INJUSTICE : Save Human Or Surrender

INJUSTICE : Save Human Or Surrender
#10 Kunjungan (REVISI)


__ADS_3

Nica's POV


"Whoaa!" Satu kata keluar dari mulutku. Betapa megahnya markas Aliansi Azalea seperti istana dongeng yang dikelilingi oleh dedaunan dan bunga Azalea bermekaran yang menjalar di setiap sudut gedung.


Hampir seluruh anggota pasukan Aliansi Amdis ikutserta dalam kunjungan ini. Kami berkendara menggunakan kuda dan mulai memasuki gerbang markas Aliansi Azalea.


Sesuai namanya "Azalea" yang berarti bunga Azalea yang menjadi logo khas aliansi ini.


Kami disambut baik dengan Komandan dan Kapten dari Aliansi Azalea beserta para pasukannya yang sigap sempurna. Aku tidak mengenal siapa mereka, yang pasti mereka atasanku yang harus kuhormati.


Kami semua turun dari tunggangan kuda dan mengangkat tangan kanan kami untuk berhormat di hadapan Komandan dan Kapten dari Aliansi Azalea. Aku yang berada di belakang Komandan Regu Clèment dan Komandan Regu Hannah, hanya menyimak pembicaraan antara Kapten Jan dan Komandan Lucian dengan Komandan dan Kapten setempat.


Sepertinya penting sekali ....


Kulihat wajah-wajah para pasukan dari Aliansi Azalea tampak asing sekali. Rata-rata dari mereka jangkung sekitar 170cm ke atas.


Louis yang berada di sampingku juga sama memerhatikan pasukan dari Aliansi Azalea dengan tatapan tajam. Wajahnya yang dingin dan datar menusuk mata mereka. Seperti juri killer dalam kompetisi model layaknya.


Alexa yang berada di sebelah Louis memasang ekspresi wajah setengah mengantuk karena semalam dia bergadang.


Rin yang berada agak jauh dariku, kedua matanya tampak lemas. Aku tidak tahu, aku merasakan bahwa setelah ekspedisi kemarin, dirinya berubah menjadi menjauhiku.


Aku ingin menanyakan hal tersebut, namun sulit sekali untuk menanyakannya. Otakku penuh akan pertanyaan dari yang berusaha tidak ingin suudzon, malah sebaliknya.


Kalau aku gak nanyain, malah bakal banyak negative thinking, hmm ....


Langit pagi mulai bersinar. Matahari muncul dari Timur dan menyinari kota Azalea yang sejuk dan indah.


Kami para pasukan diperintahkan oleh Komandan Lucian untuk berbaur dengan pasukan Aliansi Azalea sebelum dirinya meninggalkan kami di halaman markas yang cukup luas ini. Dirinya mengikuti langkah Komandan dan Kapten Aliansi Azalea ke suatu ruangan dengan melewati koridor yang cukup terbuka, sehingga cahaya matahari masuk dan menyinari koridor tersebut.


Beberapa komandan regu, termasuk Komandan Regu Clément juga mengikuti pergerakan Komandan Lucian dan Kapten Jan. Mereka tampak harus membicarakan suatu persoalan yang sangat penting sekali.


Aku terdiam selama beberapa menit, memerhatikan Komandan Lucian dan Kapten Jan beserta beberapa Komandan Regu lainnya yang mulai berjalan dan menghilang dari pandanganku karena semakin jauh keberadaannya. Diriku juga sambil memegang tali kuda yang kutunggangi,


Kuda putih yang cantik.


Sepertinya dia bingung terhadapku sekarang.


"Oi!" seru Louis. Dia mengagetkanku yang sedang melamun sehingga aku mengucapkan kata-kata melantur saat dirinya menepuk pundakku.


"Kaget, ya?" tanyanya.


"Ya jelas kagetlah et dah!"


"Maaf."


"Apaan, sih?" tanyaku dengan suara agak meninggi, tanpa memandang wujudnya yang kini berdiri di sebelahku.


"Kau sendiri kenapa?" tanyanya balik.


Dih.


"Bengong!" jawabku ketus.


"Kau tidak lihat sekitarmu?"


Aku langsung menoleh kanan–kiriku. Tampak beberapa orang menatapku heran. Pandangan mereka seolah-olah sedang melihat orang gila di tengah dunia. Ternyata hanya aku saja yang masih berdiri di tengah halaman yang luas sambil bersama seekor kuda putihku yang cantik dengan penuh percaya diri.


Bodoh banget!


"Oke!" ucapku sambil bergerak langsung meninggalkan Louis di tengah-tengah halaman. Aku langsung menuntun kuda putihku ke kandang kuda khusus yang sudah tersedia.


Namun, ada suatu hal yang terlintas di pikiranku.


"Kandangnya dimana?" tanyaku pada Louis. Langkahku terhenti seketika dan berbalik ke arah Louis.


"Itu!" jawabnya sambil menujuk kandang kuda dengan jari telunjuknya.


"Oke, makasih!" jawabku sambil membawa kudaku pergi. Ia mengendus terus setiap kali aku tarik tali yang mengikatinya.


Tiba-tiba Louis berlari menyusulku yang sedang berjalan menuju kandang kuda.


Dia menemaniku.


Terjadi keheningan di antara kami berdua. Diriku masih diselimuti perasaan malu dengan hal yang terjadi barusan.


Sesampainya di kandang kuda, Louis membantuku mengikat tali kudaku di sebuah pegangan besi agar kudaku tidak kabur dan bergerak lebih.


"Selesai!" ucapnya. Dirinya langsung menutup pagar kayu yang hanya menutupi sebagian badan kuda sehingga wajah kuda putih milikku masih bisa terlihat dari luar.


Aku dan Louis langsung keluar dari kandang kuda dan berjalan-jalan di sekitar halaman markas yang penuh orang-orang dari Aliansi Amdis sekaligus juga dari Aliansi Azalea sendiri. Banyak dari mereka sudah melakukan interaksi satu sama lain.


"Makasih banyak sudah membantuku!" kataku.


"Iya," jawabnya singkat. "Omong-omong, kenapa kau melamun?"


"Tidak ada."

__ADS_1


"Jangan bohong padaku!"


"Iya, aku tidak bohong!"


"Aku tahu kau bohong!" Louis bersikeras.


Aku menghela napas.


"Oke oke," kataku. "Aku hanya bingung saja."


"Kau menyadari tidak, sih, kalau Rin sejak setelah ekspedisi kemarin sikapnya berubah drastis?" tanyaku.


"Rupanya tidak hanya aku saja yang menyadarinya," ucap Louis.


Tidak kusangka ternyata tidak denganku saja Rin berperilaku seperti itu. Bahkan dengan Louis pun sama.


"Sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu."


--


Clément's POV


"Mengenai ekspedisi kemarin," kata Luna, selaku Komandan dari Aliansi Azalea. "Berita mengenai hal tersebut telah menyebar luas ke seluruh aliansi kemarin."


Tiba-tiba hening sekali di dalam ruang rapat ini. Hanya ada suara jarum jam yang bergerak mengelilingi setiap detiknya.


"Ya," ucap Lucian. "Namun, ada hal aneh yang telah terjadi kemarin."


Dia langsung meletakkan sebuah taring di dalam bungkusan ziplock di atas meja rapat yang berbentuk persegi panjang. Semua mata tertuju ke objek tersebut.


"Anggota Greer sudah menyelidiki taring ini," jelasnya. "Namun, masih menjadi misteri."


"Taring ini ditemukan di tempat kejadian matinya iblis-iblis secara misterius," lanjut Jan.


"Aneh sekali," ucap Hans, selaku Kapten dari Aliansi Azalea. Pandangan bingung sambil mengamati bungkus ziplock yang berisi taring misterius itu.


"Memang," ucap Lucian. "Padahal nihil sekali ada hewan di sekitar hutan tersebut."


"Apalagi hutan tersebut dipenuhi dengan banyaknya genangan air dan lumpur pengisap."


Luna tampak mengamati taring tersebut dengan seksama.


"Tim sayap kiri juga tiba-tiba diserang mendadak oleh mereka dengan sebuah ledakan bubuk mesiu," ucap Hans.


"Aku yakin ada dalang di balik penyerangan secara diam-diam yang telah menumbangkan seluruh tim sayap kiri," jelas Keiza dari Aliansi Azalea.


"Nah!"


"Coba aku amati!" ucap Jacob, selaku Komandan Regu dari Aliansi Azalea. Dirinya langsung meraih ziplock yang berisi taring dari genggaman Luna. "Mungkin aku bisa memecahkan masalah ini."


Dia pun langsung mengamati benda itu sambil mengerahkan kekuatannya yang bisa menyelidiki peristiwa yang terjadi pada suatu objek hanya dengan menyentuhnya. Pandangan kami semua tertuju pada Jacob.


"Aakh!" Jacob tampak kesusahan menyelidiki benda tersebut. "Aku tidak bisa menyelidiki benda ini,"


"Terdapat energi aneh yang sangat kuat pada taring ini!"


"Nihil berarti," ucap yang lain.


"Kita masih bisa menemukan masalah taring ini, pasti!" ujar Clèment. "Kita masih bisa memecahkan masalah ini dengan melakukan ekspedisi bersama ke Desa Kimo."


"Aku yakin pasti ada jawaban di sana!" lanjutnya lagi.


"Tapi untuk melakukan ekspedisi bersama," ucap salah satu orang dari Aliansi Azalea. "Cuaca sekarang sedang tidak mendukung!"


"Apalagi belakangan ini diperkirakan akan terjadi badai pergantian musim," lanjut pria itu.


"Kita harus nekat!" tegas Luna. "Kalau tidak sesegera mungkin, kerajaan iblis akan lebih banyak menguasai kota-kota manusia yang lebih besar!"


"Ya aku setuju!" ucap Illyana. "Karena semakin hari, kerajaan iblis semakin bergelora untuk menguasai dunia manusia."


"Dengan Aliansi Amdis dan Aliansi Azalea bekerja sama untuk misi ini, kemungkinan besar akan jauh lebih kuat untuk mengalahkan mereka yang memiliki kemampuan lebih!" ucap Jan.


"Boleh," ucap Clèment sambil menyimak pembicaraan mereka.


"Lusa pagi bagaimana?" tanya Lucian.


"Baiklah!" ucap Luna menyetujui ekspedisi bersama.


"Ya!" ucap yang lain.


"Apa ada pertanyaan atau usulan lain?" tanya Luna.


Tiba-tiba seseorang mengangkat tangan.


"Mungkin dalang di balik lumpuhnya tim sayap kiri adalah dia," ucap orang itu sambil melebarkan secarik kertas yang terlipat.


Si iblis buronan, Tiberiu.

__ADS_1


"Diketahui dia telah melarikan diri dari kaumnya dan berkeliaran di lingkungan manusia berdasarkan laporan langsung dari Garrison," ucap pria itu. "Untuk memangsa manusia."


"Banyak manusia yang tiba-tiba hilang di setiap wilayah setelah hadirnya dia di lingkungan manusia berdasarkan laporan yang aku dapatkan," tegasnya. "Masih belum diketahui di mana dia berada."


"Bisa jadi dia menyamar jadi manusia dan bergabung menjadi bagian dari kalian." kata orang itu.


Semua mata tertuju pada lembaran itu.


"Apa kita harus menyelidiki banyaknya pasukan dari Aliansi Amdis untuk memastikan?"


"Tapi setiap orang yang ingin menjadi pasukan, harus melakukan tes darah dan tes fisik terlebih dahulu!" ucap Hannah. "Mustahil bila ada iblis yang menyamar menjadi pasukan aliansi, apalagi Aliansi Amdis yang sangat ketat!"


"Tidak mungkin Tiberiu yang menjadi dalang itu semua!" lanjut Hannah dengan penuh yakin.


"Sebaiknya kita pantau dulu seharian ini," kata Lewis. "Dan juga sebaiknya kualitas organisasi Garrison di setiap wilayah harus dimaksimalkan."


"Karena untuk mencari si Tiberiu itu membutuhkan waktu yang lama!" katanya. "Ini untuk mengantisipasi saja."


"Baiklah," ucap Luna.


"Mulai saat ini tiap aliansi akan terus menyelidiki keberadaan si Tiberiu itu melalui radar," lanjutnya. "Dan juga kegiatan ekspedisi bersama akan diadakan lusa pagi pukul 06.00 tepat."


Luna langsung mengetik tiap nomor di telepon meja yang sangat kuno itu, untuk menghubungi kepala organisasi Garrison Nasional.


Clèment mengamati lembaran kertas yang berisi data yang telah di dapatkan oleh Aliansi Azalea mengenai Tiberiu.


Baru kali ini aku mendengar namanya.


Masih terdengar asing di telinga Clèment.


Sekitar 2 jam rapat membicarakan tentang masalah ekspedisi kemarin, rapat dibubarkan dan masing-masing mendapatkan waktu bebas.


Beberapa kali Clèment diajak oleh Jan dan beberapa orang lainnya untuk makan siang bersama. Namun, jiwa malasnya memberontak dan dirinya ingin menikmati waktunya sendiri.


Dia mengincar makanan manis di sebuah kantin kecil.


Apakah kue manis masih tersedia?


Dia melangkah menuju kantin. Karena letak kantin berada di luar gedung markas, maka dia harus melewati halaman markas yang penuh anggota pasukan. Kulihat Nica dan Louis yang sedang berbaur bersama anggota aliansi lainnya.


Beserta Alexa si cebol bersayap aneh.


"Clèment!" panggil Nica dari kejauhan. Melambai ke arah Clèment yang sedang berjalan menuju kantin. Dirinya sedang bersantai dengan bermodal terpal seperti piknik.


"Hoi!" sahutnya membalas lambaian tangan Nica. Dia langsung menghampiri mereka.


"Mari makan, Clément!" ajak Alexa dengan memasang wajah kekanak-kanakannya.


Terdapat sepotong roti Prancis dan sup krim ayam di sebuah mangkuk besar berwarna putih disertai dengan asap yang mengepul di atasnya. Tak luput juga dari buah-buahan yang sudah dipotong dan beralaskan piring putih. Lengkap sekali dengan makanan-makanan!


"Kalian dapatkan darimana?" tanya Clèment heran.


"Hendrik bertugas sebagai koki bergiliran di kantin," ucap Simas sambil menunjuk lelaki yang diketahui bernama Hendrik. Dirinya memakai celemek dan jaket berwarna ungu tua. "Dia melakukan ini semua."


"Oh."


"Berikan Clèment tempat!" seru yang lain, sambil bergeser memberikan tempat duduk untuk Clèment.


"Tidak usah," katanya. "Aku sedang mencari yang manis-manis."


"Terima kasih dan nikmatilah makan siang kalian!" lanjut Clèment tersenyum sambil meninggalkan mereka yang sedang terduduk beralaskan tikar berwarna jingga.


"Anda juga!" ucap mereka serentak.


Dirinya tidak melihat ke belakang dan terus melangkah menuju kantin kecil yang tidak jauh dari posisinya saat ini.


Tiba di sebuah kantin kecil,


Penuh sekali!


"Saya pesan satu potong pie apel!" ucap Clèment kepada seorang koki yang juga salah satu anggota pasukan Aliansi Azalea yang ditugaskan menjadi koki secara bergiliran.


"Baik," jawabnya sambil memberikan Clèment sepotong pie apel yang sedari tadi dia inginkan. "Selamat menikmati!"


"Terima kasih!"


Clèment langsung meraih sepotong pie apel dari tangannya dan menuju tempat duduk yang kosong. Akhirnya dirinya menemukan sebuah kursi kosong yang menatap jendela luar sehingga dia bisa melihat dunia luar yang cukup cerah ini. Menikmati sesuap pie apel dengan sendok besi kecil.


Nikmat sekali ....


Inilah rasanya hidup.


Rasa pie apel ini mengingatkannyabpada zaman di mana dia masih bersatu bersama keluarganya. Ibu selalu membuatkannya kue setiap selesai makan siang atau makan malam sebagai pencuci mulut. Namun, kehadirannya hanyalah sementara. Dirinya menghilang tanpa sebab dari kehidupan Clèment.


Clèment merindukan masa-masa kebersamaan bersama keluarganya. Namun, sekarang sudah masing-masing.


Masing-masing mengurus hidup.

__ADS_1


__ADS_2