
Ratusan tahun kemudian setelah semuanya berubah.
Kehidupan Tiberiu.
"Ayah!" seru Tiberiu kecil menghampiri ayahnya, Raja Loritz XI yang sedang terduduk di kursi raja.
Tiberiu kecil tetap bersikeras menemui ayahnya sebab sudah beberapa hari dia tidak bersama ayah tersayangnya sejak ayahnya sibuk.
"Nak, maaf. Ayah sedang sibuk," ucap Raja Loritz XI sambil menampilkan senyumannya yang terpaksa di hadapan Tiberiu kecil yang tiba di hadapannya.
"Tapi, Yah …."
"Ayah mohon sama kamu tolong mengerti ayah, ya!" tegas Raja Loritz XI kepada si kecil Tiberiu.
Akhirnya Tiberiu kecil yang sedang bersedih, diajak oleh seorang pelayan wanita untuk segera keluar dari ruangan itu. Pelayan wanita itu mengantar si kecil Tiberiu untuk kembali ke kamarnya.
Setibanya di kamar, Tiberiu langsung menuju kasurnya yang putih bersih dan terduduk di sisi ranjangnya.
"Kenapa ayah tidak merindukan aku?" tanyanya sambil menatap langit cerah di jendela.
Seorang pelayan wanita yang mengantarnya langsung menghampiri Tiberiu yang terduduk di sisi ranjang dan memeluk Tiberiu yang sedang bersedih. Tangannya mengelus rambut Tiberiu dengan lembut.
Pandangan Tiberiu kecil tetap mengarah ke jendela dengan tatapan kosong.
"Ayah Anda sedang sibuk, Pangeran. Bersabarlah."
"Sampai kapan aku harus bersabar?!" bentaknya.
Pelayan wanita tersebut hanya mengulas senyuman tipis di wajahnya. Ia tidak tahu harus berkata apalagi.
"Aku ingin bertemu ibu," kata Tiberiu tiba-tiba.
Seketika aksi pelayan wanita itu terdiam.
"Ayah tidak pernah memberitahu ibu di mana. Aku ingin menemui ibu!" lanjutnya.
Tampak dari wajah pelayan wanita itu sedang menyimpan sesuatu hal dalam dirinya. Akan tetapi, tidak bisa ia ungkapkan.
"Iya suatu hari," ucapnya.
Kalimat tersebut terus mengelilingi pikiran Tiberiu sampai dirinya sudah menginjak usia dewasa. Dia terus memikirkan sosok ibunya yang tidak pernah hadir dalam kehidupannya.
Hilang ditelan bumi.
Setiap harinya, Tiberiu tidak pernah luput pandangannya dengan selir-selir ayah yang selalu berganti. Raja Loritz XI terlalu sibuk dengan selir dan pekerjaannya sehingga tidak ada waktu sama sekali untuk Tiberiu.
Seperti tidak memiliki ayah rasanya.
Sepi sekali ….
Tiberiu terus menatap bulan purnama di langit yang cerah melalui jendela kamarnya.
Menatap kehidupan di luar sana ….
Melampiaskan kesepian yang sudah dialaminya selama dia hidup di dunia ini.
Kehidupan sebagai pangeran iblis tidak membuatnya bahagia. Dirinya hanya butuh kepedulian dan kasih sayang dari ayahnya saja.
"Apakah ibu sedang berada di luar sana?" gumamnya sambil menatap langit malam yang penuh bintang-bintang kecil yang berhamburan.
Apa aku harus nekat menemui ibu di sana?
Seketika pikiran tersebut terbesit dalam otaknya.
Tapi masalahnya untuk keluar dari lingkungan kerajaan sungguh sulit!
"Dan apa itu survival game?" gumamnya.
Tiberiu semakin penasaran akan hal itu semenjak dirinya tidak sengaja masuk ke ruang kerja ayahnya yang tidak terkunci tadi sore. Suasana ruang kerja ayahnya yang penuh dengan buku-buku dan lembaran kertas yang bertebaran di atas meja berhasil menarik perhatian Tiberiu untuk menjelajahi.
Seketika pandangannya tertuju pada salah satu selebaran kertas berupa laporan.
"Survival game"
"Survival game?"
Akan tetapi, dirinya tidak bisa berlama-lama mengamati selebaran kertas itu. Tiberiu memutuskan untuk mengambil selebaran kertas laporan itu secara diam-diam dan langsung keluar dari ruang kerja ayahnya. Untung saja tidak ada seorang pun yang mengetahui aksinya.
Setelah kertas itu berhasil diambilnya, dia pun langsung membuka dan kembali membaca di bawah langit malam yang cerah. Mengamati setiap tulisan yang tertera di sana.
"Laporan Hasil Survival Game Setiap Tahun"
Tiberiu mengamati tiap angka yang tertera pada tabel tersebut. Angka tersebut semakin naik dari tahun ke tahun. Pikiran Tiberiu terus menimbulkan banyak pertanyaan terkait selebaran kertas yang digenggamnya. Dirinya bahkan tidak tahu mengenai permainan itu sebelumnya.
Apakah ayah sengaja menyembunyikan ini dariku?
Tiberiu semakin penasaran dengan informasi mengenai permainan ini.
"Menarik sekali!" gumamnya.
Tiberiu memutuskan untuk terus menyelidiki informasi terkait survival game ini. Baginya, ini merupakan hal yang menarik untuk diketahui lebih dalam.
Akan tetapi, dia tidak berani menanyakan mengenai hal ini kepada ayahnya. Di satu sisi, karena dia jarang memulai percakapan dengan ayahnya sehingga menimbulkan sifat canggung antar keduanya. Di satu sisi lain, dia tidak ingin membuat ayahnya marah kepadanya karena telah mengetahui urusannya.
Selain menelusuri informasi mengenai survival game, Tiberiu juga mencari cara untuk bisa keluar dari dunia yang telah membuat dirinya terkekang.
Dunia yang membuat dirinya terus kesepian.
Tekadnya benar-benar sudah matang dan bulat.
Ia hanya bisa menceritakan rencananya dengan salah satu pelayan wanita yang selalu setia menemani dirinya sejak kecil.
"Aku perlu bantuanmu!" kata Tiberiu setelah penjelasan panjang lebar di hadapan salah satu pelayan wanita yang setia dengannya.
Percakapan ini berlangsung empat mata di kamar Tiberiu yang hening. Hanya terdengar hembusan angin luar dan gemerisik dedaunan pohon.
"Maaf, Pangeran. Saya benar-benar tidak bisa memberikan Anda bantuan terkait rencana Anda yang berbahaya," jawab pelayan wanita itu.
Tiberiu menggenggam tangan pelayan wanita itu dan menatap kedua matanya dengan pandangan bersungguh-sungguh.
"Aku mohon sekali padamu, aku ingin bertemu dengan ibuku dan juga melihat dunia luar," jelas Tiberiu. "Aku tidak ingin hidupku dikekang seperti ini terus!"
"T—tapi, Pangeran …."
"Kita akan keluar bersama ke dunia luar!"
Seketika pandangan wanita pelayan itu membulat.
"Raja akan menghukum saya!" ucapnya. "Mereka akan mencari kita sampai ke ujung dunia asal Pangeran tahu."
"Tapi tekad aku sudah bulat," kata Tiberiu dengan pandangan yang bersungguh-sungguh. "Aku tidak bisa mengalahkan tekadku ini!"
"Tolonglah!" kata Tiberiu dengan nada memohon kepada pelayan wanita itu yang tengah bersikeras.
Terjadi keheningan selama beberapa saat.
"Baiklah," ucap pelayan wanita itu. Pandangan pasrah tersirat di kedua matanya.
"Saya akan bantu Anda keluar dari sini."
"Benarkah?" tanya Tiberiu untuk memastikan.
Pelayan wanita itu mengangguk pelan dengan tatapan pasrah menatap Tiberiu.
Dia ingin membuat anak majikannya senang dan terbebas.
"Jadi kapan Anda akan keluar dari sini?"
"Sekitar siang esok hari. Aku tunggu cuaca yang memungkinkan untuk membuatku bisa kabur," jelas Tiberiu.
Siang hari adalah waktu emas baginya untuk melancarkan aksi penyelamatan diri dari tempat neraka ini. Kaum iblis tidak dapat beraktivitas pada siang hari, terlebih lagi jika cuacanya cerah dan panas.
Setelah diskusi panjang lebar mengenai perencanaan kabur, akhirnya sudah ditemukan titik cerahnya.
Keesokan siang hari yang cerah, masyarakat iblis memutuskan untuk berdiam diri di rumah mereka masing-masing karena diri mereka tidak tahan dengan sengatan cahaya matahari.
Walaupun hal tersebut juga terjadi pada Tiberiu, akan tetapi dia harus melawan itu semua.
Lebih baik aku terkena sengatan cahaya matahari daripada tidak bisa kabur dari tempat ini.
Pelayan wanita itu memberi bekal jubah yang tebal untuk melindungi Tiberiu dari sengatan cahaya matahari, sekaligus sebagai penyamaran jejak. Aksi ini dilakukan secara diam-diam. Banyak penjaga yang berdiri sigap di sekitar kastil, akan tetapi pada akhirnya mereka berdua berhasil melewati itu semua dan tibalah di lantai dasar.
"Saya mau pangeran menyimpan ini," ucap pelayan wanita itu sambil memberikan secarik kertas bertuliskan sebuah lambang berbentuk bintang serta huruf-huruf latin kuno di dalamnya.
"Apa ini?"
"Ini adalah kode rahasia menuju dunia manusia," jawabnya.
"Anda dapat menggunakan ini setelah Anda tiba di padang rumput yang luas dan hening di daerah Tenggara."
"Anda harus mengikuti arah matahari untuk menuju ke sana," jelas wanita itu.
"Baiklah," ucap Tiberiu yang berusaha memahami penjelasan wanita itu. "Omong-omong kau dapatkan ini dari mana?"
"Saya telah mendapatkannya dari ruang kerja Tuan Raja, kemudian saya membuat salinannya untuk Anda," jelasnya panjang lebar. "Saya harap Anda dapat mengerti gambaran saya, tapi memang kurang lebih seperti itu."
"Baiklah," ucap Tiberiu. Seketika dirinya bingung dengan penampilan wanita pelayan itu yang belum bersiap-siap sama sekali. "Kau tidak ikut?"
Pelayan wanita itu seketika terdiam dan menunjukkan raut wajah sedih. Dirinya pun menangis di hadapan Tiberiu yang akan meninggalkan dirinya.
Selamanya.
"Aku tidak bisa, Pangeran. Maafkan saya!" kata pelayan wanita itu.
Tiberiu langsung mengusap wajah pelayan wanita itu yang basah. "Maafkan aku yang sudah banyak merepotkanmu selama aku di sini."
Pelayan wanita itu hanya tersenyum. Lalu berkata, "Ini semua demi kebaikan, Pangeran. Berlarilah dan kejar impian Anda yang selama ini Anda pendam!"
"Sekarang Pangeran pergilah, saya takut bila Anda akan ketahuan oleh penjaga kastil nantinya," kata pelayan wanita itu sambil tetap tersenyum walau masih meneteskan air mata.
Tiberiu langsung keluar dari pintu belakang kastil dan menatap wajah pelayan wanita tersebut dari kejauhan.
Sebuah tatapan bahagia yang tersirat dalam pandangannya.
Tiberiu langsung melambaikan tangan ke arah wanita itu dan langsung pergi meninggalkan area kastil dengan memasuki daerah hutan yang lebat di belakang kastil.
Misi awal berhasil dilaluinya.
Tiba di hutan yang lebat, cahaya matahari yang telah menyengat kulit wajahnya seketika terhalang oleh dedaunan hutan. Hawa sejuk terasa oleh pori-pori kulitnya.
Tiberiu terus menelusuri hutan sampai sejauh mungkin.
Tidak ada batasnya hutan ini.
Dia harus menyelamatkan diri sebelum para penjaga kastil dan Raja Loritz XI menemui dirinya.
Maafkan, Ayah!
Maafkan, semuanya!
Aku harus menemui ibu dan menuju dunia yang lebih baik.
Setelah berlari menyusuri hutan sejauh mungkin,
"Rumah?"
Tiba-tiba Tiberiu menemukan sebuah rumah kecil tidak berpenghuni di tengah hutan. Rumah tersebut terbuat dari kayu dan tampaknya sudah berdiri lama sekali.
Dirinya pun tergoda untuk memasuki rumah kosong tersebut. Di satu sisi, dia merasa beruntung telah menemukan sebuah rumah di saat dirinya lelah.
Tiberiu pun mulai melangkah ke dalam rumah tersebut. Kayu berderit berbunyi ketika kakinya menyentuh lantai.
Gelap sekali...
"Halo?" ucap Tiberiu sambil membuka pintu rumah itu. Berharap dirinya menemukan seseorang di dalam.
Tidak ada jawaban.
"Baiklah, aku beristirahat dulu di sini," gumamnya.
Hari sudah semakin sore membuat suasana langit menjadi berwarna jingga.
Tiberiu langsung membuat penerangan dari api sebelum hari mulai malam sebab tidak ada penerangan di dalam rumah ini sama sekali.
__ADS_1
Tiba-tiba suatu benda berhasil menarik perhatiannya. Tepat di dinding sebuah kamar yang kecil sekali di rumah tua itu, terdapat sebuah tombol kecil berwarna merah.
Tombol apa ini?
"Untuk penerangan, kah?"
Tiberu tidak tahu kegunaan tombol itu dan muncul secara tiba-tiba. Hatinya pun tergoda untuk memencet tombol misterius tersebut.
Akan tetapi, ada sebuah firasat untuk tidak memencet tombol itu. Namun, firasat tersebut berhasil dikalahkan dengan rasa penasarannya.
"Kumohon jangan sentuh tombol itu!" Tiba-tiba muncul manusia tepat di samping Tiberiu. Pandangan manusia itu bersungguh-sungguh melarang dirinya untuk menyentuh benda itu.
Tiberiu terkejut dengan kehadiran orang asing itu.
Ini adalah pertama kalinya bertemu dengan manusia.
"K—kau siapa?"
"Aku korban dari tombol itu. Kau jangan menyentuh benda itu!" tegas manusia misterius itu.
"Korban? Apa maksudmu?" tanya Tiberiu yang semakin penasaran.
"Pokoknya jangan! Atau kau akan menyesal!" serunya.
"Aku tidak tahu apa maksudmu dan siapa dirimu," kata Tiberiu sambil menatap aneh orang itu.
Seketika Tiberiu langsung memencet tombol asing tersebut. Dirinya tidak mempedulikan penjelasan orang aneh itu.
Tetap pada pendirian hatinya.
"Kau akan merasakan neraka yang sesungguhnya di sana," ucap orang itu dan kemudian menghilang dari samping Tiberiu.
Tiba-tiba dunia berubah.
Dirinya berpindah ke lain tempat, tepatnya tempat yang asing. Tidak di rumah kayu itu, melainkan tiba di padang rumput yang luas beserta sebuah benda yang besar tergeletak di sana. Benda besar tersebut memiliki baling-baling di sayap kanan dan sayap kirinya.
Langit yang biru mendukung suasana saat ini.
"Di mana aku?!" ucapnya. Perasaan panik mulai menjalar ke dalam dirinya.
Tombol itu membawa dirinya pergi ke dunia lain.
Sekumpulan manusia hadir di sekelilingnya dengan tatapan mata yang kosong.
Ada yang berdiam diri,
Ada yang berlari ke sana ke mari,
Ada juga yang sedang memulai baku hantam dengan manusia lainnya.
Kenapa mereka sungguh aneh sekali?!
Ada apa denganku?
Di mana aku sekarang?!
"D—dan diriku …." Tiberiu menatap kedua tangannya. Seketika dirinya bertransformasi menjadi sosok manusia.
Tatapannya berpaling menatap sekitar kembali. Entah tiap kali dia menatap manusia-manusia yang berkeliaran, muncul jiwa keinginan untuk memakan mereka.
"Sial!" gerutunya. Tiberiu harus menahan hasratnya.
Ini pasti jebakan! Aku tidak boleh lengah!
--
Keadaan kastil setelah beberapa jam kepergian Tiberiu.
Seorang pelayan wanita yang menyuruh Tiberiu kabur, seketika dipanggil oleh Raja Loritz XI.
Wanita itu sudah siap mendapat hukuman paling berat dari tuannya akibat tindakannya.
Demi membebaskan Tiberiu dari tempat yang membuat jiwanya terkekang.
Raja Loritz XI menatap pelayan wanita itu dengan tatapan menyeramkan. Amarahnya benar-benar sudah di ambang batas.
"Apa kau melihat Tiberiu?" tanya Raja Loritz XI yang terduduk di kursi raja. Memulai introgasi yang disaksikan oleh beberapa iblis di ruangan yang luas.
"Tidak, Yang Mulia. Saya tidak melihat Pangeran," jawab pelayan wanita itu.
"Benarkah?" tanya Raja Loritz XI untuk memastikan.
"Lalu apa ini?" tanyanya sambil menunjukkan secarik kertas.
Kertas susunan strategi kabur yang dibuat Tiberiu.
"Benda ini ada di kamarnya," kata Raja Loritz XI. "Dan kau masih tidak mau mengakui ini salahmu?"
Pandangan pelayan wanita itu seketika membulat menatap secarik kertas yang digenggam oleh Raja Loritz XI.
"KAU TELAH MEMBIARKAN ANAK ITU PERGI!" bentaknya.
"Saya benar-benar tidak tahu, Yang Mulia!" pelayan wanita itu terus bersikeras menutupi kebenarannya untuk melindungi Tiberiu yang sedang mencari dunia baru.
"Tolong hukum mati dia!" seru Raja Loritz XI menyuruh para prajuritnya untuk menghukum mati pelayan wanita itu sekarang juga.
Keempat prajurit tersebut langsung menarik paksa lengan pelayan wanita itu dan menyeretnya menjauhi Raja Loritz XI.
"JANGAN, YANG MULIA! SAYA MOHON AMPUN!" teriak pelayan wanita itu sambil menangis. Dirinya pun semakin menjauhi ruangan.
Tatapan menyeramkan dari Raja Loritz XI dan beberapa iblis lainnya yang menyaksikan kejadian ini memandang pelayan wanita itu sampai tidak terlihat.
Keempat prajurit yang diperintahkan Raja Loritz XI membawa pelayan wanita itu ke ruang bawah tanah.
Ruang khusus untuk menghukum mati para iblis yang dinyatakan telah melanggar peraturan kerajaan.
"Tolong saya tidak ingin dihukum mati! Saya benar-benar minta maaf!!"
Keempat prajurit tersebut tidak mempedulikan wanita itu dan terus menyeretnya sampai tiba di ruang yang mematikan.
Alat penarik tubuh sudah menunggunya.
Pelayan wanita itu langsung ditempatkan di sebuah papan kayu. Dirinya terus menangis dan meracau. Kedua kakinya terikat oleh tali di bagian bawah dan kedua tangannya juga terikat oleh tali di bagian tuas. Begitu dirinya sudah terikat sempurna, kedua prajurit kastil langsung menarik tuas sampai tubuh wanita pelayan itu terlepas satu sama lain.
Seketika pelayan wanita itu pun dinyatakan tewas di tempat.
Saat itu juga, Raja Loritz XI langsung melancarkan strategi pelacakan Tiberiu.
Kini status Tiberiu sebagai buronan kerajaan iblis.
--
Sebuah benda besar yang ia lihat di tengah-tengah padang rumput, kini mengantarnya ke sebuah pulau terpencil.
Banyak sekali manusia di dalam benda ini.
Tatapan mereka kosong sekali!
Seperti ada sesuatu yang sedang mengendalikan pikiran mereka.
Pikiran Tiberiu masih dikelilingi oleh banyak pertanyaan terkait situasinya saat ini.
Tiba-tiba sebuah pintu dari benda ini terbuka lebar. Angin meniup kencang, hampir menghempaskan tubuhnya keluar. Seketika beberapa manusia mulai keluar dari benda terbang ini.
Apa aku harus keluar sekarang?
Namun, hatinya merasa takut untuk keluar dari benda ini. Akan tetapi, dirinya tidak bisa menghindari momen ini dan harus dihadapinya.
Dengan tekad yang kuat, Tiberiu langsung menuju pintu keluar dan menghempaskan tubuhnya di langit yang berkabut. Nafasnya sungguh sesak karena terkena terpaan angin yang kuat. Tubuhnya mulai mengikuti alunan irama angin.
Ia berpasrah ke mana angin akan membawanya.
Beeep … beeep … beeep
"Eh?"
Muncul alarm dari benda yang mengikat di pergelangan tangannya.
"Alat apa ini?" gumamnya sambil menatap alat itu yang berbunyi.
"BUKA PARASUT ANDA!"
Kalimat itu terus muncul di layar alat itu yang disusul dengan tata caranya.
Dengan perasaan panik yang menjalar di pikirannya, dirinya langsung menarik parasut yang berada di tasnya sampai keluar. Sedikit lagi bila tidak langsung ditariknya, tubuhnya akan membentur tanah yang landai. Dengan parasut inilah dirinya dapat mendarat dengan sempurna.
Setelah melepaskan parasut yang besar dari tasnya, Tiberiu langsung berlari sejauh mungkin. Dirinya tidak tahu harus ke mana dan terus berlari. Seketika suara tembakan terdengar jelas di sekelilingnya.
Pulau kematian...
Dia terus berlari sampai dirinya aman. Setelah sejauh mungkin dirinya berlari, Tiberiu akhirnya menemukan sebuah rumah bertingkat berwarna merah muda.
"Rumah!" seru Tiberiu yang langsung memasuki rumah bertingkat itu.
Tidak ada orang sama sekali. Akan tetapi, banyak sekali perlengkapan perang dan alat medis bertebaran di setiap lantai.
Dia pun langsung mengambil salah satu senapan serbu berwarna coklat tua beserta pelurunya.
"Bagaimana cara menggunakan benda ini?"
Tiberiu sambil mengamati benda berat tersebut dengan seksama.
Tidak ada cara pakai.
Walaupun Tiberiu tidak mengetahui cara pakai benda asing itu, ia tetap membawanya. Dirinya juga mengambil beberapa barang lainnya yang dianggap perlu selama perang ini berlangsung.
Beep … beep
Pandangan Tiberiu tertuju kepada alat yang berada di pergelangan tangannya.
Alat itu menampilkan titik-titik berwarna warni yang berpencar di seluruh area.
Ternyata titik-titik tersebut adalah teman satu timnya yang masing-masing mendarat di tempat yang berbeda.
Jauh sekali.
Akan tetapi, salah satu teman timnya ada yang berlokasi tidak jauh dari lokasinya saat ini. Titik berwarna biru tersebut sekitar 78 km darinya.
"Baiklah!" ucapnya. Tiberiu langsung bergegas keluar sambil membawa perlengkapan perang termasuk sebuah senapan serbu yang terus digenggamnya.
Tiberiu harus melawan dirinya yang takut demi bertahan hidup di situasi yang mengerikan ini.
Setelah berlari menuju arah mata angin yang tertera dalam alat itu, akhirnya Tiberiu berhasil menemukan teman satu timnya yang berada di balik sebuah pohon yang besar. Wajahnya tampak panik sekali saat melihat kehadiran Tiberiu tepat di sampingnya.
"Eh?" Kalimat itu seketika keluar dari mulutnya sambil menatap Tiberiu. Tubuhnya gemetaran sekali.
"K—kita satu tim dan aku tidak berniat membunuhmu," jelas Tiberiu sambil menatap wajah manusia itu yang ketakutan.
"J—JANGAN MENDEKATIKU!" bentaknya tiba-tiba.
"Atau akan kubunuh kau!" lanjutnya.
"Tenanglah, aku tidak akan berbuat seperti itu. Kita harus berperang bersama!" jelas Tiberiu. Berusaha untuk meluluhkan hati manusia itu yang keras.
Manusia itu seharusnya sudah menjadi mangsanya. Di keadaan seperti ini adalah waktu terbaik untuk menyergap dan menyantap tubuhnya.
Akan tetapi, dirinya seakan menolak.
Jiwa ketakutan dan kepanikan manusia itu membuat jiwa Tiberiu ikut merasakannya. Perasaan kasihan seketika muncul di lubuk hatinya yang terdalam.
Cuuuusss
"AKKHH!!!" Tiba-tiba orang itu mengerang kesakitan.
Sebuah tembakan senapan jauh menyerang dadanya.
Ternyata sedari tadi dirinya sudah dibidik oleh musuh dari jauh.
Manusia itu mengerang kesakitan sambil mencengkram dadanya yang mulai mengeluarkan banyak darah. Dengan sigap, Tiberiu langsung membidik arah musuh yang sudah menembak teman satu timnya.
Dengan tubuh yang gemetar, Tiberiu tetap berusaha mencari sosok musuh menggunakan teropong yang sudah terpasang di senapan serbu yang ia ambil.
"Kena kau!"
__ADS_1
DOR
Seketika orang itu mati hanya dengan satu kali tembakan.
Tiberiu langsung membawa temannya ke belakang pohon dengan menyeretnya. Darah semakin keluar membanjiri rerumputan hijau di sekitar pohon. Tiberiu langsung mengambil perlengkapan medis berupa perban dari dalam tasnya. Akan tetapi, luka tersebut sangatlah parah dan dalam. Hanya dengan perban saja tidak akan berpengaruh padanya.
Tak lama kemudian, beberapa musuh datang ke arah mereka berdua menggunakan kendaraan. Mereka terus melemparkan Tiberiu dan teman satu timnya granat sehingga membuat pandangan sekitar menjadi kabut serta kedua pandangan mereka menjadi perih.
"Sial!" gerutu Tiberiu. "Lukamu terlalu parah!"
"Tolong selamatkan aku!" seru manusia itu yang sudah setengah sekarat. Wajahnya perlahan berubah menjadi biru karena kekurangan oksigen dan darah.
Tiberiu harus mencari cara agar orang itu bisa selamat.
Tiba-tiba datang seorang manusia menghampiri mereka dengan menggunakan kendaraan yang terbilang aneh.
"Cepat lindungi kami!" seru Tiberiu yang panik. Menyuruh perempuan itu untuk melindungi dirinya dan teman satu timnya yang sekarat.
Perempuan itu langsung menghampiri mereka berdua yang sedang terkepung di tengah-tengah asap granat yang membutakan pandangan. Dirinya tampak khawatir dengan manusia satu kaumnya yang sedang terbaring lemah itu.
Akan tetapi, takdir berkata lain.
Orang itu seketika tidak sadarkan diri dan dinyatakan tewas dalam peperangan ini.
Seketika jantung Tiberiu terasa berhenti melihat teman satu timnya tewas yang disusul dengan setetes air mata yang membasahi wajahnya yang berubah menjadi manusia seperti mereka.
Baru kali ini dirinya merasakan perasaan ini.
Apakah ini yang namanya perasaan manusiawi?
Perasaan kehilangan seseorang yang baru saja ditemuinya.
"Ayo kita habiskan para brengsek itu!" seru Tiberiu yang bersiap-siap melempar sebuah granat tepat ke arah musuh dari balik pohon.
Perempuan itu mengangguk dan dalam hitungan mundur aksi mereka dimulai. Tepat setelah granat tiba di hadapan mereka dan langsung meledak, suara tembakan jelas terdengar. Seiring suara tembakan berlangsung, beberapa dari mereka berhasil tumbang tidak bernyawa, ada juga yang berusaha kabur dengan kendaraan yang mereka gunakan tadi. Akan tetapi, beberapa dari mereka terjebak karena kendaraan yang mereka gunakan sudah meledak.
Sebuah kesempatan untuk menuntas habiskan mereka.
Pelajaran yang setimpal untuk sebuah nyawa.
Tiba-tiba perempuan itu menjatuhkan dirinya.
Sebuah peluru berhasil mengenai betisnya sampai mengeluarkan banyak darah.
"Kau tertembak!" seru Tiberiu dengan raut wajah panik melihat pendarahan perempuan itu di betisnya.
"Kita harus segera pergi dari sini!" kata perempuan itu sambil menahan rasa sakit yang dideritanya.
"Tapi kau harus diperban dulu!"
"Tidak usah! Kita langsung menuju rumah terdekat saja. Bantu aku berdiri!"
Tiberiu langsung membantu perempuan itu berdiri dan meninggalkan lokasi berbahaya ini menuju sebuah rumah untuk berlindung sementara.
Tempat yang penuh dengan kematian. Banyak sekali mayat bergelimpangan di atas rerumputan hijau yang segar.
Kini keberadaan mereka berdua benar-benar tidak aman dan harus bergegas menyelamatkan diri.
Inikah yang dimaksud Ayah mengenai survival game?
Di mana para manusia saling diadu dan harus bertahan satu-satunya.
"Ternyata aku bisa merasakannya."
... Berkat tombol misterius itu.
Tiberiu memutuskan untuk menyamarkan nama aslinya menjadi 'Oliver'.
Nama pemberian pelayan wanita setianya saat bermain bersama di kastil.
Entah Tiberiu sangat menyukai nama itu. Selain terdengar unik, juga nama tersebut dimiliki oleh salah satu karakter favoritnya di dalam permainan pahlawan.
Sejak saat itu, nama 'Oliver' terus tersimpan di benak otaknya.
Akhirnya mereka berdua tiba di sebuah rumah kecil. Walaupun kecil, akan tetapi hal tersebut tidak mengganggu mereka untuk berlindung diri.
Akan tetapi, setelah Tiberiu menarik ganggang besi pada pintu rumah itu, sekelompok musuh muncul sambil membidik ke arah mereka berdua.
Salah satu target yang berhasil dibunuhnya adalah Tiberiu. Tepat di kepalanya. Seketika dirinya tumbang tidak sadarkan diri. Peluru itu bersarang mengenai otaknya.
Suara bising memekakkan indra pendengarannya.
Tiberiu sama sekali tidak bisa bangkit. Seperti ada sesuatu yang menahan tubuhnya untuk bangkit.
Niat yang terlintas dalam dirinya untuk menolong perempuan tadi yang bernama Rika, seketika pupus.
Tubuhnya mati rasa.
Maafkan aku.
--
Beberapa menit setelah tidak sadarkan diri.
Pusing sekali!
Tiberiu terbangun.
Dirinya merasakan seperti tertidur selama beberapa jam lamanya. Seketika bolongan peluru di dahinya menutup. Peluru yang bersarang di kepalanya pada awalnya, kemudian keluar dengan sendirinya. Namun, pusing ini masih menyelimuti bagian kepalanya.
Ia tetap paksakan dirinya untuk bangkit dan segera menyelamatkan diri.
Akan tetapi, di mana Rika?
Tiberiu memutuskan untuk mencari perempuan tadi yang bersamanya. Setelah beberapa langkah sampai memasuki wilayah hutan yang tak jauh dari jaraknya, pandangannya tertuju pada sesuatu.
"Tidak mungkin!" ucapnya dengan pandangan tertuju pada seorang perempuan terbaring penuh darah di bagian perutnya.
Dirinya amat menyesali karena tidak menyelamatkan Rika.
Kini perempuan itu tewas di tempat dengan peluru yang berjumlah banyak bersarang di badannya.
"Sayang sekali."
Tiba-tiba suara tersebut berhasil mengejutkan dirinya yang sedang terpaku oleh jasad Rika. Tiberiu menoleh pelan ke arah kehadiran sosok manusia tepat di belakangnya. Seketika muncul manusia bertopeng sambil menodongkan senapan serbu ke arah Tiberiu yang tidak memegang senjata apa pun.
"Maaf sekali temanmu sudah mati," lanjutnya dengan nada angkuh.
Tiberiu masih terdiam. Akan tetapi, emosinya sudah berada di puncak.
"Menyerahlah. Aku sudah muak melihatmu terdiam di depanku!"
Terjadi keheningan sesaat.
Seketika Tiberiu menyeringai menatap manusia bertopeng itu. "Semudah itu kah menyerah di hadapanmu, huh?"
Manusia bertopeng itu terdiam.
"Kau tidak tahu siapa diriku, ya?"
Manusia bertopeng itu masih terdiam. Namun, tubuhnya mulai gemetar.
"A—apa maksudmu?!" tanya manusia bertopeng itu.
"Kau boleh menembakku sekarang juga."
Setelah mendengar perkataan Tiberiu, manusia bertopeng itu langsung menembak Tiberiu beberapa kali. Akan tetapi, peluru-peluru yang bersarang di perutnya tidak menimbulkan efek pada dirinya sehingga peluru-peluru tersebut langsung terjatuh dengan sendirinya.
"K—kau .…"
"Kenapa? Kaget, ya?"
"Iblis," lanjut manusia bertopeng itu. Seketika dirinya langsung menjatuhkan senapan serbunya dan berdiri mematung di hadapan Tiberiu.
Tiba-tiba Tiberiu langsung tertawa jahat menatap manusia bertopeng yang mulai ketakutan dengan dirinya. Dia mulai menampakkan wujud aslinya yang menyerupai iblis dengan mata merah menyala dan wajah yang setengah hancur.
Seperti wujudnya ketika berada di dunianya.
Dirinya langsung menyergap mangsa di hadapannya dengan kuku-kuku di jari-jemarinya yang panjang dan runcing. Mencabik-cabik tubuhnya lalu memakannya.
Dirinya tidak peduli bila manusia bertopeng itu perempuan atau laki-laki sekalipun. Sebab dia sudah menahan hasrat untuk tidak memakan manusia sejak pertempuran ini dimulai.
Juga ini sebagai pembalasan terhadap kematian Rika serta pelampiasan emosinya yang tidak terkendali.
Setelah satu setengah jam dalam posisi seperti ini, Tiberiu memutuskan untuk kabur dari tempat terkutuk ini.
Dirinya harus terbebas dari tempat yang sudah membuatnya mengerti apa arti kehilangan dan kesedihan.
Sungguh menyakitkan baginya.
Dia terus menyusuri hutan dan menyeberangi laut sampai sejauh mungkin serta mengikuti arah matahari terbit untuk menuju ke Tenggara.
Sesuai arahan pelayan wanita itu.
Demi mencari ibu dan melihat dunia luar.
--
Setibanya di dunia manusia.
Segala ekspetasinya pun berubah.
Dunia ini … sungguh keras!
Untuk bertahan hidup di dunia manusia sungguh sulit. Manusia saling berlalu-lalang, tidak menperdulikan dirinya yang terlantar dalam keadaan lusuh.
Demi mencari ibu, aku harus hadapi ini semua!
Tiba-tiba muncul seorang pria tua menegur Tiberiu di pinggir kota.
"Hey, Nak! Kau mau?" tanya pria tua itu kepada Tiberiu yang terlihat kelaparan. Pria tua itu sambil memberikan sekotak makanan untuknya.
Tiberiu terdiam mematung.
"Kau tidak bisa mendengar, ya?"
"Eng—gak em—maksudku, t—terima kasih!" jawab Tiberiu dengan gugup sambil mengambil sekotak makanan itu dari tangan pria tua gendut itu.
Dirinya pun ikut terduduk di samping Tiberiu yang langsung menyantap sepotong ayam bakar yang berukuran besar dengan lahap.
"Kau belum makan selama berhari-hari, ya?" tanya pria tua itu sambil mengamati Tiberiu yang begitu lahap memakan sekotak makanan pemberiannya.
Tiberiu terdiam sambil menatap pria tua itu.
"Maaf aku telah mengganggumu makan, lanjutlah!" katanya yang disertai dengan seulas senyuman ramah.
"Omong-omong, namaku Craig," ucap pria tua itu sambil mengamati manusia saling berlalu-lalang padatnya. Dirinya sambil menunggu Tiberiu selesai makan.
"T—terima kasih, Mr. Craig. N—namaku Tiberiu eh—," kata Tiberiu. Dia tidak sengaja telah menyebutkan nama aslinya kepada Mr. Craig.
Sial!
"Aku merasa senang kau lahap sekali makannya, Tiberiu!" kata Mr. Craig sambil tersenyum menatap Tiberiu.
"Ini sisa makanan dari restoranku dan aku merasa sayang sekali bila dibuang, jadi aku memutuskan untuk memberikannya kepada orang-orang kurang mampu di sekitar sini."
Tiberiu hanya terdiam sambil menghabiskan sisa-sisa makanan dalam kotak di genggamannya.
"Apakah kau bersedia untuk pulang bersamaku?" tanya Mr. Craig.
"P—pulang?"
Mr. Craig mengangguk. "Aku akan mengadopsimu sebagai anak angkatku. Kau mau, kan?"
Tiberiu pun mengangguk yang menandakan 'iya' atas pernyataan Mr. Craig terhadapnya.
Mulai saat itu, Tiberiu resmi menjadi anak angkat Mr. Craig. Dirinya pun mulai mendapatkan banyak teman-teman di rumah Mr. Craig. Sebagian besar mereka seumuran dengannya.
Hari mulai berganti.
Hubungan Tiberiu dengan mereka semakin akrab. Akan tetapi, semuanya berubah setelah mereka menangkap Tiberiu yang tidak sengaja memakan tubuh Mr. Craig di belakang rumah.
Sejak saat itu, Tiberiu langsung menghilangkan jejak dari manusia dan mengasingkan diri di hutan yang lebat. Dirinya seketika menjadi buronan di seluruh kota manusia. Kertas-kertas yang menyangkut pencarian dirinya bertebaran di mana-mana.
__ADS_1
Tiberiu memutuskan untuk tidak menggunakan nama aslinya lagi dan mengganti nama menjadi 'Oliver' sebagai penyamaran identitasnya yang sedang terancam.
Ibu, aku akan menemuimu!