
Pagi hari yang cerah,
Sekumpulan burung saling berjejer sambil bernyanyi riang di luar sana. Langit yang biru menyambut tiap manusia untuk beraktivitas.
Tetapi Clèment tetap tidak menghiraukannya.
"Tuan Clèment!" panggil salah satu pelayan wanita yang lengkap dengan seragam maid-nya.
"Waktunya bangun pagi!" ucapnya sambil membuka gorden jendela sehingga sinar matahari pagi menyilaukan kedua pandangan Clèment. Dirinya yang baru bangun dari tidur dengan mata yang masih setengah terpejam.
"Hmm," kata Clèment yang masih mengantuk.
"Jangan bermalas-malasan," ucap pelayan wanita itu. "Hari Senin harus diawali dengan mood yang baik!"
"Nyonya Kasie menunggumu di ruang makan."
"Iya iya!" jawab Clèment yang masih mengantuk. Tepatnya menjawab dengan tidak niat.
"Berisik banget!" gerutunya.
"Pakaian Anda sudah saya siapkan di kursi," jelasnya dan langsung meninggalkan Clèment yang sedang terduduk di sisi ranjang yang empuk dan rasanya sulit sekali dirinya untuk bangun dari benda nyaman itu.
Dirinya menatap waktu di jam dinding.
Sudah menunjukkan pukul 08.00 tepat. Sedangkan sekolah dimulai pukul 09.15.
Saat ini Clèment berada di kelas tingkat akhir. Segala tes sudah dia lewati dan tinggal pengumumannya hari ini. Dia mengincar nilai akademis yang tinggi karena dirinya cukup lemah dalam hal teori ketimbang praktek.
Clèment bersekolah di Sekolah Sihir Alvist, sekolah sihir para bangsawan dan konglomerat. Walaupun dia bersekolah di sana, akan tetapi dalam kurikulumnya tersebut tidak hanya mempelajari sihir saja, melainkan mempelajari Matematika, Sains, dan Olahraga juga walau ketiga pelajaran tersebut hanya peminatan dan sihir masuk kurikulum wajib.
Akhirnya setelah Clèment merasa rasa ngantuknya lumayan hilang, dia beranjak dari kasurnya yang nyaman dan langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sekitar beberapa menit setelah bersiap-siap diri, Dia pun keluar dari kamarnya yang nyaman dan menuruni anak tangga menuju ruang makan. Lengkap memakai seragam putih dengan dasi pita berwarna merah yang bermotif kotak-kotak serta celana panjang berwarna ungu tua.
"Pagi sayang!" sapa ibu kepada Clèment yang sudah tiba di ruang makan lebih dulu, bersama dengan Ayah yang sedang menyantap makan pagi dengan secangkir kopi hitam dan roti beroleskan mentega.
Tipikal makan pagi para bangsawan.
Clèment pun membalas sapaan ibu sambil tersenyum menatapnya.
"Hari ini adalah hari spesial!" ucap ibu. "Benar tidak?"
"Aku tidak tahu harus bilang hari ini spesial atau tidak," jawab Clèment. "Aku khawatir dengan nilai akademiku, Bu."
"Aku yakin kau pasti meraih nilai yang terbaik, Nak!" ucap Ibu yang sedang mengoleskan mentega di roti tawarnya. "Clèment kan anak ibu dan ayah yang super hebat!"
Clèment hanya tersenyum sambil menuju salah satu kursi yang berdekatan dengan ibu dan ayah. Setibanya, dia langsung mengambil sekotak sereal dan susu sapi di atas meja panjang.
"Apa kau punya rencana setelah kau lulus?" tanya Ayah tiba-tiba.
"Rencanaku ingin daftar ke Akademi Sihir Alvist setelah lulus ini," jawab Clèment sambil menuangkan sekotak sereal ke dalam mangkuknya. "Kebetulan musim semi ini dia membuka pendaftaran setelah kulihat di mading dekat kantor pos."
"Itu bagus!" jawab Ayah. "Kau harus selalu kembangkan sihirmu itu dan jangan sampai punah."
"Karena itu warisan Dominique yang sudah turun menurun," jelasnya.
Dominique sebenarnya adalah marga bangsawan dari sebelah ayahku di mana marga tersebut dimiliki oleh para bangsawan yang ahli dalam sihir hebat. Jadi setiap keturunannya tersebut, diwariskan sihir hebat di mana media utamanya adalah kartu remi. Kami para keturunannya pun diperbolehkan untuk mengembangkan sendiri teknik-tekniknya bahkan itu sangat dianjurkan.
"Baik, Yah!" jawab Clèment. "Akan kulakukan."
"Anak ayah dan ibu yang super hebat!" jelas Ibu. "Tidak diragukan lagi."
Clèment tersipu malu. "Hentikan, Bu!"
Ibu langsung mengelus rambutnya yang ikal seperti ombak.
"Oh iya," kata Clèment. "Pengumuman nilai kelulusan akan dimulai setengah jam lagi!"
Dirinya pun langsung menghabiskan sereal yang berada di mangkuknya sampai tidak tersisa.
"Pelan-pelan, nanti kau tersedak!" ucap ibu yang mengamati gerak-gerik Clèment.
"Aku sudah biasa, Bu," jawabnya.
"Dah, ayah dan ibu!" katanya yang langsung bergegas meninggalkan meja makan dan memakai jas berwarna ungu tua serta topi yang sudah tergantung di gantungan kayu.
"Kau belum memakai sepatumu!" ucap ayah yang tertawa melihat kecerobohan Clèment.
"Ah iya," Clèment langsung mengambil sepasang kaus kaki dan sepatu hitam yang mengkilat dan langsung memakainya.
"Dah, ayah dan ibu!" ucap Clèment lagi sambil melambaikan tangan kepada mereka. "Sayang kalian!"
"Hati-hati di jalan, sayang!" ucap ibu dan ayah bersamaan sambil membalas lambaian tanganku.
Clèment mulai semakin jauh dari mereka.
Hari-hari sekolahnya, Clèment selalu berjalan kaki, sebab letak sekolah dan rumahnya dekat. Tidak sampai lebih dari 10 menit. Selain itu, berjalan kaki justru lebih menyehatkan tubuh.
Orang-orang sibuk melakukan aktivitas mereka di jalan sehingga jalanan menjadi ramai. Lumayan banyak mobil yang berlalu-lalang di jalanan.
"Yo, Clèment!"
"Yo!" jawabnya.
"Hati-hati, Nak!"
"Terima kasih, Bi!"
Banyak orang yang menyapa dirinya setiap kali dia pergi seperti sekarang ini. Mereka semua adalah teman-teman ayah dan ibu yang suka datang ke rumah. Ini semua karena perilaku ayah dan ibu yang terlalu ekstrovert dan suka berbagi sesuatu.
Clèment hanya menjawab apa adanya sebab dia tidak terlalu bisa berinteraksi dengan orang lain sehingga tak jarang sebagian orang menganggapnya sombong.
Ya bagaimanapun juga inilah diriku!
"Hoi!"
Diriku menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Andri menyapa Clèment dari kejauhan. Andri adalah teman baik Clèment sejak tahun pertama di Sekolah Alvist. Rumahnya tidak jauh dari lokasi rumah Clèment yang hanya berbeda 3 blok saja.
Andri selalu datang lebih dulu ke sekolah. Tetapi kali ini Clèment heran dengan anak itu.
Tumben sekali dia pergi jam segini ....
Dia berlari menghampiri Clèment. Langkah Clèment pun seketika terhenti sambil menatap kehadiran Andri.
"Hey, kawan!" sapa Clèment. "Kau berkeringat!"
"Aku telat bangun," ucapnya. "Jam dinding di kamarku mati."
"Kau belum telat," kata Clèment. "Lihatlah aku sekarang!"
"Tidak mungkin aku berjalan santai jika telat."
"Oh," kata Andri. "Bodoh sekali aku!"
Clèment memasang wajah tersenyum. Lalu berkata, "Ayo jalan bersama-sama."
Andri mengangguk sambil tersenyum. Wajahnya memerah akibat berlari. Rambut hitamnya terpapar oleh sinar matahari pagi. Akhirnya, Clèment tidak sendiri pergi ke sekolah seperti biasanya, melainkan sekarang ditemani oleh Andri yang kali ini berangkat pukul segini.
__ADS_1
--
Tiba di Sekolah Sihir Alvist.
Sebuah spanduk besar terlihat di gedung sekolah.
"HARI PENGUMUMAN NILAI TES AKHIR"
Oke!
Jantungnya mulai berdegup kencang namun, dia berusaha untuk tetap santai.
Murid-murid tingkat akhir berlalu-lalang mulai memasuki lingkungan sekolah. Kebanyakan dari mereka bersama teman-teman mereka.
Sudah 9 tahun, dirinya menempuh pendidikan di sini. Tidak terasa ini adalah hari kelulusannya.
Semakin dekat dengan masa depan.
"Hai!" sapa Elise tiba-tiba yang menghampiri Clèment dan Andri yang sedang berjalan ke dalam aula sekolah. Elise sambil membawa seorang teman perempuannya yang tidak mereka berdua kenal.
Elise adalah seorang gadis terkenal dan cantik di sekolah yang selama ini telah disukai oleh Andri diam-diam. Clèment terus mengamati wajah Andri yang seketika berubah menjadi gugup dan memerah seperti tomat. Disenggolnya lengan Andri menggunakan sikunya. Ini pertama kalinya Andri bertatap muka dengan Elise karena sebelumnya Andri hanya melihat Elise dari kejauhan saja.
"Jawab bodoh!" bisik Clèment kepada Andri yang terdiam seribu kata.
"H—halo!" ucap Andri terbata-bata.
"Apa kau baik-baik saja, Andri?" tanya Elise, heran melihat tingkah laku Andri.
"TIDAK!" Andri langsung memisahkan diri dari mereka bertiga dan pergi entah kemana. Dirinya seketika menghilang, tenggelam di antara lautan keramaian.
"Andri kenapa?" tanya Elise kepada Clèment yang masih berdiri di hadapannya.
"Tidak tahu," jawabnya singkat. Wajah Elise berubah menjadi sedih seketika.
"Mungkin dirinya sedang buru-buru buang air besar," jelas Clement. Berusaha untuk mencairkan suasana yang mulai canggung.
Elise menghela nafas.
Tiba-tiba pandangan Clèment tertuju kepada seorang perempuan di samping Elise. Dirinya tersenyum malu menatap Clèment. Dia pun memutuskan untuk tersenyum menatap teman Elise sambil mengangkat tangan kanannya yang menandakan, "Hai!"
"Kenalkan ini temanku, Rachel!" kata Elise sambil memperkenalkan temannya.
"Clèment!" ucap Clèment sambil mengulurkan tangan kanannya untuk mengajaknya bersalaman. Namun, perempuan yang bernama Rachel tersebut, tampak ragu-ragu untuk berjabat tangan dengan Clèment.
"Hey!" bisik Elise kepada Rachel yang malu-malu. Akhirnya, Rachel berjabat tangan dengan Clèment. Entah gerak-geriknya aneh sekali.
Tiba-tiba dirinya kepikiran oleh Andri yang hilang entah kemana.
"Oh ya," kata Clèment tiba-tiba. "Aku harus mencari Andri segera."
"Maafkan aku, mungkin lain kali kita bisa mengobrol!" jelasnya.
"Oh baiklah," kata Elise. "Semoga Andri baik-baik saja karena wajahnya terlihat pucat sejujurnya."
"Jangan khawatir, semuanya aman!" kata Clèment. "Dah!"
Dia mulai melangkah menjauh meninggalkan Elise dan seorang temannya, Rachel. Sekilas Elise menjawab lambaian tangan Clèment sambil tersenyum menatapnya dari kejauhan. Mereka berdua pun menghilang di tengah keramaian para siswa.
Firasat Clèment mengatakan bahwa Andri sedang berada di toilet.
Baiklah, aku akan kesana!
Tak lama kemudian setibanya di toilet, Clèment melihat diri Andri yang sedang berkaca di cermin dengan kedua tangan yang ditempelkan di pinggir wastafel.
Menatap dirinya yang lusuh.
"Bodoh sekali kau malah pergi!" ucap Clèment kesal.
"Aku tidak bisa berhadapan dengannya, Clèment," ucap Andri. "Aku tidak pantas baginya."
"Bodoh sekali pemikiranmu itu," kata Clèment yang mulai naik darah. "Kebodohan dan ketakutanmu membuat dirimu jatuh dan tidak percaya diri!"
"Tapi—"
Clèment langsung menarik kerah baju Andri. "HENTIKAN SEMUA DRAMAMU YANG KONYOL!"
"TUNJUKKAN KEWIBAWAANMU DI DEPAN PEREMPUAN YANG KAU CINTAI!" bentaknya. Lalu dia melepaskan cengkramannya pada kerah baju Andri.
Clèment seketika menghela nafas yang panjang. Meluapkan emosinya ke udara.
"Aku capek sekali!" ucap Clèment sambil memandang cermin di dalam toilet.
Andri seketika langsung terdiam setelah mendengar penjelasan Clèment.
Diam mematung.
"5 menit lagi upacara pengumuman nilai tes akan segera dimulai,"
"Terserah kau mau ikut bersamaku atau tidak," lanjut Clèment sambil melangkah menuju pintu keluar.
Tidak sampai selangkah, Andri langsung menyusul Clèment. "Tunggu aku!"
Tingkah lakunya seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Sehingga Clèment sudah bisa menebak kelakuan Andri dan agak mengancamnya. Diri Andri tidak bisa berdiam terlalu lama.
Tiba waktu pengumuman nilai kelulusan.
"Bonum mane, omnes!" sapa Mr. Szymon kepada semua murid dari atas panggung.
Terjemahan:
Selamat pagi semua!
"Bonum mane, domine!" Serentak para siswa sambil mengangkat tangan kanan mereka ke dada dalam posisi mengepal. Gerakan tersebut sudah dilakukan sejak tahun pertama di Sekolah Sihir Alvist.
Terjemahan:
Selamat pagi, pak!
" Diem bonam, omes." kata Mr. Szymon. "Hari ini adalah hari pengumuman nilai kelulusan kalian!"
Terjemahan:
Hari yang baik semua.
"Nilai ini akan menentukan masa depan kalian," ucap Mr. Szymon. "Ini semua tergantung usaha kalian selama 9 tahun ini."
"Baik, daripada lama, sebaiknya saya sebutkan peraih nilai tertinggi di angkatan kalian."
Seketika di dalam aula yang luas ini terjadi keheningan. Semua raut wajah siswa tampak pasrah, juga tidak sabar mengetahui hasil kerja keras mereka.
"Nilai tertinggi dipegang oleh ...."
"CLÈMENT DOMINIQUE!!"
Clèment tidak menyangka bahwa dirinya disebut oleh Mr. Syzmon menggunakan pengeras suara. Seketika suara tepuk tangan memekakkan telinganya.
__ADS_1
"Dengan nilai rata-rata pelajaran peminatan 91,00 dan rata-rata nilai pelajaran sihir 398,6."
Dalam penilaian di Sekolah Sihir Alvist, nilai rata-rata >87.00 pada pelajaran peminatan, dianggap sebagai nilai rata-rata tertinggi. Tidak semua anak bisa meraih nilai rata-rata setinggi itu. Kebanyakan dari mereka hanya memperoleh rata-rata 85,00 - 86,50 paling tingginya. Entah apa yang merasuki dirinya sehingga dia bisa meraih nilai pelajaran peminatan setinggi itu. Bisa dibilang dirinya berhasil mencetak sejarah di sekolah ini.
Sebenarnya Clèment lebih condong ke pelajaran sihir sebab dirinya selalu mendapat nilai paling memuaskan di antara semua siswa di angkatannya. Sudah beberapa kali dia melompat materi karena tingkatan sihirnya yang tidak wajar.
Semua siswa bertepuk tangan sambil menatap Clèment. "Selamat kawan!"
"Kau hebat!"
"Keren!"
Dengan perasaan tidak percaya, dirinya menuju ke atas panggung. Mr. Syzmon tampak membawa dua sertifikat dan sebuah medali penghargaan dari sekolah dan langsung memberikan kepada Clèment.
"Selamat atas prestasimu, Clèment!" ucapnya sambil memberikan Clèment sebuah medali penghargaan dari sekolah dan dua sertifikat. Clèment langsung mengambil kedua benda berharga tersebut. Namun, sebuah tulisan dalam salah satu sertifikat tersebut berhasil menyita perhatiannya.
"BEASISWA KE AKADEMI SIHIR ALVIST"
"Pak!" panggilnya kepada Mr. Syzmon. "Apakah Anda serius?"
Mr. Syzmon pun tersenyum.
"Tentu saja, Nak!" ucapnya sambil merangkul bahu Clèment.
"Terima kasih banyak, Pak!" jawab Clèment. Dirinya merasa usahanya selama 9 tahun akhirnya terbayarkan. Perasaanya senang sekali bahwa dia berhasil mendapatkan beasiswa ke Akademi Sihir Alvist tanpa tes.
Akademi Sihir Alvist adalah akademi sihir yang paling bagus di Steich dan bergengsi. Setiap orang yang memasuki akademi itu harus melewati tes awal. Dan katanya, untuk melewati tes tersebut, cukup sulit sekali. Kuota penerimaan siswa di sana hanya puluhan orang saja dari beribu-ribu pendaftaran. Ketat sekali, bukan?
Ini merupakan kesempatan Clèment yang harus dia ambil.
Demi masa depanku untuk menjadi manusia yang berbakat sihir yang hebat seperti ayah!
Clèment dipersilahkan untuk berpidato di atas panggung. Menatap seluruh siswa yang seangkatan dengannya.
Jujur, dia tidak biasa berpidato di tempat umum seperti saat ini. Keringat dingin langsung membasahi pakaiannya.
Grogi,
Tapi harus dia hadapi.
Clèment langsung menarik nafas yang panjang. Lalu melepaskan segala pikirannya yang menganggu.
"Halo selamat pagi semuanya!" Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya melalui pengeras suara.
"Sebelumnya, nama saya Clèment Dominique yang mewakili para siswa di sini, ingin berterima kasih banyak kepada para guru yang telah membimbing kami semua selama 9 tahun ini serta Mr. Syzmon yang telah banyak memotivasi kami sehingga kami bisa seperti ini sekarang, serta orangtua kami yang selalu ada di setiap saat."
"Saya jujur tidak menyangka atas apa yang telah saya raih selama di Sekolah Sihir Alvist," jelasnya. "Bahkan ketika saya mendapatkan beasiswa ke Akademi Sihir Alvist, saya sangat sangat bahagia karena ini merupakan impian saya selama ini!"
"Saya sungguh tidak sabar ingin memberitahu orangtua saya segera!" lanjutnya.
"Kepada kalian semua yang hadir pada hari ini, teruslah raih cita-cita kalian setinggi langit!"
"Kita semua adalah generasi penerus pembawa cahaya bagi umat manusia," jelas Clèment.
"Maka dari itu, ayo kita semangat meraih masa depan yang baik dan berarti bagi manusia!"
"Karena masa depan sudah berada tepat di depan mata kita semua!" jelas Clèment dengan semangat. "Sekian dari saya, terima kasih!"
Seketika suara tepuk tangan bergemuruh di setiap sudut ruangan aula, bahkan sampai ada yang meniup pluit, entah aku tidak tahu siapa dia.
"Yeah! That's my boy!" ucap Andri yang berada di barisan depan.
Setelah dia menuruni panggung sambil membawa dua sertifikat dan sebuah medali sekolah yang dikalungkan di lehernya. Andri langsung merangkul Clèment sambil melancarkan high-five.
"Terima kasih, Andri!" ucap Clèment sambil tersenyum.
"Maafkan aku yang telah banyak merepotkanmu selama ini," katanya. "Aku akan mengikuti semua usulanmu!"
"Nah, itulah Andriku yang jantan!" ucap Clèment sambil tersenyum lebar. Dia terus menatap Andri yang seperti anak ayam.
Tak lama kemudian setelah dua jam pengumuman nilai akhir, para siswa diminta untuk berfoto satu angkatan di halaman sekolah yang luas dan penuh rerumputan hijau yang segar.
"Say cheese!" kata tukang foto kepada mereka semua untuk tersenyum.
"CHEESE!"
Hanya beberapa menit saja untuk berfoto satu angkatan, akhirnya mereka semua bubar dan diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing sambil membawa kertas nilai yang dimasukkan ke sebuah tabung berwarna ungu manggis.
Clèment menatap Andri yang sedang berusaha memulai percakapan dengan Elise tepat di dekat pintu masuk sekolah. Akhirnya, Andri mengikuti saran Clèment demi menjadi pria yang lebih berwibawa di mata perempuan yang dia sukai.
Tiba-tiba seorang perempuan datang menghampiri Clèment yang sedang terduduk seorang diri di bangku kayu di halaman sekolah. Dirinya agak terkejut sebab perempuan yang menghampirinya adalah ....
Rachel.
Rambut hijau tuanya terurai panjang di sekitar bahunya.
Kedua pandangan Clèment membulat. "Ada apa?"
Kehadirannya justru membuat dirinya bertanya-tanya.
"Anu—" Rachel tampak gugup sekali untuk mengatakan sesuatu. Wajahnya mulai memerah.
Clèment menghiraukannya sebab dia tidak berkata-kata kepadanya. Dirinya seperti patung di hadapan Clèment. Dia pun kembali mengamati langit biru yang indah.
"A—aku .... "
"Kau mau bilang apa?" ketus Clèment. Tidak sabar mendengar kalimat Rachel yang tidak jelas.
"A—AKU MENYUKAIMU!" ucap Rachel tiba-tiba.
"TOLONG TERIMA COKLAT INI!" lanjutnya sambil memberikan Clèment sekotak coklat berbentuk hati.
"Aku sudah menyukaimu sejak tahun keempat sekolah, di mana kau sedang menunjukkan sihir bunga dari kartu remi saat festival musim gugur yang lalu."
Ini pertama kalinya Clèment diberi coklat oleh seorang perempuan, bahkan dirinya tidak menyangka bahwa selama ini Rachel terus mengamatinya secara diam-diam dan telah menyukai dirinya dari dulu. Jujur, Clèment baru mengtahui Rachel baru saja tadi pagi saat dia bersama Elise.
Andri pernah bilang kepada Clèment bahwa ada beberapa perempuan lain yang menyukai diri Clèment secara diam-diam dan hanya bercerita kepada Andri di belakangnya.
Entahlah apa yang menarik dari diriku.
Sejujurnya dia tidak memiliki perasaan suka dengan perempuan-perempuan di sekolah. Sulit rasanya untuk mendapatkan perasaan tersebut seakan-akan ada dinding pemisah yang membatasi dirinya dengan perasaan suka.
"Rachel," kata Clèment, berusaha untuk tidak menyakiti perasaannya. "Terima kasih atas coklatnya."
"Tapi aku tidak bermaksud untuk mengecewakanmu," lanjutnya. "Maaf aku tidak menyukaimu."
"Bahkan kita baru saja berkenalan, bukan?"
"Jadi aku memintamu untuk memakan coklat ini," jelas Clèment. "Terima kasih atas pengertianmu!"
Dirinya langsung beranjak dari bangku kayu dan meninggalkan diri Rachel yang mematung.
"Tunggu, Clèment!" seru Rachel. Seketika langkah Clèment terhenti. "Setidaknya aku mau coklat buatanku kau terima!"
"Aku sangat berharap sekali coklat ini bisa dirasakan olehmu," jelasnya.
__ADS_1
Perkataannya membuat Clèment terkejut.
"Walau kau tidak menyukaiku, aku harap kita masih bisa berteman."