INJUSTICE : Save Human Or Surrender

INJUSTICE : Save Human Or Surrender
#20 Menghirup Kehidupan Lagi (REVISI)


__ADS_3

Sebulan kemudian,


Pukul 08.10


Nica's POV


"Sekarang kau sudah boleh keluar," ucap salah satu sipir sambil memasukkan sebuah kunci khusus di antara kunci-kunci lainnya ke dalam lubang kunci sel tempatku. Satunya lagi berada di belakangnya sambil mengamati temannya.


Aku yang baru saja terbangun dari tidurku, tidak bisa melihat sekitar dengan jelas. Hanya saja kudengar bunyi kunci-kunci yang saling bersentuhan.


"Bangun. Kau sudah bebas!"


"Masa, sih?" tanyaku yang meracau tidak karuan.


"Iya."


"10 menit lagi plis! " kataku yang sama sekali belum bangkit dari kasur. Jiwa dan ragaku berat sekali rasanya untuk bergerak. Entah aku tidak tahu, mungkin karena efek mimpiku yang terlalu dalam.


"Jadi ini kemauanmu, ya?" tanya salah satu sipir. "Baiklah."


"EH, BENTAR BENTAR!!"


Tubuhku reflek langsung terbangun sambil mengisyaratkan dengan kedua tanganku untuk mencegah mereka melakukan tindakan 'bangun paksa' kepadaku lagi. Aku sudah cukup muak dengan tindakan mereka yang tidak bisa melihat aku santai sekalipun.


Gak sabaran banget!


Kedua sipir tersebut langsung menghentikan aksinya dan berdiri tepat di depan sel ku. Aku tidak bisa paksakan diriku untuk bergerak sebab bila aku memaksakannya, kepalaku menjadi pusing sekali. Mungkin karena darah dari tubuhku belum sepenuhnya menuju ke otak. Untung mereka mengerti kondisiku ini walau awalnya mereka memaksa. Aku pun memasang wajah cemberut karena hari pagi yang indah telah dirusak oleh mereka.


Setelah rasa ngantukku terasa sudah lebih berkurang, aku langsung beranjak dari kasur yang telah menemaniku selama di dalam penjara.


"Biar kami saja yang rapihkan!" ucap salah satu seorang sipir. Dia mengetahui tindakanku yang langsung menyentuh selimut yang berantakan karena seretan tubuhku.


Oh baguslah! Aku juga males.


Aku mengikuti perintahnya dan menghampiri mereka yang sedari tadi menungguku. Aku langsung keluar dari tempat sel ini dengan didampingi kedua sipir.


"Sebelum kau pergi, kami ingin meminta maaf atas apa yang telah kami perbuat kepadamu selama masa tahanan," ucap salah satu pertugas sipir.


"Aku telah memukulmu."


"Iya, gak apa-apa," kataku. Berusaha tersenyum walau sebenarnya masih belum bisa menerima perlakuan mereka terhadapku.


"Kekerasan yang kalian buat emang untuk membuat para tahanan merasa jera, kan?"


"Iya itu benar. Akan tetapi ...." ucap salah satu petugas sipir lainnya. "Kami sudah keterlaluan."


"Yaudah gak usah dipikirin, ya!" kataku. "Nanti kebawa sampai mati, lho!"


Diriku berusaha tersenyum di saat kondisiku yang bisa di bilang sekarat, di tambah lagi dengan penampilan yang lusuh seperti orang gila. Namun, sekarang aku akan melihat dunia luar lagi. Aku tidak sabar keluar dari tempat neraka ini.


Ternyata inilah sel tahanan. Tempat manusia yang dikurung karena telah melakukan tindakan kriminal.


Beberapa dari mereka sedang berada di alam mimpi, beberapa lagi ada yang sudah terbangun sambil memerhatikan kami dengan aneh yang sedang berjalan di lorong penjara yang cukup terang karena terpapar oleh sinar matahari yang berhasil masuk dari jendela besar di atas.


Setibanya di depan pintu merah besar, pintu keluar dari lorong penjara. Petugas sipir lainnya membukakan kami pintu. Mempersilahkan diriku keluar dari rumah tahanan ini.


Aku bebas.


Kulihat Komandan Lucian dan Louis yang sedang terduduk di kursi kayu panjang, tepat di depan meja penerima tamu. Tatapan mereka langsung menuju diriku yang baru keluar dengan keadaan lusuh dan rambut yang berantakan. Louis langsung menghampiriku yang disusul oleh Komandan Lucian setelahnya.


Louis langsung memelukku. Pelukan hangat setelah satu bulan tidak kurasakan. Air mata rindu tidak bisa kubendung lagi. Seketika air mata tersebut langsung membasahi lengan jaket coklat tuanya. Louis mendekapku di dalam pelukannya dengan jari-jemarinya yang menyentuh punggungku.


Pelukan rindu.


Tidak bisa kutahan air mata rindu ini, semakin lama semakin deras. Tidak dapat diucapkan dengan kata-kata betapa rindunya diriku dengan dirinya yang setelah sebulan tidak bertemu bahkan menyentuhnya pun tidak. Cukup lama dengan posisi seperti ini hingga pada akhirnya aku melepaskan pelukanku dan mengusap wajahku yang basah karena air mata. Tiba-tiba Louis mengusap air mataku dengan jari-jemarinya dengan sentuhan lembut. Aku dapat merasakan ketulusannya.


Perlakuannya tersebut membuat diriku lebih tenang dibandingkan sebelumnya.


"Ehem," Tiba-tiba Komandan Lucian hadir tepat dibelakang Louis sambil membersihkan tenggorokannya yang kering sehingga membuatku tersadar dan langsung melakukan salam hormat di hadapannya.


"M—maaf, Komandan! S—saya ...."


Komandan Lucian tersenyum miring. "Tidak apa-apa, tenangkan dulu dirimu karena kau baru saja menangis."


Memang benar. Suaraku menjadi tersendat-sendat akibat menangis.


"Selamat datang kembali!" Itulah kalimat yang dilontarkan Komandan Lucian kepadaku.


"Terima kasih banyak, Komandan!" jawabku setegas mungkin.


"Oh iya," Tiba-tiba Louis memberikanku pakaian seragam kemeja hitam dan dasi berwarna emas serta celana hitam dan jaket merah darah dengan lambang Ignatius yang dilengkapi dengan bulu domba di dalamnya.


Aku pun baru ingat bahwa sekarang sudah memasuki musim dingin.


"Kau ganti pakaianmu dulu."


"Oh oke, makasih, aku ganti dulu!" ucapku dan langsung mengambil satu set seragam dari tangan Louis dan menuju ruang ganti.


Tak lama kemudian hanya berselang beberapa menit saja, akhirnya aku selesai mengganti pakaianku dengan pakaian yang diberikan oleh Louis. Pakaian yang kupakai sebelumnya aku serahkan kepada pihak rumah tahanan dalam keadaan terlipat rapi. Kami langsung keluar dari rumah tahanan Azalea, menuju stasiun kereta yang tak jauh dari rumah tahanan ini.


Memang bukan main! Udara di Azalea saja sudah dingin sekali. Angin yang kencang membuat rambutku berterbangan. Suhu dinginya sudah cukup menusuk kulitku, akan tetapi jaket berbulu domba ini melindungi tubuhku.


Para prajurit yang terpilih menjaga rumah tahanan tampak sedang melawan suhu dingin yang terjadi. Mereka hebat sekali bisa menahan udara dingin dengan sikap yang sempurna, lengkap dengan memakai jaket berwarna hitam yang dilengkapi dengan atribut yang tidak kuketahui.

__ADS_1


Kalau aku udah nyerah jadi mereka ....


Hanya berjalan kaki sebentar saja, kami sampai di Stasiun Azalea khusus aliansi.


Tiap kota di Steich terdapat dua macam stasiun, antara lain stasiun khusus publik dan stasiun khusus aliansi. Stasiun khusus aliansi tidak terdapat di semua kota, hanya di kota yang terdapat aliansi saja.


Kami langsung segera naik kereta api untuk melakukan perjalanan kembali ke Amdis.


Sekarang aku benar-benar sudah terbebas dari masa tahanan yang sangat mengerikan seperti neraka dunia. Menyaksikan orang-orang berlalu-lalang saja sudah membuatku dapat merasakan kehidupan yang berarti.


Seperti mimpi,


Aku mencubit pipiku untuk memastikan bahwa ini semua bukan mimpi.


Ternyata ini nyata!


Aku dapat melihat bangunan-bangunan sekitar dengan mata kepalaku sendiri. Langit yang kabut karena sudah memasuki musim dingin menyita perhatianku.


Kereta menuju Amdis pun mulai bergerak.


Sampai jumpa, Azalea! Maaf aku udah buat kekacauan di sini.


"Bagaimana keseharianmu di sana?" tanya Komandan Lucian kepadaku tiba-tiba. Lamunanku pun teralihkan. Pandangan Komandan Lucian dan Louis mengarah padaku.


"Buruk sekali, Komandan," kataku. "Gimana ya, pokoknya kehidupan sebagai tahanan itu sulit dan membosankan banget!"


"Oh gitu," Jawaban singkat, padat, jelas, dan sempurna dari Komandan Lucian.


"Saya ingin berterima kasih banyak kepada Komandan Lucian juga Louis yang sudah menjemput saya jauh-jauh dari Amdis!" jelasku. "Saya tidak tahu harus berkata apalagi."


"Memang ini sudah menjadi kewajiban bagi seorang komandan untuk menjemput anak buahnya!" kata Komandan Lucian sambil tersenyum.


"Louis sendiri yang menawarkan diri untuk ikut menjemputmu," lanjut Komandan Lucian. Louis langsung menggenggam erat tanganku dan menatapku sambil tersenyum.


Aku pun membalas senyumannya. Genggaman tangannya membuat diriku menjadi lebih hangat seketika walau di dalam kereta api ini sudah dilengkapi dengan penghangat ruangan.


"Setelah sampai di markas, kau harus bersiap-siap sebab kau kuundang untuk menghadiri rapat bersama malam ini," jelas Komandan Lucian. "Agenda kita kali ini mulai sibuk."


"Mereka semakin merajerela. Kita tak bisa membiarkan kaum iblis menguasai lebih kota-kota manusia."


Kini suasana berubah mencekam.


"Memangnya ekspedisi kemarin gagal?" tanyaku untuk memastikan. Aku tidak mendapatkan kabar mengenai ekspedisi gabungan ke Desa Kimo kemarin.


Yang hanya kuketahui bahwa aku tidak diperbolehkan ikut kembali ke Amdis dan harus ditahan sementara di Rumah Tahanan Azalea.


"Iya," jawab Louis. "Maaf aku tidak memberitahumu."


"Kenapa itu bisa terjadi?!" tanyaku. Tidak yakin dengan jawaban yang dikemukakan oleh Louis terkait hasil ekspedisi kemarin.


Mendengar penjelasan Komandan Lucian, aku langsung menutup wajahku dengan kedua tanganku.


"Sialan! Seharusnya aku di sana!" gerutuku sambil melampiaskan penyesalan.


Mereka semakin pintar. Manusia tidak boleh seperti ini terus!


Louis langsung mengusap pundakku, memberi isyarat untuk tetap tenang.


"Maka dari itu, aku mengundang kalian berdua untuk menghadiri rapat setelah makan malam untuk membahas masalah ini bersama-sama," jelas Komandan Lucian.


"Baiklah kalau begitu, Komandan!" kataku dan lanjut melihat pemandangan alam yang indah di luar.


Rerumputan yang hijau bersatu dengan langit yang kabut dan matahari yang berusaha untuk bersinar melalui celah awan-awan yang tebal.


Alam menyambut kehadiranku saat ini dengan menaruh sebuah harapan.


--


Tiba di Markas Aliansi Amdis. Sore hari setelah perjalanan yang jauh dari Azalea.


"SELAMAT DATANG KEMBALI, NICA ROSABELLE!!"


"SELAMAT DATANG KEMBALI, NICA!!!" ucap serentak membuatku terkejut ketika diriku selangkah memasuki markas.


Sebuah banner besar terbentang luas berhasil menyita perhatianku. Terdapat tulisan-tulisan kecil bila kuamati lebih jelas. Kira-kira seperti inilah yang kulihat:


"Perempuan berambut merah"


"Si lucu berambut api"


"Nikki Nikko Nikki UwU"


Dan sebagainya.


Beragam tulisan-tulisan kecil lainnya yang disertai dengan warna yang beragam, sampai ada yang membuat wajah ayam berambut merah beserta induknya di sana.


Ini siapa yang bikin woi?!


Aku kaget tidak menyangka mereka melakukan ini semua untuk menyambut kehadiranku, sampai memasang banner dan meniupkan terompet ulang tahun serta kertas-kertas kecil berwarna-warni yang berhamburan mewarnai tempat ini. Wajahku yang mengantuk berubah menjadi terbangun total.


"Selamat datang kembali, Nikki!!" seru Alexa langsung memelukku dengan girang. "Aku rindu sekali padamu!"


"Makasih sayang, aku juga, lho!!" kataku sambil membalas pelukannya.

__ADS_1


"Selamat datang di rumah, kawan!" ucap Simas sambil memberikanku sebuah tos dengan pola tangan khasnya.


"Makasih, bro!"


"Selamat datang, Nica!"


"Terima kasih, Komandan Regu Illyana!"


Banyak sekali yang mengucapkan 'selamat datang' kepadaku, baik dari angkatanku sendiri dan senior termasuk beberapa komandan regu lainnya.


"Terima kasih banyak buat semuanya yang telah menyambutku sampai segitunya!" jelasku sambil menahan tangis bahagia untuk kedua kalinya setelah sebelumnya di Azalea.


Simas menertawaiku. "Lebay, santai aja kali."


"Ini semua ide dari Alexa, lho!" ucap Stacie sambil mengacak-acak rambut Alexa.


"Dia saking bersemangatnya, sampai terpeleset dari tangga ketika memasang banner!"


"Serius?!" Pandanganku beralih menuju Alexa yang sedang memakan permen lolipop coklat.


Pandangannya seketika ikut tertuju ke arahku.


"Gak apa-apa, udah sembuh kok!" ucapnya sambil memasang wajah memelas.


"Lain kali hati-hati ya, jangan terlalu bersemangat!" kataku.


"Siap!" ucapnya sambil melaksanakan hormat di hadapanku seperti diriku seorang komandan baginya.


"Teman-teman, ayo kita rayakan kedatangan Nica dengan makan malam bersama!" ucap Simas yang bersemangat.


"Kau sudah buat makanan untuk makan malam nanti?" tanya Komandan Regu Illyana kepada Simas yang ditugaskan untuk memimpin anak-anak seangkatan yang terpilih berdasarkan jadwal piket harian untuk membuat makan malam dan makan pagi.


Di sini, masing-masing prajurit memiliki jadwal piket harian. Mulai dari membersihkan markas selama dua minggu sekali dan membuat makan pagi dan makan malam yang bergiliran setiap harinya. Kami semua sudah dilatih sejak masa training.


"Sudah, Komandan Regu! Kami tinggal memanaskan saja dan membuat makanan penutupnya," jawabnya.


"Oke kerja bagus!" ucap Komandan Regu Illyana sambil menepuk pundak Simas sehingga membuat dirinya tersipu malu.


"Emangnya kau buat apa?" tanya Louis.


"Sesuatu," jawabnya. Memang dirinya suka sekali membuat orang-orang berusaha untuk menebak perkataannya. "Tidak suprise bila aku memberitahumu sekarang."


"Awas saja kalau tidak enak!" ejek Kim sambil tertawa.


"Tenang saja, koki profesional tidak pernah membuat sesuatu yang tidak enak!" ucap Simas dengan nada angkuh.


"Koki profesional tapi waktu itu masak daging steak malah gosong," kata Louis dengan wajahnya yang datar seperti biasanya di hadapan keramaian orang dengan tangan yang dilipat di dada. Membuat dirinya terlihat seperti orang yang menyeramkan.


Kami pun langsung menertawai Simas. Ekspresi wajahnya mulai memerah karena malu. Sifat angkuhnya tidak sesuai dengan realitanya. Namun, sifatnya itu lah yang membuat kami semua suka mengerjai dirinya bahkan sampai dirinya kesal.


Aku memerhatikan kondisi sekitar. Sesuatu hal menjanggal di pikiranku.


Komandan Regu Clèment?


"Teman-teman, ada yang lihat Komandan Regu Clèment, gak?" tanyaku yang sedari tadi mencari-cari kehadirannya.


"Dia tadi katanya mau keluar sebentar, " jawab Simas.


"Ngapain?"


"Entahlah," ucapnya sambil mengangkat kedua bahunya. "Sepertinya dia sedang mencari udara segar."


"Ada apa?" tanya Simas penasaran.


"Oh aku hanya ingin menemui dirinya sebab aku tidak bertemu dengannya semenjak aku berada di dalam sel tahanan," jawabku. "Maaf, ya aku pergi dulu."


"Baiklah," kata Simas. "Kau harus tepat waktu untuk jamuan makan malam sebab kalau kau tidak tepat waktu, kau tidak akan mendapatkan jatah makanan ala koki profesional!"


Stacie langsung mencubit pipi Simas sampai dia meringis kesakitan.


"Iyain aja!" jawabku. Langkah–demi–langkah, aku menjauh dari mereka dan melambaikan tangan ke segerombolan anak-anak seangkatanku yang sedang berkumpul di ruang utama markas.


"Aku ikut!" ucap Louis yang langsung menyusulku. "Kau terburu-buru sekali."


"Maaf, Louis, aku bukannya gak mau tapi aku sedang membutuhkan waktu sendiri," jelasku sambil menggenggam tangannya yang hangat dan memberikannya seulas senyuman.


"Aku ingin membicarakan suatu hal penting mengenai ingatanku dan memperjelas mengenai kesalahpahaman yang terjadi waktu itu," lanjutku. Louis mengangguk pelan dan memasang wajah datar. Namun, dapat kulihat raut wajah sedihnya yang tersirat di wajahnya.


"Baiklah kalau itu maumu," ucapnya.


"Aku akan menemuimu nanti," ucapku. "Beristirahatlah sejenak. Dah!"


Dirinya tidak merespon kalimatku. Aku pun mulai meninggalkan dirinya di tengah keramaian dan mencari keberadaan Komandan Regu Clèment. Diriku langsung menuju halaman markas.


Tiba-tiba pandanganku tertuju kepada seseorang yang sedang terduduk di tangga halaman Markas Amdis sambil menyeruput secangkir teh dan melihat langit sore yang berwarna jingga nan indah.


Komandan Regu Clèment?


Aku tidak yakin dengan penglihatanku. Maka dari, itu aku berusaha untuk mendekati orang itu dengan perasaan ragu yang dicampur dengan rasa penasaran. Berusaha sebisaku untuk tidak menimbulkan suara langkah kaki.


Bener dia bukan, sih?


Akan tetapi, aku gagal. Dia tetap mengetahui kehadiranku di belakangnya.

__ADS_1


"Selamat datang kembali!" ucapnya tiba-tiba tanpa sedikitpun menoleh ke arahku.


__ADS_2