INJUSTICE : Save Human Or Surrender

INJUSTICE : Save Human Or Surrender
#29 Pengkhianat Kembali Hadir


__ADS_3

"Tolong simpan ini!" Tiba-tiba Oliver memberikanku secarik kertas terlipat yang sudah sedikit rusak. Warna kertas itu sudah memudar menjadi kuning kecoklatan.


Aku terheran dengan secarik kertas tersebut dan langsung membuka kertas itu. Pandanganku seketika membulat tertuju kepada sebuah lambang bintang beserta huruf-huruf latin kuno yang tersebar di setiap sisi bintang tersebut.


"Apa ini?"


"Petunjuk ke dunia iblis," jawabnya. "Kau harus pergi ke Tenggara mengikuti arah matahari dan menuju ke padang rumput yang luas. Setelah itu kau baca mantranya."


"Mantra?" tanyaku heran. Aku tidak melihat tulisan mantra di kertas tua ini. Akan tetapi, setelah diriku membalikkan kertasnya, aku menemukan tulisan latin yang cukup panjang di belakangnya.


"Itu mantranya," sahut Oliver. "Kau bacakan mantra itu tepat di tengah padang rumput sana."


"Okelah."


Oliver hanya tersenyum menatapku.


Komandan Regu Clèment sudah mengajak Oliver untuk ikut bersama kami, akan tetapi dirinya menolak.


Ia berkata, "Aku tetap berada di sini saja. Maaf."


Dengan berat hati, akhirnya Komandan Regu Clèment memperbolehkan dirinya untuk tetap tinggal di hutan ini.


"Charlie Golf breaker 1-9, walkie check!" kata Komandan Regu Clèment melalui alat yang mengikat di pergelangan tangannya.


Alat itu selain berfungsi sebagai GPS, melainkan juga berfungsi sebagai mengirim sekaligus menerima pesan suara dari dan ke Garrison serta para komandan tiap aliansi.


Namun, dirinya sama sekali tidak mendengar jawaban dari alat itu.


"Charlie Golf. Do you copy?"


"Golf Charlie. Affirmative. Ganti!" Seketika suara Komandan Olav muncul dari alatnya.


"Instruksi. 10-2 tepat di Barat Laut, operasi Tiberiu dibatalkan! Tiberiu terbukti tidak bersalah. Ganti!"


"Apa kau yakin. Ganti!"


"Big 10-4. Ganti!" jawab Komandan Regu Clèment dengan penuh yakin.


"Roger that!" Seketika suara Komandan Olav yang berasal dari alat itu berhenti.


"Charlie Lima breaker 1-9, walkie check!"


Setelah percakapan antara dirinya dengan Komandan Olav berakhir, dia langsung mengganti saluran untuk menghubungi para komandan aliansi yang berada di wilayah yang berbeda.


"Charlie Lima breaker 1-9, do you copy?" tanya Komandan Regu Clèment. Dirinya tidak mendengar balasan dari alatnya tersebut.


"Charlie Lima breaker 1-9, do you copy?" tanyanya sekali lagi.


Masih tidak ada jawaban sama sekali.


"Charlie Foxtrot breaker 1-9, walkie check!" Komandan Regu Clèment memastikan kondisi kedua aliansi yang berada di sebelah Barat.


Seketika suara berisik terdengar jelas dari alat yang melekat di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Charlie Foxtrot breaker 1-9, 3-3," kata Komandan Regu Clèment.


"Charlie Foxtrot breaker 1-9, do you copy?"


"Foxtrot Charlie. Affirmative. 1-1-2. Ganti!" Seketika muncul suara dari alatnya. Akan tetapi, tidak terlalu jelas.


Seketika kedua mata Komandan Regu Clèment membulat panik.


"Charlie Foxtrot. 10-2. Ganti!" lanjutnya dengan panik. Menunggu jawaban dan kepastian dari mereka.


Diriku sama halnya panik sepertinya. Aku terdiam mematung di sampingnya. Jantungku pun ikut berdebar dengan kencang.


Tiba-tiba alat GPS miliknya mengeluarkan cahaya merah berkedip. Dirinya langsung mengaktifkan cahaya hologram dari alat di pergelangan tangannya sehingga cahaya tersebut menampilkan peta pulau Steich beserta titik-titik merah yang tersebar di sana. Akan tetapi, titik-titik merah di sebelah Barat perlahan-lahan menghilang.


Sisanya bisa dihitung dengan jari.


Ada apa ini?


Seketika panik menjalar ke dalam diriku. Otakku mulai memikirkan hal-hal yang tidak enak yang akan terjadi selanjutnya.


Para anggota operasi tim seketika menjadi panik dan terdiam menatap Komandan Regu Clèment.


Oliver ikut terdiam.


Kini suasana mulai mencekam kembali. Sangat mencekam.


"Aliansi Tigris dan Aliansi Azalea berada dalam bahaya!" ucap Komandan Regu Clèment dengan tatapan kosong.


"Berurutan?"


"Beberapa hari yang lalu setelah Aliansi Amdis diserang, besoknya Aliansi Yuzu dan Aliansi Oryza diserang oleh segerombolan iblis juga!" jelas Alexa dengan raut wajah panik.


"Sepertinya ada yang datang," sela Oliver sambil menatap sekitar yang dikelilingi pohon-pohon jenis konifer.


Sreett


Tiba-tiba Simas dan beberapa anggota pasukan lainnya yang kini berada di tengah kerumunan anggota pasukan, seketika tumbang dengan luka tusukan di dada mereka.


.


"SIMAS!"


Sosok tersebut bagaikan seperti kilat.


Benar-benar tidak tampak sama sekali!


Hanya berselang sekitar 0,01 detik saking cepatnya.


"PERISAI!!"


Akan tetapi sebelum Komandan Regu Clèment menyebutkan kalimat itu, dengan kecepatan penuh sosok makhluk yang dimaksud Oliver langsung menyergapku dan membawa diriku kabur.


"Lepaskan aku!" teriakku.

__ADS_1


"Tidak akan!" bentaknya dengan suaranya yang berhasil membuat kedua telingaku sakit.


Makhluk itu tidak menampakkan wajah keseluruhannya karena memakai masker. Tudungnya beterbangan seiring dirinya meloncat dari ranting pohon yang satu ke pohon lainnya. Seketika dari raut wajahnya mengingatkanku dengan seseorang.


Galen?


Setiba di atas ranting di salah satu pohon, dirinya membenturkan tubuhku dan mencekikku dengan jari-jemarinya.


"H—hentik—an, Galen!" ucapku yang tersendat-sendat akibat cekikannya yang semakin menguat di leherku.


"KAU TELAH MEMBUNUH RIN!!" teriaknya. Kedua matanya merah menyala serta terdapat sepasang tanduk di kepalanya dan sepasang taring seperti Civa.


Tidak kusangka dirinya dan Civa atau biasa dikenal sebagai Rin, saling bekerja sama untuk membunuh manusia dengan menyamar sebagai prajurit aliansi. Di balik sifatnya yang pendiam, terdapat maksud dan tujuan tertentu, yaitu mencelakakan para anggota aliansi.


Apakah dirinya yang merencanakan penyerangan kepada tiap aliansi di daerah Barat dan Timur?


"KAU DAN LAINNYA PANTAS MENDAPAT PELAJARAN DARIKU!!" lanjutnya. Raut wajahnya yang tertutup oleh masker berwarna hitam menatapku dengan geram. Kedua mata merahnya membara seperti api.


Aku tidak bisa diam begitu saja.


Bagaimanapun, aku harus lawan dia!


Seketika sepasang kuku yang panjang dan runcing di jari-jemariku muncul. Diriku mulai bertransformasi menjadi setengah iblis. Aku langsung menikam dadanya, tepat di daerah jantungnya berada. Melampiaskan dendam serta kebencian melalui aksiku.


Seketika Galen langsung melepaskan cekikannya dan membuatku terjatuh lemah. Aku terbatuk-batuk akibat cekikannya yang terlalu kuat sehingga menimbulkan bekas merah jari-jemarinya di leherku. Namun, aku harus bangkit dan melawan rasa sesak dari dalam diriku.


Aku langsung melangkah menjauhi Galen yang tumbang tidak berdaya. Darah merah yang keluar dari jantungnya banyak sekali sehingga mengenai jari-jemariku.


"Kau tidak tahu, ya. Betapa bencinya aku dengan karakter munafik kalian berdua!" kataku. Berusaha untuk menahan luapan emosiku yang semakin naik.


Akan tetapi, usahaku gagal.


Darahku seketika naik mencapai ubun-ubun. Aku langsung kembali mencabik-cabik tubuhnya yang tidak bernyawa itu. Menusuk jantungnya menggunakan kuku-kuku panjang di tanganku berkali-kali sampai hancur.


Aku tidak peduli.


"Selamat bersenang-senang di neraka, kawan!" kataku sambil tersenyum lebar dan menatap kedua matanya yang masih nengharapkan kehidupan.


Aku benar-benar telah kehilangan kendali.


Tiba-tiba sekumpulan air mata memenuhi kelopak mataku dan ingin segera keluar membasahi wajahku. Aku kembali menangis sekencang-kencangnya di hadapan Galen yang berwujud iblis. Emosiku benar-benar tidak terkendali disertai dengan pikiranku yang kacau balau.


Dalam kurun waktu yang berdekatan, diriku sudah dihadirkan banyak ujian.


Seketika sebuah pikiran terlintas di benak otakku.


Para anggota aliansi pasti sedang dalam keadaan bahaya saat ini!


Tidak berlama-lama di sini, aku langsung beranjak meninggalkan jasad Galen paling terhina di muka bumi yang sudah tidak bernyawa.


Seketika terdapat rasa kepuasan dari dalam diriku. Entah rasa kepuasan ini belum pernah aku rasakan sebelumnya.


Aneh sekali tapi nyata!

__ADS_1


__ADS_2