INJUSTICE : Save Human Or Surrender

INJUSTICE : Save Human Or Surrender
#30 Hal Tak Terduga


__ADS_3

Beberapa hari kemudian setelah Operasi Tiberiu.


Clèment's POV


Kabar mengenai Operasi Tiberiu dibatalkan, menyebar luas di penjuru kota-kota di Steich. Tak sedikit juga warga yang tidak bisa menerima hal tersebut sehingga menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Clèment dengan senang hati harus memperjelas kembali sebab terkait dibatalkannya Operasi Tiberiu dengan jelas melalui jumpa pers kemarin. Akan tetapi, hal tersebut masih saja menimbulkan banyak pertentangan sehingga mereka rela mengancam Clèment dengan segala cara.


Para anggota operasi yang selamat dari penyerangan iblis, dirawat oleh pihak medis Amdis yang bekerja sama dengan tim Greer dari seluruh aliansi. Dari sekian banyak yang ikut dalam operasi kemarin, kini tersisa setengahnya yang dinyatakan masih hidup.


Ruang bawah tanah yang telah disiapkan oleh pihak Polisi Militer Amdis dialihkan menjadi tempat penampungan mayat korban operasi ini.


Clèment menghela nafas sambil menatap langit sore yang cerah. Jari-jemari kanannya sambil menyentuh secangkir teh hitam. Hawa dingin perlahan-lahan berubah hangat akibat alat pemanas ruangan yang diaktifkan di ruangan ini.


Ruangan ini adalah ruang kerja Lucian yang sudah dipercayakan kepada Clèment. Tanpa dirinya hadir di sini, membuat suasana ruangan ini menjadi lebih sepi daripada biasanya. Hal tersebut membuat diri Clèment merindukan saat-saat bersamanya.


Kini Clèment sedang melampiaskan penat yang terkumpul di dalam otaknya dengan menyeruput teh dan menatap setiap awan yang bergerak di langit. Menikmati waktu sendiri yang sangat jarang dia temukan semenjak dirinya mulai sibuk belakangan ini.


TOK TOK TOK


Waktu sendirinya seketika diganggu oleh seseorang dari luar ruangan. Namun, Clèment harus tetap sabar karena tidak mungkin baginya untuk benar-benar bisa menikmati waktu tersebut di usianya yang semakin bertambah.


"Masuk!"


Tiba-tiba seseorang memasuki ruangan dan berhasil membuat perhatian Clèment teralihkan kepada wujud orang itu yang ternyata adalah Olav selaku komandan dari Garrison. Dirinya sambil membawa setumpukkan kertas yang tersusun rapi.


"Hari di luar cerah sekali!" ucapnya sambil menduduki salah satu kursi kosong di samping Clèment dan meletakkan setumpukkan kertas di atas meja kayu yang berada di antara mereka berdua.


Clèment masih terdiam sambil menyeruput teh hitam.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Olav.


"Tidak baik," jawab Clèment datar. Pandangannya tetap menatap alam di luar sana.


"Bagaimana kondisi di luar?" tanya Clèment.


"Sebagian orang masih berkumpul di gerbang markas aliansi," jawab Olav. "Mereka sedang ditenangkan oleh pihak kepolisian."


"Apakah aku boleh meminum teh?"


"Baiklah, tapi kau buat sendiri," jawab Clèment dengan ketus.


"Tentu saja!" seru Olav beranjak dari posisi duduknya yang belum lama dia duduki. Dirinya melangkah menuju tempat khusus, di mana cangkir serta air panas dan sekotak teh hitam berada.


"Aku sudah lama tidak meminum teh."


Clèment tidak memperdulikan Olav yang sedang sibuk membuat teh hitam untuk dirinya sendiri.


Dirinya menghela nafas panjang sambil meletakkan cangkir tehnya di atas meja kayu. Seketika pandangannya tertuju ke setumpukan kertas yang tersusun rapi di samping cangkirnya.


"Laporan mengenai perkembangan pulau Steich selama Operasi Tiberiu berlangsung," jelas Olav sambil membawa cangkir tehnya dan kembali ke sebuah kursi kosong di samping Clèment. Dia melihat Clèment yang meraih setumpukan kertas rapi yang ia letakkan di atas meja kayu kecil tadi.


Clèment tampak mengamati setiap kalimat yang tertera dalam kertas tersebut.


"Mereka memanfaatkan momen ini untuk menguasai lebih banyak kota-kota kecil manusia," jelas Olav. "Kota-kota kecil di daerah Barat, Timur, dan Utara sebagian besar berhasil di kuasai oleh mereka."


"Kota Salz berhasil dikuasai oleh mereka pada malam hari, bertepatan saat Aliansi Amdis diserang."


Olav menjelaskan panjang lebar terkait informasi dari berlembar-lembar kertas tersebut.


Kini Clèment kembali dihadapkan suatu cobaan yang menyangkut kehidupan umat manusia. Dirinya kini terpaksa harus menggantikan posisi Lucian untuk sementara sampai dia kembali terbangun.


"Posisi umat manusia saat ini sedang terkepung dan jangan sampai mereka berhasil menguasai kota-kota besar selain Kota Salz!" kata Olav sambil menyeruput teh hitam.

__ADS_1


"Setelah kami selidiki lebih lanjut, ternyata ada seseorang dari Aliansi Oryza yang terbukti menjadi mata-mata dari kaum iblis."


Clèment langsung mengganti lembar berikutnya. Di sana dia pun melihat data diri seseorang.


"GALEN FAVIAN"


"Inikah yang kau maksud?" tanya Clèment sambil memberi tunjuk lembar tersebut kepada Olav.


Olav mengangguk. Lalu berkata, "Dia satu akademi dengan Nica Rosabelle."


"Berdasarkan informasi langsung dari Nica, Galen berteman baik dengan Rin yang terbukti pengkhianat juga."


Kedua pandangan Clèment membulat membaca setiap kalimat yang tertera pada lembar tersebut.


"Itulah sebabnya kaum iblis dengan mudahnya mengetahui strategi kita."


"Mengejutkan sekali!" ucap Clèment.


"Akan tetapi, untungnya dia sudah tewas," kata Olav.


"Nica yang membunuhnya."


Seketika dirinya kembali mengingat kejadian yang menimpa Aliansi Amdis saat dirinya mendapatkan kabar Aliansi Azalea dan Aliansi Tigris dalam keadaan bahaya. Tak lama kemudian, mereka kedatangan sosok bertudung dan memakai masker yang ternyata sosok tersebut adalah Galen Favian dari Aliansi Oryza yang terbukti sebagai pengkhianat setelah Rin. Dengan kecepatan penuh, dirinya langsung membunuh beberapa anggota Aliansi Amdis serta menyergap Nica. Walau sosok tersebut bergerak cepat, akan tetapi Clèment masih mengingat wajahnya walaupun tertutup dengan masker hitam.


Pandangannya menatap Clèment dengan tatapan tajam.


Tak lama kemudian setelah penyergapan secara tiba-tiba itu, Nica kembali dengan wujudnya yang berubah setengah iblis dengan banyak percikan darah di wajah dan pakaiannya. Membuat dirinya tampak seperti psikopat.


Wajahnya menyunggingkan senyuman yang berbeda kali ini.


Seulas senyuman mengerikan.


"Maaf, lama," ucapnya. Senyumannya tersebut selalu mengitari pikiran Clèment sampai sekarang.


"Clèment?" Olav membuyarkan lamunan Clèment.


Seketika Clèment mengalihkan pandangannya ke arah Olav yang sedang menatapnya heran.


"M—maaf, baik mari kita lanjutkan pembicaraan kita."


Terjadi keheningan sesaat di antara mereka berdua.


"Aku tahu posisimu yang sangat berat," ucap Olav tiba-tiba. "Apalagi Lucian sama sekali belum sadarkan diri."


"Iya aku tahu," kata Clèment.


"Menjadi seorang pemimpin ternyata sulit."


"Di mana kau harus menggunakan seluruh potensi otakmu untuk mengatur strategi yang tepat agar mencapai keberhasilan suatu usaha dalam menyelamatkan umat manusia."


"Tak heran, Lucian sering menyendiri di ruangannya sambil membaca banyak buku untuk menenangkan pikirannya," lanjut Clèment. Pandangannya teralihkan oleh langit sore yang cerah berawan.


"Entah sampai kapan aku menggantikan posisinya."


TOK TOK TOK


Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar jelas. Suara tersebut berhasil membuat pandangan mereka berdua menatap ke arah sumber suara.


"Masuk!" ucap Clèment.


Seketika anak buah Clèment langsung memasuki ruangan dengan raut wajah panik.

__ADS_1


"M—maaf menganggu sebelumnya, Komandan Olav dan Komandan Regu Clèment," ucap lelaki itu.


"Kami telah menerima pesan misterius melalui jaringan radio Aliansi Amdis!"


Pesan misterius?


--


Nica's POV


Langit sore yang cerah berawan. Angin sepoi-sepoi yang masuk melalui celah jendela, memberikan sapuan lembut di pori-pori kulitku.


Kini hanya aku seorang diri saja di kamar asrama perempuan.


Tidak ada penerangan kecuali penerangan dari cahaya matahari yang masuk melalui jendela yang terbuka lebar.


Hening sekali di sini.


Diriku terus menatap indahnya alam seperti lukisan sambil menggenggam liontin kerang yang telah menjadi kenangan. Liontin kerang inilah yang menjadi temanku di kala aku sendiri.


Entah kenapa keinginanku dalam berbicara dengan orang sekitarku menurun.


Apakah ini efek dari perasaan sedih di dalam jiwaku yang berlarut?


Apakah aku akan memasuki tahap awal depresi?


Dunia ini semakin membuatku gila.


Dunia telah merenggut orang-orang terdekatku.


Louis, Simas, serta Mama Mathilda dan anak-anak. Juga para prajurit lainnya yang gugur dalam peperangan melawan iblis,


Mereka sudah berada di dunia yang penuh ketenangan yang abadi. Mungkin mereka sedang menertawai diriku yang sedang berjuang melawan iblis tidak ada habisnya.


Aku menghela nafas panjang.


Diriku terduduk sambil memeluk kedua kakiku di ubin yang cukup dingin. Kedua mataku masih mengamati langit sore.


Jiwaku hanyut dalam keheningan.


Aku rindu sekali kepada kalian!


Seketika air mata jatuh tepat mengenai pipiku. Aku menangis di tengah keheningan.


"Hey, di sana kau rupanya!" Tiba-tiba Alexa masuk ke dalam kamar dan menemui diriku.


Kedua pandanganku langsung menoleh ke arahnya yang menghampiriku yang terduduk menatap jendela. Aku langsung menghapus air mata yang sudah membasahi wajahku. Akan tetapi, Alexa mengetahui tindakanku.


"Tidak apa-apa, Nikki. Menangislah!" katanya sambil tersenyum menatapku. Jari-jemarinya yang mungil mengelus pundakku.


Kini kehadirannya tepat di sampingku.


Sorot matanya yang berwarna coklat muda memberi kesan hangat di kala diriku yang sedang di ambang kesedihan dan kesepian. Tampak raut wajah Alexa yang juga ingin menangis sama sepertiku. Namun, dirinya berusaha untuk menahannya.


Aku kembali menangis sambil menutup wajahku di kedua telapak tanganku. Sebuah pola yang berasal dari air mataku terbentuk jelas di lengan jaketku yang berwarna merah. Seketika Alexa langsung memelukku dan terdengar suara tangisan dari dirinya juga.


Dia tidak bisa menahan emosinya yang sudah berada di ubun-ubun dan kini dia meluapkannya bersamaan denganku.


Aku tidak tahan dengan semua ini. Mereka terlalu cepat meninggalkanku.


Tawa, senang, serta canda telah menjadi kenangan terindah sepanjang masa. Tidak akan pernah kulupakan hal itu. Momen-momen tersebut selalu kukenang sampai aku mati sekalipun.

__ADS_1


Kita harus memberikan kaum iblis pelajaran yang sungguh berat, Alexa!


Suatu hari. Pasti.


__ADS_2