
9 Februari 3030 - Malam bulan purnama merah.
Tiba di hari penentuan kehidupan manusia.
Seluruh anggota Aliansi Gabungan Orion tiba di dunia iblis tepat pada malam bulan purnama merah seperti yang telah disepakati bersama.
Bulan purnama merah terlihat jelas sekali di langit malam yang cerah.
Kami berhasil tiba di dunia iblis berkat secarik kertas dari Oliver.
Suasana dunia iblis lebih menyeramkan dari dugaanku. Bangunan-bangunan di sini tidak menimbulkan aura yang tentram, melainkan aura kematian yang disertai dengan sedikitnya pencahayaan sekitar. Udara yang dingin menusuk kulitku. Akan tetapi, untung saja aku memakai jubah yang dilengkapi dengan bulu domba sehingga lebih menghangatkan suhu badan.
Tak lama kemudian setelah perjalanan jauh, kami tiba di depan Kastil Astaroth. Kastil ini terletak jauh dari pemukiman penduduk dan bangunan ini terletak di atas bukit.
Sesampainya tepat memasuki gerbang kastil, kami turun dari masing-masing kuda kami. Seluruh prajurit iblis langsung melaksanakan upacara penyambutan kepada kami.
"Selamat datang, Rosabelle!" sapa Raja Loritz XI yang menyambut kedatanganku di kastilnya.
"Terima kasih, Raja Loritz XI! Senang sekali bisa berhadapan denganmu di sini," jawabku dengan penuh basa-basi.
"Sungguh tidak terduga kalian akan datang kemari," kata Raja Loritz XI sambil menatap anggota lainnya yang berada di belakangku.
"Ayo mari ikut aku!" ajaknya.
Kami pun mengikuti dirinya dari belakang.
Raja Loritz XI menuju ke suatu ruangan yang luas dan sudah hadir beberapa iblis lainnya. Mereka langsung menatap kami dengan pandangan yang sangat menyeramkan.
Seram banget woi!
Bulu kudukku seketika berdiri. Namun, aku harus melawan rasa takut ini.
Komandan Regu Clèment yang berada di sampingku sambil mengenakan jubah ungu tua, menyentuh pundakku.
"Kendalikan," lirihnya. Dirinya mengetahui perasaanku saat ini.
"Baik. Terima kasih, Clèment!" jawabku dengan suara pelan.
Kami semua duduk berhadapan dengan iblis-iblis yang sepertinya adalah kepercayaan raja. Mereka menatap kami dengan pandangan tajam dan tidak suka atas kehadiran kami di sini.
Tiba-tiba pandanganku tertuju kepada sebuah gelas dengan minuman berwarna merah di dalamnya, tepat di hadapanku. Aku langsung menyenggolkan siku Komandan Regu Clèment. Memberi isyarat untuk tidak meminum sebuah minuman aneh yang terdapat di setiap sisi meja rapat. Komandan Regu Clèment pun mengerti bahasa isyaratku dan menyuruh lainnya untuk melakukan hal yang sama.
Aku lebih mementingkan kewaspadaan di situasi mencekam seperti ini.
Karena aku yakin, otak yang licik tidak pernah luput dari dalam diri mereka.
"Selamat malam para hadirin sekalian!" ucap salah satu iblis yang menjadi pihak penengah antara iblis dan manusia dalam acara konferensi ini. Ia mulai membuka acara konferensi ini.
"Hadirin yang saya hormati, kepada Yang Mulia, Loritz-Cesareo sebagai Raja Iblis Loritz generasi XI dan seorang perwakilan dari kaum manusia, Nica Rosabelle beserta para anggota lainnya yang sudah menempatkan waktu untuk hadir pada malam bulan purnama merah,"
"Mulai detik ini, konferensi ini resmi dibuka!" lanjutnya.
Dentingan jam seketika berbunyi nyaring bersamaan dengan dibukanya konferensi ini.
"Dipersilahkan kepada Yang Mulia, Raja Loritz XI untuk berbicara terlebih dahulu."
"Baik, terima kasih!" kata Raja Loritz XI. Pandangannya sambil melirik ke arahku dengan tajam.
"Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih dan saya sangat menghargai kedatangan kalian jauh-jauh ke sini!" katanya sambil mengulas senyuman menyeramkan di wajahnya yang hancur.
"Hari ini kita akan bersama-sama menyelesaikan segala masalah yang telah terjadi selama berabad-abad lamanya," lanjut Raja Louis XI sambil membersihkan tenggorokannya yang kering.
"Saya sebagai perwakilan dari kaum iblis mengaku bersalah atas apa yang telah kami perbuat kepada manusia selama berabad-abad lamanya," jelasnya. Lirikannya terus memerhatikan satu persatu dari kami.
"Ini semua karena faktor kesalahpahaman yang terjadi sejak masa pemerintahan Loritz VI yang berujung malapetaka sampai sekarang."
"Akibatnya, kehidupan kami juga terancam dan tidak luput dari namanya konflik," jelasnya. "Banyak dari kaum kami yang tewas karena insiden tersebut."
"Peperangan yang terjadi antara dua dunia ini pun turut membawa kematian bagi pasukan-pasukan kami."
"Maka dari itu, pada hari ini, saya ingin memperjelas masalah ini. Saya menginginkan kehidupan antara iblis dan manusia kembali terjalin seperti pada zaman nenek moyang kita."
"Tidak ada yang menolak, kan kehidupan seperti itu?" Raja Loritz XI sambil mengulas senyuman miring di wajahnya.
"Jujur saja, saya lelah sekali dengan hubungan yang tidak sejahtera ini," katanya.
"Saya terus berpikir bagaimana caranya agar hubungan iblis dan manusia bisa terjalin kembali."
Munafik!
"Maaf, bolehkah saya menyela perkataan Anda?" sela ku dengan penuh keberanian sambil mengangkat telapak tanganku.
"Maaf, saudari Nica. Raja Loritz XI belum menyelesaikan kalimatnya!" ucap iblis itu yang bertugas sebagai pihak damai.
Aku menghela nafas panjang.
"Jangan terlalu terburu-buru, Rosabelle!" kata Raja Loritz XI sambil tertawa kecil. "Saya tahu Anda ingin menuduh semua yang saya katakan bohong, kan?"
Sabar, Rika! Sabar!
Darahku mulai melambung tinggi. Namun, harus kutahan emosi jiwa ini. Pandangan Komandan Regu Clèment menatap ke arahku, menyuruhku untuk tetap bersabar. Aku pun membalas tatapan kedua mata hijaunya, lalu tersenyum tipis.
"Mungkin kalimat saya terkesan melebih-lebihkan. Akan tetapi, yang saya ucapkan adalah fakta!" tegasnya.
"Saya memutuskan untuk menghentikan aksi kami dalam menaklukkan wilayah kalian, karena kami sadar bahwa yang kami lakukan itu salah!"
"Saya harap kalian dapat memahami kalimat saya dan dapat memaafkan kesalahan kami. Terima kasih!" jelas Raja Loritz XI. Menutup sesi bicaranya di muka umum.
"Baik, terima kasih Yang Mulia, Raja Loritz XI!" kata iblis yang menjadi penengah dalam konferensi ini.
"Dipersilahkan perwakilan dari kaum manusia, Nica Rosabelle untuk berbicara!"
"Baik, terima kasih sebelumnya," kataku sambil mengulas senyuman terpaksa.
"Maaf sebelumnya, saya merasa kalimat Anda yang menyatakan bahwa, Anda merasa lelah dengan hubungan yang tidak sejahtera antara iblis dan manusia. Saya rasa perkataan Anda itu tidak sesuai dengan kenyataannya!" jelasku dengan membalas tatapan Raja Loritz XI dengan tatapan kesal.
"Anda menyatakan demikian, tapi Anda masih saja menindas kaum manusia!"
Seketika suasana berubah menjadi mencekam.
"Kami sebagai umat manusia merasa sangat tertindas oleh perbuatan kalian yang semena-mena," jelasku. "Kalian justru telah menganggap kami sebagai makanan, padahal daging hewan-hewan lainnya lebih baik daripada manusia!"
"Kalian sendirilah yang memutuskan hubungan persaudaraan antara iblis dan manusia!" bentakku. "Kalian yang membuat segalanya menjadi buruk dan mengundang malapetaka!"
"Mohon tenang, saudari Nica Rosabelle!" seru sosok iblis yang menjadi penengah itu. Dirinya berusaha untuk meredamkan amarahku.
"Kenapa Anda tiba-tiba memarahi saya?" Raja Loritz XI memasang wajah seolah-olah bingung terhadapku, sangat berkebalikan dari dalam lubuk hatinya.
"Bukankah tujuan kita ingin berdamai?"
"Mohon untuk kedua belah pihak agar tetap tenang!" seru sosok iblis tersebut. Berusaha untuk menghentikan terjadinya perdebatan antara kami berdua.
"Saya hanya menyampaikan keluh kesah umat manusia kepada kalian semua yang hadir pada hari ini."
"Bila kalian tidak memperkeruh suatu masalah, mungkin kehidupan antar keduanya bisa diselesaikan secara musyawarah sampai saat ini."
"Kami sebagai manusia sangat menginginkan tercapainya kehidupan yang adil dan sejahtera," jelasku. "Kami hanya ingin hidup bahagia tanpa adanya penindasan."
Seketika air mata dari dalam kelopak mataku keluar membasahi wajahku. Berbagai wajah orang yang gugur dalam peperangan melawan iblis seketika terlintas di otakku. Memori-memori kebahagiaan sebelum mereka tiada seketika ikut terlintas. Hal tersebut semakin mengundang air mataku jatuh membasahi pipiku dalam jumlah banyak.
"Dengan kalian yang terus menindas kami, tidak akan ada habisnya dan menyebabkan rasa ketidakpuasan kalian semakin bertambah!"
"Dan juga kalian telah melanggar hak asasi manusia yang sangat dijunjung tinggi kedudukannya."
"Sekian, terima kasih!" ucapku yang langsung mengakhiri sesi bicaraku dalam konferensi ini.
"Baik, terima kasih, saudari Nica Rosabelle atas pernyataan Anda!" katanya sambil tersenyum.
__ADS_1
Tiba-tiba Komandan Regu Clèment memberikanku sapu tangannya.
"Hapus air matamu," ucapnya sambil tersenyum menatapku.
"Terima kasih banyak, Clèment!" jawabku sambil membalas senyumannya dan mengambil sapu tangannya.
Akan tetapi, ketika sapu tangannya menyentuh wajahku, air mata seketika kembali mengalir deras dan membasahi sapu tangannya.
Aroma coklat ini ....
Mengingatkanku dengan aroma wangi Kapten Jan dan Louis yang pernah memekakkan indera penciumanku. Hatiku benar-benar sakit sekali mengingat mereka. Namun, aku harus menahan tangis ini di situasi yang sedang mencekam saat ini.
Aku tidak boleh terlihat lemah di hadapannya!
Tatapan dari Raja Loritz XI dan lainnya yang menusuk masih kurasakan.
"Berdasarkan pernyataan dari kedua belah pihak, telah dihasilkan poin-poin penting yang bertujuan menciptakan damai antara kedua belah pihak yang berselisih," jelas iblis itu. "Perjanjian ini bersifat mengikat, tidak memihak dari salah satu sisi, dan menguntungkan kedua belah pihak,"
"Saya akan membacakan poin-poin perjanjiannya," lanjutnya sambil menggenggam berlembar-lembar kertas di tangannya. "Mohon didengarkan dengan seksama!"
Suasana konferensi pun menjadi hening seketika.
"Telah terbentuknya Perjanjian Astaroth yang bertepatan pada malam bulan purnama dan menghasilkan keenam poin penting untuk mendamaikan kedua belah pihak."
"Poin pertama, kaum iblis tidak lagi menjajah manusia. Sebaliknya pun juga kaum manusia tidak menjajah kaum iblis sebagai bentuk pembalasan dendam."
"Poin kedua, konsumsi daging manusia dihentikan mulai detik ini dan digantikan dengan hewan jenis mamalia atau sebagainya."
"Poin ketiga, kaum iblis dan kaum manusia mulai hidup berdampingan dan seluruh tembok pembatas antar dua kehidupan dihancurkan."
"Poin keempat, kaum iblis berhak mengganti rugi segala kerugian yang telah mereka perbuat kepada kaum manusia selama berabad-abad lamanya."
"Poin kelima, kaum manusia harus saling berbagi dalam segala aspek kehidupan dengan kaum iblis sebagaimana pernah dilakukan sebelum insiden ini terjadi."
"Poin terakhir, kebijakan-kebijakan iblis yang terbukti dianggap menyengsarakan umat manusia harus dihapus dan diganti dengan kebijakan lain. Apabila pihak iblis tidak menggantinya atau mengganti kebijakan tersebut dengan memiliki tujuan yang sama pula dengan kebijakan sebelumnya, maka akan diberikan sanksi yang tegas."
"Apa ada yang ingin menyanggah?" tanya iblis itu.
"Tidak," jawab Raja Loritz XI.
"Saya rasa itu sudah jelas!" jawabku.
"Baiklah, dipersilahkan untuk kedua belah pihak untuk menandatangani perjanjian ini!" katanya dan langsung memberikan lembar kertas perjanjian tersebut kepadaku.
Aku langsung menandatangani perjanjian itu di kolom yang sudah disediakan menggunakan pena bulu yang terletak di tiap sisi meja. Kemudian aku langsung memberikan kertas tersebut kepada Komandan Regu Clèment.
"Firasatku tidak enak," bisik Komandan Regu Clèment.
"Apa kau sedari tadi memperhatikan tatapannya?"
"Saya tidak berani menatapnya," jawabku pelan. "Saya merasakan dia terus menatap saya."
"Iya memang," jawabnya. "Tatapan licik tepatnya."
Setelah giliran kami menandatangani perjanjian perdamaian, kertas tersebut langsung diberikan kepada pihak iblis. Akan tetapi, tampaknya Raja Loritz XI membisikkan sesuatu kepada rekan di sampingnya yang disertai dengan senyuman licik yang tersirat di wajah mereka.
Raja Loritz XI sama sekali tidak mengambil pena bulunya.
Pertanda tidak baik.
Seketika tatapanku dan Raja Loritz XI bertemu.
"Jangan harap kalian mendapatkan kedamaian di dunia ini," katanya sambil tersenyum licik.
"SERANG!!"
Sebelum Raja Loritz XI menyergap kami di ruangan ini, sebagian anggota Aliansi Gabungan Orion lainnya yang ditugaskan untuk mengawasi acara konferensi ini dari luar, langsung melancarkan serangan untuk melemahkan pertahanan di luar kastil berdasarkan aba-aba dariku.
Inilah gunanya latihan insting selama sebulan.
Karena aku tahu bahwa iblis tidak akan pernah baik kepada manusia karena nafsu dan kepuasan yang sudah mengakar dalam diri mereka.
Raja Loritz XI langsung diamankan oleh beberapa prajuritnya.
"Clèment, apa Anda bisa atasi mereka terlebih dahulu?" tanyaku.
"Tentu saja!" jawabnya. "Kau pergilah dan kejar Raja Loritz XI!"
"Jangan sampai dia selamat!" perintahnya.
"Baiklah," ucapku sambil tersenyum menatapnya.
"Saya akan kembali secepatnya!"
"Semoga beruntung!" ucapnya sambil membalas senyumanku. Kedua sorot matanya menampilkan sebuah harapan kepadaku.
Aku langsung meninggalkan dirinya yang sedang melawan sekumpulan iblis dan dibantu dengan anggota pasukan lainnya yang masih bertahan.
Bertahanlah, Komandan Regu Clèment!
Bertahanlah semuanya!
Aku akan kembali membantu kalian semua!
"Raja Loritz XI di mana kau?!!" gerutuku. Diriku langsung menyusuri anak tangga di suatu lorong kastil yang cukup tinggi. Mencari wujud Raja Loritz XI berada.
Seketika pandanganku tertuju pada dirinya yang sedang dikawal oleh beberapa prajuritnya di suatu ruangan. Akan tetapi, terdapat sebuah celah yang memungkinkan diriku untuk bisa langsung menikam dirinya.
Dengan serangan secepat kilat, aku langsung mengeluarkan sepasang kuku yang panjang dari jari-jemariku dan menikam Raja Loritz XI.
Akan tetapi, aksiku berhasil digagalkan oleh prajuritnya tersebut.
"Serang dia!" seru Raja Loritz XI menyuruh anak buahnya untuk membunuhku.
Akan tetapi, sepintar-pintarnya mereka menghindari seranganku, akhirnya mereka tewas dengan luka tusukan di dada mereka. Karena kecepatan mereka yang lebih lambat dari dugaanku, membuat diriku dengan mudah menghancurkan jantung mereka.
Kini diriku dan Raja Loritz XI saling berhadapan satu sama lain.
Cahaya bulan purnama merah memasuki setiap celah jendela di kastil yang menyeramkan ini, mewarnai suasana yang mencekam menyelimuti kami berdua di tempat yang kurang pencahayaan.
"Inilah sosok setengah iblis yang paling kutunggu!" kata Raja Loritz XI sambil tertawa kecil.
"Aku sungguh muak sekali denganmu!" bentakku.
"Oh, ya?"
Tanpa jeda, aku langsung melancarkan serangan ke arah Raja Loritz XI tepat di jantungnya. Akan tetapi, aksiku meleset dan alhasil sepasang kuku panjang milikku menikam perutnya.
Dirinya pun terjatuh sambil mengeluarkan banyak darah melalui mulut dan perutnya.
"Rata-rata seorang iblis memiliki kekuatan regenerasi dalam tubuhnya lambat atau bahkan tidak bergenerasi sama sekali,"
Kalimat dari Mama Mathilda yang selalu terekam oleh otakku.
Terbukti sekali!
Aku melihat hal tersebut dengan kepala mataku sendiri secara langsung.
Terjadi keheningan di antara kami berdua. Hanya suara batuknya yang terdengar sambil mengeluarkan bercak darah.
"Rosabelle," panggilnya tiba-tiba. Kepalanya menunduk tanpa menatapku yang berdiri di hadapannya. Kedua lututnya sebagai tumpuan badannya yang lemah.
"Kemarin kau bertemu dengan anakku, kan?" tanyanya tiba-tiba.
Seketika diriku terkejut mendengar pertanyaannya.
"A—anakmu?"
__ADS_1
"Tiberiu," jawabnya.
"Kau bertemu dengannya, bukan?" tanyanya sekali lagi.
Aku masih terdiam.
"Itu adalah terakhir kalinya kau bertemu dengannya."
Hah?
"APA MAKSUD KAU?!!" bentakku kepadanya.
"Kami menangkap dirinya setelah kepergian kalian dan kami memberikannya hukuman mati karena telah meninggalkan kerajaan," jelasnya.
"ITUKAN ANAKMU!!" pekikku.
Dirinya tidak menjawab pernyataanku. Wajahnya terus menunduk dan terhalangi oleh rambut putihnya yang tergerai panjang.
Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?!
Setelah Louis, Simas, kemudian Oliver ….
Tiba-tiba tanpa sepengetahuanku, Raja Loritz XI memanfaatkan situasi ini untuk membunuhku. Dirinya langsung bangkit dan menikam tepat di jantungku menggunakan pedang runcing.
Raut wajah puas tersirat jelas sambil menatapku.
"Kena kau!"
Pedang runcing tersebut seketika penuh dengan darahku dan langsung dicabut secara paksa sehingga menimbulkan percikan darah merah mengenai wajah dan pakaiannya. Aku langsung tumbang melemah tepat di hadapannya. Darah mengalir deras dari jantungku.
Sakit sekali!!
Raja Loritz XI tertawa puas di hadapanku yang sedang sekarat.
"SETENGAH IBLIS YANG SANGAT BODOH!" teriaknya di tengah ruangan yang hening dan remang yang disusul dengan tawanya yang menggema di setiap sudut ruangan yang luas ini.
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Aku terus menahan pendarahan yang terus keluar dari dadaku. Raja Loritz XI terus meracau tidak jelas sambil berjalan mengelilingi diriku yang terbaring di lantai yang dingin.
"Sudah lama sekali aku ingin bertemu denganmu!" katanya dengan nada mengejek.
"Namun setelah aku bertemu dirimu, aku kira kau cerdas dalam menyerang. Ternyata bodoh sekali!"
Kesabaranku benar-benar sudah habis mendapatkan hinaan darinya.
Sialan kau!
"Kalau kau cerdas, kenapa kau tidak bisa membunuhku?" ejeknya. Dirinya menantangku untuk membunuhnya.
Okelah kalau Anda mengatakan demikian!
Dengan kecepatan penuh dan menahan segala penderitaanku, aku langsung menikam jantungnya dari belakang. Raja Loritz XI seketika tidak melanjutkan racauannya dan terdiam mematung. Darah merah keluar dari mulut dan dadanya.
Aku semakin merobek jantungnya. Melampiaskan segala penderitaan hidupku kepadanya agar dirinya dapat memahami penderitaan umat manusia yang terjadi selama berabad-abad.
Dirinya langsung tumbang penuh darah. Kedua matanya yang berwarna merah menyala melotot.
Kini tidak ada seseorang pun hidup di ruangan ini.
Aku tumbang seketika di sampingnya yang sudah tidak bernyawa.
Sulit sekali diriku untuk mengatakan sesuatu. Ajal benar-benar sudah hadir tepat di depanku. Malaikat maut sedang menatapku yang sedang tersiksa. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk tertidur selamanya.
Apakah aku akan mati di sini?
Komandan Regu Clèment, maafkan aku tidak bisa menemuimu.
Takdir berkata lain.
Momen selama konferensi berlangsung adalah momen terakhir kita mengobrol.
Sebelum aku mati, aku ingin sekali melihat keluarga dan teman-temanku di duniaku. Aku ingin melihat bagaimana kabar mereka saat ini.
Akan tetapi, hal tersebut tentu tidak akan bisa terjadi.
Riwayatku sudah tamat di sini.
"Nica," Tiba-tiba muncul suara yang menggema, memanggil namaku.
"Louis?" Seketika dirinya muncul tepat di hadapanku yang sedang terbaring sekarat.
Senyumannya menghangatkan suasana yang mencekam. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat kedua mataku membulat menatapnya.
"Selamat, kau telah menyelesaikan misimu!" ucapnya sambil tersenyum.
"Kau telah mewujudkan cita-cita umat manusia yang selama ini terpendam."
"Benarkah aku telah mewujudkannya?!" tanyaku untuk memastikan.
Louis mengangguk pelan.
"Sekarang saatnya kau istirahat, ya."
"Ikutlah denganku!" ajaknya sambil mengulurkan tangannya di hadapanku.
"Ke mana?" tanyaku heran.
"Ke suatu tempat yang abadi dan indah. Kau pasti menyukainya!" jawabnya sambil mengulas senyuman hangat dan menatapku.
"Mereka sedang menunggumu."
Aku pun ikut tersenyum menatapnya dengan air mata yang mengalir deras membasahi wajahku.
Diriku menjawab uluran tangannya.
--
Clèment's POV
Sial! Mereka tidak ada habisnya!
Clèment terus melawan beberapa iblis yang menghadang dirinya. Sejumlah anggota Aliansi Gabungan Orion yang bertugas mengawasi pergerakan iblis di luar, seketika mereka mulai memasuki ruangan konferensi.
"Alexa, berikan aku mana!"
Perempuan kerdil itu langsung menambahkan mana Clèment serta meningkatkan lapisan perisai kepadanya.
Beberapa iblis yang mengepung mereka semakin gencar membuat kloning-kloning baru sehingga berhasil membuat Clèment dan beberapa orang lainnya merasa kelelahan.
Kekuatan Clèment semakin melemah.
Akan tetapi, sebuah keajaiban datang menghampiri mereka. Beberapa iblis berhasil tumbang hanya dengan sekali tusukan di dada mereka.
"Apakah kau masih hidup?"
Seketika kedua mata Clèment membulat menatap sosok yang hadir di hadapannya.
"Jan …." Clèment terdiam mematung menatap kehadiran Jan secara tidak terduga.
"KAPTEN JAN!!!" seru Alexa girang melihat Jan hadir di tengah situasi genting seperti ini. Jan hanya tersenyum menatap Alexa yang menyerupai anak ayam yang senang karena mendapat makanan dari induknya.
"K—kau …." Clèment tampak kesusahan menyelesaikan kalimatnya saking tidak percaya dengan sosok di hadapannya.
"Maafkan aku atas ...."
"Aku sangat senang atas kehadiranmu di sini, Jan!" sela Clèment sambil tersenyum. Tampak seulas senyuman bahagia di wajahnya sambil menatap kedua mata Jan.
__ADS_1
"Ayo kita bersama-sama menumpas habis seluruh iblis yang menganggu itu!"