
Ratusan tahun yang lalu.
Di mana kehidupan antara iblis dan manusia saling berdampingan. Mereka tidak mengenal apa itu kejahatan,
Adu domba,
Saling mencela.
Akan tetapi, kehidupan ini berlangsung dengan tertib,
Kerja sama,
Tolong menolong,
Keadilan, dan kebaikan lainnya.
Setiap harinya, iblis dan manusia saling berbagi hal-hal kebaikan. Mulai dari berbagi makanan, bantuan, dan senyuman. Bahkan ini sudah berlangsung selama berabad-abad.
Masalah pun berhasil diselesaikan secara musyawarah.
Bayangkan! Sungguh aman, tentram, dan nyaman sekali hidup dalam situasi seperti itu.
Akan tetapi, kondisi seperti itu tidak dapat bertahan lama.
Ini semua bermula ketika Raja Iblis, Raja Loritz V dikaruniai seorang pangeran bernama Loritz-Levanche yang bertepatan pada malam bulan purnama merah.
Malam bulan purnama merah adalah malam yang penuh berkah bagi kepercayaan kaum iblis.
Malam itu sekaligus menjadi malam keberuntungan dan kebahagiaan bagi keluarga kerajaan sebab Raja Loritz V dan istrinya dihadirkan oleh buah hati mereka sebagai penerus tahta mahkota Loritz generasi selanjutnya. Kaum manusia pun ikut merayakan kehadiran Pangeran Levanche di dunia.
Malam setelah kelahiran Pangeran Levanche, Raja Loritz V mengundang Raja Manusia, yaitu Raja Ehner untuk mengadakan perayaan kelahiran putra pertamanya di kastil Raja Loritz V bertempat tinggal. Malam itu berlangsung ramai dan bahagia. Hal ini sekaligus untuk mempererat hubungan antar keduanya.
"Selamat atas kelahiran anak pertamamu!" ucap Raja Ehner sambil mengulas senyuman sehingga menimbulkan lesung pipi di wajahnya.
"Terima kasih, Ehner! Aku tidak menyangka anak ini lahir di malam bulan purnama merah," kata Raja Loritz V.
"Aku ikut senang mendengarnya dan aku yakin anakmu akan menjadi penerus tahta kerajaan yang bijaksana seperti ayahnya," jelas Raja Ehner sambil tersenyum.
Raja Loritz V tertawa kecil. "Kau bisa saja!"
Hubungan antara iblis dan manusia sudah berlangsung sejak masa nenek moyang mereka yang sudah beribu-ribu tahun lamanya.
"Bagaimana kabar si kecil Esther?" tanya Raja Loritz V kepada Raja Ehner.
Raja Ehner tersenyum. Lalu berkata, "Dia baik-baik saja. Bahkan dia sedang mencoba untuk belajar jalan di umurnya yang baru beberapa bulan saking tidak sabarnya!"
"Wah, dia pintar sekali!" puji Raja Loritz V sambil tersenyum.
"Aku ingin anak kita berdua saling bersahabatan seperti hubungan kita ini," lanjutnya.
"Tentu saja, aku yakin hal tersebut akan terjadi di suatu hari yang akan datang," kata Raja Ehner.
"Untuk masa depan yang baik."
--
Beberapa tahun kemudian,
Pangeran Levanche tumbuh menjadi sosok pangeran yang menawan dan cerdas.
Seperti ayahnya, Raja Loritz V.
Saking menawannya, banyak gadis-gadis di luar sana ketika bertemu dengannya langsung mengalami jatuh hati. Tak heran, Pangeran Levanche setiap harinya selalu mendapatkan surat cinta yang beragam.
Kecerdasannya juga membuat para penduduk terpukau dengannya. Bahkan di saat usianya yang masih berusia 6 tahun, ia sudah mengerti bermacam strategi perang karena ia sering memasuki ruang kerja ayahnya dan mengamati tiap tulisan pada peta dunia serta membaca banyak buku pengetahuan yang membuat otaknya berkembang cepat.
Akan tetapi, kecerdasan otak yang dimiliki Pangeran Levanche tidak sebanding dengan Pangeran Esther.
Di satu sisi, Pangeran Esther adalah sosok pangeran manusia yang dermawan dan suka menolong rakyat bawah. Dirinya lebih disukai dan terkenal di kalangan masyarakat, baik iblis maupun manusia, selain ketampanannya juga. Hal itu membuat Pangeran Levanche semakin membenci dirinya.
Pangeran Esther dianggap sebagai perusak pamornya di mata masyarakat.
Walaupun Pangeran Esther mengetahui bahwa Pangeran Levanche membenci dirinya, hal tersebut tidak membuat dirinya ikut membenci Pangeran Levanche, melainkan membalas dengan kebaikan.
Ketika mereka berdua belajar di suatu akademi yang sama, di saat Pangeran Levanche sedang kesusahan dalam belajar, Pangeran Esther bersedia membantunya dengan senang hati. Akan tetapi, kebaikan yang selama ini Pangeran Esther lakukan, tidak pernah dianggap oleh Pangeran Levanche dan terus mengedepankan perasaan iri dan dengkinya.
Sehingga pada suatu hari, di saat pembagian nilai tes.
Sialan kau, Esther!
Pangeran Levanche merasa tidak terima dengan hasil tesnya setelah dibandingkan dengan nilai Pangeran Esther yang terpajang di papan nilai. Dirinya langsung berlari ke ruangan ayahnya sambil membawa hasil tesnya.
"Ayah, kenapa Esther bisa mendapatkan nilai sempurna?" tanya Pangeran Levanche yang menghampiri Raja Loritz V yang sedang terduduk di ruang kerjanya dan langsung menunjukkan hasil tesnya.
"Mungkin kau belum belajar semaksimal mungkin," jawab Raja Loritz V dengan tenang. "Akan tetapi, itu sudah lebih dari cukup, Nak, kau telah meraih nilai yang bagus!"
"Tapi aku sudah belajar mati-matian tetap saja nilai ujianku tidak sebagus hasilnya!" seru Pangeran Levanche. Merasa tidak terima nilainya dibawah Pangeran Esther.
"Ya berarti kau harus lebih maksimal lagi belajarnya,"
"Aku gak terima, Yah! Nilai dia lebih bagus daripadaku!" seru Pangeran Levanche dan langsung meninggalkan Raja Loritz V seorang diri di ruang kerjanya.
Walaupun Pangeran Levanche dianugerahi ketampanan dan kecerdasan, akan tetapi ia tidak pernah menyadari kelebihannya sama sekali. Ia tidak pernah bersyukur dengan hidupnya sehingga memunculkan sifat ketidakpuasan dalam dirinya. Sifat angkuh dan sombong muncul dalam dirinya seiring umurnya bertambah. Dirinya tidak pernah memikirkan ayahnya yang setiap saat sibuk sebagai pemimpin bangsa.
Yang ada di dalam dirinya adalah kepuasan.
Ibunya pun lelah dengan sikap anaknya yang semakin menjadi-jadi.
"Sayang, nanti saja, ya!" ucap ibu kepada Pangeran Levanche yang sedang tidak terkendali.
"AKU MALU, BU! TEMAN-TEMANKU SUDAH MEMILIKI BARANG ITU! MASA AKU BELUM, SIH?!" pekik Pangeran Levanche kepada ibunya.
"AKU TIDAK TERIMA YA, BU! POKOKNYA AKU INGIN BARANG ITU SEKARANG JUGA!"
"Sekarang ibu keluar dari kamarku!" lanjutnya. Menyuruh ibunya untuk segera meninggalkan dirinya di kamar seorang diri.
Tak jarang sikap Pangeran Levanche sering membuat ibu dan ayahnya merasa sangat sedih. Para pekerja di kastil lah yang terus memberikan kesabaran kepada mereka berdua.
Tiba pada waktunya di saat umurnya yang sudah menginjak 18 tahun.
Pangeran Levanche semakin tumbuh dewasa. Dirinya pun berhasil menyelesaikan pendidikannya. Akan tetapi di umurnya yang sudah dewasa, niat jahat dalam dirinya semakin membara seperti api.
Pangeran Levanche memiliki ambisi untuk membunuh Pangeran Esther dan mengadu-domba antara iblis dengan manusia.
Dirinya tidak menyukai hubungan baik antar keduanya dan ingin segera mengakhirinya.
Kedewasaan inilah adalah kesempatan emasnya untuk melakukan niatnya yang selama ini terpendam. Sampai pada suatu hari ketika Raja Loritz V mengunjungi kediaman Raja Ehner di Slasvik, dirinya juga mengajak Pangeran Levanche dalam kunjungan ini.
"Ini adalah kunjunganmu untuk pertama kalinya. Bersikaplah yang baik!" kata Raja Loritz V sambil tersenyum.
"Baik, Yah! Aku tak sabar dalam kunjunganku pertama kalinya," seru Pangeran Levanche membalas senyuman ayahnya.
Dibalik perkataannya itu, terdapat maksud yang tersembunyi.
Setibanya di Kastil Slasvik, tempat kediaman Raja Ehner, para tentara kerajaan manusia berbaris rapi menyambut kedatangan Raja Loritz V.
"Selamat datang kembali, sahabat!" ucap Raja Ehner yang menyambut kedatangan Raja Loritz V sambil berjabat tangan.
Pangeran Esther muncul di samping Raja Ehner seketika, membuat pandangan Pangeran Levanche terbesit sebuah pandangan kebencian di sorot kedua matanya. Akan tetapi, Pangeran Esther tetap menyapanya sambil melambaikan tangan dan tersenyum. Namun, tidak demikian dengan Pangeran Levanche.
Raja Loritz V beserta anaknya dan orang-orang dari kerajaannya dipersilahkan untuk memasuki kastil Slasvik. Mereka pun menuju ruang makan karena akan diadakan jamuan makan siang bersama sambil membahas suatu masalah penting.
Pangeran Levanche duduk di samping ayahnya dan berhadapan dengan Pangeran Esther.
"Apakah makanannya sudah jadi?" tanya Raja Ehner dengan suara yang pelan kepada salah satu pelayan wanita yang berpakaian maid.
"Belum, sekitar setengah jam lagi, Yang Mulia," jawabnya.
Walau keduanya menggunakan suara pelan, akan tetapi pendengaran Pangeran Levanche seperti ultrasonik, mampu mendengar percakapan pendek antar keduanya.
"Ayah, aku mau ke toilet dulu, Yah. Perutku tiba-tiba melilit!" kata Pangeran Levanche tiba-tiba. Seketika pandangan Raja Loritz V beserta Raja Ehner pun beralih ke arahnya yang tiba-tiba berdiri.
"Toiletnya di mana, ya?" tanyanya kepada seorang pelayan wanita berpakaian maid itu.
"Di dekat dapur, Pangeran. Perlukah saya antar?" kata seorang pelayan wanita itu yang menawarkan bantuan kepada Pangeran Levanche.
"O—oh tidak usah, biar saya sendiri saja!" jawab Pangeran Levanche.
__ADS_1
"Baik, hati-hati, Nak! Jangan sampai nyasar," ucap Raja Loritz V sambil menatap wujud anaknya yang semakin menjauh darinya. Lalu pandangannya beralih ke Raja Ehner yang berada di sampingnya yang terduduk di kursi pemimpin.
Dia tidak tahu apa yang dimaksud anaknya itu.
Akhirnya Pangeran Levanche dapat dengan bebas melancarkan misi tersembunyinya. Ia langsung menuju arah dapur yang ternyata tidak ada orang di sana sama sekali. Dia pun langsung menuju ke salah satu mangkuk sup yang sudah terisi oleh sup asparagus.
Niat jahatnya pun timbul.
Pangeran Levanche langsung memasukkan serbuk racun ke dalam salah satu mangkuk yang sudah terisi sup asparagus itu.
Serbuk racun yang dibuatnya saat malam sebelum kunjungan ke Slasvik.
Serbuk ini akan menimbulkan kecacatan di sebagian organ tubuh terutama untuk melemahkan detak jantung target.
"Kau akan menjadi cacat sebentar lagi, Yah!" lirihnya sambil memasukkan serbuk racun itu sampai tidak tersisa lagi.
Setelah melancarkan aksinya tersebut, ia langsung mengaduk dengan spatula kayu agar rasa masakan dan serbuk racunnya menyatu dalam satu kesatuan.
Setelah melancarkan aksi jahatnya, Pangeran Levanche langsung kembali ke meja makan. Untung saja setelah dirinya tiba di ruang makan, dirinya baru melihat para pelayan wanita yang langsung menuju ruang dapur.
"Maaf, Yah. Lama," ucap Pangeran Levanche sambil memasang senyuman palsu yang tersirat di wajahnya.
"Iya, tidak apa-apa, Nak. Bagaimana perutmu?" tanya Raja Loritz V kepada anaknya yang tiba di meja makan.
"Sudah lebih baik," jawabnya.
"Aku ada membuat ramuan obat sakit perut. Apa kau mau?" Pangeran Esther menawarkan obat buatannya kepada Pangeran Levanche yang berada di hadapannya. Wajahnya disertai dengan seulas senyuman seperti biasanya.
"Tidak, terima kasih. Sakit perutku sudah hilang," jawab Pangeran Levanche dengan senyum terpaksa menatap Pangeran Esther yang paling ia benci.
Tak lama kemudian, para pelayan wanita membawa berbagai macam makanan menggunakan kereta dorong. Aroma lezat tercium mengitari ruangan.
Akan tetapi dibalik aroma lezatnya itu, salah satu makanan ada yang sudah tercemar oleh racun.
Para pelayan wanita pun langsung meletakkan makanan-makanan ke atas meja. Pertama-tama, mereka meletakkan masing-masing semangkuk sup asparagus yang masih panas di tiap sisi meja.
Karena pandangan Pangeran Levanche yang begitu jeli sehingga dirinya dapat mengetahui mana makanan yang sudah terkontaminasi, mana yang belum. Akhirnya dirinya langsung memberikan ayahnya semangkuk sup asparagus yang sudah terkontaminasi oleh racun.
"Oh terima kasih, Nak!" ucapnya sambil tersenyum.
"Sama-sama, Yah!" jawab Pangeran Levanche.
Makan siang bersama pun dimulai.
Aturan dalam makan sup adalah dengan sepotong roti yang telah disediakan. Sungguh nikmat sekali ketika sup dan roti bercampur menjadi satu.
Raja Loritz V langsung menyantap sup di hadapannya dengan sepotong roti yang masih hangat.
Tidak ada kejanggalan selama beberapa menit.
Tiba-tiba Raja Loritz V seketika tumbang ke lantai dan menimbulkan busa di mulutnya. Tubuhnya kejang-kejang dan kedua pandangannya melotot.
"PELAYAN!!!" seru Raja Ehner terkejut melihat sahabatnya seketika tumbang.
Beberapa pelayan pun langsung menolong Raja Loritz V yang tumbang secara misterius itu.
"YA AMPUN AYAH, SADARLAH, YAH!!!!" teriak Pangeran Levanche sambil mengguncang tubuh ayahnya yang masih kejang-kejang. Wajahnya mengeluarkan air mata kebohongan untuk membuat suasana menjadi lebih dramatisir.
"AYAH JANGAN TINGGALKAN AKU!!!" teriaknya sambil terus mengguncangkan tubuh ayahnya yang tidak sadarkan diri.
Akan tetapi, ayahnya tidak merespon perkataannya.
Dibalik aktingnya, terdapat perasaan puas dalam benak hati Pangeran Levanche.
Masih tahap pertama ….
--
Beberapa hari kemudian setelah kunjungan ke Slasvik.
Kabar mengenai tumbangnya Raja Loritz V di Kastil Slasvik seketika menyebar luas dan cepat di kalangan masyarakat, baik di lingkungan masyarakat iblis maupun manusia.
Hubungan antar keduanya menjadi renggang setelah adanya insiden ini.
Kondisi Raja Loritz V saat ini menurun drastis. Dirinya mengalami cacat saraf sehingga membuatnya tidak dapat berjalan normal lagi, melainkan harus dengan bantuan alat khusus untuk membantunya berjalan. Beberapa saraf di wajahnya pun menjadi kaku sehingga membuat dirinya tidak dapat berekspresi sebagaimana sebelumnya.
"Ayah?" panggil Pangeran Levanche kepada Raja Loritz V yang sedang memandang langit biru yang cerah di jendela.
Raja Loritz V tidak menjawab panggilan anaknya dan terus menatap langit di jendela.
"Ayah, apa ayah masih ingin menjalin hubungan dengan Raja Ehner?"
Dirinya masih terdiam. Namun, pandangannya teralihkan kepada anaknya yang berada di samping dirinya.
"Ayah tidak menyesal sama sekali?" tanya Pangeran Levanche sekali lagi.
"Sudah jelas sekali, Raja Ehner ada maksud tersembunyi yaitu mencelakai ayah!"
"Ayah sudah kecewa berat, Nak. Ayah tidak tahu harus mengatakan bagaimana lagi," kata Raja Loritz V tiba-tiba dengan raut wajah sedih.
"Ayah sungguh sedih sekali dengan kondisi ayah yang berakhir seperti ini."
"AYAH SUNGGUH MENYESAL!!!!"
Tiba-tiba Raja Loritz V menangis sekencang-kencangnya di hadapan anaknya. Menangiskan kondisinya yang berubah total. Air mata yang jatuh membasahi wajahnya.
Pangeran Levanche mengambil selembar tisu putih bersih dan mengusap tiap air mata yang berjatuhan membasahi wajah ayahnya.
"Aku memang sudah mendapatkan firasat buruk pada saat itu. Akan tetapi, pasti ayah tidak akan mendengar penjelasanku!" jelas Pangeran Levanche sambil menghela nafas dan ikut menatap langit cerah di luar sana.
"Ya mau gimana lagi, sudah terjadi."
"Aku tidak menyangka ternyata selama ini Raja Ehner sungguh kejam!" kata Pangeran Levanche sambil meneteskan air mata. Air mata palsu tepatnya.
Tiba-tiba Raja Loritz V menggenggam erat tangan anaknya. Lalu berkata, "Waktu ayah sudah tidak lama lagi, Nak. Secepatnya tahta mahkota akan jatuh ke dirimu."
"Ayah …." Kedua mata Pangeran Levanche membulat menatap tangan ayahnya yang seketika mengenggam tangannya.
"Ayah berharap sekali padamu. Setelah kau menjadi penerus Loritz, jadilah seorang raja yang adil dan bijaksana!" seru Raja Loritz V sambil mengenggam erat tangan anaknya dan menatap kedua mata Pangeran Levanche dengan pandangan bersungguh-sungguh.
"Belajarlah dari pengalaman ayahmu."
Seketika muncul keheningan di antara mereka berdua.
Seketika muncul senyuman miring di wajah Pangeran Levanche dan tiba-tiba dirinya tertawa di hadapan ayahnya yang sedang tidak berdaya.
"Apa katamu? Adil dan bijaksana?" Pangeran Levanche mulai menunjukkan sifat aslinya di hadapan ayahnya yang tidak berdaya di ranjang.
"Kau tahu siapa yang membuat kau seperti ini?" tanya Pangeran Levanche sambil mendekatkan wajahnya.
"AKU YANG MELAKUKANNYA, AYAH!!!!" teriaknya yang mulai tidak terkendali.
"AKU YANG MERENCANAKAN INI SEMUA AGAR AKU BISA MENDAPATKAN TAHTA MAHKOTA SECEPATNYA!!" jelasnya. Dirinya seketika menjadi tidak terkendali.
Raja Loritz V yang tidak berdaya terdiam seribu kata menatap anaknya yang berubah. Dirinya benar-benar tidak menyangka bahwa anaknya lah yang merencanakan ini semua.
"Percuma kau mau marah sekalipun. Racun itu tetap membawa efek yang buas untukmu!" kata Pangeran Levanche.
"SIALAN KAU!" bentak Raja Loritz V tiba-tiba. Seketika perkataannya membuat pandangan Pangeran Levanche menoleh ke arahnya.
"Apa kau bilang?" Seketika wajahnya kembali didekatkan ke ayahnya.
"KAU LAH YANG SIALAN! KAU TIDAK DAPAT MEMBERIKANKU SESUATU YANG SPESIAL! KAU TIDAK PERNAH MEMBERIKAN KEINGINAN YANG KUMAU!" teriaknya.
Padahal selama ini Raja Loritz V dan istrinya selalu memberikan apa yang Pangeran Levanche inginkan. Akan tetapi, karena kebiasaan itulah yang membuat kepribadian Pangeran Levanche menjadi pangeran yang manja dan egois.
Kebaikan orang tuanya tidak pernah diingat olehnya.
"Sekarang aku mau kau mati sekarang juga, Yah!" kata Pangeran Levanche sambil mengambil bantal putih di kasur ayahnya.
"Jangan, Nak!"
"Kenapa jangan, Yah? Aku sudah muak denganmu!" katanya dan langsung melancarkan aksinya dengan mendekapkan bantal putih tersebut di wajah ayahnya dengan sekuat tenaga sampai ia kehabisan nafas dan dinyatakan meninggal.
Setelah melakukan aksi kejamnya, dirinya langsung merapikan bantal putihnya ke tempat semula dan menatap wajah ayahnya yang sudah tidak bernyawa. Kedua matanya terbuka dengan mulut yang terbuka.
Pangeran Levanche langsung menutup kedua mata ayahnya.
__ADS_1
"Selamat tinggal, ayahku sayang!" ucap Pangeran Levanche sambil mencium dahi ayahnya.
Dirinya pun langsung berteriak, "IBU!!!!!!!!!!!"
Tak lama kemudian, ibu dan beberapa pelayan kastil lainnya memasuki ruangan dengan raut wajah panik. Seketika ibu langsung menangis hebat di hadapan suaminya yang sudah tidak bernyawa sambil memeluk Pangeran Levanche yang ikut mengeluarkan air mata menyaksikan ayahnya yang mati.
"IBU! AYAH, BU! KENAPA AYAH CEPAT SEKALI PERGI?!" kata Pangeran Levanche dengan suara isak tangisnya yang dibuat-buat.
"Sabar ya, Nak. Ini memang sudah takdirnya," jelas ibu sambil memeluk Pangeran Levanche dan mengelus rambutnya.
Misinya untuk membunuh ayahnya selesai.
Inilah saatnya untuk memimpin dunia.
--
Beberapa bulan kemudian setelah penobatan raja berikutnya, kini Pangeran Levanche resmi menjadi penerus kerajaan iblis.
Dirinya mendapatkan gelar Loritz VI.
Setelah beberapa tahun dirinya menjadi raja, hubungan sosial antara iblis dan manusia menjadi semakin renggang seiring bergantinya hari. Muncul beragam konflik antar keduanya yang diawali dengan politik adu domba yang dikemukakan oleh Raja Loritz VI. Dirinya gencar menghasut rakyat iblis untuk memusuhi kaum manusia dengan berbagai cara.
"Apa kalian masih percaya dengan manusia?" Raja Loritz VI berpidato di tengah keramaian masyarakat.
"Kalian tahu, kebaikan mereka hanya dibuat-buat saja! Ini sudah terbukti saat saya melakukan kunjungan bersama ayah saya ke Slasvik dan menyaksikan kejadian itu semua!" lanjutnya.
"Sungguh saya benar-benar kecewa sekali dengan niat dibalik Raja Ehner terhadap beliau," katanya sambil memasang raut wajah sedih.
"Mari kita mengenang kepergian Raja Loritz V yang telah menuju dunia yang abadi," ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
Para warga pun ikut menundukkan kepala. Mengenang kematian sosok Raja Loritz V yang adil, dermawan, dan bijaksana untuk terakhir kalinya.
Semakin banyaknya konflik yang terjadi antara dua kehidupan, membuat rakyat iblis dan rakyat manusia sama-sama mengalami krisis yang berkepanjangan di berbagai aspek kehidupan.
Hal ini terjadi sejak Raja Ehner mengeluarkan kebijakan bahwa akses-akses kebersamaan antara iblis dan manusia di segala aspek kehidupan ditutup. Hal ini membuat kaum iblis tidak bisa lagi mendapatkan stok makanan dari manusia. Bahkan semakin hari, persediaan bahan pokok makanan iblis semakin menipis. Ditambah lagi dengan sumber daya alam yang minim sekali, membuat kaum iblis tidak bisa mengolah makanannya sendiri serta kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Karena melihat rakyatnya yang menderita itu, akhirnya Raja Loritz V mengeluarkan kebijakan yang menyimpang dari aturan raja yang sebenarnya.
Salah satunya,
"BAHWA KAUM IBLIS DIPERBOLEHKAN UNTUK MENGKONSUMSI DAGING MANUSIA BILA DALAM SITUASI DARURAT"
Setelah diberlakukannya kebijakan yang menyimpang tersebut, daging manusia menjadi makanan sehari-hari oleh kaum iblis selama krisis. Awalnya, mereka mendapatkan daging manusia dari jasad manusia yang belum lama terkubur. Akan tetapi setelah jasad manusia di dalam kuburan yang semakin hari juga semakin ikut menipis, masyarakat iblis nekat menculik manusia hidup-hidup dan membunuh mereka dengan cara yang kejam untuk dikonsumsi. Mereka telah menemukan pengganti daging sapi dan daging rusa untuk dimakan selama masa krisis ini. Bahkan mereka menganggap bahwa daging manusia lebih enak dan lebih banyak mengandung protein ketimbang daging sapi ataupun daging rusa yang sebelumnya mereka makan.
Setelah Raja Loritz VI melihat perkembangan rakyatnya setelah diresmikan kebijakannya, ia pun merubah kebijakan mengenai konsumsi daging manusia menjadi makanan wajib dikonsumsi. Bahkan sejak saat itu, dirinya memberlakukan sebuah permainan yang mematikan untuk memperoleh banyak daging manusia dalam waktu yang cepat. Permainan itu adalah survival game yang diadakan 3 tahun sekali.
Raja Loritz VI memberlakukan permainan itu karena melihat perkembangan rakyatnya dalam mengkonsumsi daging manusia yang semakin naik pesat. Kerajaan iblis pun mengutuskan beberapa mata-mata untuk terjun di lingkungan manusia dan menculik banyak manusia untuk saling diadukan di permainan itu.
Manusia yang tewas pada permainan itu akan diambil dagingnya untuk dipasarkan. Sedangkan yang berhasil bertahan hidup, akan dijadikan sebagai orang kepercayaan raja iblis dan diwariskan kekuatan iblis di dalam dirinya.
Hal tersebut membuat kehidupan manusia berada dekat sekali dengan ambang kepunahan.
Salah satu kebijakan lain yang dibuat oleh Raja Loritz VI adalah diberlakukannya strata sosial di kalangan masyarakat.
Strata sosial ini terbagi menjadi 5 bagian. Golongan pertama, dipegang oleh ras Astreint yang sangat berpengaruh karena ras ini dipegang oleh kaum bangsawan. Golongan kedua, dipegang oleh ras Doment yang merupakan ras yang dimiliki iblis berkemampuan sihir. Sama penting dan berpengaruh seperti ras Astreint, akan tetapi satu derajat dibawahnya. Golongan ketiga, dipegang oleh ras Levtient. Di mana ras ini umumnya sengaja dijadikan sebagai tentara atau prajurit kerajaan iblis karena kemampuan mereka yang menyergap musuh. Golongan keempat, dipegang oleh ras Vôint. Ras ini paling tertindas dan lemah di antara ketiga strata di atas. Ras ini dipegang oleh masyarakat menengah ke bawah, di mana rata-rata perempuan dalam ras ini sering dijadikan budak maupun selir raja. Golongan kelima atau golongan terakhir, dipegang oleh ras Lucant. Ras ini paling bawah dan paling terbelakang, sebab ras ini dipegang oleh iblis yang tidak berakal dan selalu dimanfaatkan oleh kerajaan iblis sebagai 'anjing-anjing' mereka.
Dengan adanya strata sosial seperti ini, maka golongan yang berkuasa menjadi semakin berkuasa. Sebaliknya, golongan yang tertindas semakin tertindas.
Ternyata benih kebencian yang tumbuh di dalam diri rakyat iblis memberikan dampak bagi kelangsungan hidup bagi rakyat manusia. Terutama bagi kehidupan kerajaan.
Raja Ehner mendapatkan banyak kabar buruk dari rakyatnya yang semakin hari, semakin banyak konflik yang terjadi. Bahkan tak sedikitpun rakyatnya yang seketika dikabarkan menghilang dalam jumlah yang banyak dalam beberapa waktu belakangan ini.
Kini kerajaan manusia harus berpikir keras untuk mencari titik terang demi kesejahteraan rakyatnya.
Raja Ehner pun yang sudah semakin tua rentah, terbaring di kasur putih yang bersih. Tak luput dirinya dari banyaknya komplikasi penyakit yang semakin membahayakan kesehatannya.
"Ayah! Bagaimana ini?" seru Pangeran Esther yang sangat khawatir dengan kondisi ayahnya yang semakin menua.
"A—ayah sudah tidak tahu lagi, Nak, harus bagaimana," ucap Raja Ehner sambil terbatuk-batuk. Tiba-tiba dirinya mengeluarkan darah dari dalam mulutnya.
"Usia ayah sudah tidak akan lama lagi," lanjutnya.
Pangeran Esther pun langsung menggenggam erat tangan ayahnya dan menangis. Mencurahkan segala emosinya di tangan ayahnya yang melemah.
Beberapa hari kemudian, Raja Ehner dinyatakan meninggal. Hal tersebut membuat Pangeran Esther merasa terpukul dan menangis selama beberapa hari. Dirinya tidak bisa menerima sepeninggal ayah tercintanya.
Akan tetapi, Pangeran Esther tidak bisa seperti ini terus. Dirinya harus bisa melapangkan dada ini semua, sebab dia akan menjadi penerus tahta mahkota kerajaan manusia.
Penerus generasi Dominique.
Baru beberapa bulan setelah penobatan raja, kerajaan manusia diserang oleh kerajaan iblis tiba-tiba. Hal ini membuat orang-orang dalam kerajaan panik. Tidak sedikitpun yang tewas akibat penyerangan mendadak yang dilancarkan oleh kerajaan iblis.
Akhirnya Raja Loritz VI berhasil memasuki lingkungan kastil kerajaan manusia dan bertemu dengan Raja Esther. Kini mereka berdua bertemu dalam situasi yang mencekam.
Menyangkut masa depan manusia dan iblis.
Raja Loritz VI kini bertatapan muka dengan Raja Esther yang sedang panik.
"Akhirnya kita ketemu lagi, Esther!" ucap Raja Loritz VI dengan nada angkuh.
"Mau apa kau ke sini?!" seru Raja Esther panik.
Raja Loritz VI hanya tertawa jahat mendengar ucapan Raja Esther yang tersudutkan.
"TOLONG KELUAR DARI SINI!" bentak Raja Esther.
"Kau pikir aku akan semudah itu keluar?" tanya Raja Loritz VI sambil menaikkan satu alisnya. Tiba-tiba dirinya seperti memberikan aba-aba kepada salah satu prajuritnya.
Tak lama kemudian, mereka tampak membawa seorang wanita tua dan dihadapkan paksa di antara Raja Esther dan Raja Loritz VI.
"IBU!" seru Raja Esther sambil langsung menghampiri ibunya yang lemah terduduk di lantai. Dirinya menangis tersedu-sedu.
Akan tetapi, Raja Esther tidak diperkenankan untuk bertemu dengan ibunya yang sudah tua dan lemah itu. Kedua tangannya ditarik paksa oleh prajurit iblis untuk menahan aksinya. Raja Esther pun terus memberontak. Tetapi kedua prajurit iblis tersebut semakin mencengkram lengan Raja Esther sampai dirinya terjatuh di lantai dengan lutut sebagai tumpuan badannya.
Salah satu prajurit iblis mengerahkan pedangnya yang runcing di hadapan Raja Esther.
"JANGAN SAKITIN IBUKU!!!!!!" seru Raja Esther melihat ibunya yang sedang disiksa oleh prajurit iblis sampai menjambak rambutnya. Pedang itu kemudian diarahkan tepat di leher ibunya.
"TOLONG LEPASKAN IBUKU!!!!" Raja Esther terus memberontak.
"Kami hanya ingin memberimu pelajaran saja, Esther," ucap Raja Loritz VI sambil menyaksikan pemandangan yang menyedihkan itu.
"TOLONG KATAKAN APA MAUMU YANG SEBENARNYA DAN LEPASKAN IBUKU SEKARANG JUGA!" teriak Raja Esther.
Raja Loritz VI seketika langsung menghampiri Raja Esther yang sedang ditahan dan mendekatkan wajahnya. Lalu berkata, "Inilah yang aku mau."
Raja Esther terdiam seribu kata setelah mendengar kalimat yang dilontarkan raja iblis itu.
Wajahnya menyeringai dengan perasaan bahagia di lubuk hatinya.
Pedang runcing tersebut langsung memotong leher wanita tua itu sampai terpenggal. Seketika banyak sekali darah yang menempel pada pedang itu.
"IBU!!! TIDAK, IBU!!!!!" teriak Raja Esther melihat ibunya tewas akibat perbuatan mereka. Dirinya menangis sekencang-kencangnya.
"SIALAN KAU, LEVANCHE! NERAKA TELAH MENUNGGUMU!" teriaknya. Isak tangisnya masih terdengar di sela teriakannya. Tidak menyangka teman satu akademinya ternyata memiliki niat jahat menghabiskan keluarganya.
Raja Loritz VI hanya tertawa mendengar perkataan Raja Esther. "Sekarang aku ingin bermain-main denganmu."
Pedang yang berlumuran darah itu seketika diarahkan tepat di hadapan Raja Esther.
"Ayo ucapkan selamat tinggal kepada dunia!" kata Raja Loritz VI kepada Raja Esther yang masih bersedih.
Lalu pedang tersebut langsung menikam dirinya. Raja Esther tumbang penuh darah di hadapan Raja Loritz VI dan prajuritnya.
Kini perasaan puas dan bahagia mengalir dalam diri Raja Loritz VI.
"AKHIRNYA AKU BISA MENGUASAI DUNIA!!" teriak Raja Loritz VI. Suaranya menggema di Kastil Slasvik yang banyak sekali mayat yang bergelimpangan penuh darah.
"KITA AKAN MAKAN MALAM DENGAN DAGING-DAGING SEBANYAK INI!!"
Tidak ada lagi kerajaan manusia di dunia ini. Hanya kerajaan iblis satu-satunya yang masih berdiri kokoh dengan keangkuhannya. Kekuasannya semakin merajarela menguasai dunia manusia demi kepuasan diri.
Seiring berjalannya waktu, penampilan mereka berubah drastis. Jauh lebih menyeramkan dan buruk yang disertai dengan wajah yang hancur. Kecantikan dan ketampanan mereka pada awalnya seketika lenyap ditelan bumi.
Sesuai kepribadian mereka yang sama-sama buruk.
Sebuah kutukan yang pantas mereka dapatkan.
__ADS_1