INJUSTICE : Save Human Or Surrender

INJUSTICE : Save Human Or Surrender
#7 Kehidupan (REVISI)


__ADS_3

Pagi hari yang cerah. Sinar matahari mulai memasuki ke celah-celah jendela, akan tetapi terhalang oleh gorden. Tiba-tiba semacam suara sirine memekakkan kedua telingaku.


Bunyinya nyaring sekali!


Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam sehingga mengakibatkan kedua mataku membengkak.


Aku perlahan mulai membuka kedua mataku.


Pertama yang kulihat adalah langit-langit kamar. Tiba-tiba seorang perempuan memasuki kamar dan langsung membuka gorden dengan kasar sehingga terpaparlah cahaya matahari yang amat menyilaukan itu.


"BANGUN BANGUN WOI!!!" seru perempuan itu yang tampak sangat bersemangat. Dibunyikan suara pluit beberapa kali yang tergantung di lehernya.


Kami semua akhirnya terbangun. Alexa yang tidur di sebelahku terbangun dengan rambutnya yang berantakan. Namun, kedua matanya masih dalam keadaan tertutup. Rin bahkan langsung menutup telinganya dengan bantal dan berbalik badan.


Aku menggaruk kedua mataku yang bengkak.


Setelah mengalami tidur yang tidak nyenyak semalam, baru sekarang mulai terasa rasa ngantuk tersebut. "Emang keturunan kalong begini nih."


"MAU JADI APA KALIAN KALAU TIDAK BANGUN PAGI?!" bentak perempuan itu kepada kami bertiga.


"Siap, Bu. Kami akan segera bangun!" jawab kami semua dengan suara lemas karena belum sepenuhnya roh kami melekat di masing-masing tubuh kami.


Akhirnya, perempuan itu meninggalkan kami.


"Sangat tidak santuy," kataku sambil melihat wujud perempuan itu menghilang dari kamar.


"Itu siapa, sih?" ucap Rin yang langsung bangkit dari tempat tidurnya. Raut wajahnya terlihat kesal.


"Gak tahu, aku mau tidur lagi!" jawab Alexa yang langsung merebahkan dirinya kembali di atas kasur.


"Bangun woi, dimarahin lagi lu pada nanti!" kataku dengan menyuruh Rin dan Alexa yang sedang bermalas-malasan.


Aku langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.


"Hari pertama gini amat." gerutuku.


--


Tiba di ruang makan, terdapat meja panjang beralas putih terbentang memanjang. Masing-masing kursi saling berjejeran. Cahaya mentari pagi masuk melalui jendela besar dan mewarnai langit-langit tiap sudut ruangan.


"Nica!" sahut Louis kepadaku yang baru tiba bersama Alexa. Aku spontan langsung menoleh kehadirannya. Dia sudah terduduk dengan sempurna bersama Simas dan Maxwell yang sedang berbincang satu sama lain di sampingnya.


"Sini!" sahutnya. Menyuruh kami berdua untuk duduk di sebelahnya. Aku pun menerima perintahnya dan segera duduk di sampingnya bersama Alexa.


Bisa dilihat, banyak sekali makanan yang sudah tersedia di atas meja. Kukira aku tidak akan menemukan makanan-makanan enak ketika sudah menjadi prajurit. Mata Alexa terlihat berkilauan menatap setiap jenis makanan di atas meja. Alexa memang setiap kali melihat makanan, bawaannya lapar terus!


"Tahan hasratmu!" Kusenggolkan lengannya dengan sikuku kepada Alexa yang mulai tidak terkendali.


Ternyata kursi-kursi di hadapan kami dikhususkan bagi para senior. Mulai terlihat beberapa senior saling berdatangan kemari dan menduduki tiap kursi di hadapan kami.


Raut wajah mereka tampak kaku sekali.


Agak menyeramkan.


Aku tidak tahu bagaimana karakter asli mereka dan juga salah satu dari mereka telah menyita perhatianku. Dari penampilannya seperti seumuran denganku. Akan tetapi, orang itu memiliki tinggi badan yang cukup pendek dibandingkan dengan tinggi badan rata-rata untuk laki-laki. Rambut ikal–pirangnya jatuh di sekitar alisnya.


"Kok ada bocah di sini?" bisikku kepada Louis sambil menunjuk pelan ke arah lelaki yang kumaksud.


"Teman kau, tuh!" ejekku kepada Alexa yang duduk di sampingku sambil memberi kode kepada Alexa mengenai laki-laki itu. Matanya yang bulat langsung menatap lelaki itu secara langsung.


"Jangan main lihat kayak gitu, kocak!" ucapku sambil menyenggol bahunya. "Ketahuan kita nanti!"


Benar saja! Tiba-tiba lelaki itu menyadari bahwa kami sedang membicarakan dirinya. Mata hijaunya menatap tajam ke arahku.


Menusuk sekali!


"Dia natap gaes!" seruku kepada Alexa dan Louis.


"Kau, sih, menatap dia!" bisik Louis kepadaku. "Aku tidak ingin terlibat, ya."

__ADS_1


"Aku gak natap ya, dia, nih!" kataku sambil menunjuk Alexa di sampingku. Alexa dengan wajah polosnya menatapku dan Louis dengan ekspresi bingung.


"Udah, bubar!" ucapku, berusaha untuk menenangkan suasana yang mulai tidak enak. Aku masih bisa merasakan pandangan lelaki itu.


Menatapku sinis.


Tetapi aku berusaha untuk tidak menatapnya balik.


Makan pagi bersama dimulai yang dipimpin oleh Komandan Lucian. Kami saling mengambil bermacam-macam lauk-pauk yang sudah tersedia di depan kami. Bahkan, rata-rata dari kami sudah mulai mengenal para senior yang berada di hadapan kami. Akan tetapi, aku masih belum mengetahui nama senior yang memiliki paras wajah yang babyface yang baru saja kulihat.


Setelah makan pagi, kami sebagai para prajurit yang baru masuk aliansi akan melaksanakan beberapa training selama seminggu lamanya. Hal itu untuk melatih diri kita untuk beradaptasi dengan lingkungan sini.


Di sini kami diajarkan lebih mandiri, lebih berani, dan lebih disiplin. Bahkan kami tak jarang diberikan tugas seperti membersihkan kandang kuda, memandikan kuda, memberi makan kuda, membersihkan toilet, dan masih banyak lagi.


"Wau!" Sebuah kalimat pertama kali keluar dari mulutku ketika diriku memasuki kandang kuda sambil membawa satu ember besi dengan sikat dan pembersih di dalamnya. Bau semerbak kuda menusuk dinding-dinding hidungku ditambah lagi debu dimana-mana.


Aku berusaha untuk mengalahkan rasa pesimis dari dalam diriku dan melaksanakan tugas tersebut dengan ikhlas.


"Ini masih kotor!" ucap Komandan Lucian sambil mengamati setiap sudut kandang kuda yang sudah kubersihkan.


Komandan Lucian merupakan orang yang paling ketat dalam urusan kebersihan. Bahkan dirinya harus meneliti seberapa debu yang masih ada di suatu ruangan. Kedua matanya seperti terdapat sensor pendeteksi kotor.


"Yah, Komandan," ucapku yang sedih mendengar bahwa usahaku tidak membuahkan hasil yang memuaskan untuknya.


"Saya tidak mau tahu, pokoknya harus bersih!" bentaknya.


"Baik, Komandan laksanakan!" ucapku sambil melaksanakan hormat di hadapannya dan berbalik arah dengan kembali membawa sebuah ember kecil lengkap dengan sikat dan pembersih di dalamnya.


Tiba-tiba aku melihat salah seorang anggota satu angkatan sama sepertiku, sedang memandikan kuda.


"Yo, Steven!" sapaku kepada Steven. Salah satu anggota satu angkatan denganku yang berperan sebagai Odora. Dia tampak sedang memandikan kuda dengan tangannya yang penuh busa sabun. Wajahnya pun dipenuhi akan bekas busa sabun.


"Hey!" jawabnya. Namun, konsentrasinya tetap pada objek pertamanya, yaitu memandikan kuda. Tangannya sibuk memegang pancuran air dan spons sabun.


Ekor kuda tersebut bergerak-gerak sehingga sedikit percikan airnya mengenai pakaianku.


"Sangat melelahkan!" jawabnya. "Bagaimana denganmu?"


"Aku disuruh membersihkan ulang kandang kuda sama Komandan Lucian," jawabku sambil menghelakan nafas lelah.


"Kasihan sekali, semangat kalau begitu!"


"Makasih, kau juga!" jawabku sembari meninggalkan dirinya dan langsung menyelesaikan tugasku di kandang kuda sesegera mungkin karena aku sudah tidak sabar untuk beristirahat dan menikmati secangkir coklat panas di sore hari.


Here we go again!


--


Kami juga ditugaskan menyiapkan makan malam bersama dengan beberapa senior lain.


Aku ditugaskan memotong kentang karena makan malam ini menu utamanya adalah kentang. Alexa bertugas membuat adonan roti Prancis, serta Louis bertugas menyusun peralatan makan di masing-masing meja.


"Senior Lisa!" panggilku kepada salah satu senior kami yang menjadi kepala bagian dan bertugas memberi nilai dan mencicipi rasa di setiap masakan.


"Oh kau sudah selesai memotongnya?" sahutnya sambil menghampiriku yang sedang memegang pisau dan kentang yang sudah terpotong dadu.


"Apakah yang saya lakukan ini benar?" tanyaku untuk memastikan.


"Benar," jawabnya dengan senyum ramah. "Selanjutnya kau rebus terlebih dahulu kentangnya, ya!"


"Oh baiklah, terima kasih, Senior!" jawabku. Dirinya pun meninggalkanku dan menghampiri setiap orang yang memerlukan pendapat akan hasil kerja mereka.


Aku pun melanjutkan aktivitasku dengan kentang ini. Sampai pada akhirnya kami benar-benar menyelesaikan memasak makan malam dan mulai disajikan di masing-masing meja. Kami bergegas membersihkan diri dan turun ke ruang makan dalam keadaan rapi sempurna. Kami berdiam diri mematung di antara makanan yang sudah tersedia di atas meja sambil menunggu pendapat dari Komandan Lucian dan Kapten Jan serta Komandan Regu Illyana yang akan menyantap makanan malam masakan kami.


Komandan Regu Illyana yang terkenal akan ketatnya dalam hal mencicipi makanan layaknya seperti juri di sebuah kompetisi masak.


Hatiku berdegup kencang menanti penilaian dari ketiga orang penting tersebut.


"Sejauh ini, makanan yang kalian buat ...." Terdapat jeda di sela komentar Kapten Jan terhadap masakan kami. "Enak!"

__ADS_1


"Kentangnya masih agak keras," ucap Komandan Regu Illyana. Seketika pernyataanya itu membuat hatiku terasa dirobek oleh pisau tajam.


"Tapi selebihnya enak sekali!" lanjutnya sambil melahap tiap gigitan kentang dan hiasan sayur di atasnya.


YES!!!


Terasa ada banyak kembang api bergelora di dalam diriku.


"Kita berhasil!" seru Alexa sambil melancarkan high-five kepadaku dan beberapa orang lainnya.


"Terima kasih kepada kalian atas teamwork-nya!" seru Senior Lisa sambil tersenyum. Raut wajahnya cerah bahagia.


Kami pun saling melancarkan high-five satu sama lain untuk merayakan keberhasilan kami dalam membuat makan malam ini. Terasa seperti dalam kompetisi memasak.


"Mantap!" seru Simas yang ikut serta membantu Louis menyajikan dan merapikan peralatan makan di atas meja.


Louis hanya menyimak kelakuan kami yang terlalu bahagia sambil tersenyum. Ini pertama kalinya aku melihat dia tersenyum di muka umum.


"Tos!" ajakku untuk melakukan high-five dengannya. Awalnya dirinya terdiam. Akan tetapi, pada akhirnya dia tetap melakukannya.


Akhirnya, pekerjaan seberat ini bisa kulalui.


--


Akhirnya aku mengetahui perempuan yang membangunkanku, Rin, dan Alexa pada waktu itu.


"Kau tahu siapa yang setiap kali membangunkan kalian semasa training?" tanya Kapten Jan tiba-tiba kepadaku yang sedang beristirahat di tangga halaman markas aliansi sambil menikmati udara sejuk yang berhembus pelan.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Dia adalah Marielle Schöiger," katanya. "Kau harus hati-hati bila dekat dia!"


"Hati-hati bagaimana, Kapten?" tanyaku heran sekaligus penasaran.


"Iya hati-hati," ucapnya. "Karena dia disiplin sekali dan paling bersemangat di antara angkatan kami!"


"Oh gitu," Hanya itu saja yang keluar dari mulutku.


"Kok pada seram, sih, teman-teman Kapten?"


"Bukannya seram, hanya saja kau belum mengenal mereka lebih dekat saja!" jelasnya yang disertai seringai licik.


"Tapi itu Kapten, beberapa hari yang lalu saya melihat salah satu senior dan mukanya babyface—" Belum aku menyelesaikan kalimatku. Kapten Jan langsung memotong kalimatku.


"Oh si cebol Clèment," selanya.


"Jadi dia namanya Clèment?" tanyaku untuk memastikan. Rasa ingin tahuku akhirnya terbayarkan.


"Iya, banyak yang masih mengira dia itu masih bocah," katanya. "Padahal umurnya sudah berjalan 21 tahun."


Seketika kedua mataku membulat dan menoleh menatap Kapten Jan.


21 tahun tapi wajahnya masih kayak bocah, dong!


"Dia merupakan lulusan terbaik dari Akademi Sihir Alvist beberapa tahun yang lalu dan hanya menempuh pendidikan setahun saja berkat sihirnya yang terlalu jago!" jelasnya panjang lebar. "Anak itu juga di angkat statusnya oleh Lucian sebagai komandan regu."


Aku pun mengangguk sambil menyimak penjelasannya.


Akhirnya aku bisa mengetahui beberapa informasi mengenai beberapa karakter senior dan komandan regu yang beragam dari Aliansi Amdis. Ini semua berkat Kapten Jan sehingga aku tidak perlu ragu lagi dalam hal berinteraksi dengan mereka.


Dan semua yang dikatakan Kapten Jan itu ada benarnya!


Kita tidak boleh menilai seseorang dari tampilannya saja. Belum tentu di dalamnya seperti apa. Banyak sekali pelajaran berharga yang kupetik sejak diriku berada di aliansi ini.


Kemandirian,


Kebersamaan, dan


Kedisiplinan.

__ADS_1


__ADS_2