INJUSTICE : Save Human Or Surrender

INJUSTICE : Save Human Or Surrender
#26 Air Mata


__ADS_3

Nica's POV


Aku membuka kedua mataku. Menatap langit-langit ruangan yang asing. Aroma suatu masakan tercium oleh hidungku.


Bukannya terakhir kali aku di hutan?


Kebingungan menyelimuti pikiranku. Kedua pandanganku masih kabur yang disertai tubuhku yang masih terkulai lemah di atas terpal.


"Louis …" gumamku. Seketika memori dalam otakku mengingat jasadnya yang sudah tercerai berai. Air mata kembali keluar dan membasahi wajahku.


"Aakh!!" Tiba-tiba rasa sakit timbul dari perutku ketika diriku berusaha untuk bangkit dari posisi baring.


Pusing masih menyertai kepalaku.


Aku harus bangkit dan keluar dari ruangan asing ini.


Kedua pandanganku mulai jelas dan aku bisa melihat dinding dan langit-langit ruangan yang terbuat dari batu. Batu tersebut memberikan efek sejuk ke seluruh penjuru ruangan.


Rumah batu?


"Kau sudah sadar?" Tiba-tiba sosok memakai tudung berwarna hijau tua memasuki ruangan ini. Kedua mataku membulat menatap kehadirannya.


"Aku akan menyuntikkan kau obat untuk ketiga kalinya," lanjutnya sambil tersenyum menatapku.


"K—kau Oliver?"


Lelaki itu mengangguk pelan dan tersenyum. "Kita bertemu lagi, Rika!"


"Aku senang kau selamat," ucapnya sambil memalingkan pandangannya dariku. Dirinya sambil meracik ramuan khusus, lalu dimasukkan ke dalam suntikan yang akan diberikannya kepadaku.


"Nama asliku adalah Tiberiu. Oliver adalah nama samaranku," jelasnya.


Aku terdiam.


Tak lama kemudian, dirinya selesai meracik ramuan ke dalam suntikan dan langsung menghampiriku yang masih terduduk di terpal dan beralaskan selimut.


"Ulurkan lengan kirimu!" perintahnya kepadaku.


Aku langsung mengulurkan lengan kiriku dan langsung disuntikkan ramuan itu di sana. Seketika lenganku merasakan pegal dan nyeri sekali.


"Obat itu akan menetralisir luka parahmu."


Aku terdiam sambil menatapnya. Lalu berkata, "M—makasih."


Oliver tersenyum.


"Aku turut berduka cita atas meninggalnya temanmu," ucapnya tiba-tiba.


Aku terdiam sambil menunduk. Menahan rasa sedih yang amat dalam di lubuk hatiku.


Sakit sekali rasanya.


Inginku teriak sekencang-kencangnya untuk melampiaskan kesedihan ini.


"Oh iya, aku sudah memasakkan sup untuk makan malam!" kata Oliver sambil tersenyum miring dan berangsur-angsur meninggalkanku seorang diri.


Aku termenung menatap dirinya yang menghilang dari balik tirai pintu. Tiba-tiba perutku berbunyi yang menandakan lapar. Dengan spontan, aku langsung menyentuh perutku yang diperban.


Aku langsung beranjak dengan perlahan sebab rasa nyeri di kepala dan perutku masih terasa. Diriku menuju keluar dari ruangan ini dan setibanya langsung disambut Oliver yang sedang meletakkan dua mangkuk yang berisi sup di atas meja kayu.


"Ayo, mari makan!" ajaknya sambil tersenyum ramah.


Aku langsung menduduki salah satu tempat untuk memulai makan malam bersamanya. Dia pun langsung terduduk di hadapanku.


Tidak ada kursi di sini. Jadi kami duduk di lantai yang sejuk dengan sebuah meja kecil yang membentang di hadapan kami.


"Selamat makan!" katanya.


"Makan!" kataku.


Tiba-tiba sebuah ingatan dengan Louis di saat seperti ini terlintas di benak otakku.


Makan bersama dengannya sambil saling berhadapan.


Air mataku tidak dapat membendung lagi. Aku langsung beranjak dari posisi dudukku dan keluar dari rumah batu ini.


"Kau mau ke mana?!" teriak Oliver.


Namun, aku tidak memperdulikannya. Diriku tetap keluar dari rumah ini dan meninggalkannya sendirian.


Setibanya di luar rumah batu, aku berlari di antara hutan-hutan konifer yang lebat. Hawa dingin menusuk kulitku yang tidak memakai pakaian tebal. Angin menerpa setiap pori-pori kulitku.


Aku terus berlari sambil meneteskan air mata.


Aku ingin menemui dirinya.


Jiwa ini sungguh tersiksa sekali tanpa kehadirannya di sampingku. Aku tidak peduli bila ada iblis yang sedang mengikutiku saat ini.


Pokoknya aku harus menemui dirimu, Louis!


Tiba-tiba kondisi luka perutku yang belum terlalu pulih seketika menimbulkan efek nyeri kembali yang disertai dengan pusing di kepalaku.

__ADS_1


Langkahku terhenti.


Tanganku menyentuh pohon untuk menahan tubuhku yang hampir tumbang.


"Sial!" gerutuku. Nafasku sesak sekali.


Aku tidak kuat.


Aku ingin mati.


Aku tidak bisa hidup seperti ini.


"LOUIS, KENAPA KAU TINGGALKAN AKU?!!" teriakku di tengah malam yang sunyi. Hanya seorang diri di tengah hutan yang menyeramkan.


Air mataku semakin deras keluar.


"KENAPA?!!"


Dadaku terasa sesak dan sakit sekali.


"KAU TELAH BERBOHONG KEPADAKU!" Aku terus meluapkan emosiku kepada dunia malam.


"Tolong kembali, Louis! Kumohon!" kataku dengan suara yang serak karena isak tangis.


Aku menjatuhkan tubuhku di tanah yang penuh dedaunan tua yang berjatuhan dan terus menangis.


Tiba-tiba Oliver berhasil menemui diriku yang sedang menangis di bawah pohon.


"Apa yang kau lakukan sendirian di sini?!"


"AKU MAU MATI, OLIVER! AKU TIDAK SANGGUP LAGI! TOLONG BUNUH AKU!" teriakku sambil menangis.


Oliver langsung mencengkram kedua bahuku dengan kuat. "Hilangkan seluruh pikiran gilamu itu dan kembali ke rumah!"


Aku menolaknya. "TIDAK! AKU HARUS MENEMUKAN LOUIS BAGAIMANAPUN!!"


Diriku semakin tidak terkendali. Oliver langsung menguatkan cengkramannya dan menatapku bersungguh-sungguh.


"Dia sudah di dunia yang abadi, Rika. Biarkan dia tenang di sana," kata Oliver.


"Aku bisa mengerti perasaanmu yang sangat kehilangan seseorang yang kau cintai. Tapi kau harus bisa terima itu semua!"


"Ini demi kebaikanmu, Rika!" jelas Oliver.


"Tatap aku!" perintahnya kepadaku.


Dengan perlahan, aku mengikuti perintahnya untuk menatap kedua matanya yang berwarna merah darah.


"Sekarang ayo kita pulang."


"T—tapi …."


Aku terdiam sambil menatap kedua matanya.


"Buatlah dia tersenyum melihatmu. Tunjukkan kalau kau bisa menjadi yang terbaik untuknya!" jelas Oliver. "Wujudkanlah cita-citanya yang belum tersampaikan."


"Aku yakin kau bisa melakukannya, Rika!" kata Oliver sambil tersenyum.


"Sekarang, ayo pulang!" ajaknya. Tiba-tiba Oliver melepaskan tudungnya dan memakaikannya kepadaku.


"Aku tahu kau kedinginan," ucapnya sambil tersenyum. Rambut pirangnya terpapar oleh sinar bulan. Kulitnya yang pucat hampir sama sepertiku. Akan tetapi, kulitku tidak sepucat dirinya.


Oliver hanya memakai pakaian kemeja putih tipis di udara yang sedingin ini demi menjagaku agar tetap hangat.


Aku harus menahan rasa sakit di daerah perutku ketika aku paksakan untuk bangkit dan berjalan. Namun, Oliver senantiasa membantuku untuk bangkit sekaligus berjalan kembali ke rumahnya.


Situasi seperti ini, mengingatkanku pada saat di survival game.


Memang benar kata Oliver. Bagaimanapun juga aku harus menerima kepergiannya.


Keheningan menyelimuti kami berdua selama perjalanan kembali ke rumahnya yang menyerupai rumah batu.


"T—terima kasih," ucapku. Memecahkan keheningan di antara kami berdua.


Setibanya di rumah dan melanjutkan makan malam bersama sup buatannya.


Oliver hanya membalas dengan senyuman. Lalu kembali menyantap sup daging di depannya.


"Momen ini mengingatkanku dengan dirinya. Maafkan aku," kataku sambil mengamati potongan daging yang mengapung satu sama lainnya di dalam sup.


"Sudah kutebak," kata Oliver sambil menikmati sup daging. "Untung saja tidak ada iblis tadi,"


Aku tidak membalas perkataannya dan langsung menikmati sup buatannya. Entah ketika aku memakan daging dalam sup ini, aku merasakan aneh dengan teksturnya.


"Oliver, daging apa ini?" tanyaku sambil menunjukkan potongan daging dari mangkukku kepadanya.


"Itu daging manusia," jawabnya.


"DEMI?!!" Aku langsung mengeluarkan daging itu dari dalam mulutku.


Tiba-tiba Oliver tertawa melihatku. Lalu berkata, "Itu daging rusa."

__ADS_1


"Mana yang bener?!" ketusku.


"Iya itu daging rusa. Aku berburu rusa seminggu yang lalu di sekitar sini," jelasnya sambil tersenyum miring.


"Maukah kau mencoba daging manusia?"


Aku menggelengkan kepalaku. "Aku tidak akan pernah mau menyantap daging manusia!"


"Kenapa?" tanyanya penasaran. "Padahal daging manusia enak lho!"


Seketika aku langsung menghentikan aksi makanku.


Oliver menatapku heran.


"Aku tidak akan pernah mau memakan kaumku sendiri walau aku sudah menjadi setengah iblis," jelasku. "Aku ingin menyelamatkan mereka."


"Aku ingin … membunuh kaum iblis semuanya."


Seketika sakit terjadi di lubuk hatiku paling dalam.


"Aku ingin membantumu mewujudkan impian manusia," katanya tiba-tiba sambil tersenyum.


Aku langsung menatap kedua matanya.


Eh?


"Aku kabur dari kaumku karena mereka sudah mengekang hidupku," jelasnya.


"Sejak aku merasakan permainan survival game yang ternyata telah dibuat oleh raja generasi sebelumnya, aku jadi mengerti semuanya."


"Aku bisa merasakan bagaimana kehilangan seseorang ... dan ya, di situ aku merasa tidaklah hebat menjadi iblis yang hanya bisa menindas manusia." Oliver menghela nafas panjang sambil menatap sup dagingnya yang belum habis.


"Diriku yang menjadi buronan harus aku hadapi," lanjutnya. "Hal itu terjadi karena aku tidak sengaja memakan manusia dan aku terlalu terbawa arus."


"Sejak saat itu, aku semakin menyadari bahwa manusia bukanlah untuk dijadikan makanan oleh iblis," ucapnya.


"Manusia dan iblis adalah teman."


Terjadi keheningan sesaat.


"Aku di sini hanya ingin mencari ibuku. Aku rindu sekali padanya!" kata Oliver. "Dia tidak pernah hadir dalam kehidupanku dan ayahku selalu menyembunyikan sosok ibu dariku."


"Aku harus mengatakannya padamu bahwa aku pernah bertemu dengan ibumu," kataku.


Seketika pandangan Oliver menatap tajam ke arahku.


"Dia yang telah menghidupkanku kembali dengan darahnya. Kalau tidak ada dirinya, mungkin aku sudah dimakan oleh iblis."


"Dia telah menyelamatkanku."


"T—tapi …."


Sulit sekali diriku untuk menyelesaikan kalimat ini. Dadaku semakin terasa sesak sekali.


"KATAKAN ADA APA DENGAN IBUKU, RIKA!" bentak Oliver. Dirinya tidak sabar mendengar lanjutan kalimatku yang terpotong.


"Ibumu tewas dibunuh petinggi iblis beberapa tahun yang lalu," kataku. "Dia menjadi buronan sama seperti kau karena dia telah meninggalkan pekerjaannya yang sebagai dokter dalam suatu lembaga iblis terkait survival game."


"Dia meninggalkan pekerjaan demi membawaku kabur dari sana," lanjutku.


"Maafkan aku, Oliver. Ini semua bukan kemauanku," kataku sambil menatap pandangan matanya.


Oliver berusaha untuk tegar dan menerima kepergian ibunya yang sedari dulu dia terus mencarinya sampai ke dunia manusia. Akan tetapi, ketegarannya tersebut berhasil dikalahkan oleh setetes air mata yang membasahi wajahnya.


"Ini kemauan dirinya. Dia berpesan kepadaku untuk mengubah dunia ini."


"Ibumu hebat sekali. Dia telah menolong banyak manusia dengan berprofesi menjadi dokter di lingkungan manusia," jelasku.


"Aku ikut turut berduka cita."


"Terima kasih atas informasinya, Rika," sela Oliver tiba-tiba sambil tersenyum tipis. "Walaupun aku tidak bisa menemui dirinya, tapi setidaknya aku senang bisa mendengarnya darimu."


Oliver menampilkan senyuman kesedihan tersirat di wajahnya yang pucat.


"Ini kedua kalinya aku menangis," kata Oliver.


"Setelah pertama kalinya aku menangis ketika aku menatap kematian teman satu tim kita pada saat survival game."


"Rupanya rasanya menangis seperti air mengalir yang keluar dari wajahku." Oliver terus mengusap wajahnya yang berlinang air mata.


Baginya, menangis adalah suatu fenomena langka dan sulit didapatkan.


"Aku tidak menyangka diriku bisa menangis."


"Berarti kau sudah memahami suatu perasaan lebih mendalam," kataku.


Oliver tersenyum bahagia mendapati dirinya yang berhasil menangis untuk kedua kalinya selama ia hidup di dunia ini.


Aku ikut tersenyum melihatnya.


Hatiku tersentuh seketika dan kembali meneteskan air mata melewati pipiku.

__ADS_1


Air mata ini ....


Sebuah luapan emosi.


__ADS_2