INJUSTICE : Save Human Or Surrender

INJUSTICE : Save Human Or Surrender
#22 Operasi Tiberiu (Sampai Jumpa)


__ADS_3

5 Desember 3029


Pukul 14.40


Operasi Tiber sudah berlangsung selama 3 hari penuh dengan teratur.


Mr. Geovani memberikan masing-masing anggota di seluruh aliansi sebuah alat pendeteksi iblis berupa micro-chip yang akan dipasangkan dalam GPS. Alat ini didesain sedemikian rupa untuk memudahkan kami menjalankan operasi ini. Bila kehadiran iblis terdeteksi, maka alat itu akan membunyikan alarm yang nyaring.


Seluruh aliansi sudah berkunjung ke beberapa kota di wilayah yang sudah diatur oleh Komandan Regu Clèment saat rapat malam beberapa hari yang lalu. Akan tetapi, sejauh ini kami belum menemukan jejak Tiberiu. Pihak Garrison sama halnya pun juga.


Komandan Regu Clèment terus meratapi GPS di lengannya untuk memantau pergerakan masing-masing aliansi dalam operasi ini.


Berharap misi ini berhasil.


Hari ini Aliansi Amdis tiba di suatu kota yang ramai.


Kota Salz, kota industri yang dikelilingi bukit dan dekat dengan laut.


Kota ini hampir mengingatkanku kepada kota Rainville karena keramaiannya.


Kota ini sebagai tempat pemasokan barang-barang dari luar pulau yang berperan penting sebagai pasokan kebutuhan warga di seluruh kota Steich. Sekaligus Kota Salz memiliki pelabuhan penting yang biasa digunakan untuk mengimpor atau mengekspor barang dari dan ke luar pulau serta para nelayan untuk mencari ikan di laut yang jauh di sana. Namun, karena cuaca yang sangat dingin ini dan selain itu Kota Salz terletak di paling Utara, para nelayan libur menangkap ikan.


"Mereka memanfaatkan musim gugur untuk mencari ikan sebelum musim dingin tiba," jelas Alexa. Ternyata anak itu sering mengunjungi kota ini ketika liburan sambil menemani ayahnya bekerja di sebuah industri perkapalan. Namun, sekarang ayahnya pensiun dan fokus dengan pekerjaan lain di Roseville.


Tak heran dia tahu segala-galanya!


Untuk menjalankan operasi ini, kami harus menyamar sebagai orang biasa. Seluruh kuda kami ditempatkan di hutan terdekat dan dijaga oleh salah satu prajurit.


"Kalian boleh melihat-lihat sekitar atau membeli, akan tetapi jangan jauh-jauh dariku!" perintah Komandan Regu Clèment yang memimpin perjalanan kami.


"Siap, Clement!" ucapku.


Tiba-tiba Simas memisahkan diri dan menuju kerumunan di salah satu stand di pasar tradisional yang berderet di sepanjang jalan.


Ternyata dirinya sedang menonton pertunjukan topeng monyet.


Tampak seekor monyet menggunakan topeng sedang beratraksi yang dituntun oleh seorang pria berpakaian kemeja putih yang diiringi dengan musik khas menggunakan sebuah alat musik pukul. Orang-orang bersorak ria menonton mereka. Simas pun ikut meramaikan acara ini.


Oalah, Simas bikin ngakak aja nontonnya gituan.


Tiba-tiba, pandanganku teralihkan oleh wujud Alexa yang tiba-tiba menghilang di sampingku.


"Waa, makasih!" Alexa membeli es krim coklat di salah satu stand.


Dasar bocil!


Aku langsung menghampiri Alexa yang berada di stand seberang.


"Ih dicariin juga!" gerutuku.


"Ya maaf," katanya sambil melahap es krim. "Omong-omong kau harus mencoba ini!"


Di satu sisi, aku juga penasaran bagaimana rasa es krim yang dimakan Alexa. Tidak mungkin bila aku memintanya.


"Oke, bentar."


"Pak, beli es krim rasa coklat, ya!" kataku kepada seorang pria tua penjual es krim. Rambutnya yang sudah memutih seperti salju tertiup oleh hembusan angin yang pelan.


"Pakai cup atau cone, Nak?"


"Cup aja deh, Pak."


"Baiklah!" Dirinya langsung mengambil es krim coklat menggunakan sendok khusus yang panjang di dalam freezer es krim yang terpampang di hadapanku.


Beraneka ragam sekali rasanya. Ada rasa kopi, stroberi, matcha, coklat, coklat-kopi, oreo, kacang, dan sebagainya.


"Baik, ini, cantik!" ucap pria tua itu dengan tersenyum sambil memberikanku se-cup es krim coklat dan wafer coklat yang tertancap di atas es krimnya sehingga memberikan kesan cantik.


E—e si bapak ....


"Ini, Pak, uangnya!" kataku sambil memberikannya 5 koin dengan nominal 100 perak dan mengambil es krimku dari genggamannya. Karena memang harga satu es krim adalah 500 perak berdasarkan tulisan yang sudah tertera di situ.


"Terima kasih, selamat bersenang-senang!" ucapnya sambil tersenyum sehingga menimbulkan garis kerutan di wajahnya.


Aku ikut membalas senyumannya, kemudian mengalihkan pandanganku ke Alexa yang sedang menyantap es krimnya.


Aku langsung mencoba es krim ini dan ....


Lembut sekali!


Tidak seperti rata-rata es krim yang kumakan sebelumnya.


Kami berdua memutuskan untuk berjalan di sekitar banyaknya stand di pasar tradisional ini. Simas masih saja menyaksikan topeng monyet dengan antusias.


Hobi nya aneh juga.


"Hari ini memang lagi ada festival musim dingin yang diadakan tiap tahunnya," jelas Alexa sambil menyantap es krimnya.


"Oh, pantes gak heran rame banget," jawabku.


"Iya, dan omong-omong tukang es krim tadi adalah langgananku setiap aku berkunjung ke Salz."


"Oh ya?"


Alexa mengangguk. "Tapi penjualnya sudah beda, yang dulu sudah meninggal gara-gara kanker otak."


Aku mengangguk atas penjelasannya sambil tetap memakan es krim dan berjalan di tengah keramaian manusia. Alunan irama bel meramaikan pasar tradisional ini.


Tiba-tiba Alexa memanggilku dengan menarik-narik jaketku. Aku menoleh ke arahnya.


"Itu Loulou!" serunya sambil menunjuk ke arah Louis yang sedang melihat-lihat cenderamata di salah satu stand.


Kami langsung menghampiri Louis. Dia tidak tahu keberadaan kami berdua yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.


"DOR!"


Louis terkejut dan menoleh ke arah kami berdua tepat di belakangnya. "Kalian!"


Kami pun tertawa.


"Kaget, ya, Bang?" tanyaku yang mulai muncul sifat usilku.


"Gak!" ucapnya. Padahal dalam hati yang terdalam, dia sebenarnya terkejut.


"Iyain aja."


Tiba-tiba salah satu cenderamata menyita perhatianku.


Kalung liontin kerang.


Entah kenapa aku merasa tertarik dengan barang cantik itu. Jiwaku seakan-akan ikut menyatu dengan barang itu. Liontin dari kerang asli berwarna putih–kecoklatan dan tali kalung yang berwarna hitam.


Duh, mata!


Aku harus memikirkan uangku yang tidak banyak untuk membeli barang bernilai tinggi itu.


"Mahal, sih, ini."


"Oh, kau suka itu, ya?" Tiba-tiba Louis sadar dengan penglihatanku akan barang cantik itu. Perkataanya membuat kesadaranku teralihkan kepadanya.


"Eng—i—ya tapi ya biasa aja kok cuman suka aja lihat bentuknya," jawabku gugup.


"Oh," Itu saja yang keluar dari mulutnya.


Aku langsung mengalihkan pandanganku kepada lautan manusia di belakangku yang memenuhi jalan di sekitar pasar tradisional. Kuratapi alat GPS yang terikat di pergelangan tanganku.


Tidak ada alarm sama sekali.


Aku kembali memandangi orang-orang yang berlalu-lalang di depanku. Kulihat Alexa yang sedari tadi sedang menikmati es krimnya.


"Kau tidak beli?" tanyaku kepada Alexa yang sedang menganggur di sampingku sambil menikmati es krim coklatnya.


"Gak, aku sedang ingin menghemat uangku," jawab Alexa.


Ternyata kita senasib, Alexa!


Aku memutuskan untuk menunggu Louis yang sedang melihat-lihat cenderamata cantik dengan cukup lama sambil menghabiskan es krim coklat. Kuamati Louis yang sudah selesai dengan aksinya tersebut dan langsung membayar kepada seorang ibu penjual cenderamata.


"Cie beli," godaku. "Untuk siapa?"


"Seseorang."


"Dih pakai rahasia-rahasiaan segala, gak seru!"


"Nanti juga kau bakal tahu siapa."


"Emang siapa, sih? Inisialnya aja deh gak apa-apa."


"A."


A siapa?


Namaku? Namaku inisial depannya bukan A.


Gak usah ge-er!


"Bukan kau, kau kan Nica!" ucapnya yang seketika membuat jantungku berhenti. Aku berusaha tersenyum untuk menutupi rasa malu dalam diriku.


"Yaudah."


"OI!!" sapa Simas dari kejauhan. Menghampiri kami bertiga.


"Lho, udah selesai nonton topeng monyet?"


"Topeng monyet?" tanya Louis bingung.


"Iya, jadi seekor monyet pake topeng terus dia beratraksi yang dituntun sama seorang manusia," jelasku.


"Topeng monyetnya sudah selesai," ucap Simas. "Monyetnya lucu sekali!"


"Aku ingin pelihara monyet."


Kami tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Simas yang konyol. Louis hanya tersenyum mendengarnya.


Udah kayak ibu hamil aja ngidamnya sampai segitunya.


"Ngakak!"


"Beli monyet dimana emangnya?" tanya Alexa dengan polosnya.


"Hutan banyak," jawab Louis.


"Aku tidak pernah melihat monyet di hutan sebelumnya," kata Alexa.


"Kenapa kita sampai membahas beli monyet segala?"


Aku tidak bisa berhenti tertawa. Semakin hari, Simas semakin lihai dalam melawak, bahkan dirinya sampai dijuluki 'Pahlawan Pelawak'.


"Alarm kalian bunyi, gak?" tanya Simas sambil menunjukkan alat GPS miliknya.

__ADS_1


"Tidak sama sekali!" jawabku dan Alexa.


Louis menggelengkan kepala.


"Kalian merasa gak, sih, walau kita sudah mengunjungi kota manapun juga, tetap aja alat ini tidak menunjukkan kehadiran iblis?" tanya Simas penasaran. "Apa mungkin mereka sengaja mengelabui kita?"


"Tidak mungkin, lah! Sebisa mereka mengelabui kita tetap aja alat ini akan berdering!" jawab Alexa.


"KALIAN!" seru Komandan Lucian dan Komandan Regu Clèment di sampingnya. Tiba-tiba mereka berdua langsung menghampiri kami dengan membawa dua kantong belanja.


"Selamat sore, Komandan Lucian dan Komandan Regu Clèment!" sapa kami sambil melakukan salam hormat menyambut kedatangan mereka.


"Bagaimana perkembangannya sejauh ini?" tanya Komandan Lucian.


"Untuk saat ini kami tidak menemukan jejak iblis di sini, Komandan!" sahut Simas.


"Baik, pantau terus!" seru Komandan Lucian.


"Siap, Komandan!" seru kami berempat dengan serentak.


Komandan Lucian dan Komandan Regu Clèment juga ikut membalas salam hormat kami berempat.


"Aku sudah membeli bahan-bahan persediaan kita untuk makan malam!" ucap Komandan Lucian sambil menunjuk ke arah salah satu kantong belanjanya yang dipegang oleh Komandan Regu Clèment.


"Makan malam kita adalah edisi bakar-membakar!" seru Komandan Lucian sambil menampilkan senyuman giginya.


"Asik!"


"Yay!"


"Kita juga sekalian merayakan keberhasilan Clèment karena dia telah mendapatkan ikan tuna!" lanjut Komandan Lucian, menggoda Komandan Regu Clèment yang memasang wajah cemberut. "Berbahagialah!"


"Cih!" Komandan Regu Clèment tampak tidak senang dengan perlakuan Komandan Lucian terhadapnya. Pandangannya membuang ke arah lain.


"Dia sedang marah karena dirinya terus di anggap anak kecil oleh para penjual di sini," jelas Komandan Lucian. "Sampai-sampai dia diberi ikan tuna gratis oleh salah satu penjual ikan."


"Lumayan, kan?"


"Hentikan, Lucian! Kau mempermalukanku di depan mereka!" gerutu Komandan Regu Clèment kesal.


Kami berempat tertawa kecil mendengar penjelasan Komandan Lucian yang benar-benar di luar dugaanku.


"Oh iya, yang lain pada ke mana?" tanya Louis heran.


Awalnya, satu rombongan Aliansi Amdis menyusuri pasar tradisional akan tetapi sekarang hanya tersisa kami berenam saja.


Lautan manusia yang semakin lama, semakin ramai menyesakkanku.


"Yang lain sudah lebih dulu kembali ke hutan," jawab Komandan Lucian. "Mereka telah menunggu kita!"


"Baiklah, ayo kita kembali!" ajak Komandan Lucian, menyuruh kami berempat untuk kembali menuju hutan yang tidak jauh dari pusat penduduk. Sudah dipastikan oleh Komandan Lucian bahwa hutan tersebut aman ditempati untuk sementara waktu selama kami berada di kota Salz.


Tiba di sana,


Para prajurit yang lebih dulu tiba di sana mendirikan tenda-tenda untuk persiapan bermalam. Mereka pun menyambut kedatangan kami.


"Aku bawa banyak ikan untuk makan malam kita!" seru Komandan Lucian sambil menghampiri mereka yang diikuti dengan kami berempat di belakangnya. Mereka yang sedang sibuk mendirikan tenda dan kegiatan lainnya, tiba-tiba bersorak ria.


Komandan Regu Clèment terdiam dengan memasang wajah kesal. "Baik, ini ikan-ikannya aku mau istirahat dulu."


Komandan Regu Clèment langsung meletakkan kantong belanjanya dan mengambil sebuah handuk yang sudah dibasahi oleh air.


"Kalian tolong cari kayu bakar sebanyak-banyaknya!" perintah Komandan Lucian kepada kami berempat yang baru saja terduduk di atas tanah saking lelahnya.


"Harus sekarang, Komandan?" tanya Simas yang baru meneguk air mineral. Dirinya hampir menyembur air dari dalam mulutnya.


Untung saja Simas tidak menyemburnya, sebab dia pasti akan mendapatkan hukuman dan ceramah dari Komandan Lucian edisi spesial.


"Tentu saja!" seru Komandan Lucian dengan tegas. "Tidak ada tapi-tapian!"


Okelah! Sifat tegasnya muncul dan kami yang baru beristirahat selama semenit saja sudah harus melaksanakan tugasnya.


"Baik, Komandan!" seru Louis. Dirinya langsung bangkit dari posisi nyamannya dan melaksanakan hormat di hadapan Komandan Lucian.


Orang yang paling rajin dan tidak pernah mengeluh di antara kita berempat adalah Louis. Walau sebenarnya jiwa raganya lelah, akan tetapi hal tersebut tidak menghalangi dirinya untuk melakukan sesuatu yang diperintahkan oleh para petingginya seperti halnya saat di Akademi Pahlawan Courtfeig.


Tak heran dirinya menjadi anak kesayangan Mr. William.


"Siap, Komandan!" kataku yang langsung beranjak menyusul Louis. Namun sebelumnya, aku melaksanakan hormat di hadapannya terlebih dahulu.


Komandan Lucian tersenyum.


Akhirnya aku dan Louis yang mencari kayu untuk dipotong dan diangkut kembali ke rombongan aliansi untuk keperluan bermalam.


"Kau bawa kapaknya?"


"Tentu saja!" katanya sambil menunjukkan sebuah kapak dari genggaman tangannya.


Kami menelusuri hutan cedar dan mencari kualitas warna kayu yang tepat untuk dijadikan kayu bakar. Hutan jenis konifer ini memiliki kayu yang kuat dan memiliki bentuk daun yang menyerupai jarum. Semua jenis pohon konifer selalu berdaun jarum dan selalu hijau sepanjang tahun.


Kalau sudah di dalam hutan seperti ini, hawa dingin semakin menusuk diriku. Cahaya matahari yang berusaha bersinar terhalangi oleh tingginya pohon cedar.


"Pohon itu aja, bagus tuh warna kayunya!" seruku sambil menunjuk ke arah salah satu pohon cedar.


Kami berdua langsung menghampiri salah satu pohon cedar yang kutunjuk dan Louis mulai memotong pohon itu menggunakan kapak yang dibawanya. Butuh beberapa kali untuk memotong batangnya tersebut karena memiliki tekstur yang kuat. Tak lama kemudian, pohon itu berhasil tumbang. Selanjutnya, dirinya langsung membagi menjadi beberapa bagian.


Louis tampak kelelahan. Aku pun menawarkan diriku untuk membantu.


"Selanjutnya biar aku saja!" perintahku padanya untuk memberikanku kapak dari genggamannya.


"Jangan!"


"Mau sampai kapan jangan terus? " kataku sambil tersenyum tipis menatapnya. "Ayo sini kapaknya!"


Keras juga.


Namun, aku tetap bersikeras kepada diriku untuk memotong batang pohon cedar sampai menjadi beberapa bagian dan membelahnya.


"Louis, Nica!" suara dari kejauhan mengejutkanku. Ternyata Alexa dan Simas memanggil kami dan langsung menghampiri kami berdua yang sedang sibuk dengan batang pohon cedar.


"Izinkan kami membantu kalian!" seru Alexa dengan semangat.


"Kenapa kalian tiba-tiba ke sini?" tanya Louis.


"Satu sisi kami ingin membantu kalian dan satu sisi lagi kami di ancam oleh Komandan Lucian mengenai jatah makan malam," jelas Simas.


"Oalah."


Mereka berdua pun ikut membantu kami sehingga pekerjaan kami berdua menjadi lebih mudah.


Setelah satu jam lamanya mencari dan memotong pohon cedar, akhirnya usaha kami berempat membuahkan hasil yang maksimal. Kami mendapatkan cukup banyak kayu untuk persediaan selama musim dingin ini. Kayu-kayu yang kami potong tidak semua untuk di jadikan kayu bakar, melainkan juga dijadikan sebagai obat antiseptik yang akan diolah oleh tim Greer nantinya


.


Sesampainya kami dengan rombongan Aliansi Amdis, kami berempat langsung meletakkan kayu-kayu cedar yang sudah diikat di tempat yang sudah ditentukan.


Hari sudah semakin sore. Hari-hari cepat sekali berlalu. Langit jingga-kemerahan mewarnai dunia, menampilkan rupanya yang menawan untuk dinikmati. Udara sudah semakin dingin semakin sorenya hari. Para prajurit sibuk mengambil kayu bakar yang sudah kami berempat kumpulkan.


"4°C"


Sebuah cahaya hologram yang menampilkan perkiraan suhu saat ini muncul dari alat GPS yang terpasang di pergelangan tanganku.


"Buset rasanya udah kayak minus."


Aku menggosok kedua tanganku secepat mungkin. Berusaha mendapatkan sensasi hangat untuk menghangatkan diriku yang membeku ini.


"Kerja bagus!" ucap Komandan Regu Clèment kepada kami berempat yang sedang kedinginan, terduduk di atas setumpukan kayu-kayu yang tidak kami potong menjadi beberapa bagian.


Komandan Regu Clèment selalu meminum teh di manapun berada, sampai di hutan seperti sekarang ini tidak menghalanginya untuk meminum teh. Dirinya rela membawa cangkir dalam keadaan seperti ini.


Komandan Regu Clèment doang emang!


"Apa kita akan bermalam di sini?" tanya Louis.


"Iya dan besok pagi setelah matahari terbit kita akan bergerak," jawab Komandan Regu Clèment.


"Tapi ... aku merasakan tidak aman di sini,"


"Tidak aman? Apa maksudmu?" tanyaku yang seketika bingung dengan kalimatnya.


"Entah aku merasa tidak aman saja di sini," jawab Louis yang sedang dilanda kekhawatiran.


"Mereka akan datang."


"Apakah itu benar, Clèment?" tanyaku untuk memastikan.


Komandan Regu Clèment terdiam dan menghela nafas panjang. "Percuma kita tidak bisa bergerak pada malam hari karena cuaca yang semakin dingin!"


"Kita tetap waspada untuk malam ini."


"Baiklah," ucapku.


"Jangan lupa untuk persiapkan makan malammu!" ucap Komandan Regu Clèment tersenyum sambil menepuk pundak kami berdua.


"Semangat terus!"


Aku pun menjawabnya dengan seulas senyuman sambil menatapnya yang pergi meninggalkan kami berdua.


"Louis, apa maksudmu?!" tanyaku dengan nada tinggi.


Tersirat raut wajah khawatir di wajahnya. "A–aku tidak bisa menjelaskannya."


"Kenapa?" tanyaku sekali lagi. "Jelaskan padaku!"


"Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini?"


Louis terdiam sambil memandang langit senja.


"Sudah kubilang aku tidak bisa menjelaskan akan tetapi aku yakin malam ini kita akan menemukan seseorang yang kita cari selama ini!"


"Tiberiu?" tanyaku.


Louis kembali terdiam. Pandangannya kembali menatap kedua mataku. Entah aku merasakan pandangan mata Louis yang berbeda.


Seperti bukan Louis yang kukenal.


Louis yang kukenal memiliki jiwa yang pemberani. Akan tetapi, saat ini aku melihat diri Louis yang sebaliknya.


"Tutup matamu!" perintahnya tiba-tiba.


"Lah?" Aku terkejut mendengar ucapannya.


"Iya, tutup matamu!"


Aku pun menutup kedua mataku.


"Jangan aneh-aneh!" ucapku. Louis tidak merespon perkataanku.


Akan tetapi, aku dapat merasakan sentuhan tangannya di leherku. Aku tetap menutup mataku dengan penuh kesabaran dan rasa penasaran sampai dirinya menyuruhku untuk membuka mata.

__ADS_1


"Oke, buka!"


Aku langsung membuka kedua mataku dan merasakan suatu benda yang ada di dadaku.


Ini kan ....


Kalung liontin kerang yang kusukai di pasar tradisional tadi!


"Kau membelikanku ini tadi?"


"Iya!" jawabnya dengan senyuman hangat di wajahnya. "Inisial 'A' yang kumaksud adalah nama kau. Aku ambil huruf belakangnya,"


"Serius ini untuk aku?"


"Tentu saja!" jawabnya. "Kau suka, kan?"


Aku mengangguk pelan. Masih tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi pada diriku sekarang. Air mata terharu mulai keluar dari kedua mataku dan membasahi wajahku.


Dengan jiwanya yang sehangat matahari, Louis mengusap air mata di wajahku. "Kenapa menangis?"


Aku tidak merespon pertanyaannya dan langsung memeluk dirinya. Diriku menangis hingga membasahi jas hitamnya. Louis langsung mendekapku dengan penuh kelembutan.


"TERIMA KASIH!" kataku sambil mendekapkan wajahku di pelukannya.


"Kau telah memberikanku segala-galanya akan tetapi ...." Kalimatku terputus.


"A—aku belum bisa membalas kebaikanmu. Maafkan aku!"


Tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan mengelus rambutku yang merah. Aku ingin berada di dalam posisi ini setiap hari.


Aku merasakan kenyamanan dan aman tiap kali bersamanya.


"Kau sudah membalas kebaikanku," ucap Louis sambil mengelus rambutku. "Dengan kau hadir di sampingku dalam keadaan sehat dan tersenyum bahagia saja sudah membuatku bahagia!"


"Benarkah?"


"Iya," jawabnya.


"Apa suatu hari kau akan meninggalkanku?"


Louis terdiam. Seketika elusan tangannya di rambutku berhenti. Aku melepaskan pelukannya dan menatap wajahnya. Tatapan yang tersirat oleh kata-kata yang ingin dilontarkannya.


Langit semakin gelap, matahari detik—demi—detik mulai tenggelam dan digantikan dengan cahaya bulan.


"Hanya Tuhan yang tahu," jawabnya tanpa menoleh ke arahku. Sikap Louis pun seketika berubah.


Perasaan aku aja paling!


Langit malam tiba.


Para prajurit langsung membuat api unggun dari kayu-kayu bakar yang sudah kami berempat kumpulkan. Acara bakar-membakar berlangsung dengan bahagia. Kami semua tertawa sambil bernyanyi ria.


Komandan Regu Clèment tetap dalam dunianya sendiri. Dia sengaja memisahkan diri dan beralih membaca buku sambil menikmati ikan sarden bakar yang ditemani dengan Komandan Lucian dan Komandan Regu Lewis.


Simas yang kukenal kumat juga. Dia menggila akibat meminum anggur merah terlalu banyak. Alexa pun sama halnya, bernyanyi sambil menyantap ikan bakar sehingga membuat wajahnya meninggalkan bekas daging ikan di sana.


Namun, tidak dengan Louis. Dirinya tampak tidak bersemangat sambil mengenggam ikan bakar yang sudah diberikan bumbu. Pandangannya selalu meratapi langit malam yang dipenuhi bintang.


"Oi!" panggilku kepada Louis. Aku menghampiri Louis yang sedang berdiam diri dan duduk di sampingnya. Pandanganya menoleh ke arahku.


"Diem-diem aja. Lagi mikirin apa, sih?"


"Entahlah," jawabnya. Pandangannya lanjut menatap langit malam.


"Aku merasa diriku tidak akan lama lagi."


Aku langsung mencubit pipinya. "Ngomong apa, sih?!"


"A—aw!" Louis meringis kesakitan.


"Jangan ngawur napa?!"


"Kan aku ngomong berdasarkan fakta."


"Ngomong tuh yang bagus-bagus! Emangnya kau tega melihatku sedih seperti kucing jalanan?"


"Aku gak suka kucing."


"Aku gak mau tahu pokoknya kau jangan sampai meninggalkanku. Titik!" jelasku dengan suara yang agak meninggi dan memasang wajah cemberut di hadapannya.


Louis langsung mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang sambil menatap kedua mataku.


--


Beberapa jam kemudian,


Pukul 23.54


Acara bakar-membakar telah usai.


"Kalian semua tetap siaga dan selalu pakai GPS di tangan kalian!" perintah Komandan Lucian kepada para prajurit. Dirinya memerintahkan seluruh prajurit untuk berkumpul sambil menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh.


"Usahakan kalian tertidur jangan terlelap karena bahaya sedang mengintai kita pada operasi ini!" lanjutnya dengan tegas.


"Tetap waspada dengan sekitar kalian!" ucap Komandan Regu Clèment yang berada di samping Komandan Lucian.


"Baik, selamat istirahat!" seru Komandan Regu Clèment menyuruh kami untuk bubar. Seluruh prajurit langsung kembali ke masing-masing tenda untuk beristirahat.


"Usahakan kalian tertidur jangan terlelap karena bahaya sedang mengintai kita pada operasi ini!"


"Oke sip mending diriku gak usah tidur sama sekali," gumamku.


"Ada apa?" tanya Alexa tiba-tiba menghampiriku yang sedang terduduk di luar tenda sambil mengamati api unggun yang masih bergelora. "Kau tidak tidur?"


Aku menggelengkan kepala. "Aku tidak bisa tidur, kau boleh tidur duluan."


"Baiklah," ucap Alexa. "Selamat malam, Nikki!"


Dirinya langsung memasuki tenda di belakangku.


"Hey! Kau tidak tidur, kawan?" sapa Kim, menghampiriku yang sedang sendiri.


"Insomnia-ku kumat."


"Minumlah susu hangat agar insomnia-mu sembuh!"


"Oke, Kim. Terima kasih atas sarannya!" ucapku sambil tersenyum.


"Baiklah, aku tidur duluan. Kau jangan lupa tidur, ya!" ucap Kim. "Malam!"


Kim langsung memasuki tenda bersama Alexa.


Kini hanya aku seorang diri yang masih terbangun.


Kulihat Komandan Regu Clèment yang langsung memasuki tendanya tanpa menyadari diriku yang belum tertidur.


Seketika suasana hutan menjadi hening. Hanya suara burung gagak berterbangan di langit dan dedaunan pohon cedar yang saling bersentuhan sehingga menimbulkan suara gemerisik.


Alam sedang tertidur.


Otakku masih memikirkan racauan Louis.


"Aku merasa diriku tidak akan lama lagi."


"Hanya Tuhan yang tahu,"


"Entah aku merasa tidak aman saja di sini,"


"Mereka akan datang."


Kalimat-kalimat tersebut berkecamuk di pikiranku. Sulit sekali diriku untuk tenang. Mungkin salah satu penyebab diriku insomnia karena ini.


Aku terlalu terbawa ke pikiran.


Ada apa dengan Louis?


Sementara itu, firasatku juga tidak enak.


Apakah akan terjadi sesuatu dengannya?


Gak, gak mungkin!


Tenang, Rika, tenang! Rileks kan pikiranmu, kawan!


Semuanya hanya alam bawah sadar kau aja yang sedang stres ....


"Nica?"


Tiba-tiba Louis menghampiriku dan terduduk di sampingku. Aku terkejut setengah mati. Diriku tidak menyadari kehadirannya di sampingku.


"Louis?"


"Gak bisa tidur, ya?" tanyanya dengan nada lembut.


Aku mengangguk. "Mataku sudah berat akan tetapi aku belum bisa tidur sama sekali."


"Oh," katanya. "Aku juga."


"Kau harus paksakan dirimu untuk tidur. Aku akan pergi memantau sekitar," lanjutnya. Dia mengetahui tujuanku.


"JANGAN!" Aku langsung mencengkram kedua bahunya.


Tiba-tiba aku menguap tanpa sadar. Seperti ada energi kuat menyuruhku untuk segera tertidur. Louis memerhatikanku sambil tersenyum.


"Itu ngantuk," ucapnya sambil memerhatikanku.


"T—tapi di luar sana bahaya apalagi di malam seperti ini!" bentakku.


"Tenang," ucapnya sambil menunjukkanku pisau belati dari saku celananya yang masih terbungkus dengan sarungnya. "Benda ini akan menyelamatkanku."


"Apa kau ingat dengan percakapan kita saat di pinggir danau di Rainville?" tanya Louis dengan nada lembut. "Aku pernah cerita bahwa aku pernah melawan iblis-iblis sendirian?"


Aku menampar wajahku berulang kali agar rasa ngantuk ini menghilang.


Akan tetapi, usahaku nihil.


Rasa ngantuk itu semakin parah, memaksakan kedua mataku untuk menutup. Energi yang kuat membuat jiwaku terhipnotis.


"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu sendiri. Kau juga harus kembali ke tendamu, Louis!" bentakku dengan suara meninggi sambil mencengkeram kedua bahunya. "A—aku punya firasat buruk mengenai hal ini."


"Tolong percayalah padaku!"


Louis hanya tersenyum. Tidak membalas perkataanku.


Tiba-tiba aku tidak sadarkan diri akibat rasa ngantuk yang sangat kuat ini. Berhasil menutup kedua mataku dan irama pernafasanku seketika berubah menjadi lebih pelan dan tenang.


"Sampai jumpa, Rika ku sayang ...."


Suara itu samar-samar terdengar olehku.

__ADS_1


Aku tidak bisa bergerak seperti ada yang menahan jiwa ragaku untuk berontak.


Diriku terlelap ke alam mimpi.


__ADS_2