
Louis's POV
Louis harus mencari keberadaan Komandan Regu Clèment.
Tiba-tiba dirinya melihat Komandan Regu Clèment yang sedang berbincang-bincang dengan senior lainnya.
"Clèment!" panggil Louis dari kejauhan. Komandan Regu Clèment pun langsung menoleh ke arahnya.
Setelah Louis memanggil Komandan Regu Clèment, dia langsung mengatakan sesuatu kepada teman-temannya untuk mengobrol lain waktu sehingga mereka berangsur-angsur meninggalkan dirinya sendiri di tengah keramaian. Louis langsung menghampiri Komandan Regu Clèment yang tidak jauh darinya.
"Hmm?" Seperti biasa, Komandan Regu Clèment memasang raut wajah datar sambil menatap Louis.
"Ini penting sekali!"
"Tenangkan dirimu!" ucapnya. Komandan Regu Clèment menyadari bahwa cara bicara Louis yang tidak biasa.
"Ini mengenai ingatan Nica."
"Oh, apakah berhasil?" tanyanya santai.
"Iya, t—tapi .... " Louis tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Komandan Regu Clèment menepuk pundak Louis dan memberikan sebotol air mineral. Dirinya memang lelah karena dia terus berlari mencari Komandan Regu Clèment berada. Louis langsung meraih sebotol air mineral dari tangan Komandan Regu Clèment dan meneguknya sampai setengah habis.
"Ini mengenai Tiberiu!" lanjut Louis setelah dirinya selesai meneguk air mineral.
"Apa?" Kedua mata Komandan Regu Clèment membulat.
--
Nica's POV
"Dia memiliki nama samaran Oliver," ucapku.
"Sepertinya Tiberiu sengaja memakai nama samaran agar dirinya tidak diketahui oleh kaumnya sendiri," ucap Louis.
"Tapi yang masih dipertanyakan," kataku. "Tujuan Tiberiu itu bergabung ke survival game apa?"
"Kan tidak mungkin dibolehkan sesama kaum iblis masuk kepermainan seperti itu, bukan?" jelasku lagi. Seketika suasana menjadi hening.
"Hmm," Komandan Regu Clèment tampak menyimak. "Ini aneh sekali."
"Menurut saya, alasan Tiberiu bergabung ke survival game mungkin karena dirinya ingin merasakan alur permainan itu dan dia menyamar jadi manusia," jelas Louis.
"Nah, bisa jadi!" ucapku.
"Dan juga," kataku. "Oh iya aku baru ingat kalau aku tidak memegang senapan serbuku."
"Ada apa memangnya?" sela Komandan Regu Clèment penasaran. Tangannya dalam posisi silang di dada sambil bersender di dinding sel.
"Di bagian badannya ada sebuah kalimat," kataku. "Nah, kalimat tersebut persis seperti senapan serbu milik Oliver!"
"Tiberiu maksudmu?" tanya Louis.
Aku mengangguk. "Maaf aku lebih biasa memanggilnya Oliver ketimbang Tiberiu."
"Apalagi itu jenisnya sama pula!" lanjutku. "AK-47."
Pandangan Komandan Regu Clèment dan Louis tertuju padaku.
"Dari mana kau dapatkan senapan serbu itu?" tanya Komandan Regu Clèment yang penasaran.
"Dari ibu angkatku dulu, Mama Mathilda," jawabku.
"Aku curiga apakah Tiberiu benar-benar anak dari Mama Mathilda," kataku. "Dalam ingatanku, aku dijelaskan oleh kembaran Mama Mathilda yang telah mati."
"Dia bilang kalau Mama Mathilda punya anak dari Raja Iblis, yaitu Raja Loritz XI dan anaknya itu kabur dari kaumnya sendiri," jelasku.
"Jelas dong kalau yang dimaksud dia itu Oliver!"
"Kita tidak bisa langsung mengambil keputusan seperti itu," ucap Komandan Regu Clèment. "Kita harus selidiki terlebih dahulu."
"Lah?" kataku. "Selidiki lebih lanjut bagaimana?"
"Udah jelas banget, Clèment, buktinya juga sudah ada!" jelasku.
"Dalam peraturan tiap aliansi, suatu masalah walau sudah banyak buktinya sekalipun, harus diselidiki lebih lanjut agar masalah tersebut lebih jelas dan terjamin kebenarannya!" jelas Komandan Regu Clèment.
Kok kesel, sih!
__ADS_1
Hampir memulai perdebatan dengan Komandan Regu Clèment, akhirnya aku memutuskan untuk mengalah walaupun perasaanku sudah mencapai titik kekesalan setelah mendengar pernyataan Komandan Regu Clèment.
"Tapi—" Inginku sela pernyataannya, namun karena posisiku adalah anak buahnya, maka tidak mungkin aku menyela pernyataannya. Aku akan dianggap kurang ajar bila aku membantah yang lebih tua. Maka dari itu, aku harus mengalah dan menerima pernyataannya.
Aku menghela nafas.
"Terserah Anda saja," kataku dengan pasrah.
"Kau terlalu buru-buru, Nica!" ucap Komandan Regu Clèment. "Ada apa?"
Aku agak terkejut setelah mendengar perkataannya yang seolah-olah berusaha untuk mengintrogasiku. "Entahlah, saya hanya lebih suka jika suatu masalah diselesaikan dengan cepat bahkan seperti masalah ini sudah jelas sekali buktinya!"
"Kau belum bisa sepenuhnya menjadi pahlawan yang benar untuk umat manusia," katanya. "Egomu masih tinggi."
"Seorang pahlawan harus bisa mengendalikan egonya," jelasnya lagi. Kalimatnya membuat hatiku terasa sakit seketika.
"Baik, maafkan aku."
Komandan Regu Clèment tiba-tiba menepuk pundakku. "Aku senang ingatanmu telah kembali total."
Pandanganku tertuju padanya. Raut wajahnya pun tersenyum.
"Maaf, Clèment, saya mau bertanya," tanyaku gugup. Berusaha untuk berbicara normal namun rasa gugup ini semakin menjadi-jadi.
"Darimana Anda tahu bahwa saya memiliki ingatan yang kurang baik?"
"Dari pacarmu!" ucapnya dengan santai sekali.
Aku butuh berpikir atas perkataan Komandan Regu Clèment, namun aku menyadari bahwa yang dia maksud adalah ... Louis?
Raut wajah Louis langsung berbeda. Dari datar menjadi tersipu malu sekaligus panik.
"Aku tidak sengaja curhat kepada Clèment saat malam hari setelah kejadian di kota Azalea," jelasnya. "M—maaf."
Aku tersenyum. "Santai aja kali, tegang amat!"
"Terima kasih banyak, Clèment!" kataku sambil tersenyum menatap kedua mata Komandan Regu Clèment. Komandan Regu Clèment juga membalas senyumanku.
"Louis takut kau gila," ucap Komandan Regu Clèment dengan wajah sinisnya dengan kedua tangan yang dilipatkan di dada.
"Anu—" Louis terbata-bata.
"Dia khawatir denganmu tahu!" ucap Komandan Regu Clèment sambil tersenyum miring. "Wajahnya sedih terus sambil duduk di tangga halaman!"
Kulihat ekspresi wajah Louis yang mulai salah tingkah. Dia pun menunduk sambil mengamati tiap balok lantai. Aku hanya tersenyum melihat tingkah laku Louis yang salah tingkah dan malu.
Sebegitunya Louis khawatirnya padaku. Lucu sekali!
"Oh ya, ekspedisi bersama ke Desa Kimo akan dilaksanakan besok pagi pukul 07.00," kata Komandan Regu Clèment tiba-tiba.
"Apakah saya boleh ikut?" tanyaku.
"Kau masih dalam masa tahanan," ucapnya. "Selesaikan dulu masa tahananmu!"
"Ya Tuhan!" Aku cukup sedih bahwa diriku tidak boleh mengikuti ekspedisi ke Desa Kimo besok karena aku masih dalam masa tahanan. Padahal bila dirasakan terus-menerus di dalam sel seperti ini, bosan sekali!
"Louis," panggil Komandan Regu Clèment.
"Malam ini ada rapat mengenai ekspedisi besok."
"Aku harap kau hadir tepat waktu!" ucapnya.
"Baik, Clèment!" ucap Louis sambil melakukan salam hormat di hadapan Komandan Regu Clèment.
"Saya harap ekspedisi kali ini dapat berjalan dengan lancar!" ucapku. Berusaha untuk bersabar dengan masa tahananku yang masih berlangsung lama.
"Aku baru ingat," kata Komandan Regu Clèment. "Temanmu yang kerdil, aku lupa namanya."
Kerdilnya sama kayak kau juga!
"Dia juga ikut serta dalam ekspedisi ini!" lanjutnya. "Dirinya sekarang sedang sibuk mempersiapkan ekspedisi buat besok pagi saking semangatnya."
Ternyata dibalik sifat dan kesan cueknya itu, Komandan Regu Clèment peduli terhadap anak buahnya. Sampai-sampai dirinya mengenal Alexa.
Aku cukup kaget mendengar kabar bahwa Alexa ikutserta dalam ekspedisi ini.
"Oh itu Alexa Lumina!" ucapku.
"Iya itu maksudku." jawab Komandan Regu Clèment. Dia tiba-tiba menuju meja kayu di samping ranjangku di mana diriku terduduk. Pandangannya tertuju pada secarik kertas tersebut di atas meja kayu dan kemudian mengambilnya.
__ADS_1
"Itu kertas yang Anda berikan kepada saya," ucapku. "Di belakangnya ada kode biner mengenai orang-orang yang saya temui di survival game berdasarkan ingatan saya."
"Oh," Hanya satu kalimat yang keluar dari mulutnya. Pandangannya sambil mengamati isi kertas tersebut.
Tiba-tiba dirinya terdiam,
Kaku,
Seperti patung.
Gelagatnya aneh sekali tiba-tiba. Kedua pandangannya kosong sambil mengamati isi kertas itu.
Pandanganku dan Louis tertuju pada Komandan Regu Clèment.
"Clèment, apa kau baik-baik saja?" tanya Louis sambil menghampiri Komandan Regu Clèment yang terdiam. .
"Kau kenal Kasie?"
"Kasie?" tanyaku bingung. "Maaf saya tidak mengerti apa yang Anda tanyakan."
"Jangan berbohong padaku!" ucapnya.
Siapa Kasie itu?
Seketika otakku semakin dibuat bingung olehnya. Jelas kalimat-kalimat biner yang kutuliskan itu semua berdasarkan apa yang aku lihat di dalam ingatanku dan secara tidak sadar.
Tiba-tiba, Komandan Regu Clèment bergegas keluar dari dalam sel. Aku sontak terkejut atas apa yang tiba-tiba terjadi padanya.
"Clèment?!" kataku sambil langsung menyusul dirinya berlari. "TUNGGU, SAYA BENAR-BENAR TIDAK PAHAM ATAS APA YANG ANDA TANYAKAN PADA SAYA!"
Langkahnya terhenti di koridor bawah tanah. Lilin-lilin di setiap sudut koridor bawah tanah seakan-akan menyaksikkan kejadian ini.
"Semua yang saya tulis di kertas ini berasal dari alam bawah sadar saya sendiri!" tegasku.
Wajahnya tidak menoleh ke arahku sedikitpun.
"Tolong sekali lagi, siapakah Kasie itu?" ucapku dengan nafas yang tersengal-sengal akibat berlari mengejar dirinya. "Kenapa mendadak gelagat Anda berubah?"
"Ini bukan urusanmu!" jawabnya. "Ini masalah pribadiku dan kau tak berhak mengetahui hal tersebut."
"Saya menawarkan diri untuk membantu menyelesaikan masalah Anda," kataku. "Ini ada sangkut-pautnya dengan ingatan saya!"
"Tidak!" tegasnya. "Aku tidak percaya dengan ingatan bodohmu itu."
Seketika diriku terasa ditusuk oleh ribuan panah, tepat mengenai ulu hatiku yang paling dalam.
"SEKARANG MENJAUHLAH DARIKU!" bentaknya dengan nada meninggi. Dari suaranya, tampak dirinya memendam suatu perasaan yang amat mendalam.
"Clè—" Sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Tiba-tiba,
Hilang ....
Komandan Regu Clèment menggunakan kekuatan sihirnya untuk menghilang.
Ada masalah apa, sih, sebenarnya?!
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan seputar Clèment dan Kasie di dalam benak otakku. Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus segera dikupas sekarang juga, namun tidak mungkin jika harus dijawab sekarang.
Siapakah Kasie itu?
Apa hubungannya dengan Komandan Regu Clèment?
Komandan Regu Clèment menyembunyikan sesuatu dariku. Ekspresi wajahnya yang tersenyum seperti normalnya, berubah menjadi penuh kebencian dan kesedihan.
Aku bisa merasakan itu semua.
Kini hanya aku sendiri di tengah-tengah remangnya suasana koridor bawah tanah yang menyeramkan.
"Nica!" seru Louis teriak memanggilku yang sedang berdiri kaku. "Kau baik-baik saja?"
"Tidak sama sekali," jawabku. "Ada yang disembunyikan dari Komandan Regu Clèment."
"Aku harus gimana?"
Wajahnya di dekatkan padaku dan berkata, "Jangan paksakan dirimu, biarkan Komandan Regu Clèment menenangkan dirinya."
"Aku yakin secepat mungkin dirinya akan kembali normal."
"Semoga saja!" ucapku. Masih tidak percaya dengan perubahan sikap Komandan Regu Clèment yang drastis.
__ADS_1
Seperti bukan dirinya yang kukenal...