
Nica's POV
4 hari kemudian.
Hari seiring berganti. Siang dan malam cepat sekali berlalu.
Saatnya memulai babak baru dalam hidupku.
Tanpa Louis.
Sedikit–demi–sedikit aku mulai bisa menerima kepergiannya walau sebenarnya sulit sekali. Tak jarang aku menangis tiba-tiba sampai Oliver bingung terhadapku. Namun, dirinya terus memotivasiku untuk dapat menghadapi ini semua.
Kondisiku sudah sepenuhnya pulih dibandingkan kemarin. Sakit di daerah perut dan kepalaku sembuh berkat herba-herba yang dibuat oleh Oliver. Dirinya mengingatkanku dengan sosok Mama Mathilda. Kecerdasannya dalam membuat obat dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan medis.
Memang benar-benar sebuah bakat turunan dari ibunya.
"Terima kasih banyak, Oliver! Akhirnya aku sudah bisa berjalan kembali tanpa rasa nyeri," kataku yang sedang terduduk di ruang makan yang bercampur dengan ruang dapur karena tempatnya yang kecil.
"Syukurlah! Aku ikut senang mendengarnya," kata Oliver yang sedang menyiapkan bahan-bahan makanan untuk membuat sarapan pagi dengan memotong herba yang telah dia dapatkan di sekitar sini.
Entah dia belajar memasak dari mana sehingga dirinya selalu memasak makanan yang berbeda tiap harinya.
"Omong-omong, apakah boleh aku tetap memanggilmu Oliver?" tanyaku. Pertanyaan ini sudah mengelilingi otakku selama beberapa hari bersamanya. "Aku tidak biasa memanggil kau dengan nama Tiberiu sejujurnya."
"Apa saja kau boleh memanggilku. Akan tetapi, lebih aman kau panggil aku Oliver saja," katanya sambil memasukkan herba yang sudah dipotongnya ke dalam masakannya yang sudah mendidih.
"Oh, oke!" jawabku.
Seluruh perban yang mengikat di tubuhku langsung kulepaskan. Sejujurnya perutku merasa sesak saat benda itu masih mengikat erat di sana.
Akhirnya aku bisa bergerak dengan lega!
Aku juga tak lupa dengan kalung liontin kerang. Benda itu selalu berada di leherku. Diriku seketika langsung menggenggam liontin kerang yang indah itu.
Sebuah kenangan.
"Pemberian dari orang yang kau cintai, ya?" tanya Oliver tiba-tiba sambil meletakkan mangkuk di setiap sisi meja yang berisi nasi dan sayuran serta beberapa potongan dadu daging rusa yang mewarnai isi mangkuk tersebut. Pandangannya sekilas menatapku dan juga benda cantik ini di leherku.
Ternyata dirinya menyadari benda ini.
Aku menangguk pelan. "Iya begitulah."
"Hadiah terakhir darinya."
"Aku suka liontin kerangnya. Cantik sekali!" puji Oliver sambil tersenyum dan langsung duduk di hadapanku.
"Mengingatkanku dengan kerang yang pernah aku lihat di buku pengetahuan pemberian ayahku dulu."
"Di duniaku tidak ada benda-benda dari pantai atau laut. Jadi aku hanya bisa melihat mereka di buku pengetahuan saja," jelasnya.
"Apa kau pernah mengunjungi Salz?" tanyaku.
Dirinya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa keluar dari hutan. Mereka pasti akan menemuiku."
"Sulit sekali," kataku.
"Memang," ucap Oliver sambil tertawa kecil. Menertawai nasibnya.
"Selamat makan!"
"Selamat makan!" jawabku dan langsung menyantap sarapan pagi hasil dari perburuan kami berdua kemarin sore.
Aku hanya ingin mencoba untuk merasakan bagaimana berburu hewan dan mencari herba-herba yang bermanfaat di luar.
Ternyata berbanding sekali dari apa yang aku ekspetasikan.
Dari sini, aku bisa mengetahui caranya bertahan hidup di dunia yang keras. Sungguh sulit, namun harus dia hadapi. Kegiatan berburu sudah menjadi kewajibannya tanpa terkecuali. Takdir menuntutnya untuk berbuat seperti ini.
"Enak!" seruku.
Oliver tersenyum. "Aku senang kau suka!"
Aku hanya tersenyum sambil menghabiskan sisa-sisa makanan dalam mangkuk kayu di depanku.
"Aku belajar memasak dari seorang pelayan wanita yang merawatku dulu," jelas Oliver. Tiba-tiba dirinya menjawab pertanyaan yang sudah terngiang-ngiang di otakku dari tadi.
"Aku suka melihatnya bekerja di dapur setiap kali ia sedang membuat makanan untuk jamuan."
"Dia telah mengajariku banyak hal," lanjutnya sambil menatap butiran nasi di mangkuknya.
"Ini adalah salah satu makanan kesukaanku."
Aku terdiam sambil mencerna penjelasannya. Akan tetapi, ada salah satu hal yang membuatku bingung.
Apakah pada saat itu dia menggunakan daging rusa sama halnya seperti sekarang?
Tiba-tiba Oliver tersenyum miring menatapku. "Pasti kau ingin tahu daging yang aku makan dulu."
He?
Kedua mataku membulat menatapnya di hadapanku.
"Dulu aku menggunakan daging manusia," jawabnya. "Daging manusia sudah menjadi daging yang lazim dikonsumsi. Bahkan setiap hari kami memakannya."
"Tapi semakin hari aku menyadari bahwa daging rusa dan daging hewan mamalia lainnya lebih baik ketimbang daging manusia," jelasnya sambil mengambil sepotong daging rusa berbentuk dadu dari mangkuknya.
"Apa yang membuat kaum iblis menyukai daging manusia?" tanyaku. "Bukannya semua daging itu sama aja?"
"Dari teksturnya, daging manusia lebih lembut dan kenyal walaupun banyak tulang," jelas Oliver.
"Kandungan protein dalam daging manusia jelas lebih banyak, terutama di bagian otaknya."
"Kaum iblis mengincar otak manusia karena diduga dapat mengembangkan struktur otak mereka menjadi lebih sempurna."
"Akan tetapi, tidak semua iblis diperbolehkan mengkonsumsi otak manusia secara terus-menerus. Golongan satu dan dua yang diperbolehkan mengkonsumsi otak manusia secara berlebihan," jelasnya panjang lebar.
"Golongan satu dan dua?"
Oliver mengangguk. "Golongan berkuasa."
"Tujuannya agar golongan kebawah lainnya tidak dapat melampaui batas kepintaran golongan satu dan dua," jelasnya panjang lebar.
"Makanya harga otak manusia dijual sangat mahal untuk masyarakat iblis golongan bawah."
"Lalu bagaimana jika ada salah satu atau beberapa iblis dari golongan bawah yang dapat melampui batas kecerdasan iblis golongan atas?"
"Mereka akan dihukum mati di depan publik," jawab Oliver. "Itu pernah terjadi dan aku pernah menyaksikannya!"
"Ia adalah iblis dari golongan bawah yang dihukum mati karena telah menciptakan sebuah benda yang dianggap telah melampaui batas kecerdasan iblis golongan atas."
"Parah banget!" kataku sambil mendengar penjelasan dari Oliver.
"Setelah ia mati, jasadnya bersamaan dengan barang temuannya dibakar saat itu juga."
"Masyarakat iblis ke bawah harus mematuhi aturan raja bagaimanapun. Jika tidak, maka mereka akan diberi hukuman mati."
__ADS_1
Aku terdiam seribu kata.
Sungguh kejam sekali kehidupan iblis. Selama ini yang aku bayangkan, tidak seindah kenyataannya seperti yang dijelaskan oleh Oliver.
Kasihan sekali mereka.
Akan tetapi, iblis tetaplah iblis. Mau itu golongan bawah sekalipun. Tujuan mereka adalah tetap memburu dan memakan manusia. Namun, diri Oliver berbeda dari mereka, walaupun dirinya benar-benar murni iblis seperti mereka.
Hal yang membuat dirinya berbeda karena ia sudah mengetahui kebenaran di balik dua kehidupan di dunia yang fana ini.
"Oke, makannya sudah selesai!" ucap Oliver tiba-tiba sambil menaruh sendok kayunya dengan posisi terbalik.
"Ya ampun, aku belum selesai!" seruku panik karena makananku belum habis sepenuhnya.
Aku langsung kembali melahapnya.
Oliver tersenyum menatapku dan langsung beranjak sambil membawa mangkuk kayu bekas dirinya makan menuju ke sebuah ember kayu yang sudah terisi air.
"Karena kau melamun," ucapnya dengan santai.
Aku tidak menjawab perkataannya dan tetap menghabiskan setiap butiran nasi dan potongan daging rusa di mangkukku.
--
Sudah beberapa hari aku tinggal di sini. Pikiranku tiba-tiba tertuju kepada sosok Komandan Regu Clèment.
Alexa,
Simas,
Dan lainnya.
Apakah mereka baik-baik saja?
Aku yakin sekali mereka pasti sedang mencariku.
Akan tetapi, alat GPS yang sebelumnya melekat di pergelangan tanganku, seketika menghilang dan aku tidak pernah melihatnya lagi. Aku tidak tahu siapa yang melepaskannya.
Atau mungkin Oliver kah yang melepaskan benda itu pada saat dia menyelamatkanku agar tidak diketahui jejaknya yang menjadi buronan para aliansi?
Aku ingin sekali menanyakan hal itu kepada Oliver. Akan tetapi, perasaan takut menyuruhku untuk tidak melakukannya. Namun, secepatnya juga mereka pasti akan menemukan kami.
Bagaimanapun caranya.
"Aku pergi berburu dulu, ya. Kau tunggu di rumah saja," kata Oliver yang sudah siap berburu dengan memakai tudung hijau tuanya serta perlengkapan burunya. Salah satunya adalah keranjang buatannya dari serat-serat tanaman untuk mengangkut hasil buruannya.
Dirinya berdiri tepat di depan pintu keluar.
"Tunggu dulu!" Seketika langkahnya terhenti dan menoleh ke arahku dengan pandangan heran.
"Apa?"
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanyaku. Berusaha untuk memberanikan diri.
"Boleh."
"Omong-omong, apa kau melihat benda yang melekat di tanganku waktu itu?" tanyaku.
"Benda apa?" tanyanya bingung.
"Benda itu lho, semacam jam tangan tapi bukan," kataku. Aku merasa tidak siap dengan jawabannya.
Oliver tampak sedang memikirkannya sambil menyentuh dagu menggunakan jari telunjuknya. Kedua matanya menatap langit-langit rumah.
"Memangnya benda itu penting sekali bagimu?" tanyanya dengan tatapan tajam ke arahku.
Aku terkejut dengan pertanyaannya.
"M—maksudmu?"
Tiba-tiba dirinya mengulas senyuman miring. "Tidakkah itu penting sampai kau menanyakan benda itu kepadaku?"
Aku terdiam mematung.
Terjadi keheningan di antara kami selama beberapa detik.
"Iya, benda itu penting sekali untukku," jawabku sambil menundukkan kepalaku dengan gemetaran yang menjalar di sekujur tubuhku. Aku berusaha untuk memberanikan diri menanyakan hal itu kepadanya.
"Sekarang di mana benda itu?"
"Sayang sekali, benda itu sudah kuhancurkan," jawabnya.
"Aku pergi dulu."
"Jangan pergi!" perintahku. Seketika dirinya kembali menoleh ke arahku.
"Cepat atau lambat, mereka akan menangkapmu!" kataku. "Aku yakin mereka sudah berada di sekitar sini."
"Kau sedang berada di dalam misi mereka, Oliver!"
"Aku tidak ingin ada yang terbunuh, baik itu kau maupun mereka!" jelasku. Dirinya terdiam mematung di depan pintu.
Selangkah lagi dia akan keluar dari rumah ini.
"Itulah aku menanyakan kau mengenai benda itu. Aku ingin memantau pergerakkan sejauh mana mereka," lanjutku.
"Ini demi kebaikanmu."
Oliver masih saja terdiam. Kini pandangannya mengarah padaku. Lalu berkata, "Baiklah, aku tidak akan pergi."
Oliver langsung meletakkan kembali peralatan berburunya. Akan tetapi, tiba-tiba dirinya mendekatkan wajahnya kepadaku. "Tapi kita harus pergi meninggalkan tempat ini sekarang juga!"
Dirinya pun langsung membuang wajahnya ke arah lain dan melangkah menjauhiku.
"Oliver, percuma kita pergi. Mereka bisa melacak kita ke mana saja!" kataku.
"Aku tidak peduli. Aku akan membunuh mereka!" kata Oliver yang bersikeras dengan pendiriannya.
"Oliver!" panggilku. Dirinya tidak mendengarkanku dan bergegas merapikan barang-barang miliknya dan beranjak keluar dari rumah batu yang telah menjadi tempat tinggalnya.
"Dengarkan aku, Oliver!" Aku terus mengejarnya sampai tiba di luar rumah batunya.
"Kau bekerja sama dengan mereka untuk menangkapku, kan?!" bentaknya kepadaku.
"Aku sudah tahu hal itu sejak aku menemui dirimu dengan memakai alat yang menyerupai jam tangan itu!"
"Aku ingin menyelesaikan masalah ini antara mereka dan kau, Oliver! Semua ini terjadi karena kesalahpahaman," sela ku. "Aku tidak ingin masalah ini berkelanjutan!"
"Percuma jika kita kabur tidak akan menyelesaikan masalah, malah semakin parah!"
Seketika langkahnya berhenti. Tiba-tiba dirinya melebarkan tudungnya di hadapanku.
Seketika sebuah anak panah yang telah mengandung obat bius, berhasil di hadang oleh Oliver.
"Mereka sudah datang!"
__ADS_1
Oliver langsung menarik tanganku untuk segera meninggalkan lokasi.
Ternyata para aliansi sudah tiba. Aku tidak tahu mereka adalah Aliansi Amdis atau aliansi lainnya. Mereka langsung mengejar kami.
"Sial!" gerutu Oliver.
"Hentikan, Oliver!" seruku. "Aku akan menjelaskan kepada mereka."
"Tidak akan, Rika! Mereka tidak akan mendengarmu," katanya sambil menarik tanganku dan terus berlari dari kejaran mereka.
"Percayalah padaku. Masalah ini justru harus diselesaikan secara perlahan," kataku.
"Mereka akan semakin mengkhawatirkanku dan mereka juga akan semakin gencar memburumu kalau seperti ini terus!"
Aku menatap wajahnya dengan pandangan mata bersungguh-sungguh. Berusaha untuk meluluhkan hati dan pendiriannya yang keras sekali.
"Baiklah."
Akhirnya langkah kami terhenti tepat di tengah hutan konifer yang lebat ini.
Hawa dingin menusuk kulitku. Jantungku berdebar sangat cepat. Tekad ku benar-benar sudah bulat untuk memperjelas masalah ini kepada mereka.
Rika, kau pasti bisa!
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di hadapan kami. Komandan Regu Clèment berada di barisan paling depan. Dirinya langsung menghadapku yang berada di depan Oliver. Aku berusaha untuk melindungi Oliver dan menyuruhnya untuk tetap berada di belakangku saat ini.
Kini tatapanku dan Komandan Regu Clèment saling bersahutan. Jarak kami pun terpaut jauh. Suasana mulai mencekam yang didukung dengan suasana hutan yang cukup menyeramkan.
"Akhirnya kami menemukan kau, Nica! Kami sungguh khawatir denganmu," kata Komandan Regu Clèment sambil tersenyum tipis di wajahnya. Nada bicaranya tidak biasa. Terdapat maksud tersembunyi di dalam kalimatnya.
"Tolong jangan sakitin Oliver."
"Nica?" Seketika Komandan Regu Clèment tampak bingung dengan kalimatku. "Bukankah ini adalah tujuan kita?"
"Tidak!" jawabku. "OLIVER JELAS TIDAK BERSALAH, CLÈMENT!"
"INI HANYA KESALAHPAHAMAN SEMATA!"
"Kesalahpahaman bagaimana? Bukannya sudah jelas dirinya telah membahayakan umat manusia?"
"Semua itu salah! Oliver tidak membahayakan manusia!" bentakku.
Aku menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu menghembuskannya kembali.
"Memang dirinya pernah memakan manusia. Akan tetapi, dirinya benar-benar sudah menyadari kesalahannya!"
"Justru dia ingin membantu umat manusia menuju dunia yang adil!"
Seketika suasana menjadi hening dan mencekam. Hanya suara angin dan gemerisik daun yang saling bersentuhan.
"OLIVER TELAH MENYELAMATKAN SAYA SAAT INSIDEN PENYERANGAN IBLIS PADA MALAM HARI YANG LALU!!"
"Dialah yang membunuh iblis pengantar mimpi buruk! Kalau tidak ada dia, mungkin kita sudah tewas,"
"Dia melarikan diri ke dunia manusia hanya karena ingin mencari ibunya, yaitu Mama Mathilda yang menjadi ibu angkat saya dulu."
"Mathilda?" gumam Oliver.
Aku mengangguk dan menoleh ke arahnya yang berada tepat di belakangku. Pandanganku kembali menoleh ke arah Komandan Regu Clèment di depanku.
"Saya tegaskan sekali lagi, ini semua hanya salah paham! Akan tetapi, dengan sekarang ini kita sudah mengetahui kebenaran dari Oliver sendiri."
"SAYA LAH SAKSI MATA DARI KEBENARAN INI!" tegasku.
"Bila Anda bersikeras untuk tetap menangkap Oliver, bunuh saya dulu."
"Rika …." lirih Oliver.
Aku menoleh ke arahnya. "Maafkan aku, Oliver."
Terjadi keheningan selama beberapa saat.
Komandan Regu Clèment beserta anggota pasukan lainnya terpana menatap kami berdua. Tak lama kemudian, Komandan Regu Clèment turun dari kudanya. Tampaknya seorang prajurit mengatakan sesuatu kepada dirinya sehingga dia mengangkat telapak tangan kirinya di hadapan prajurit itu.
Komandan Regu Clèment mulai melangkahkan kedua kakinya ke setengah jarak antara kami berdua dengan dirinya.
"Tiberiu, kemarilah!" perintah Komandan Regu Clèment yang hanya seorang diri berdiri di sana.
Entah kenapa aku merasa curiga sekali dengan dirinya.
Maafkan aku, Komandan Regu Clèment.
Aku memberi isyarat kepada Oliver untuk tetap berada di belakangku.
"Aku tidak akan menyakiti dirinya. Percayalah, Nica!" kata Komandan Regu Clèment sambil mengulas senyuman tipis di wajahnya.
"Saya tidak akan menyerahkan Oliver begitu saja!" tegasku padanya.
Tiba-tiba Oliver menyentuh pundakku dan berkata, "Gak apa-apa, aku maju saja."
"Jangan, Oliver! Dia pasti sedang menjebakmu!" bentakku dengan suara kecil yang disertai panik.
Namun, dirinya hanya tersenyum. Oliver meninggalkanku di tempat dan langsung menghampiri Komandan Regu Clèment.
Jantungku berdegup kencang. Keringat dingin bercucuran membasahi belakangku.
Tolong jangan tangkap Oliver!!
Kini mereka berdua saling berhadapan. Tiba-tiba Komandan Regu Clèment menempelkan salah satu telinganya tepat di dada Oliver.
Mendengar detak jantung Oliver.
Pandanganku dan para anggota Aliansi Amdis lainnya menatap pemandangan mereka berdua. Cukup lama dalam keadaan seperti ini.
Komandan Regu Clèment merasakan detak jantung Oliver sambil memejamkan kedua matanya. Dirinya perlahan mulai mengikuti irama detak jantung Oliver.
Ada apa ini?
"Ibu," Tiba-tiba kalimat itu keluar dari mulut Komandan Regu Clèment sambil memejamkan kedua matanya dan merasakan irama detak jantung Oliver.
"Eh?"
Tak lama kemudian, Komandan Regu Clèment melepaskan telinganya dari dada Oliver.
"Jiwa ibuku berada di dalam dirimu," kata Komandan Regu Clèment.
"Aku bisa merasakannya," Tiba-tiba kedua matanya berkaca-kaca sambil menatap Oliver tepat di hadapannya.
Oliver terdiam mematung menatap Komandan Regu Clèment dengan heran.
Kami semua menyaksikan pemandangan haru di depan dengan seksama. Seketika jiwaku pun ikut merasakan situasi haru ini.
"Terima kasih kau telah menyelamatkan kami," ucapnya sambil tersenyum dan kedua matanya yang berkaca-kaca.
Seulas senyuman bahagia tersirat di wajah Komandan Regu Clèment.
__ADS_1