
Malam yang cerah dan indah. Penuh dengan bintang-bintang kecil di langit.
Sekaligus malam yang ramai.
Sebab keluarga dari sebelah ayah dan ibu datang ke rumah dan mengadakan jamuan makan malam bersama untuk merayakan hari kelulusan Clèment. Itu merupakan sebuah tradisi Dominique yang wajib dilakukan bila ada salah satu pihak keluarga yang berhasil meraih kemenangan.
Ibu membuatkan pie apel untuk Clèment sebagai hadiah prestasi yang berhasil diraih olehnya.
"WAH IBU INI ENAK SEKALI!!!" seru Clèment sambil menyantap sepotong pie apel yang super lembut buatan ibu.
"Makan yang banyak, Nak!" ucap ibu sambil mengelus rambut ikal Clèment. "Biar gendut."
"Aku tidak mau gendut, Bu!" ucap Clèment dengan mulut yang penuh pie apel.
Ibu hanya tertawa melihat sikapnya yang seperti anak kecil. Padahal dirinya saja sudah remaja. Entah kenapa setiap kali ibu membuat kue, dirinya terasa terbang ke surga.
"Kau bisa diabetes bila kau terus-terusan makan makanan manis," ucap nenek dari sebelah ibu.
"Kasie sebaiknya kau jangan membuatkan anakmu makanan manis keseringan!" lanjutnya.
"Nek, aku tidak sering kok makan makanan manis," jelas Clèment. "Kadang-kadang kan tidak apa-apa."
"Lagian aku juga sering bakar kalori setiap pagi," lanjutnya lagi.
"Ngelesnya pintar sekali!" ucap Paman Paul kepada Clèment sambil tersenyum.
Ibu hanya tersenyum menatap Clèment yang sedang menikmati sepotong pie apel. Dia mengacak-acak rambut Clèment sampai berantakan.
Ibu selalu membuatkan makanan manis sebagai hidangan pencuci mulut setiap kali selesai makan siang dan malam. Clèment sendiri tahu bahwa makan makanan manis terlalu sering itu tidak baik, tapi mau gimana lagi ....
Masakan buatan ibu memang tiada duanya!
Setelah selama 4 jam berkumpul bersama keluarga dari pihak ayah dan ibu, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena waktu sudah semakin larut dan mereka harus melakukan aktivitas rutin mereka di esok hari.
Pukul 00.36 pagi.
Beberapa dari mereka ada yang sampai mabuk karena telah meminum anggur merah dari Paman Paul terlalu banyak. Paman Paul membawakan sebotol besar anggur merah langsung dari hasil fermentasi kebun anggur di desa tempat tinggalnya. Clèment bahkan sempat ditawari untuk meneguk segelas anggur merah tersebut, namun dia menolaknya karena sejujurnya dia sendiri tidak suka minuman sejenis itu.
Lebih baik aku minum teh atau sirup ketimbang minum minuman itu.
Para anggota keluarga mulai keluar dari rumah. Mereka saling berpelukan dengan ibu dan ayah.
"Bye, Kasie!"
"Bawakan anggur yang banyak, ya, nanti!"
"Terima kasih atas hidangan yang lezat!"
"Lain waktu aku datang lagi, ya, Albert!"
"Sukses selalu dan pantang menyerah seperti ayahmu, Nak Clèment!"
Mereka semua memakai kendaraan pribadi. Mereka berasal dari kalangan bangsawan dan konglomerat sama halnya seperti ibu dan ayah.
Clèment terus menunggu wujud mereka semua menghilang dari halaman rumahnya.
Berdiam diri di pinggir pintu. Kedua matanya mulai lelah. Dia tidak sabar ingin langsung bertemu dengan kasurnya.
Tak lama kemudian, Clèment dan orangtuanya kembali ke dalam rumah dan mengunci pintu luar.
"Nak, bantu ibu bersihkan piring-piring di meja!" ucap ibu sambil membawa setumpuk piring menuju dapur.
"Baik, Bu!" kata Clèment yang langsung membantu ibu membawakan piring-piring kotor di meja menuju dapur dan mencucinya satu persatu.
"Bu," panggil Clèment lirih.
"Hmm?" Pandangan ibu sambil terfokus mengeringkan satu persatu piring menggunakan kain lap.
"Apakah ibu akan selalu ada selamanya?" tanyanya.
Ibu tersenyum dan berkata, "Semua itu adalah rahasia Yang Maha Kuasa, Clèment,"
"Kita semua tidak tahu kapan kita meninggalkan dunia."
Ibu adalah sosok wanita yang cukup religius.
"Maka dari itu, selagi ibu masih bisa melihatmu, jadilah orang yang sukses dan kejar impianmu!" jelasnya sambil menatap Clèment.
Kemudian dirinya memeluk Clèment.
Aku ingin selalu bersamamu, Bu!
"Anak ibu yang hebat!" ucap ibu sambil memotivasi Clèment. Clèment hanya tersenyum menatap ibu.
Setelah semua pekerjaan selesai, Clèment memutuskan untuk melangkah kembali menuju kamarnya yang sudah memanggilnya dari tadi. Tidak sabar ingin segera melemparkan dirinya di atas ranjangnya.
Tiba-tiba dia teringat dengan coklat pemberian Rachel kepadanya di sekolah tadi.
Coklat dengan kotak berbentuk hati.
Dia pun langsung mengambil kotak itu dari atas meja belajarnya. Diamatinya setiap sudut kotak itu. Pandangannya pun tertuju kepada secarik kertas kecil yang terlipat di sana. Clèment langsung membukanya.
Untuk Clèment,
Hai,
Terima kasih banyak telah membaca pesan ini. Ini merupakan coklat pertama kali aku buat. Aku telah menghabiskan banyak waktu demi kursus membuat coklat untukmu. Bagaimana rasanya?
Aku harap rasanya tidak mengerikan sekali hehe.
Aku ingin sekali bisa berinteraksi denganmu walau ini tidak mungkin sebab kau tidak mengenalku.
Rencanaku setelah lulus dari sekolah, aku ingin melanjutkan usaha orangtuaku dalam bidang pembuatan keju. Bagaimana denganmu? Aku harap kau memiliki rencana yang bagus setelah lulus. Kembangkan sihirmu itu!
Baik, sampai sini saja. Sejujurnya aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Semoga harimu menyenangkan!
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih!
Salam hangat,
Rachel Florence
Clèment membaca tiap kalimat dalam surat tersebut, Dia pun tersenyum miring.
Aneh sekali anak itu.
Kemudian dirinya membuka kotak berbentuk hati itu dan mengambil salah satu dari banyaknya coklat di dalam. Coklat dengan beragam topping di atasnya.
Kreatif sekali!
Clèment mengambil salah satu coklat dengan topping butiran putih dan beri merah kecil sehingga memberi kesan cantik.
Dia memakannya.
Dalam satu gigitan,
Enak.
Dirinya tidak merasakan aneh sama sekali dalam rasanya. Hanya saja rasa manisnya agak berlebihan.Tapi sejauh ini, coklat ini enak seperti coklat yang biasa aku makan.
Rachel, kau berbakat dalam hal membuat coklat. Kembangilah bakatmu!
Dirinya berharap bahwa kalimat yang dia ucapkan dalam hati tersampai kepada Rachel walau sebenarnya tidak mungkin.
Dia pun memakan satu persatu coklat sendirian di tengah malam sambil menyaksikan indahnya langit malam di jendela yang dipenuhi bintang-bintang kecil.
--
Sampai pada akhirnya, hari pertama di Akademi Sihir Alvist tiba.
Clèment harus berpisah dengan orangtuanya karena dia harus menetap di asrama selama dirinya belajar di akademi ini.
Berat sekali.
Namun, sudah menjadi kewajibannya.
Dia tidak menyelesaikan pendidikannya selama 4 tahun lamanya, melainkan hanya setahun saja sebab kekuatan sihirnya yang melebihi batas anak-anak seangkatannya. Jadi, dirinya lulus dari akademi ini bersama dengan angkatan sebelumnya.
Karena dirinya berhasil memperoleh nilai sempurna dan berada di urutan peringkat pertama, dia pun memiliki kesempatan untuk ditempatkan di suatu aliansi ternama dan aman.
Aliansi Amdis.
Namun untuk ke sana, dirinya dan beberapa orang lain harus menggunakan kereta yang akan memakan waktu beberapa jam lamanya.
Kesan pertamanya saat tiba di depan markas Aliansi Amdis cukup membuatnya terpukau. Dari tampilan markasnya tersebut tampak sedikit aneh baginya. Markasnya seperti istana dalam buku-buku dongeng yang pernah dia baca sebelumnya.
Terdapat kubah berwarna-warni di atasnya.
Dan juga angin di sini cukup kencang sebab daerahnya terletak di Utara maupun itu musim panas sekalipun. Cuaca panas hanya dapat bertahan seminggu saja dan selebihnya sejuk dan dingin.
Jan berasal dari Akademi Pahlawan Courtfeig.
Jan menyapa Clèment terlebih dahulu ketika dirinya sedang menikmati sekotak kraker gandum di halaman markas setelah membersihkan markas. Jan sungguh aktif sekali mengajak Clèment berbicara sehingga Clèment sendiri lelah menanggapinya.
"Clèment," panggil Jan. "Apa kau ikut rapat ekspedisi nanti sore?"
"Hmm," jawab Clèment yang sedang menikmati waktu sendirinya. Akan tetapi, waktunya telah dirusak oleh Jan.
"Aku tidak sabar melakukan ekspedisi untuk pertama kalinya!" ucap Jan.
Clèment hanya menyimak perkataannya dan lanjut makan.
Clèment mulai mengenal banyak orang sejak masa training. Dia mulai banyak berinteraksi dengan orang-orang seangkatannya maupun para senior yang lebih tua. Tak jarang dari mereka heran karena umur Clèment yang lebih muda daripada anak-anak seangkatan serta tingginya yang masih terbilang pendek daripada mereka yang seperti tiang listrik. Karena itu, dirinya sering dipanggil 'Bocah' maupun 'Cebol'.
Namun, hal tersebut biasa saja baginya.
Pada ekspedisi pertama kalinya, Clèment hampir disergap oleh iblis. Namun, dirinya berhasil ditolong oleh Jan. Seketika Jan langsung menumpas iblis tersebut sampai tidak bernyawa.
"Apa kau masih hidup?" tanyanya.
"Tidak," jawab Clèment dan langsung mengerahkan kekuatan sihirnya untuk membantu Jan menumpas habis iblis-iblis yang menganggu mereka.
Akhirnya ekspedisi pertamanya berhasil. Mereka berhasil menaklukkan kembali Kota Torrfen di Selatan. Kota tersebut langsung diberi perisai gabungan oleh para anggota Greer yang dipimpin oleh Komandan Regu Sofia.
Apakah kau masih ingat Andri?
Sekarang dirinya berubah haluan menjadi pengajar Matematika di sebuah sekolah. Dia sudah semakin dekat dengan Elise. Ini semua berkat nasehat Clèment padanya.
Andri rutin mengirimkan Clèment surat. Namun, belakangan ini dirinya tidak melakukan itu.
Mungkin sibuk dengan pekerjaannya ....
Clèment masih belum tahu kabar Rachel. Mungkin sekarang dirinya sudah menjadi pengusaha keju yang sukses.
Sampai pada suatu hari, dirinya kedatangan surat dari pihak pos Amdis.
"Surat dari ayah"
Clèment merasa tidak menyangka bahwa ayah mengirimkan surat kepadanya, padahal ayah tidak pernah melakukan ini sebelumnya.
Clèment langsung mengambil surat itu yang masih terbungkus oleh amplop berwarna putih. Dia pun membuka amplop tersebut lalu menemukan secarik kertas terlipat di dalamnya kemudian langsung membacanya.
Untuk anak ayah tersayang, Clèment.
Clèment,
Bagaimana kabarmu, Nak? Maaf ayah baru kali ini mengirimu surat.
Nak, ayah ingin memberitahumu sesuatu.
Sebuah kabar yang tidak mengenakkan.
__ADS_1
Ibumu telah menghilang tanpa kabar sejak beberapa hari yang lalu. Ayah kedapatan ibu tidak ada di rumah sejak pukul 08.00 pagi. Setelah itu, dirinya tidak tahu ke mana dan sedang dicari oleh pihak kepolisian.
Ayah ingin kau kembali ke Alvist jika ini memungkinkan. Para keluarga sedang berkabung mengingat hilangnya sosok ibumu.
Ayah harap kau baik-baik saja.
Ayah yakin beberapa hari kedepan ibumu akan pulang kembali.
Jaga kesehatanmu dan jangan lupa istirahat yang cukup!
Sayang kau,
Albert Dominique.
Seketika jantung Clèment mati rasa.
TIDAK MUNGKIN?!
Dia tidak percaya bahwa dirinya mendapatkan kabar buruk dari keluarganya.
Ibu menghilang ....
"Tidak, tidak mungkin!" Clèment langsung bergegas keluar dari kamarnya sambil mengenggam sepucuk surat dari ayah, menuju ruangan Komandan Vincent untuk memberitahu kejadian yang baru saja dia alami serta memberikan bukti kepada Komandan Vincent mengenai hal tersebut.
"Maka dari itu, saya meminta izin kepada Komandan Vincent untuk kembali ke Alvist untuk sementara waktu," jelas Clèment di hadapan Komandan Vincent di ruangannya.
Terjadi kecanggungan antara dirinya dan Komandan Vincent.
"Berapa hari lamanya kau di sana?"
"4 hari lamanya, Komandan."
"Baik," ucapnya. "Tapi kau harus balik tepat waktu."
"Terima kasih banyak, Komandan Vincent atas perizinan Anda!" ucap Clèment. "Saya berjanji akan balik tepat waktu."
"Iya, sama-sama!" kata Komandan Vincent sambil tersenyum. "Semoga ibumu cepat kembali."
"Baik, Komandan!" ucap Clèment sambil melaksanakan hormat di hadapan Komandan Vincent. Setelah itu langsung meninggalkan ruangannya.
Dia langsung merapikan pakaian-pakaiannya
ke dalam tas yang cukup besar di kamarnya.
"Hey, Clèment!" sapa Jan. Tiba-tiba kehadirannya di belakang berhasil mengejutkan Clèment.
"Kenapa kau merapikan pakaianmu ke dalam tas?" tanya Jan heran melihat aksi Clèment.
"Aku harus kembali ke Alvist," ucap Clèment sambil memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas. "Ibuku menghilang tiba-tiba."
Tiba-tiba Jan menepuk pundak Clèment dari belakang. "Aku ikut bersedih mendengarnya."
"Semoga ibumu baik-baik saja!"
"Terima kasih, Jan!" ucap Clèment. Dirinya langsung membawa tasnya keluar dari kamar. "Dah!"
"Hati-hati di jalan!" ucap Jan kepada Clèment yang mulai menjauh dari kamar. Clèment hanya tersenyum dan kembali melangkah keluar dari markas Aliansi Amdis.
Tak jarang beberapa teman seangkatan memberikannya ketabahan atas kejadian yang menimpanya saat ini.
Terima kasih semua, aku berjanji akan kembali!
Clèment harus kembali menempuh berjam-jam perjalanan demi menemui keluarganya di Alvist.
--
Tiba di Alvist, tepatnya di rumah.
Clèment dapat melihat wajah keluarganya dari sebelah ayah dan ibu murung. Nenek dari sebelah ibu menangis tiada hentinya sambil menggenggam foto ibu yang sedang berpose di taman bunga. Ayah terduduk di kursi kayu sambil termenung meratapi nasib yang dideritanya.
"Ayah," panggil Clèment tiba-tiba. "Kenapa Ayah membiarkan ibu pergi sendiri?"
"Ini bukan kemauan ayah, Clèment," jawab ayah.
"Tapi kan setidaknya ayah bisa menghentikan ibu pergi!" ucap Clèment.
"Kalau nyatanya bakal seperti ini, ayah tidak akan membiarkan ibumu melakukan itu semua asal kau tahu!" jelas ayah dengan suara agak membentak.
"Polisi sedang mencari ibumu, Clèment," ucap Tante Morgin dengan seulas senyuman di wajahnya. "Bersabarlah sayang."
"APA POLISI BISA DIPERCAYA, HAH?!" teriak Clement. "SABAR JUGA ADA BATASNYA DAN MAU SAMPAI KAPAN KITA HARUS BERSABAR?!!"
Tiba-tiba ayah bangkit dari tempat duduknya dan menampar Clèment. Tindakannya membuat Clèment shock seketika.
"KURANG AJAR SEKALI KAU!" bentak Ayah. "KARENA DIRIMU SUDAH LEBIH HEBAT KAU SEENAKNYA MEMBANTAH PERKATAAN ORANG YANG LEBIH TUA!"
"Itukah kemampuanmu sekarang?" tanya ayah dengan wajah memerah. Emosinya sudah memuncak melihat perlakuan anaknya.
"Sudahlah, Albert!" kata Paman Paul yang berusaha menenangkan ayah yang semakin memanas. "Tenanglah!"
"Ayah tidak ingin kehilangan ibumu asal kau tahu!" ucap ayah. Air matanya tiba-tiba jatuh dengan deras tepat di pipinya.
"AYAH SANGAT MENCINTAI IBUMU, NAK!"
Ayah langsung mendekap Clèment yang sedang terdiam mematung di dalam pelukan kesedihannya. Seketika dirinya juga ikut menangis di bahu ayahnya.
Menangisi kehilangan sosok ibu yang selama ini berada di hidupnya.
Ibu,
Dimana sebenarnya dirimu?!
Jangan tinggalkan aku, Bu!!
Cepatlah kembali!
__ADS_1