
Pukul 06.55
Louis's POV
Akhirnya rapat mengenai ekspedisi bersama antara Aliansi Azalea dan Aliansi Amdis selesai. Louis ditempatkan di bagian garis belakang bersama beberapa prajurit lainnya dari Aliansi Azalea tentunya. Hendrik juga diikutsertakan dalam kegiatan ekspedisi ini. Namun, dirinya berada di sayap kanan.
Semenjak membicarakan bersama mengenai masalah Tiberiu dan ingatan Nica, sikap Komandan Regu Clèment berubah drastis. Dirinya lebih menyendiri daripada biasanya, bahkan ketika Kapten Jan menegurnya saat rapat tadi, dia langsung menghindarinya dan tampaknya Komandan Regu Clèment mengatakan sesuatu sebelum dirinya meninggalkan Kapten Jan seorang diri di ruang rapat.
"Selamat pagi!" tiba-tiba Komandan Lucian menghampiri Louis yang sedang bersiap-siap diri.
Louis langsung melakukan salam hormat di hadapan Komandan Lucian sebagai bentuk penyambutan. "Selamat pagi, Komandan Lucian!"
"Aku ingin menanyakan sesuatu dan aku harap aku bisa mendapatkan pencerahan darimu."
Louis bertanya-tanya. "Maksud Anda?"
"Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja atau gimana," katanya. "Sikap Clèment berubah."
"Aku mau kau mengamati dirinya dan kalau bisa, kau menanyakan penyebabnya dia seperti itu."
Louis memanggut. "Tapi, Komandan, tampaknya Komandan Regu Clèment sedang tidak ingin diganggu untuk saat ini."
"Aku tidak memaksamu untuk melakukan itu," ucapnya. "Sebisamu aja."
"Karena bagiku, kau dekat dengannya, selain Nica," lanjutnya.
Louis memanggut atas perkataan Komandan Lucian.
"Baiklah, akan saya usahakan!" jawab Louis. "Saya juga sebenarnya tidak tahu mengapa Komandan Regu Clèment tiba-tiba seperti itu."
"Ya aku tahu, bahkan dia tidak pernah seperti itu sebelumnya," jelas Komandan Lucian.
"Baik, ekspedisi akan segera dimulai. Bersiap-siaplah!" seru Komandan Lucian dengan suara tegasnya.
"Siap, Komandan!" jawab Louis sembari berhormat di hadapannya. Komandan Lucian tidak berekspresi dan langsung meninggalkan Louis seorang diri.
Ternyata dibalik ekspresi datarnya itu, Komandan Lucian memerhatikan gerak-gerik Komandan Regu Clèment.
Louis langsung bersiap-siap dan membawa segala perlengkapan perang miliknya. Mulai dari pisau belati dari ayah dan pedang pemberian Mr. William.
Seluruh pasukan mulai mengambil posisi untuk segera keluar dari markas Aliansi Azalea.
Nica, aku berjanji akan kembali.
Suasana terasa beda sekali tanpa kehadiran Nica dalam ekspedisi kali ini. Namun, Louis harus bersabar sebab dalam beberapa minggu lagi, dia akan terbebas dari sel tahanan.
Seluruh pasukan langsung menuju pintu gerbang Azalea yang terdapat logo kebanggaan Azalea, yaitu bunga Azalea yang besar terpapar di sana. Para penduduk menyoraki mereka semua yang bergegas menuju dunia luar.
Menuju dunia luar yang berbahaya.
Mata yang penuh harapan. Pandangan mata yang mengharapkan keadilan.
Gerbang otomatis terbuka karena terdapat sensor dari bawah tanah yang langsung merespon bila terdapat ketukan kaki kuda secara bersamaan. Akhirnya mereka tiba di luar kota Azalea. Seperti biasa, padang rumput yang terpampang luas mengelilingi mereka. Langit yang berawan dan angin yang cukup dingin karena mulai memasuki musim gugur. Alam seakan-akan sedang menyaksikan kegiatan ekspedisi ini yang dipimpin oleh Komandan Lucian dan Komandan Luna yang diikuti oleh ribuan pasukan di belakangnya.
Ini merupakan ekspedisi kedua kalinya bagi Louis. Menuju lokasi yang sama pula.
Mereka berharap bahwa Desa Kimo dapat ditaklukkan segera dari para iblis.
Semoga ....
Para pasukan menuju arah yang berlawanan. Ke arah Selatan tepatnya.
Angin berhembus kencang beriringan dengan kecepatan kuda yang maksimum. Angin kencang tersebut mengenai wajahnya sehingga dirinya hampir tidak bisa bernafas. Untung saja dia mengenakan jubah yang dilengkapi dengan bulu domba di dalamnya sehingga hawa dingin tidak terlalu menusuk.
Sekitar 3 jam lamanya perjalanan menuju Desa Kimo, akhirnya seluruh pasukan tiba di tujuan. Seperti pada saat awal ekspedisi yang lalu, terpampanglah hutan yang lebat jauh di depan sana. Posisi mereka hampir mendekati lokasi itu.
"Aba-aba saya ambil alih," seru Komandan Lucian.
"Bersiap-siap mengambil posisi formasi!"
"MULAI!"
Seluruh pasukan langsung mengambil posisi sesuai formasi yang sudah direncanakan sebelumnya. Karena Louis berada di garis belakang, dia dan beberapa prajurit lainnya langsung sedikit melambatkan kecepatan kudanya masing-masing.
Kali ini tekadku yakin misi ini akan berhasil!
Masing-masing regu mulai berpencar, sayap kanan dan sayap kiri bergerak menjauh ke setiap sudut padang rumput yang luas. Langit pagi yang mulai menunjukkan sinar mataharinya yang semula tertutup oleh awan-awan bulat seakan-akan menyetujui misi ini.
Mereka akhirnya memasuki area hutan yang lebat. Seperti pada ekspedisi kemarin, banyak sekali genangan air dan lembab tentunya. Saking lembabnya sampai menyesakkan paru-parunya. Namun, Louis berusaha untuk menghiraukan hal itu dan terus melaju mengikuti alur Komandan Regu Isvara.
Aneh sekali tidak ada musuh di sini ....
Louis terus mengamati kondisi yang tidak biasa selama ekspedisi ini berlangsung di hutan yang lembab dan lebat ini.
"Tumben sekali di sini tenang," kata Felix yang menyadari situasi ini.
"Apakah ini sudah pasti aman?" tanya Isaac, salah satu prajurit dari Aliansi Azalea di regu garis belakang.
"Aku masih belum memastikan ini aman atau tidak, akan tetapi kita harus tetap waspada!" jawab Komandan Regu Isvara tanpa menoleh anak-anak buahnya di belakangnya.
"Baik, Komandan Regu!" sahut mereka semua serentak.
Tiba-tiba ada suatu hal terbesit di dalam pikiran Louis.
Apakah situasi seperti ini sama seperti situasi yang menimpa regu sayap kiri kemarin?
Louis terus amati sekitarnya.
Menyeramkan,
Gelap,
Lembab sekali,
Angker,
Mereka sudah lalui beberapa kerangka makhluk hidup di sini, baik kerangka manusia atau kerangka sejenis hewan mamalia yang sudah terlapukkan oleh tanah. Lalu pandangan Louis teralihkan ke benda yang terikat dipergelangan tangan kirinya.
Sebuah alat GPS yang memantau pergerakkan setiap tim.
Lancar-lancar saja. Ada apa ini sebenarnya?
Otaknya seketika dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab segera.Tak lama kemudian, akhirnya mereka menemukan cahaya yang terang jauh di sana. Jalan keluar dari hutan lembab ini.
Setibanya di luar hutan,
Terdapat sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh hutan lebat.
Desa Kimo.
Akhirnya seluruh pasukan tiba disini.
Akan tetapi, semua yang diekspetasikan berubah total. Desa Kimo ini justru sudah tidak layak dihuni sebab bangunan masing-masing rumah hancur lebur.
Tidak ada orang sama sekali. Seperti kota hantu.
Ternyata regu garis depan sudah tiba terlebih dahulu di Desa Kimo yang disusul oleh regu sayap kiri dan sayap kanan lalu garis belakang.
Mereka pun berhenti.
"Cek satu persatu rumah!" perintah Komandan Lucian kepada mereka semua.
"Pastikan masih ada manusia di sini!"
Louis langsung menelusuri setiap sudut Desa Kimo. Menelusuri satu persatu rumah di sini. Salah satu objek menyita perhatiannya. Di sebuah perkarangan bunga di depan salah satu rumah.
Darah. Membasahi dedaunan hijau di sana.
Dirinya langsung turun dari kuda coklatnya dan menghampiri keberadaan darah tersebut. Dicolek sedikit darah itu lalu dirinya menciumnya.
Belum terlalu kering.
Masih segar.
__ADS_1
Lalu Louis memutuskan untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Suara deritan kayu berbunyi ketika dirinya melangkah. Aroma kayu dari lantainya pun tercium. Kaca pecah saling berserakan mewarnai lantai kayu.
"Halo, permisi, apakah masih ada orang?" panggilnya sambil mengerahkan pisau belati. Louis memastikan apakah masih ada manusia di dalam rumah ini.
Namun, tidak ada jawaban sama sekali.
"Halo? Tolong jawab apakah ada orang di sini?" panggilnya sekali lagi.
Namun, tetap tidak ada jawaban lagi.
Tiba-tiba suatu benda menarik perhatiannya tepat di bawah kakinya.
Pintu arah bawah tanah.
Entah kenapa ada pintu itu tepat di bawah kakinya saat ini dan Louis justru tidak menyadarinya.
Sepertinya tidak terkunci.
Firasatnya mulai tidak enak akan hal ini. Tetapi, dirinya penasaran ada apa di bawah sana. Dirinya dapat merasakan ada suatu hal di sini.
Seseorang.
Louis langsung mendekati pintu area ke bawah tanah itu dengan melawan firasatnya. Jantungnya berdebar kencang. Dia tarik perlahan ganggang besi bulat yang menyatu di pintu kayu itu. Setelah dirinya membuka lebar pintu bawah tanah tersebut, tiba-tiba muncul seorang anak laki-laki tepat di hadapannya sambil membawa pisau.
Berusaha menusuk Louis dan mengincar jantungnya.
Entah dirinya tidak tahu ada apa dipikiran anak kecil itu. Namun, Louis berusaha menahan pisau yang di acungkan paksa oleh bocah laki-laki itu.
"Tolong hentikan!!" perintahnya kepada anak kecil itu yang berusaha sekuat tenaga ingin menusuk dirinya.
"Aku bertujuan menyelamatkanmu!" lanjutnya yang berusaha untuk mengubah perlakuan anak itu padanya. Ujung pisau yang runcing tersebut hampir mengenai jantung Louis bila tidak dia tahan sekuat tenaga.
Anak laki-laki itu tetap tidak mendengar perkataan Louis dan terus berusaha membunuhnya. Tiba-tiba anak itu menghentikan aksinya dan berlari keluar meninggalkan Louis yang tidak berdaya di dalam rumah. Louis langsung bergegas mengejar dirinya. Akan tetapi, ternyata pisau tersebut memiliki kandungan racun.
Kedua telapak tangannya tergores oleh tajamnya pisau tersebut untuk menahan aksi bocah tadi. Racun tersebut membuat tangannya membiru detik–demi–detik dan memberikan efek nyeri dalam waktu yang lama.
"Arrgghh tanganku!!" Louis berusaha menahan rasa sakit yang menimpa kedua tangannya.
"Tidak! Aku tidak boleh lengah! Aku harus menghentikan anak itu!" katanya, mengalahkan rasa sakit yang hebat akibat efek racun dari pisau milik anak itu. Dirinya pun berusaha bangkit kembali setelah hampir terbaring lengah karena menahan rasa nyeri di kedua tangannya.
Aku harus menahan sakit ini. Demi umat manusia!
Itulah kalimat dari Mr. William saat di Akademi dulu.
Seketika Louis langsung keluar dari rumah itu dan menunggangi kuda menuju anak kecil tadi.
Kembali ke hutan yang lebat.
Ya Tuhan ....
"Komandan Regu Clèment sedang mengejarnya," sahut Francis kepada Louis tiba-tiba.
HA? KOMANDAN REGU CLÈMENT ?!!
"DI SANA TERLALU BERBAHAYA ! DIA TIDAK AKAN SELAMAT !" ujar Louis. Dirinya langsung menyusul ke arah anak kecil itu dan Komandan Regu Clèment.
"Sial. Nekat sekali dia sampai mengejar anak kecil itu sendirian!!" gerutunya.
Louis akui bahwa kedua tangannya mati rasa saking sakitnya. Namun, dirinya tetap berusaha menahan penderitaan yang tidak seberapa ini demi menemukan Komandan Regu Clèment dan anak kecil aneh itu.
Komandan Regu Clèment, ke mana kau?!!
Panik menjalar ke setiap nadi tubuhnya. Louis tidak bisa berpikir panjang. Diratapi alat GPS di pergelangan tangannya. Titik merah letak keberadaan Komandan Regu Clèment tidak jauh darinya.
Namun, kenapa aku merasa ini jauh sekali, seperti di dalam hutan yang luas?
Apa jangan-jangan ....
Diratapinya sekali lagi titik-titik merah banyak yang awalnya berkumpul di Utara arahnya, tiba-tiba satu persatu mulai menghilang.
Apakah ini jebakan?
Jebakan yang sengaja direncanakan oleh Iblis?
Ternyata kelompok iblis belum pergi.
"Sial! Aku harus menemukan Komandan Regu Clèment sekarang juga!"
"ARRRGGHHH... KAU IBLIS BERMUKA JELEK YANG PALING TERHINA DI MUKA BUMI!" Tiba-tiba terdengar suara teriakkan dari arah kiri Louis.
Suara itu ....
SUARA KOMANDAN REGU CLÈMENT!!
Louis terus menelusuri sumber suara tersebut.
"Ternyata kau masih hidup saja, Prajurit Malang," Suara serak dan besar sosok iblis sambil mencekik Komandan Regu Clèment.
"Ternyata kau lah yang masuk ke dalam perangkapku, sungguh beruntungnya!" lanjutnya dengan nada yang angkuh.
Sosok iblis dengan banyak wujud anak kecil di badannya dengan mata yang merah menyala dan menggeliat kepalanya seakan-akan seperti ingin keluar dari tubuh iblis itu, membuat diri Louis merinding melihatnya. Kuku-kukunya yang tajam mencekik leher Komandan Regu Clèment sampai dirinya kesusahan untuk berbicara. Tubuhnya yang cebol terangkat ke atas. Kuda yang ditunggangi oleh Komandan Regu Clèment berubah menjadi kerangka busuk.
Tidak ada waktu lagi.
Aku harus menyelamatkan Komandan Regu sekarang juga!
Dengan kecepatan tinggi, Louis langsung menghampiri sosok iblis menyeramkan itu dan memotong pergelangan tangan iblis itu sampai benar-benar terputus. Akhirnya Komandan Regu Clèment terlepas dari genggaman iblis laknat tersebut dan langsung didekapkan tubuhnya. Komandan Regu Clèment terbatuk-batuk akibat efek cekikan yang dilancarkan oleh iblis itu. Wajahnya pun memerah.
"Apakah Anda baik-baik saja ?" tanya Louis sambil mendekapkan Komandan Regu Clèment. Raut wajahnya tampak sangat khawatir.
"T—tidak," jawabnya dengan suara yang tersendat-sendat.
"Kita sedang dipermainkan oleh iblis dan mereka telah memantau pergerakan kita dari tadi!" ucap Louis panik.
"AWAS!"
Tiba-tiba muncul anak kecil tepat di hadapan mereka berdua sambil menunduk dan membawa sebuah boneka dari jerami.
Anak kecil itu tidak menunjukkan wajahnya seolah-olah sengaja menutupinya dari mereka berdua.
Jebakan.
Sekaligus tenaga Louis seketika langsung diserap paksa oleh makhluk di hadapannya. Dirinya terasa seperti tidur dalam keadaan mata terbuka.
Tidak bisa kujelaskan.
Louis berusaha untuk melawannya, akan tetapi usahanya sia-sia. Kudanya juga perlahan-lahan berhenti memberontak. Ia dihipnotis oleh makhluk itu.
Kita terjebak!
Anak kecil itu membelah diri dan membuat banyak kloning sambil mengitari posisi mereka berdua. Mereka pun dijadikan objek ritual.
"Clèment, bisakah Anda kerahkan sihir Anda sekarang juga?"
"Tidak bisa, e—energiku diserap habis oleh makhluk laknat itu. Aku lemas sekali ...." jawabnya dengan suara yang parau seperti sedang sakit tenggorokan.
Matilah kita.
Anak-anak kecil tersebut mulai membacakan sebuah mantra yang tidak dikenali. Akan tetapi, tiap kalimat yang dibacakan mereka, energi Louis terasa diserap oleh mereka dan membuat nyeri di kedua tangannya benar-benar terasa mengerikan. Luka tersebut mulai menjalar ke seluruh area tubuhnya.
Tidak ada yang bisa yang dilakukan selain berpasrah.
Berpasrah dan berharap ada seseorang yang menolong.
Nica,
Sepertinya aku akan berakhir di sini.
Akan kutunggu kau di dunia yang abadi ....
Dalam sekejap mata, tiba-tiba sekumpulan anak kecil yang mengitari mereka berdua tumbang dengan luka tusukan di area dada mereka.
Ritual ini pun berakhir.
__ADS_1
Energi Louis terisi kembali, akan tetapi masih terasa lemas karena penyerapan energi paksa oleh makhluk itu.
Siapa yang melakukan ini?
Kenapa tiba-tiba mereka tumbang secara bersamaan dengan luka tusukan di dada?
Komandan Regu Clèment yang berada di dekapan Louis tidak sadarkan diri setelah ritual penyerapan energi dibatalkan oleh seseorang yang tidak diketahui.
"Maaf telah membuat kalian menunggu!" ucap Kapten Jan membelakangi mereka berdua dari jauh.
Louis terkesima melihat Kapten Jan yang tiba di saat situasi seperti ini. Menutup dirinya dengan jubahnya yang berwarna coklat tua.
"Sebaiknya kau bawa Clèment pergi sekarang!" perintahnya. Kabut tipis menyelimuti dirinya yang beberapa langkah jauh di sana.
"T—Tapi Kapten ...."
"Turuti perintahku, Louis!" selanya. Tiba-tiba sifatnya berubah dari yang bercanda seperti biasanya, menjadi serius seperti sekarang ini. "Ini demi kebaikan kalian."
"TAPI ANDA SENDIRIAN DAN IBLIS ITU SANGAT SULIT UNTUK DILAWAN SENDIRIAN!" teriak Louis. Nafasnya pun tersengal-sengal.
Tiba-tiba Kapten Jan membuka tudungnya yang menyelimuti kepalanya dan suatu objek membuat Louis terkejut.
Kapten Jan mengeluarkan tanduk kecil dari kepalanya. Penampilannya berubah drastis. Kini bukan penampilan Kapten Jan yang dia kenal.
"Sekarang kau tahu diriku yang sebenarnya," ucapnya dengan membelakangi mereka.
"Ini semua salahku."
"Kau tahu siapa Kasie ?" tanyanya tiba-tiba kepada Louis. Kapten Jan menjawab pertanyaan yang saat ini terngiang di otaknya.
Louis terdiam seribu kata.
Dia menoleh ke arah Louis. Lalu berkata, "Ibunya Clèment dan aku yang membunuhnya."
M—membunuh?!!
"Membunuh ibunya demi kesenangan kaumku," Tiba-tiba dirinya tertawa lepas. "Bodohnya diriku!"
"Aku ingin menebus kesalahanku padanya," lanjutnya dengan seringai di wajahnya dan mata yang menatap Louis dengan tajam.
"Asal kau tahu, aku menyesal sangat menyesal mengingat hal itu dan aku tidak bisa menikmati hidupku!" jelasnya.
"Tolong jaga Clèment untukku karena dirinya lemah untuk seorang laki-laki!" perintahnya kepada Louis, lalu membuang pandangannya. Kakinya mulai melangkah menjauhi mereka berdua.
"TUNGGU, KAPTEN!! " kata Louis tiba-tiba. Ucapannya membuat langkah Kapten Jan terhenti seketika. "Apakah Anda akan kembali?"
Terjadi keheningan sesaat.
"Ya, aku akan kembali," jawabnya. "Suatu hari."
"Anggap saja aku sudah mati sampai tiba waktunya."
Dirinya langsung melangkah menjauhi Louis dan Komandan Regu Clèment yang sedang diam mematung di tengah hutan. Namun sebelum dia melangkah, tangan kanannya membentuk sudut hormat dan melakukan salam hormat kepada Louis dari kejauhan. Louis mengamati diri Kapten Jan yang semakin jauh sampai dirinya menghiraukan Louis dan Komandan Regu Clèment dan mulai terbenam oleh lebatnya hutan.
Louis menatap wajah Komandan Regu Clèment yang ditempatkan di dekapannya. Dirinya tertidur pulas seakan-akan tidak menyaksikan kejadian intense tadi. Akan tetapi, berbeda jauh dengan sebuah micro-chip yang dimilikinya yang telah dia sebutkan di pengadilan kemarin. Micro-chip tersebut akan merekam segala kejadian yang telah menimpa dirinya barusan.
Tidak disangka,
Iblis menyamar menjadi manusia,
Iblis baik seperti Mama Mathilda, Nica, dan ini,
Kapten Jan ....
Siapa lagi berikutnya?
Kenapa mereka tega mengkhianati kaumnya sendiri?
Kenapa?!
Seketika dadanya terasa sesak sekali. Tidak menyangka hubungan antara manusia dan iblis sampai sebegitunya.
Kasih sayang.
Cinta,
Batin,
Menyatu menjadi satu kesatuan.
Louis langsung kembali menemui prajurit-prajurit lain di Desa Kimo. Meninggalkan Kapten Jan yang bertarung sendirian.
--
Sesampainya di Desa Kimo,
Beberapa prajurit tewas dalam pertempuran ini. Tak sedikit juga jumlah iblis yang tumbang dengan tusukan di area jantungnya. Namun, dibanding banyaknya korban yang berjatuhan antara iblis dan manusia, yang paling banyak adalah manusia. Karena iblis bisa menciptakan kloning-kloning baru untuk menambah jumlah pasukan mereka. Tim Greer mulai kelelahan mengaktifkan perisai dan healing mana Odora, Ignatius, dan Alta.
Pertarungan berlangsung sengit sekali.
Sebelum membantu mereka, Louis memutuskan untuk menghampiri Alexa yang ditugaskan di salah satu rumah di Desa Kimo untuk mengobati para prajurit yang terluka.
Rumah ini diberi perisai yang berlapis-lapis.
Alexa dan dua anggota Greer lainnya tampak sibuk mengobati prajurit-prajurit lain yang mengalami luka berat.
"Alexa, aku serahkan Komandan Regu Clèment kepadamu," kata Louis tergesa-gesa sambil membawa tubuh Komandan Regu Clèment yang tidak sadarkan diri ke hadapan Alexa. Wajah Alexa terkejut melihat kehadiran Louis dan Komandan Regu Clèment yang tidak sadarkan diri.
"Ya ampun, ada apa dengan Komandan Regu?" tanyanya panik.
"Dia dicekik oleh iblis di hutan tadi," jawab Louis.
Tiba-tiba pandangan Alexa juga tertuju pada kedua tangan Louis yang sudah membiru. "Tanganmu juga!"
"Sudahlah ini bisa diatasi nanti, sekarang kau obati Komandan Regu Clèment terlebih dahulu karena aku harus segera membantu Tim Alta di luar!" ucap Louis sembari langsung melangkah menjauh.
"Tunggu!" kata Alexa. Perkataannya membuat langkah Louis terhenti. Dirinya pun menghampiri Louis yang sedang terburu-buru.
"Minimal kau harus mendapatkan ini terlebih dahulu," ucap Alexa sambil membacakan sebuah mantra sambil mengarahkan kedua tangannya di atas telapak tangan Louis yang sudah semakin parah.
Sebuah mantra khusus.
Tidak sampai semenit, Alexa selesai membacakan mantra untuk Louis.
"Tadi adalah mantra kesembuhan level 1 dan setidaknya sudah hilang sedikit rasa sakitnya," jelas Alexa dengan mengulas senyuman di wajahnya. "Bertarunglah."
Memang benar, kedua telapak tangannya sudah terasa lebih mendingan daripada sebelumnya walau masih terasa nyeri akan tetapi tidak terlalu parah.
"Terima kasih banyak!" ucap Louis sambil tersenyum dan meninggalkannya bersama Komandan Regu Clèment.
Inilah saatnya perang dimulai!
Louis langsung menunggangi kudanya dan mengarahkan pedang runcing hadiah penghargaan dari Mr. William untuk menumpas iblis di luar sana. Agak mati rasa ketika dirinya memegang pedang, akan tetapi dia harus tetap fokus dengan objek di depan mata kepalanya.
Memenggal, menusuk, serta menghancurkan mereka sampai tidak bernyawa. Membalas dendam tiap umat manusia yang tersalurkan.
Akan tetapi, semakin lama, mereka semakin banyak dan tidak kunjung habis.
"Kita harus keluar dari desa ini karena sudah tidak aman lagi untuk kita!" sahut Komandan Lucian. "Mereka terus membelah diri dan menghasilkan kloningnya yang sama."
"Tim Greer mulai kelelahan mengerahkan healing mana mereka!" ucap Louis yang sibuk menebas jantung masing-masing iblis tiap kali mereka muncul di hadapannya.
"Kalau sampai mereka kelelahan, habislah kita."
Dengan perasaan terpaksa karena situasi yang tidak memungkinkan untuk dilanjutkan, akhirnya Komandan Lucian menembakkan flare gun dengan peluru berwarna abu-abu ke udara, yang berarti menyuruh seluruh pasukan untuk mundur dari pertarungan sengit melawan iblis yang tidak kunjung habisnya ini. Akhirnya para pasukan pun mengangkat kaki dari Desa Kimo.
Desa Kimo kini menjadi tempat bersarangnya iblis di dunia manusia atau sebagai cabang markas iblis pertama yang baru diketahui di dunia manusia yang tidak bisa diganggu gugat. Tidak tahu apakah iblis lainnya juga membangun markas mereka di kota-kota kecil milik manusia lainnya. Hal tersebut harus mereka pantau lebih lanjut.
Manusia memang ras terlemah bila dibandingkan dengan iblis. Maka dari itu, rasio kemenangan manusia melawan iblis hanyalah 5:100.
Komandan Luna memerintahkan Tim Greer yang masih berada di rumah untuk segera beranjak dan membawa para prajurit yang terluka ke dalam sebuah gerobak kayu yang telah dibuat sebanyak mungkin agar bisa menampung banyaknya korban yang terluka atau bahkan yang sudah tewas dalam peperangan ini ketika dirawat oleh Tim Greer. Korban-korban tewas lainnya yang tergeletak di tengah-tengah kawasan perang tidak bisa dievakuasi dan terpaksa ditinggalkan karena situasional yang berbahaya tidak memungkinkan untuk diangkut.
Pasukan Aliansi Amdis dan Aliansi Azalea langsung mengakhiri pertempuran ini dengan mengalah.
__ADS_1
Kapten Jan, kami menunggu kehadiranmu. Semoga beruntung!