INJUSTICE : Save Human Or Surrender

INJUSTICE : Save Human Or Surrender
#6 Selangkah Lebih Maju (REVISI)


__ADS_3

28 Juli 3029


2 tahun kemudian.


Hari kelulusan tiba.


Matahari yang terik mewarnai setiap sudut kota. Kicauan burung seakan-akan menyambut musim panas di tahun yang bahagia ini.


Selangkah lebih maju untuk mengetahui kebenaran tentang dunia.


Sekarang kita semua akan ditentukan aliansi mana berdasarkan rata-rata skor kita masing-masing. Para Komandan dan Kapten dari tiap aliansi berkumpul di samping panggung.


Sekarang kami telah mengetahui peran kami masing-masing setelah melakukan tes kemampuan selama 3 tahun di akademi. Awalnya hanya Durya dan Harpia, akan tetapi kami terbagi lagi ke dalam beberapa peran lagi. Dalam Durya terbagi menjadi dua peran. Antara lain peran Alta (jarak dekat; menggunakan senjata pisau, pedang, tameng, atau sejenisnya untuk menahan serangan musuh) dan peran Ignatius (jarak sedang; menggunakan senjata panah, senapan serbu/senapan angin, atau sejenisnya untuk melemahkan sekaligus membunuh target dengan tepat). Sedangkan dalam Harpia terbagi menjadi dua peran. Antara lain peran Odora (jarak jauh; menggunakan sihir untuk menghabiskan musuh) dan peran Greer (healing/ mengobati anggota pasukan yang cedera. Peran ini sangat dibutuhkan dalam berkontribusi melawan musuh dengan menambahkan energi atau mana untuk anggota satu timnya, terutama bagi peran Odora).


Kami juga memakai jaket sesuai warna yang mencerminkan kemampuan kita yang di dalamnya tetap memakai kemeja hitam seperti masih dalam akademi serta topi baret sesuai warna jaket masing-masing.


Jaket berwarna coklat khusus murid yang berperan sebagai Alta, jaket berwarna merah khusus murid yang berperan sebagai Ignatius, jaket berwarna ungu tua khusus murid yang berperan sebagai Odora, sedangkan jaket yang berwarna hijau khusus murid yang berperan sebagai Greer dan dilengkapi dengan logo masing-masing peran di bagian belakang jaket, dan di bagian kedua sisi bahu. Di dalam logo tersebut, selalu disertakan dedaunan hijau yang menandakan 'cinta alam'.


Aku berperan sebagai Ignatius sehingga aku memakai jaket dan topi baret berwarna merah darah, lengkap dengan logo Ignatius; panah dan pistol. Aku juga tidak lupa membawa senapan serbu AK-47, lengkap dengan pelurunya yang sudah dimodifikasi.


Senapan serbu dari Mama Mathilda.


"Akan kujaga baik-baik!" ucapku.


Kami baris sesuai dengan kemampuan masing-masing. Mr. William mulai memasuki area panggung. Wajahnya tampak berseri-seri. Dia pun membersihkan tenggorokannya terlebih dahulu sebelum memulai acara.


"Selamat pagi semuanya!" ucapnya tegas dengan menggunakan pengeras suara.


"SELAMAT PAGI, PAK!" jawab kami semua serentak sambil melakukan salam hormat. Salam hormat selalu kami lakukan sejak di akademi. Ini merupakan sebuah penghormatan kepada yang lebih tua atau senior.


"Hari ini adalah hari yang sangat kalian tunggu-tunggu," ucapnya.


"Terdapat 5 aliansi bagian di wilayah Steich, " lanjutnya. "Di antaranya adalah Aliansi Amdis, dimana jika kalian dapat meraih 5 besar, maka kalian akan berkesempatan masuk situ. Yang kedua adalah Aliansi Tigris. Ketiga adalah Aliansi Azalea. Keempat adalah Aliansi Yuzu, dan yang terakhir adalah Aliansi Oryza."


"Hari ini kalian akan ditentukan ke dalam aliansi-aliansi yang tepat!"


Hening sekali.


Hanya suara kicauan burung dan suara Mr. William yang menggema di pagi yang cerah ini.


"Tolong di dengarkan baik-baik!" kata Mr. William sambil membuka secarik kertas yang dipegangnya. "Bila merasa namanya terpanggil, silahkan maju kedepan."


"Nama-nama yang disebutkan yang memperoleh peringkat 5 besar," tegasnya.


"Saya akan menyebutkan nama-nama dari kelas Durya terlebih dahulu."


Dia pun mulai menyebutkan nama murid satu persatu dari kelas Durya mulai dari peringkat akhir. Aku tidak mengenali murid yang mendapatkan peringkat kelima itu. Namun, berikutnya Simas berhasil meraih peringkat keempat.


Jantungku berdegub kencang. Berharap namaku terpanggil di pengeras suara.


"Nica Rosabelle!"


"Eh?" Aku terkejut dengan apa yang terdengar olehku barusan.


Aku maju ke depan panggung dengan pandangan yang semua mengarah padaku disertai tepukkan tangan.


Aku peringkat ketiga, mendinglah!


"Kita bersama lagi Nica!" seru Simas dengan memakai jaket serta topi baret berwarna merah, sama sepertiku. Dirinya melancarkan high-five denganku.


"Barengan lagi, nih!" ucapku sambil membalas high-five-nya sembari aku berdiri di sampingnya.


"Rin Melania!"


Rin mulai menuju atas panggung. Aku pun ikut senang melihatnya yang berhasil masuk ke Aliansi Amdis bersamaku. Teman-teman seperjuanganku masuk ke dalam peringkat 5 besar!


Bagaimana tidak senang?


"Keren banget kau!" ucapku kepada Rin yang berdiri di sebelahku. Aku pun melancarkan high-five dengannya.


"Peringkat pertama sebagai lulusan terbaik dipegang oleh ...." Mr. William kini membuat semua orang terdiam.


Kini hanya suara detak jantung saja yang terdengar.


"LOUIS MEINHARDT!" seru Mr. William disertai dengan tepukkan tangan yang menggema dari seluruh manusia yang hadir pada hari ini.


Aku tidak bisa menahannya sehingga diriku sampai mengeluarkan air mata bahagia yang tidak bisa kubendung lagi. Kulihat Louis yang mulai naik ke atas panggung dengan jaket dan topi baret berwarna coklat tua. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.


Aku langsung memeluk dirinya.


"LOUIS, YA TUHAN!" Aku memeluk erat dirinya. Posisiku setengah berjinjit karena tinggi badannya yang melebihiku. Aku tidak memperdulikan orang-orang melihat kami seperti ini, aku bahagia sekali!


Louis membalas pelukanku.


"Maaf, aku terlalu berlebihan!" ucapku setelah aku melepas pelukannya.


"Iya, gak apa-apa!" ucapnya sambil menghapus air mata yang membasahi pipiku menggunakan jari-jemarinya.


Aku terdiam menatapnya sambil merasakan sapuan jarinya di wajahku sehingga membuat pipiku memerah. Louis tersenyum melihat wajahku yang memerah dan dirinya pun kembali ke barisannya di sebelah Rin.


Hatiku dibuatnya berbunga-bunga dengan mengingat perlakuan Louis terhadapku tadi.


Selain itu, perasaanku juga senang tidak karuan sebab dari kelas Durya, aku masuk peringkat 5 besar bersama teman-teman yang kukenal!


"Selanjutnya dari kelas Harpia," Mr. William mulai membacakan nama anak-anak dari kelas Harpia yang masuk ke dalam peringkat 5 besar.


"Alexa Lumina!"


Kulihat dirinya yang memasuki area panggung dan berdiri di tempat yang sudah ditentukan. Hatiku terasa menari-nari mendengar namanya disebutkan oleh pengeras suara.


Selanjutnya Mr. William membacakan nama anak-anak dari kelas Harpia yang mendapatkan peringkat 5 besar selain Alexa.


Banyak dari mereka yang tidak kukenal.


Bila digabungkan, total kami adalah 10 orang yang berhasil bergabung ke dalam aliansi yang aman, yaitu Aliansi Amdis yang terletak di kota Amdis yang berada di paling Utara Steich.


Acara kelulusan akhirnya usai. Sebelum bubar, kami melakukan sesi foto satu angkatan terlebih dahulu, Tampak wajah-wajah cerah yang terlihat dari sesi foto tersebut,


Wajah-wajah senang lebih tepatnya.


"SAYANG!" Aku langsung memeluk Alexa. Kedua sayap mungilnya bergerak gemulai. Dia membalas pelukanku. Jari-jemarinya yang kecil menyentuh punggungku.


"NIKKI, KITA BERSAMA!" seru Alexa dengan suara imutnya. Kini kami berdua saling berpelukan setelah aksi yang tidak memungkinkan kami untuk bertemu di panggung tadi.


Dia pun melepaskan pelukannya dan menemui Louis yang berada di sampingku untuk melakukan high-five bersama.


"Hey kalian!" Seorang pria berusia sekitar 30-an, berpakaian rapi lengkap dengan jas berwarna gelap, tiba-tiba menghampiri kami beserta seorang pria yang tidak kukenal di belakangnya.


Pandangan kami semua terpaku ke arah datangnya kedua pria asing tersebut.


"Kami dari Aliansi Amdis angkatan ke-113," ucapnya dengan suara yang agak serak. Kehadiran mereka membuat kami terkejut.


"Perkenalkan, saya Komandan Aliansi Amdis, Lucian Andreas!" lanjutnya dengan raut wajah dingin. Rambut coklatnya tertiup oleh angin.


"Dan saya Kapten Aliansi Amdis, Jan Evander. Bisa dipanggil Jan atau Evander atau—"

__ADS_1


"Jangan cubit aku seperti itu!" seru Kapten Jan sambil menyentuh pinggangnya yang sengaja dicubit oleh Komandan Lucian.


"Selamat kalian telah bergabung bersama kami! " ucap Komandan Lucian. Pandangannya menatap kami satu persatu. "Mohon kerjasamanya kalian!"


"SIAP!" ucap kami serentak sambil melakukan hormat kepada kedua orang penting di hadapan kami.


"Baik, kita akan segera menuju ke Amdis sekarang," ucap Komandan Lucian dengan memasang wajah datar.


"Kereta akan datang sekitar 20 menit lagi," lanjut Kapten Jan sambil melihat jam tangannya.


Kami pun meninggalkan Akademi Pahlawan Courtfeig hari itu juga. Banyak sekali kenangan indah sekaligus sedih yang tertinggal di sini selama kurun waktu 3 tahun lamanya. Kami langsung melakukan perjalanan ke kota Amdis dengan kereta api khusus aliansi.


--


Sudah 3 jam lamanya di perjalanan menuju Amdis, yang terletak di daerah Utara.


Aku menikmati pemandangan matahari yang mulai terbenam. Langit senja mewarnai dunia,


Rerumputan hijau dimana-mana.


"Hari sudah semakin cepat saja," ucap Rin yang tiba-tiba menghampiriku yang sedang terduduk di salah satu kursi di kereta sambil memandang pemandangan yang melintas di jendela yang berbentuk persegi panjang.


"Ya begitulah!" jawabku yang sedang melamun memandang indahnya langit sore seperti lukisan.


Annie


Leo


Theo


Matthias


Dan yang lainnya,


Mama Mathilda,


Bagaimana kabar kalian?


Tiba-tiba setetes air mata jatuh tepat di pipiku. Mengingat kembali kejadian beberapa tahun silam yang telah menimpa mereka.


"Hey, kenapa kau menangis?" Rin ternyata menyadarinya.


Aku pun langsung bergegas mengusap air mataku menggunakan lengan jaketku yang cukup panjang. Tampak sebuah pola dari setetes air mata yang keluar dari kedua mataku.


"Oh, gak kok," jawabku. "Hanya saja ada debu yang masuk ke mataku."


Namun, air mata ini tetap membasahi pipiku semakin deras.


"Ceritakan saja padaku. Kau tahu aku adalah pendengar yang baik," lanjutnya dengan mengulas sebuah senyuman di wajahnya. Aku pun menolehnya dan setelah itu aku kembali menoleh pemandangan sore hari.


"Ya, gimana ya," kataku. "Hanya saja tiba-tiba aku kangen dengan keluarga angkatku."


"Tapi mereka sudah di makan oleh iblis!" jelasku. "Terakhir kali aku melihat tubuh mereka sudah hancur."


Rin seketika langsung memelukku. Perlakuannya itu membuatku kembali menangis di pelukannya. Rin memberikanku ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi masalah yang kualami.


"Aku anak yatim piatu sejak aku berumur 9 tahun. Ayahku kecelakaan saat sedang bertugas di pelabuhan," katanya tiba-tiba.


"Sejak itu, ibuku menjadi sangat depresi dan akhirnya ditemukan bunuh diri dengan menikam dirinya sendiri menggunakan pisau dapur yang saat itu sedang mengandung adikku," lanjutnya sambil melihat pemandangan yang berlalu-lalang. Tangannya sambil mengelus rambutku. Mendekapku di pelukannya.


"Adikku meninggal sebelum lahir karena mengalami pendarahan hebat di otaknya akibat luka dari tikaman pisau dapur," jelasnya sambil menahan tangis. "Sejak saat itu, aku mulai tidak bersemangat hidup dan melakukan percobaan bunuh diri di umur yang masih 11 tahun."


"Tetapi percobaan tersebut berhasil digagalkan oleh kakek dan nenekku karena mereka memasuki kamarku yang terkunci!"


Tragis sekali hidupmu, kawan!


"Adikmu sedang melihat perjuanganmu dari surga." sela ku. Pandangannya beralih menatapku yang berada di pelukannya.


"Adikmu selalu menjagamu dimana kau berada," lanjutku. "Kau tidak sendirian, Rin!"


"Tuhan sedang menguji kita. Percayalah Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik!" ucapku dengan meyakinkan Rin yang sedang di landa kesedihan sama sepertiku.


"Intinya kita harus berjuang dan kita harus membuat orang -orang yang sudah meninggalkan kita menjadi bangga!" kataku sambil menggenggam tangan kanannya.


"Fighting!" kataku sambil menyemangatinya.


"F–fighting!" jawabnya dengan semangat walau masih ada perasaan kesedihan di dalam dirinya. Pupil matanya membesar.


"Kalian berdua!" panggil Kapten Jan tiba-tiba yang berada di depanku saat ini. Hanya berbeda beberapa bangku saja dari kami berdua.


"Tangkap!" Kapten Jan melemparkan dua bungkus kraker kedelai kepada kami berdua.


"Terima kasih banyak, Kapten!" ucapku sambil menggenggam kraker kedelai.


"Komandan Lucian dimana?" tanya Rin kepada anak-anak lainnya yang tidak jauh dari kami yang sama halnya sedang memakan kraker kedelai yang kaya akan nutrisi ini. Dirinya menyadari ketidakhadiran Komandan Lucian.


"Katanya Komandan Lucian sedang ke toilet," jawab Maxwell. Salah satu murid yang berperan sebagai Odora.


"Oh," Hanya itu saja yang keluar dari mulut Rin.


"Kapten, kita makan duluan atau gimana?" tanyaku untuk memastikan sebelum kubuka bungkus kraker di genggamanku.


"Mari makan duluan!" jawab Kapten Jan dengan ramah. "Palingan dia lagi boker."


"Kalau aku bilang begitu di depan dia, dia pasti akan mencekikku," ucapnya.


"Rupanya Kapten Jan orang yang penuh humor, ya!" ucap Simas.


Kapten Jan tertawa mendengar ucapan Simas mengenai dirinya. "Ya jelaslah!"


"SELAMAT MAKAN!" ucap kami serentak dan langsung melahap kraker kedelai yang diberikan oleh Kapten Jan. Walau tidak seenak yang kukira, tetapi kraker ini cukup membuat perutku terisi.


"Kau," Tiba-tiba Kapten Jan menegurku. Aku pun langsung berhenti makan dan menatap pandangan Kapten Jan ke arahku.


"Iya, Kapten?" tanyaku heran.


"Kau dan dia pacaran, ya?" tanyanya dengan menunjuk Louis yang sedang menyantap kraker kedelai miliknya.


Louis pun ikut terdiam menatap Kapten Jan dan diriku yang tidak jauh dari tempat duduknya.


HAH?!


Seketika perkataannya membuatku tersedak,


Alexa mengusap punggungku dengan tangan mungilnya. Tanpa membalas perkataan Kapten Jan, aku langsung meraih sebotol air mineral dan meneguknya hingga rasa tersedak tersebut hilang.


Aku bisa merasakan tatapan-tatapan lain mengarah kepadaku.


Sudah kuduga!


"Tidak, Kapten! Kami tidak menjalin hubungan apapun," sela Louis. "Kami hanya teman masa kecil."


"Oh, tapi kalian berdua mesra sekali di panggung tadi!" goda Kapten Jan sambil mengulas senyuman yang menyeramkan sehingga membuat dirinya terlihat seperti seorang psikopat.


Sabar sabar ....

__ADS_1


Rasanya aku ingin terbang ke bulan menggunakan roket sekarang juga demi melampiaskan perasaanku yang kini dibuat malu di depan seluruh anak akademi Courtfeig.


"Jangan dimasukkan ke hati. Aku hanya bercanda," jelasnya dengan nada meledek.


"Baik, jangan lupa bersihkan sampah makanan kalian, ya!" kata Kapten Jan. Dia tiba-tiba bangkit dari posisi duduknya.


"Aku ke sana dulu. Bye!" lanjutnya sambil membuka pintu koridor dan meninggalkan kami semua.


Kami semua pun terdiam memerhatikan wujudnya hingga menghilang. Dengan wajah memerah sekaligus muram akibat perkataan Kapten Jan barusan, aku mengubah posisi dudukku dengan meringkuk sambil menggenggam sebungkus kraker kedelai di tanganku.


MAU NANGIS!!


Hatiku terasa ditusuk oleh 1.000 katana dalam waktu 0,01 detik.


"Ada apa denganmu, Nikki?" Tiba-tiba suara imut Alexa terdengar oleh kedua telingaku. Ternyata dirinya menghampiriku yang sedang tidak baik. Tangan kanannya menyentuh punggungku.


Aku tetap terdiam.


"Nikki!" Dia terus menggoyangkan tubuhku dan menyebut namaku berulang kali sehingga aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh di lantai.


"Tolong aku sekarat!" kataku dengan suara yang mencekat di tenggorokan. Tatapan kosong menatap langit-langit kereta api.


"LOULOU , TOLONG NIKKI SEKARAT!!!" seru Alexa panik mendengar perkataanku dan langsung memanggil Louis.


Louis langsung menghampiriku yang sedang terkulai di lantai. Aku pun dibantu duduk oleh Louis dan Alexa. Tubuhku masih saja digoyangkan oleh Alexa. Namun, aku tetap tidak meresponnya. Tiba-tiba pandanganku dengan Louis saling bersahutan.


Dia memeriksa suhu tubuhku dengan menempelkan punggung tangan kanannya tepat di dahiku.


YA TUHAN MALAH BEGINI LAGI!


Ingin rasanya aku berteriak sekencang-kencangnya. Raut wajah Louis yang datar membuat jantungku mencapai maksimal kecepatannya.


Aku mimisan. Tiba-tiba mimisan.


"Nica mimisan!" ledek Simas sambil menertawaiku.


Rin hanya menatapku sambil tersenyum lebar.


Alexa langsung mengambil sekotak tisu dan mengambil sebanyak-banyaknya untuk menghentikan mimisanku yang mengalir. Tiba-tiba suasana ruangan ini menjadi ribut.


Berisik,


Tawa,


Dan panik,


Semua menjadi satu.


--


2 jam kemudian,


Tiba di Amdis pada malam hari.


Suhu meningkat karena Amdis terletak di paling Utara sehingga kami harus memakai jubah berwarna sesuai peran masing-masing yang diberikan oleh Mr. William saat berada di Akademi Pahlawan Courtfeig.


"SELAMAT DATANG DI AMDIS!"


Sedikit orang berlalu-lalang di sekitar gerbong stasiun. Tidak seramai seperti yang kukira awalnya. Mungkin karena ini sudah malam.


Lampu di masing-masing tempat menyala seakan-akan menyambut kedatangan kami di sini.


Kami pun turun dengan membawa perlengkapan kami masing-masing.


"Wuaaaa!" seru Alexa dengan kedua tangannya yang dilebarkan ke langit.


"Dingin!" kataku sambil menggosokkan kedua tanganku berlawanan agar menghasilkan hawa panas di antara kedua tanganku.


"Akhirnya sampai juga!" ucap Simas lega. Selama dalam perjalanan, dirinya mengalami mabuk perjalanan sehingga menghabiskan dua kantung penuh yang berisi muntahannya.


Kalau diingat lagi menjijikan juga, sih!


Komandan Lucian dan Kapten Jan memimpin jalan kami.


"Rin, ayo!" ajakku dari luar kereta sambil menunggu Rin dari dalam. Entah aku tidak tahu mengapa dirinya lama sekali turunnya.


Louis akhirnya ikut menungguku.


"Ah iya. Maaf." ucapnya sambil berlari menyusulku.


"Tidak ada yang ketinggalan, kan?" tanyaku kepadanya yang terlihat tergesa-gesa. Namun, ia hanya menggelengkan kepalanya.


Kami pun berjalan mengikuti Komandan Lucian dan Kapten Jan.


Kereta api yang sudah menemani kami selama 5 jam perjalanan lamanya, akhirnya berpisah begitu saja. Kami menuju markas aliansi Amdis yang tak jauh dari lokasi stasiun kereta sehingga menyuruh kami untuk berjalan kaki saja.


Suasana kota Amdis, bisa di bilang seperti kota permen.Sebab beberapa bangunan yang menjulang tinggi, terdapat kubah berwarna-warni. Lampu yang terletak di setiap sudut kota menyinari tiap sudut jalanan. Orang-orang di sekitar memakai jaket demi menghangatkan tubuh mereka. Walau sudah memasuki musim panas, tetapi masih seperti musim dingin. Asap keluar mengepul ke udara setiap kali aku menghembuskan nafas dan mengobrol saking dinginnya.


Setibanya di markas Aliansi Amdis,


Tampak dari luar, bangunanya besar sekali.


Bahkan merupakan bangunan terbesar dan terluas dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Masing-masing menara dalam aliansi ini dilengkapi dengan kubah yang mengerucut ke atas berwarna merah–putih.


Unik sekali, bukan?


"Kebayang gak, sih, seperti permen?" ucapku kepada Louis.


"Mirip permen yang selalu ada di roti jahe," jawab Louis sambil mengamati setiap kubah yang menjulang tinggi.


Kami mulai memasuki ruangan utama markas Aliansi Amdis. Namun untuk itu, kami harus melewati beberapa anak tangga terlebih dahulu. Terdapat penjaga keamanan yang bertugas di setiap sudut markas.


Kami semua disuruh untuk tidur di kamar yang sudah tersedia atas perintah Komandan Lucian. Kamar untuk laki-laki dan perempuan dibedakan hanya satu lantai. Lantai 4 khusus perempuan, sedangkan lantai 5 khusus laki-laki. Kami harus naik elevator untuk menuju kamar kami. Tersedia juga tangga, tetapi akan lebih cepat bila menggunakan elevator.


Jiwa males saya menolak!


"Pukul 06.00 harus sudah bangun, ya!" perintah Komandan Lucian dengan tegas.


"SIAP, KOMANDAN!" seru kami semua sambil melakukan hormat di hadapannya.


"Oke, selamat malam semua!" ucap Kapten Jan sambil melambaikan tangannya kepada kami dan berbalik badan meninggalkan kami semua yang masih di ruang utama.


"Selamat tidur!"


"Dah!"


"Bye, mimpi indah!"


Semua anak-anak saling menyerukan ucapan 'selamat malam' antara satu sama lain dan mulai meninggalkan tempat yang menjadi awal perkumpulan bersama. Aku, Alexa, Rin, dan beberapa anak seangkatan lainnya menaiki elevator yang langsung menuju lantai 4.


Tidak ada pembicaraan di antara kami,


Hanya menguap.


Karena perjalanan yang jauh, kami semua lelah sekali. Bahkan kami semua harus bangun tepat pukul 06.00 pagi, bayangkan!

__ADS_1


Sedangkan, sekarang sudah pukul 11.50 tengah malam.


TIDAAAKKK!!!


__ADS_2