
Suara gemersik daun.
Hembusan angin menyentuh pori-pori kulitku.
Hening sekali.
Aku membuka kedua mataku dan mendapati diriku yang terbaring di tengah padang rumput hijau yang luas.
Hanya seorang diri.
Di mana aku?
Otakku penuh dengan banyak pertanyaan terkait dengan pemandangan asing di sekitarku. Aku tidak tahu mengapa diriku bisa di sini tiba-tiba.
Mimpi?
Aku berusaha untuk membangunkan diriku dengan mencubit pipiku berulang kali. Akan tetapi, tidak memberikan efek kepada diriku untuk bangun.
Aneh sekali.
Tidak ada apapun.
Tidak ada makhluk hidup di sekitar padang rumput yang luas ini.
Tidak ada kehidupan.
Langit yang gelap berawan menyambut kehadiranku di sini. Seketika alam yang sejuk ini berubah menjadi suasana yang mencekam.
Tiba-tiba muncul suara gemuruh dari kejauhan.
"A—apa itu?" ucapku sambil menoleh ke arah belakangku.
Suara gemuruh itu berhasil mengejutkan diriku yang sedang mengamati suasana sekitar. Tiba-tiba sekumpulan makhluk menyeramkan dan buas muncul dari kejauhan.
Memandangku seorang diri di rerumputan dengan tatapan lapar.
Ini menandakan bahwa aku harus lari. Akan tetapi, kedua kakiku terasa berat sekali untuk melangkah. Ternyata kedua kakiku ditahan oleh sekumpulan tangan menyeramkan yang memaksaku untuk tetap di tempat.
"TIDAK!!! LEPASKAN AKU!" Aku terus bergerak agar tangan-tangan mengerikan itu terlepas dari kakiku.
Akhirnya setelah beberapa waktu, aku berhasil terlepas dari tangan-tangan abstrak yang telah menahan kedua kakiku dan terus berlari dan berlari ke depan yang semakin disusul oleh sekumpulan makhluk buas mengejarku. Aku sama sekali tidak memegang senjata apapun. Hanya seorang diri yang terus berlari dari terkaman maut.
"MUNCULLAH!" ucapku sambil terus berusaha mengeluarkan kekuatanku. Akan tetapi, energi iblis dari dalam diriku tidak menunjukkan tanda-tanda fisik.
Perasaan panik menjalar cepat ke dalam diriku.
Aku tidak bisa bertransformasi menjadi iblis.
Aku terus berlari sejauh mungkin. Tenagaku semakin melemah. Padang rumput ini sangat luas sekali sehingga diriku tidak berhasil mencapai titik akhirnya. Mereka semakin mendekatiku.
"GAWAT!"
Tiba-tiba pemandangan di sekitarku berubah seketika. Suasana hutan yang lebat dengan akar pohon yang menjulang tinggi mengitariku.
Lah?
Namun, sekelompok makhluk buas itu tetap mengejarku. Akan tetapi, banyak sekali pepohonan di sini dengan masing-masing akar yang menjulang tinggi.
Aku harus berpikir keras.
"Sial, haruskah aku memanjat?!" ucapku sambil mengamati tiap pepohonan yang menjulang tinggi.
Jujur, aku tidak bisa memanjat pohon dan itu adalah salah satu kelemahanku.
"Ya Tuhan!" ucapku sambil terus menatap sekitarku yang dikelilingi oleh pepohonan tinggi. Lalu pandanganku juga menatap sekumpulan makhluk buas yang terus mengejar di belakangku.
"Rika! Tolong tenangkan dirimu. Kau bisa!" gumamku sambil terus memotivasi diriku yang mulai putus asa.
Situasi memaksaku untuk melakukan hal yang membuatku takut. Hal yang tidak bisa kulakukan di dunia nyata sebenarnya. Namun, aku harus mencobanya daripada aku berakhir menjadi makanan mereka.
Dengan tekad yang bulat, aku mulai memanjat di salah satu pohon. Kakiku terus melangkah ke akar-akar kecil pohon dan terus melakukannya sampai setinggi mungkin.
"Sial! Mereka semakin mendekat!" kataku sambil menatap sekumpulan makhluk jelek yang semakin mendekatiku.
Aku terus memanjat pohon sekuat tenaga.
Aku harus lawan rasa takutku,
Aku harus lawan rasa panikku.
Tak lama kemudian, sekumpulan makhluk buas itu berhasil menghampiriku. Sepasang kuku panjang mereka terus digesekkan di batang pohon. Mereka terus memaksaku untuk turun. Mata merah menyala dan lidah yang panjang serta sepasang taring di mulutnya siap untuk menhancurkan tubuhku.
Mereka mirip sekali seperti sosok iblis yang telah memakan Annie di Rainville.
Fokus tetap fokus, jangan peduliin mereka!!
Aku terus memotivasi diriku untuk melawan perasaan takut yang telah menyelimutiku dan terus memanjat sampai batas ketinggian yang aman.
Tiba di ranting kedua ketika kedua kakiku hendak mencapainya, tiba-tiba diriku terpleset.
Akan tetapi, seseorang menarik tanganku untuk bertahan.
"Bertahanlah, Nica!"
"L—Louis?"
"Aku akan menarikmu!" kata Louis sambil menarik salah satu tanganku.
Sekumpulan makhluk buas terus menatapku dengan pandangan lapar.
Louis terus menarik tanganku sekuat tenaga sampai aku tiba di atas ranting kedua bersamanya. Seketika terdengar nafas kami berdua yang tersengal-sengal.
"Nica, kau tidak apa-apa?" tanyanya sambil menyentuh wajahku menggunakan kedua tangannya.
"Tentu saja, kau sendiri kenapa bisa di sini, Louis?!" tanyaku yang agak membentak dirinya. Lalu aku langsung memeluknya dengan erat.
"Aku khawatir sekali denganmu!"
Dirinya tidak menjawab pelukanku.
Louis terdiam.
Aku pun melepaskan pelukanku.
"Aku sudah mati, Nica," ucapnya tiba-tiba. "Maafkan aku."
Dia langsung mengarahkan jari telunjuknya ke suatu objek di bawah.
Louis menunjuk tubuhnya yang sudah tewas tercerai berai antara kepala dan lehernya. Tubuhnya sedang disantap oleh makhluk buas itu. Tiap gigitan menimbulkan percikan darah sehingga membasahi tanah. Taring mereka pun penuh dengan darah Louis.
Seketika hatiku terasa sakit sekali seperti ditusuk dengan pedang yang runcing. Tubuhku lemas seketika. Diriku mati rasa menyaksikan tubuh Louis yang tidak beraturan dan penuh darah.
"TIDAK MUNGKIN INI TERJADI! INI HANYA MIMPI!" teriakku yang disusul dengan tangisan yang membasahi wajahku.
Tiba-tiba dia langsung mencekik leherku dengan pandangan kosong. Seketika wujudnya berubah menjadi manusia bertopeng. Mirip seperti orang yang membunuhku di survival game.
Kasie?
"Louis sudah mati!" ucap manusia bertopeng itu. Jari-jemarinya semakin menguatkan cekikannya terhadap leherku sehingga diriku sulit bernafas.
Diriku dibuat tidak berdaya olehnya.
"T—tolong he—henti—kan aarrggh!!"
Manusia bertopeng itu tidak mendengarkan ucapanku. Aku terus mencengkram jari-jemarinya untuk segera melepaskanku.
"KAU HARUS MATI!" bentaknya.
"Ti—tidak—k!"
Aku harus segera bangun dari mimpi yang sangat berbahaya ini.
Aku harus melawan ini semua.
Sekumpulan makhluk buas di bawah sana siap menyantapku.
Aku harus bangun sekarang juga.
Aku harus melawan bunga tidurku.
Aku harus membuka mataku.
Rika, kau bisa!
KAU BISA!
Beeeeeeeeeeep
Aku membuka kedua mataku.
Akhirnya aku berhasil kembali ke dunia nyata. Akan tetapi ....
Beeeeeeeeeeep
__ADS_1
Iblis.
Alarm itu terus berbunyi yang menandakan bahwa telah terdeteksi kehadiran iblis di sekitarku.
Aku masih merasakan cengkraman manusia bertopeng tadi. Bekas cekikannya memberikan bekas merah di leherku.
Kulihat semua orang masih tertidur pulas di masing-masing tenda dengan alat pendeteksi iblis yang berdering kencang di pergelangan tangan mereka.
Termasuk Alexa dan Kim.
Aku langsung menghampiri Alexa dan Kim di tenda. Akan tetapi, Kim sudah tewas. Mulutnya mengeluarkan darah dengan kedua mata yang terbuka.
"ALEXA! BANGUN, ALEXA!!! KUMOHON BANGUN!!!!" teriakku sambil mengguncangkan tubuhnya yang masih tertidur pulas mengikuti alur mimpinya.
Akan tetapi, tidak ada jawaban darinya.
Aku langsung beralih ke tenda lainnya dan menghampiri Simas dan Komandan Regu Clèment serta Komandan Lucian. Namun, tetap saja tidak ada jawaban dari mereka sama sekali.
Mimpi buruk berhasil menguasai alam bawah sadar mereka ketimbang diriku.
Tiba-tiba aku mendengar suara batuk dari salah satu tenda. Aku langsung masuk ke dalam tenda tersebut dan menemukan wujud Dimitri yang berhasil terbangun dari mimpinya.
"SYUKURLAH!" ucapku sambil menatap Dimitri yang terbangun dari tidurnya sambil terbatuk-batuk.
Aku langsung membawanya air mineral untuknya.
"Minumlah!" perintahku sambil memberinya sebotol air mineral kepadanya.
Dia pun langsung meraih sebotol air mineral dari genggamanku dan meneguknya sampai tidak tersisa.
"Apa yang terjadi?"
"Aku tidak tahu," jawabku. "Kau mimpi buruk?"
Dimitri mengangguk. "Aku hampir terbunuh dalam mimpiku, akan tetapi aku berhasil bangun."
"Itu nyata sekali!" lanjutnya. Nafasnya tersengal-sengal.
"Aku juga demikian," ucapku. "Kita harus bergegas sekarang!"
"Iblis telah datang!"
"Komandan Lucian dan lainnya tidak bangun dari tidur mereka!" pekikku.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Nica?!" tanya Dimitri dengan memasang raut wajah panik menatapku.
Kini kami berdua sedang di ambang kebingungan di tengah situasi yang buruk.
"Kau jaga yang lain, aku yang akan melawan mereka."
"KAU GILA?!" seru Dimitri sambil mencengkram kedua bahuku. Suaranya meninggi sambil menatap kedua mataku.
"KAU BISA MATI SENDIRIAN DI SANA, NICA! MEREKA SANGAT BERBAHAYA!"
Aku terdiam dan berkata, "Tidak ada yang berbahaya sebelum aku mencoba membunuh mereka."
Seketika cengkramannya di bahuku melemah.
"Kau pasti bisa, Dimitri!" ucapku sambil menepuk pundaknya. "Aku membutuhkan kerja sama darimu."
"Ini demi kebaikan kita bersama."
Terjadi keheningan sesaat. Dimitri harus cepat memutuskan di tengah situasi seperti ini.
"Baiklah kalau kau mengatakan demikian," katanya sambil menunduk.
"Sekarang, tolong kau jaga mereka semua. Aku akan melawan para iblis di luar!" perintahku. "Aku akan kembali secepat mungkin."
"Kau bisa, kan?" tanyaku untuk memastikan.
"Ya!" jawabnya. Pandangannya langsung menatap ke arahku.
"Bagus, ayo kita mulai!" kataku sambil tersenyum dan langsung meninggalkan dirinya dari dalam tenda.
Tak lama kemudian, Dimitri pun ikut keluar dari tendanya dan mengepalkan tangannya ke arahku.
"Semoga beruntung!" ucapnya dengan pandangan penuh harapan kepadaku yang tersirat di kedua matanya.
"Terima kasih!" ucapku. Aku langsung meninggalkan dirinya yang sedang mengerahkan perisai khusus untuk melindungi para anggota operasi yang masih tertidur pulas.
Aku harus mengincar iblis yang menjadi dalang dari penyerangan ini.
Pasti ada!
Memori-memori kebersamaan dengannya seketika muncul mengitari otakku.
Memori yang sangat berharga.
Kehadirannya dalam kehidupanku memberikan sebuah makna dan arti yang nyata tentang dunia yang kejam dan tertindas ini.
Aku harus menghadapi ini. Tunggu aku, Louis!
Tak lama kemudian, muncul sekumpulan iblis mirip seperti dalam mimpiku. Mereka langsung mengejarku dan siap menerkamku dari kejauhan.
Seketika sepasang kuku di kedua tanganku memanjang. Sepasang tanduk kecil muncul dari kepalaku serta sepasang taring muncul yang siap mengoyakkan setiap bagian tubuh mereka yang semakin mendekat. Aku langsung mengoyakkan setiap dada mereka dan menghancurkan jantungnya. Beberapa iblis yang tidak berakal tersebut mati di tempat dengan luka tusukan di dada mereka. Tiba-tiba salah satu dari mereka berhasil membuat aksiku melemah yang disusul dengan perutku yang mulai mengeluarkan banyak darah. Akan tetapi, hal tersebut tidak membuatku berputus asa. Aku terus mengincar jantung mereka dan mengoyakannya sampai hancur.
Cukup lama dalam situasi seperti ini, sampai pada akhirnya mereka semua berhasil tumbang karena luka tusukan di jantungnya akibat kuku di jari-jemariku.
Banyak sekali darah yang membekas di sepasang kukuku.
Tiba-tiba sesuatu hal berhasil mengalihkan pandanganku.
Sosok iblis memakai tudung berwarna biru dengan kuku-kuku panjangnya yang sedang dimainkan seperti sedang memainkan alat musik piano. Dirinya membelakangiku dan terus melantunkan suara merdu dari dalam mulutnya. Seketika diriku kembali mengantuk setelah mendengar lantunan mautnya.
Iblis Pengantar Mimpi Buruk.
Sial! Aku ngantuk sekali!
Tubuhku terjatuh di tanah tanpa kusadari seiring dengan lantunan suaranya.
Aku harus melawan ngantuk ini!
Aku langsung memaksakan diriku untuk segera bangkit dan berlari menuju makhluk itu sambil bersiap-siap menikamnya dari belakang.
Kuku-kuku panjangku siap menusuk jantungnya.
Kulawan rasa ngantuk ini demi menghentikan aksinya yang sudah membuat teman-temanku ikut ke dalam hasutannya.
Akan tetapi, seketika dirinya mengetahui aksiku. Makhluk itu langsung melempar diriku sampai kepalaku terbentur mengenai salah satu batang pohon dengan kuat.
Aku terkulai lemah.
Tubuhku sulit sekali untuk bangun.
Batang pohon tersebut seketika terdapat bekas darah merah akibat dari benturan keras mengenai kepalaku.
Makhluk itu langsung menghampiriku yang terbaring di tanah. Setiap kali ia melangkah mendekatiku, aura tidur menyelimuti diriku.
"Oh, kau ternyata!" ucap makhluk itu dengan jari jemarinya yang lentik. Wajahnya yang pucat pasi dengan seulas senyuman miring yang mengerikan.
"Kau masih belum mati juga, ya?" lanjutnya sambil mendongakkan wajahku. Kedua matanya menatap tajam ke arahku.
"Aku punya kejutan spesial untukmu!"
Dirinya seketika menjauh dariku dan tampak seperti membawakanku sesuatu dari tangan kanannya yang sengaja ia sembunyikan di belakangnya. Ia pun langsung menunjukkan suatu 'kejutan' di hadapanku yang sedang terkulai lemah dengan penuh darah.
"TIDAAAAKKKK!!!!!"
Jantungku terasa berhenti seketika. Air mata keluar dengan deras membasahi wajahku.
Louis yang kusayangi, tewas di tangan iblis.
Ternyata mimpi itu benar-benar terjadi.
HARUSNYA AKU MENYELAMATKAN DIRINYA!!
Dadaku sesak sekali. Aku tidak bisa menerima ini semua.
Iblis ini ….
"Kau baru percaya, kan?" tanya iblis itu sambil terus mengayunkan kepala Louis di hadapanku. Nada ucapannya seakan-akan meremehkanku.
"K—KAU!" Aku berusaha untuk bangkit dari posisiku. Melawan segala energi yang dilancarkan oleh makhluk bengis di hadapanku.
"Kau suka?"
"KAU BENAR-BENAR MAKHLUK TIDAK BERADAB!!" bentakku sambil melawan energinya yang semakin membuat kedua pandanganku melemah. Hatiku sakit sekali dibuatnya.
Tidak bisa ditulis dengan kata-kata.
"Apa? Aku tidak mendengarmu."
"SIALAN KAU, MAKHLUK JAHANAM!!!" teriakku dan langsung melancarkan serangan kepadanya.
__ADS_1
"Kau sungguh ingin bermain, ya?" tanya iblis itu. Seketika makhluk itu langsung menikam diriku menggunakan kuku-kuku panjangnya di daerah perutku yang sudah tertikam oleh iblis tidak berakal tadi. Ia semakin merobek organ dalam perutku sampai kuku-kuku panjangnya berhasil menembus tubuhku.
"Ayo lawan aku!"
Jantungku terasa berhenti yang diiringi dengan rasa sakit yang sangat mendalam di area perutku. Darah semakin keluar banyak memenuhi jari-jemarinya. Iblis itu langsung melepaskan paksa kuku-kukunya yang menusuk perutku dan membiarkan diriku yang terjatuh di tanah.
Aku mengalami pendarahan hebat sehingga mulai kehabisan darah. Jantungku semakin melemah detaknya. Aku tidak bisa bangkit. Pandanganku semakin kabur.
Aku akan mati di sini.
"Aku senang kita bisa bermain-main seperti ini," ucap iblis itu. Wujudnya seketika mendekati diriku yang sedang terbaring penuh darah.
"Tapi sayang sekali kau adalah setengah iblis yang sungguh lemah!" lanjutnya sambil mendongakkan wajahku menggunakan jari-jemarinya yang penuh darah.
"Mungkin aku harus mengistirahatkan dirimu dulu, " lanjutnya lagi dengan nada angkuh. Iblis itu langsung melancarkan aksinya lagi tepat di depan wajahku.
Tiba-tiba, seketika dirinya mengeluarkan banyak darah dari dalam mulutnya dan sebuah luka tusukan tepat di dadanya. Tubuhnya pun tumbang tidak bernyawa di hadapanku yang sedang sekarat.
Seseorang berhasil membunuh makhluk bengis ini.
--
Satu jam kemudian setelah kepergian Nica untuk melawan iblis pengantar mimpi buruk.
Clement's POV
Beeeeeeeeep
Suara itu semakin terdengar nyaring sekali.
Beeeeeeeeep
Tanda-tanda kehadiran iblis.
Clèment langsung membuka matanya dari mimpi buruk yang hampir merenggut nyawanya. Nafasnya tersengal-sengal seperti habis melakukan suatu kegiatan yang berat.
Alat di pergelangan tangannya berbunyi nyaring dan memunculkan cahaya merah berkedip.
Pandangannya teralihkan kepada Lucian yang berada di sampingnya.
"LUCIAN, BANGUN! KITA DIKEPUNG!" pekik Clèment sambil mengguncangkan tubuh Lucian.
Akan tetapi, dia tidak merespon Clèment. Nafasnya masih mengikuti alur mimpinya.
"Sial! Mimpi buruk itu berhasil mengendalikan dirinya," gerutu Clèment.
Clèment langsung bergegas keluar dari tenda dan menemukan Dimitri yang sedang kesulitan menahan serangan dari sekumpulan makhluk iblis yang kini mengitari mereka.
"Komandan Regu Clèment!" seru Dimitri sambil menatap Clèment yang baru keluar dari tendanya.
"Kau tetap tahan perisaimu. Aku akan mencoba bangunkan yang lain!" kata Clèment.
"Baiklah!" jawab Dimitri.
Clèment langsung bergegas mengunjungi masing-masing tenda dan membangunkan para anggota operasi yang sedang dikendalikan oleh mimpi buruk. Namun, mereka tidak mendengar Clèment dan tetap mengikuti arus mimpi buruk mereka.
Tiba di salah satu tenda, dirinya mendapati teman seperjuangannya dalam keadaan yang tidak biasa.
"Lewis …."
Clèment terpana melihat Lewis yang sudah tidak bernyawa. Mulutnya mengeluarkan darah dan kedua matanya yang melotot.
Dirinya harus melapangkan dada atas kepergian teman seperjuangannya. Clèment menghela nafas, lalu menutup kedua mata temannya.
"Semoga kau tenang di alam sana," lirihnya.
Kemudian, dia langsung keluar dari tenda tersebut.
Dimitri menatap heran Clèment. Menunggu jawaban darinya.
"Tidak ada yang bisa bangun," ucap Clèment sambil menghela nafas. "Mereka seluruhnya dikendalikan oleh mimpi buruk mereka."
"Di mana Nica?" tanyanya sebab dirinya tidak melihat Nica di setiap tenda yang dia kunjungi.
"Dia pergi membunuh iblis di luar sana!"
Anak itu!
Clèment terjebak di situasi yang mencekam. Tidak ada harapan selain dirinya harus turun tangan menghadapi situasi ini. Teman-temannya kini sedang berperang di alam mimpi.
"Kita harus bagaimana, Komandan Regu Clèment?" tanya Dimitri yang panik.
"Lapisan luar perisai saya berhasil ditembus oleh mereka."
Mereka berdua kini berada di antara hidup dan mati.
Terjadi keheningan sesaat di antara mereka berdua. Hanya suara seringai makhluk iblis dan nafas mereka berdua yang terdengar. Sekumpulan iblis berusaha menghancurkan lapisan perisai berikutnya yang dikerahkan Dimitri dengan kuku-kuku panjang mereka.
Mata merah menyala menatap keduanya yang sedang berpikir keras mencari jalan keluar.
"Matikan perisaimu."
"Hah?" Dimitri menatap Clèment bingung.
"AKU BILANG MATIKAN PERISAIMU!" bentak Clèment. Dia berusaha untuk menahan segala ketakutan dan kecemasan dalam dirinya di keadaan darurat seperti sekarang.
"Ko—"
"Kau tidak percaya denganku, ya?" tanya Clèment. Suaranya memberat.
Dimitri terdiam mematung.
"Biarkan aku melawan mereka sendirian. Kau cukup berikan aku mana dan heal!" perintah Clement kepada Dimitri.
"Berikan perisai ke setiap tenda!" perintah Clèment. "Kekuatanku akan sangat besar."
"B—baiklah," jawab Dimitri. Dirinya langsung mengerahkan perisai khusus ke masing-masing tenda beserta dirinya dan Clèment.
"Bersiap-siaplah!" kata Clèment sambil tersenyum miring menatap Dimitri.
Salah satu tangannya langsung mengambil tiga buah kartu remi dari balik jaketnya yang disertai dengan pembacaan mantra khusus. Di sela pembacaan mantra khusus oleh Clèment, tiba-tiba ketiga kartu remi tersebut berubah menjadi bunga api yang besar dan indah.
"Ini adalah kekuatan besar yang diwariskan kepada setiap generasi Dominique," jelas ayah.
"Gunakan sebaik mungkin! Jika tidak kekuatan ini akan mencelakai dirimu sendiri."
Kalimat tersebut seketika kembali teringat di otaknya.
"Aku akan gunakan sebaik mungkin, Yah!" gumam Clèment sambil mengerahkan kekuatan besarnya untuk menumpas habis makhluk-makhluk menyeramkan yang mengitarinya.
Rangkaian bunga api ini semakin lama, semakin mengembang.
"MATIKAN PERISAI LUAR!"
Dimitri langsung mematikan perisai luarnya. Sekumpulan iblis langsung berlari menyergap mereka berdua. Akan tetapi ....
"SCINTILLAM!!!"
Clèment langsung melancarkan kekuatan besarnya. Seketika sekumpulan iblis liar yang semakin banyak berdatangan, dapat dipukul mundur oleh kekuatannya tersebut.
Namun, semakin banyak energinya yang terkuras.
Dirinya yang lemah dipaksakan untuk menghabiskan mereka yang berjumlah banyak. Dimitri terus memberikan mana dan heal kepada Clèment. Dia terus mengerahkan kekuatannya di situasi genting. Sebagian besar mereka berhasil tumbang karena hawa panas yang berhasil mencairkan setiap organ tubuh mereka.
Clèment semakin lelah. Walaupun dia sudah diberikan mana dan heal, akan tetapi dirinya tetap merasakan kelelahan akibat efek dari kekuatan besar yang dia kerahkan.
Namun, belum seluruhnya sekumpulan iblis di sekelilingnya mati. Dia terus mengerahkan kekuatannya sampai titik maksimal.
Sedikit lagi!
Tak lama kemudian, kekuatannya melemah dan serangkaian bunga api yang bertebaran di langit malam menghilang.
Clèment menjatuhkan dirinya di atas tanah yang penuh dedaunan kering. Dirinya tidak dapat menggerakkan anggota badannya. Lemas menjalar ke sekujur tubuhnya. Dimitri langsung menghampiri Clèment yang tidak sadarkan diri dan mengguncang badannya yang lemah.
"Bangunlah, Komandan Regu Clèment!" Dimitri terus membangunkan Clèment yang tiba-tiba tidak sadarkan diri. Wajahnya panik sekali.
"A—apa aku ber—hasil?" tanya Clèment dengan wajahnya yang penuh bekas luka bakar.
"Iya, Komandan Regu Clèment! Anda berhasil!" seru Dimitri. "Anda telah menumpas habis mereka semua!"
"Tidak ada yang tersisa."
Clèment tersenyum. "Ini semua berkat kau juga."
"Terima kasih, Dimitri!" Seketika kedua matanya yang berwarna hijau langsung menutup.
"Eh, Komandan Regu Clèment ...." panggil Dimitri sambil menatap Clèment yang tiba-tiba memejamkan matanya. Seketika kedua matanya kembali membuka dan menatap Dimitri heran.
"Aku mau tidur sebentar," ucap Clèment. Dirinya langsung kembali menutup kedua matanya.
Clèment merasakan suatu kepuasan di dalam jiwanya. Suatu kepuasan karena telah menggunakan sihir berkekuatan besar yang selama ini dilarang oleh ayahnya.
Ayah, aku telah melakukannya!
__ADS_1