INJUSTICE : Save Human Or Surrender

INJUSTICE : Save Human Or Surrender
#27 Operasi Tiberiu (Setelah Penyerangan Tengah Malam)


__ADS_3

Clèment's POV


"Tolong pindahkan jenazah nomor 02 kemari!"


"Segera evakuasikan yang masih selamat!"


Suara langkah kaki berlalu-lalang yang disertai dengan suara orang yang saling mengobrol terdengar jelas oleh indra pendengarannya.


Clèment membuka kedua matanya perlahan. Seketika dia mendapati dirinya yang terbaring di dalam tenda yang terbuka.nTubuhnya masih lemas, akan tetapi tidak parah seperti sebelumnya.


Perlahan-lahan energinya mulai terisi kembali.


Matahari sudah menunjukkan rupanya di langit.


Para anggota Greer sibuk berlalu-lalang mengangkut anggota yang tewas karena mimpi buruk. Beberapa anggota lainnya yang berhasil terbangun dari mimpi mereka, langsung membantu anggota Greer yang kesusahan.


Clèment langsung beranjak dari posisi baringnya dan keluar dari tenda.


"Komandan Regu Clèment!" panggil Simas dari kejauhan. Dirinya langsung berlari menghampiri Clèment yang terdiam mematung menatapnya. Nafasnya tersengal-sengal.


"Saya mendapatkan laporan!" ucapnya sambil menyerahkan secarik kertas tergulung kepada Clèment. "Mohon dibaca!"


Clèment langsung meraih secarik kertas putih tersebut dari genggaman Simas, lalu membukanya. Tiba-tiba pandangan Clèment membulat memahami setiap isi tulisan dari kertas itu.


"JEJAK TIBERIU TELAH DITEMUKAN"


Surat ini langsung dari Garrison.


"Di mana Lucian?" tanya Clèment tiba-tiba.


"A—ano di tenda nomor 11 ...." jawab Simas.


Seketika Clèment langsung bergegas meninggalkan Simas seorang diri di tengah kesibukan tim Greer yang berlalu-lalang. Simas langsung menyusul Clèment menuju tenda tempat Lucian berada.


Setibanya di sana.


Lucian sama sekali belum bangun dari tidurnya. Tubuhnya panas sekali.


"Dia belum bangun sama sekali dari tadi?"


Simas mengangguk. "Tubuhnya juga memanas serta keringatnya mengeluarkan darah."


Clèment langsung menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya dan menghela nafas panjang.


Beeep


Tiba-tiba alat di pergelangan tangan Clèment berbunyi dan memunculkan sebuah cahaya merah berkedip. Hal tersebut berhasil mencuri perhatiannya. Clèment langsung memeriksa alat tersebut dan mendapatkan titik-titik merah yang berkumpul di arah Timur berangsur-angsur menghilang satu persatu.


Seketika dirinya langsung bergegas keluar dari tenda dan meninggalkan Simas bersama Lucian yang masih tertidur.


"CLÈMENT! ALIANSI ORYZA DAN ALIANSI YUZU BERADA DALAM BAHAYA!" seru Hannah panik sambil mengamati layar laptopnya yang menampilkan peta wilayah Steich beserta titik-titik merah di sana.


"Mereka disergap oleh sekumpulan iblis ras Levtient!"


Kini pikirannya kembali dihadirkan dengan sebuah masalah serius lagi.


"Suruh mereka mundur dari tempat!" seru Clèment menyuruh Hannah beserta anak buahnya yang sedang sibuk meratapi layar laptop.


"Tidak bisa, Komandan Regu Clèment! Mereka dikepung!" seru Maxwell panik.


Clèment harus kembali berpikir keras terkait pengepungan Aliansi Oryza dan Aliansi Yuzu oleh sekumpulan iblis di arah Timur Steich. Keringat dingin membasahi tubuhnya seketika. Dirinya harus mengambil keputusan dengan cepat dan tepat agar kedua aliansi tersebut kembali ke situasi yang kondusif dan aman. Akan tetapi, situasi keduanya terkepung dan tidak ada yang bisa dilakukan.


Kecuali pasrah.


"Biarkan saja."


Orang-orang dalam tenda tersebut seketika langsung memandang Clèment.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Kita biarkan saja keduanya terkepung. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu kabar dari mereka yang masih selamat," jelas Clèment.


"Pasti ada jalan keluarnya, Clèment! Kita tidak bisa biarkan mereka tewas begitu saja!" bentak Illyana.


"Tidak ada jalan keluar, Illyana. Yang bisa kita lakukan hanyalah berpasrah sambil menunggu kabar dari mereka yang masih selamat," jelas Clèment sambil menghela nafas panjang.


"Jangan berikan tanggapan. Biarkan saja!" lanjut Clèment.


Kepalanya pusing sekali menghadapi beberapa masalah yang tak terduga dalam operasi ini.


Apa yang sudah kulakukan?


Perasaan menyesal menyelimuti dirinya.


Maafkan aku. Aku belum bisa menjadi pemimpin yang baik.


Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.


Clèment menghindar dari tenda tersebut dan kembali mengunjungi Lucian yang koma. Dirinya tertidur pulas seakan-akan tidak ada beban dalam hidupnya.


Clèment menatap wajah Lucian yang agak memerah karena keringat darah di dahinya.


"Lucian," panggilnya lirih.


Tidak ada jawaban dari Lucian. Dirinya hanya bisa mendengarkan saja.


"Kumohon bangunlah!" seru Clèment. "A—aku tidak pantas menjadi pemimpin."


"Aku telah mengedepankan hawa nafsuku."


"Aku telah berbuat kesalahan yang fatal," Seketika Clèment meneteskan air mata, membasahi tangan Lucian yang tidak berdaya. Lucian tetap mengikuti alur mimpinya, tanpa memperdulikan temannya yang kini menangis di sampingnya.


Clèment menghela nafas panjang. Meluapkan segala pikiran yang membuat dirinya terganggu.


Inikah rasanya menjadi pemimpin?


Dirinya menduduki sebuah kursi yang sedari tadi muncul di dalam tenda ini. Namun, baru sekarang dia menyadari kehadiran kursi tersebut. Tiba-tiba secarik kertas yang tergulung rapi menyita perhatiannya.


Jejak Tiberiu telah ditemukan.


Clèment langsung menghidupkan cahaya hologram dari alat di pergelangan tangannya. Alat itu seketika langsung menampilkan peta Steich yang terbentang luas disertai dengan titik-titik merah dan titik jingga. Titik jingga tersebut adalah jejak Tiberiu yang berhasil ditemukan. Hal ini berdasarkan pengamatan Garrison melalui radar wilayah dan langsung mengirimkan informasi tersebut melalui GPS Clèment, selaku pemimpin Operasi Tiberiu.


Lokasinya tidak terlalu jauh dari sini dan dirinya menuju ke arah Barat Laut. Makhluk itu tampak bersama dengan sebuah titik merah.


Setelah dirinya mengetuk titik merah tersebut, ternyata orang itu adalah salah satu anak buahnya.


NICA?!


Makhluk itu membawa Nica.


Gawat ini tidak bisa dibiarkan!


Kedua matanya membulat. Seketika dia langsung mematikan hologram dari alatnya dan bergegas keluar dari tenda untuk memberitahu informasi penting ini dengan komandan regu lainnya.


Namun setibanya di luar tenda Lucian, Clèment mendapati Alexa yang menangis hebat yang sedang terduduk bersama Simas dan lainnya di salah satu tenda tempat peristirahatan anggota.


Clèment langsung menghampiri mereka yang tiba-tiba memasang raut wajah sedih. Simas menyadari kedatangan Clèment dan menyuruhnya untuk duduk di salah satu kursi kosong di sebelahnya. Clèment pun terduduk di salah satu kursi yang dimaksud Simas.


Kedua mata Simas tampak memerah karena menangis.


"Ada apa?" tanya Clèment bingung melihat anak-anak buahnya yang tiba-tiba menangis.


"Louis," Simas tampak sulit sekali menyelesaikan kalimatnya. Air mata kembali membasahi wajahnya.


"Ada apa dengannya?" tanya Clèment yang semakin penasaran.


Jangan bilang kalau ….


"Tewas."

__ADS_1


"Huh?"


"Louis tewas," ucap Simas sekali lagi.


Jantungnya berhenti seketika.


Louis benar-benar tewas?


Diri Clèment terasa ditusuk oleh 1.000 pedang dalam waktu bersamaan. Pikirannya antara percaya dan tidak atas pernyataan Simas.


Namun, kondisi seperti ini memang bisa terjadi.


Akan tetapi, seorang Louis yang kuat dan pemberani membuatnya tidak habis berpikir.


Momen di mana dirinya diselamatkan oleh Louis dari sosok makhluk iblis yang sangat menyeramkan pada ekspedisi gabungan kemarin. Membuat hatinya kembali meringis mengingatnya. Seketika air mata kembali keluar dari kedua mata Clèment.


Hari ini sangatlah buruk baginya.


Dalam waktu satu hari, dirinya telah dihadiahkan beberapa kejutan dari Tuhan yang berhasil membuat lubuk hatinya sakit sekali.


Pertama, Lucian koma.


Kedua, Aliansi Oryza dan Yuzu dikepung iblis di sebelah Timur.


Ketiga, Tiberiu berhasil direkam jejaknya dan kabur dengan membawa Nica.


Dan yang terakhir, Louis tewas.


"Kami mendapatkan informasi dari Tim Greer setelah mereka menelusuri wilayah hutan ini," jelas Simas.


"Mereka menemukan alat GPS milik Louis serta pisau belatinya," Simas langsung memberikan Clèment barang yang selalu digunakan Louis.


Kedua mata Clèment membulat meratapi kedua benda tersebut. Pisau belati yang berlumuran darah. Alat GPS miliknya yang sudah tidak berfungsi. Bekas darah merah menempel jelas di alat GPS miliknya. Clèment semakin menggenggam kedua benda berharga milik Louis tersebut yang sudah menjadi kenangan.


Air mata kesedihan membasahi pisau belatinya.


Clèment harus melapangkan dada dan tegar atas ujian yang dia dapatkan hari ini.


"Jasadnya tidak dapat ditemukan," kata Simas.


Clèment menepuk pundak Simas. Berusaha untuk tegar menghadapi ujian yang telah diberikan oleh Tuhan kepada mereka.


"Turut berduka cita," ucap Clèment.


"Terima kasih, Komandan Regu!" jawab Simas. Pandangannya kembali menatap langit biru.


Alexa terus menangis. Wajahnya tertutupi oleh kedua tangannya. Hati Clèment merasa kasihan melihat diri Alexa yang sebegitu dekatnya dengan Louis selama dirinya berada di aliansi.


Akan tetapi, takdir berkata lain dan meninggalkan dirinya seorang.


Sama halnya dengan Nica yang sedang berada di dalam situasi berbahaya saat ini.


"Nica juga menghilang," ucap Simas.


"Dia tidak menghilang," sela Clèment. "Dia dibawa oleh Tiberiu ke Barat Laut."


Seketika pandangan Simas membulat menatap Clèment.


"Jejak Tiberiu berhasil ditemukan oleh Garrison."


"Misi kita sekarang adalah menemukan Nica kembali dan menangkap Tiberiu," kata Clèment dengan yakin. "Langkah kita semakin dekat dengan keberhasilan!"


Tiba-tiba Clèment bangkit dari posisi duduknya dan memberikan senyuman tipis kepada Simas yang masih terdiam mematung menatapnya.


Sebuah senyuman untuk menyemangati Simas yang sedang dilanda kesedihan. Sama halnya seperti diri Clèment.


Harus selalu tersenyum walau sedang dilanda kesedihan.


Dirinya langsung meninggalkan Simas dan kembali menghampiri Illyana dan lainnya yang sedang sibuk mengamati radar wilayah Steich melalui laptop mereka dan memberitahu informasi penting yang berasal dari secarik kertas putih itu serta misi selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2