SIALAN LO!" bentakku.
Bodo amat, kesel banget asli!!
Dia hanya tertawa melihatku yang sedang menderita ini.
"Ayo tunjukkan kemampuan iblismu itu, Nica!"
Sulit sekali diriku untuk bangkit. Aku tidak ingin dianggap lemah olehnya.
"Aku tahu kau pasti menginginkan ini," ucapnya sambil menggores lengannya dengan kuku panjangnya yang tajam. Kelakuannya itu membuatku merasa ngilu sekali.
"Jilat darah ini dan kau akan menjadi salah satu kaumku!" ucapnya. Tangan kiri yang penuh darah mengalir sengaja direntangkan menghadapku.
Entah kenapa aku pun merasakan sesuatu yang kuat. Diriku seperti di dorong olehnya untuk menjilat darahnya itu.
Aku tidak bisa.
AKU BENAR-BENAR TIDAK BISA MELAKUKAN INI!
Aku memang tahu bahwa semua iblis menyukai darah untuk bertahan hidup. Akan tetapi, aku tidak ingin menyukai darah walaupun sebagian besar tubuhku adalah iblis.
Tanpa sadar, tubuhku berubah menjadi sosok iblis bertanduk lebih kecil dari ukuran tanduknya. Ukuran tubuhku menjadi jauh lebih besar daripada ukuran normalnya.
Oh, inikah rasanya bertransformasi menjadi iblis?
Aku juga memiliki dua pasang taring yang cukup besar sehingga menyembul keluar seperti harimau. Walau diriku sudah menjadi iblis, namun wujud manusiaku masih terlihat.
"KAU AKHIRNYA BERUBAH JUGA!" ucapnya yang telah memalsukan diri bertahun-tahun menjadi seorang Rin yang selama ini kukenal.
"Aku suka kau berubah seperti itu," lanjutnya yang disertai dengan tawanya yang seram dan memekakkan kedua telingaku.
"Aku tidak akan terpengaruh kelakukan sesatmu!" ucapku dan langsung bangkit dari posisiku yang terbaring di atas reruntuhan bangunan ruko tua. "Aku juga tidak sudi bergabung menjadi salah satu kaummu yang super lemah!"
"Kau mengejekku, ya?"
"Balasan buatmu!" Rin palsu tersebut langsung melancarkan serangan dengan hanya menggerakkan jarinya. Diriku langsung terlempar lebih jauh lagi.
__ADS_1
Namun, aku sedikit bisa mengimbanginya dan langsung menyerang balik dengan gerakanku yang cepat. Aku langsung mencolok kedua matanya yang merah menyala menggunakan kuku-kuku yang panjang. Dirinya langsung berteriak kesakitan sambil menyentuh matanya yang berdarah.
"Daya regenerasimu lambat juga," ucapku yang menjauh darinya.
Momen tepat, nih, buat nusuk jantungnya!
Aku langsung bergerak cepat menuju jantungnya.
Namun,
Ia sepertinya mengetahui taktikku.
Makhluk itu langsung mengeraskan bagian jantungnya. Ketika aku menyentuhnya, kuku bagian kananku patah dan berdarah.
"Sial!"
Ia tertawa. "Ternyata gampang sekali membodohimu."
"Gerakanmu juga cepat sekali," ujarnya.
Ternyata ia mengelabuiku dengan darah palsunya serta kedua mata palsunya sehingga benar-benar terlihat seperti nyata!
"Cih!"
Karena daya regenerasiku cukup cepat, aku bisa memperpanjang lagi kuku bagian tangan kananku yang mengenai jantungnya yang mengeras. Namun, sebelum tubuhku beregenerasi sepenuhnya, dirinya langsung mengambil kesempatan emas dengan melancarkan serangannya. Ia pun berlari ke arahku sambil menjulurkan lidah panjang dan bersiap-siap menerkamku terutama mengoyakkan jantungku.
Memanfaatkan momen regenerasiku untuk membunuhku.
Kejadian ini sama seperti ekspedisi kemarin.
Sosok wanita iblis yang menyerangku dengan cara berlari dan mengeluarkan lidahnya yang panjang serta taringnya.
Apakah jangan-jangan,
Dia adalah iblis saat ekspedisi kemarin?
*Sial, makhluk itu masih hidup ternyata!
Padahal sudah aku robek jantungnya*!
Ia selalu saja memalsukan anggota penting tubuhnya untuk mengelabui musuh.
*Pasti ada caranya, nih. Aku gak boleh lengah begitu saja*!
Tiba-tiba pandanganku tertuju pada suatu objek. Aku bisa melihat jantungnya yang seiring berubah menjadi keras dan seperti semula secara bergantian. Namun, harus butuh ketepatan waktu dan ketelitian untuk merobeknya.
*Aku pasti bisa merobeknya!
AKU PASTI BISAAA*!!!!
Akhirnya, aku bisa melihat jantung aslinya. Kuku jariku menembus tepat di jantungnya. Tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari jantungnya sehingga menyilaukan pandanganku.
GILA APA, NIH?!
Apakah mungkin karena dirinya seorang 'dewi' jadi seperti ini?
Tiba-tiba wujud Rin menghilang dari hadapanku, seiring dengan redupnya cahaya putih yang muncul dari jantungnya.
HILANG?!!
"Apakah ia benar-benar sudah mati?" gumamku.
Aku terdiam, memandang hal yang barusan terjadi.
Cuss
Tiba-tiba sebuah anak panah mengenai leher belakangku. Efek pusing dan ngantuk mulai menjalar ke dalam diriku. Anak panah yang telah dimodifikasi menjadi anak panah bius.
Aku menoleh ke arah sumber anak panah yang mengenaiku.
Para pasukan menemuiku dan menyergapku. Termasuk Louis yang menatapku dengan raut wajah terkejut.
Aku yakin dia tidak akan bisa mengenaliku sekarang.
Pandangan matanya menatapku yang sudah bertransformasi menjadi sosok iblis yang paling dibencinya.
INI BUKAN SEPERTI APA YANG KALIAN KIRA!!
Namun, kalimat tersebut seolah-olah tertahan.
Maafkan aku, Louis.
Maafkan aku semuanya.
Aku telah menghancurkan kepercayaan kalian selama ini.
__ADS_1
Aku terjatuh tidak sadarkan diri akibat efek dari anak panah tersebut. Pandanganku menjadi putih seketika.