INJUSTICE : Save Human Or Surrender

INJUSTICE : Save Human Or Surrender
#31 Pesan Misterius


__ADS_3

Malamnya.


Tiba-tiba kami di panggil oleh Komandan Regu Clèment untuk segera berkumpul di ruang rapat.


Entah aku tidak tahu apa yang terjadi. Waktuku untuk beristirahat terpaksa harus ditunda.


Aku dan Alexa langsung menuju ruang rapat. Seperti biasa, kedatangan kami berdua disambut oleh meja bundar. Kami pun langsung menuju kursi kosong untuk duduk.


"Alexa, kau tahu ada apa ini sebenarnya?" tanyaku bingung.


Alexa mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu, Nikki."


Tak lama kemudian setelah semua orang sudah memasuki ruang rapat, Komandan Regu Clèment membuka kegiatan rapat hari ini sambil berdiri. Raut wajahnya terlihat panik bersamaan dengan Komandan Olav yang terduduk di sampingnya.


"Kita mendapatkan sebuah pesan misterius melalui jaringan radio Aliansi Amdis berdasarkan laporan dari tim yang mengawasi radar wilayah dan radio Aliansi Amdis," jelas Komandan Regu Clèment.


"Pesan tersebut sudah kami cetak dan diterjemahkan menjadi bentuk tulisan," lanjut Komandan Olav dari Garrison.


"Inilah yang kami dapatkan."


Dia langsung meletakkan selembar kertas di atas meja bundar. Tulisan di dalam selembar kertas tersebut cukup besar sehingga aku tidak perlu meraihnya.


"PUKUL 00 MELALUI JARINGAN RADIO"


Maksudnya?


"Ada apa dengan pukul 00.00?" tanya Komandan Franz bingung. "Dan melalui gelombang radio?"


Seketika suasana ruang rapat menjadi berisik karena mereka saling berbisik satu sama lain dengan sebelahnya.


"Masih tidak dapat dipastikan," jawab Komandan Olav. "Koordinat lokasinya juga tidak diketahui."


"Apakah ini ulah seseorang yang iseng?"


"Tidak mungkin. Sangat sulit untuk berbuat iseng melalui jaringan radio Aliansi Amdis!"


"Kita harus menunggu sampai pukul 00.00 dan kita lihat apa yang terjadi," kata Komandan Regu Clèment.


Kami harus menunggu satu setengah jam lagi.


Tiba-tiba siaran radio Aliansi Amdis yang juga terdapat di ruang rapat beserta layar monitor besar yang saling berhubungan dengan gelombang radio, seketika hidup sendiri dan menampilkan layar yang seperti rusak beserta suara yang memekakkan kedua telingaku.


Pandangan kami semua tertuju kepada layar monitor yang besar itu sambil menatap satu sama lain dengan perasaan bingung dan takut.


Hal aneh pun terjadi.


Seketika layar monitor tersebut menampilkan sosok bayangan hitam yang tidak jelas.


"Itu pelacak!" seru seseorang panik. Namun, Komandan Regu Clèment menyuruhnya untuk diam dan menenangkan kondisi rapat yang mulai tidak kondusif.


Tiba-tiba jaringan radio tersebut berbunyi yang disertai dengan suara bising.


"Akhirnya kita bertemu lagi, manusia!" Suaranya besar dan mengerikan muncul melalui jaringan radio yang berhubungan dengan layar monitor besar di hadapan kami.


Kami sontak terdiam mematung.


"S—siapa kau?" tanya Komandan Regu Clèment memberanikan diri.


Akan tetapi, sosok bayangan melalui layar monitor tersebut hanya tertawa. Lalu berkata, "Aku raja iblis, Raja Loritz generasi XI."


Kami semua langsung terkejut setengah mati dan panik. Pandangan Komandan Regu Clèment membulat sambil menatap layar monitor.


Tidak terduga bahwa pesan ini berasal dari raja iblis yang berhasil melacak jaringan radio Aliansi Amdis.


"Kenapa kau mengirim kami pesan?!" bentak Komandan Regu Clèment. "Apa maumu?!"


"Jangan panik, saudaraku. Aku mengirim pesan karena aku ingin menawarkan sesuatu kepada kalian!" jawab Raja Loritz XI.


"Aku ingin mengadakan perjanjian perdamaian dengan kalian."


"JANGAN PERCAYA ITU, CLÈMENT! DIA HANYA INGIN MENIPU KITA!"

__ADS_1


Akan tetapi, Komandan Regu Clèment hanya mengangkat tangan kanannya yang memberi isyarat 'diam' kepada orang itu.


"Aku merasa sangat menyesal bahwa hubungan antara iblis dan manusia berujung kematian seperti sekarang. Maka dari itu, aku ingin memperbaiki hubungan kita seperti dulu lagi," jelas Raja Loritz XI dengan suara besarnya.


"Apalagi hubungan ketidakakuran ini telah menimbulkan dampak yang sangat besar, bukan?"


"Dan juga banyak sekali prajurit iblis dan juga prajurit manusia yang tewas dalam jumlah banyak hanya karena masalah ini saja," jelasnya melalui layar monitor.


Kami masih terdiam seribu kata. Tidak percaya dengan apa yang kami dengar.


Raja Loritz XI mengadakan perjanjian damai?


Apakah ini berarti penindasan umat manusia sudah berakhir?


Atau malah sebaliknya?


"Aku ingin tahu salah satu perwakilan dari kalian yang akan mewakili kehidupan umat manusia!" kata Raja Loritz XI.


Seketika suasana menjadi ribut. Raut wajah kekhawatiran dan kepanikan bercampur menjadi satu, tampak dari seluruh peserta rapat di ruangan ini.


Komandan Regu Clèment semakin terbebani oleh pernyataan dari Raja Loritz XI.


Banyak dari kami yang tidak ingin menjadi perwakilan umat manusia dengan alasan, "Takut mati."


Karena diriku tidak bisa berlama-lama seperti ini, dengan tekad yang bulat, aku menawarkan diri untuk menjadi perwakilan dari kehidupan umat manusia.


"Saya bersedia menjadi perwakilan dari umat manusia!" tegasku sambil berdiri.


Semua pandangan tertuju kepadaku.


"Nica?!" Alexa terkejut melihatku. Aku hanya membalas tatapannya dengan tersenyum tipis. Lalu pandanganku beralih ke layar monitor yang menampilkan sosok bayangan hitam misterius di hadapanku.


Aku harus melawan seluruh perasaan ragu dan takut yang menjalar dalam diriku.


Demi kehidupan umat manusia.


Maafkan aku, Komandan Regu Clèment. Aku hanya ingin membantu meringankan bebanmu saja.


"Siapa namamu?"


"Nica Rosabelle!" jawabku. Aku harus meredam amarahku karena responnya yang terkesan mengejek.


"Baiklah, Rosabelle. Aku cukup terkesan dengan kekuatanmu," katanya. "Kau cukup terkenal di kalangan kami."


Dia ini ngejek apa gimana, sih?


Aku menghela nafas.


"Kembali ke pembahasan utama kita, apa kau bersedia untuk mengadakan perjanjian damai bersama?"


"Ya! Saya sebagai perwakilan umat manusia bersedia mengadakan perjanjian damai bersama Anda!" tegasku.


Seketika raut wajah seisi ruangan terkejut menatapku. Tatapan mereka menusuk sekali!


"KAU GILA, YA?!"


Aku menatap orang itu. Lalu berkata, "Lebih baik mencoba daripada gak sama sekali."


"Apa kau yakin?" Raja Loritz XI memastikanku.


"Tentu saja!" jawabku dengan penuh yakin. "Asalkan omongan Anda tetap pada pendirian!"


Raja Loritz XI menertawaiku. "Kan aku yang mengajak kalian para manusia untuk berdamai. Mana mungkin, aku juga yang berbohong kepada kalian?"


Aku tidak menjawab perkataannya.


"Akan tetapi, sebelumnya kami ingin melihat wujud Anda yang sebenarnya!" perintahku kepada Raja Loritz XI.


Terjadi keheningan sesaat.


"Baiklah, kalau kau mengatakan demikian," katanya tiba-tiba. Seketika dirinya langsung menampilkan penampilannya yang mengerikan yang disertai dengan kedua mata yang merah menyala dan wajah yang hancur.

__ADS_1


Seketika seisi ruangan menjadi ketakutan melihat rupa wajah Raja Loritz XI yang sungguh mengerikan.


Raja Loritz XI tertawa melihat ekspresi wajah kami semua. "Sudah kuduga."


"Kita akan mengadakan perjanjian pada malam bulan purnama merah di Kastil Astaroth," jelasnya. "Bila kalian telat, kalian lihat saja nanti!"


"Sepakat?"


"Sepakat!" tegasku dengan pandangan yakin menatap Raja Loritz XI.


"Sampai bertemu di kastil!" ucapnya sambil tersenyum miring. Tiba-tiba layar monitor dan jaringan radio mati dengan sendirinya.


Seketika terjadi keheningan di dalam ruangan ini. Keheningan yang meliputi kecemasan, kepanikan, dan ketakutan yang saling bercampur menjadi satu kesatuan dalam diri setiap orang di sini.


"Nica! Apa yang telah kau lakukan?!!" seru Komandan Regu Illyana sambil menghampiriku dan mencengkram kedua bahuku. Pandangan matanya tersirat kecemasan yang mendalam.


"Kau rela mengajukan diri untuk menjadi perwakilan umat manusia!"


"Mau sampai kapan kalau tidak ada yang ingin mengajukan diri menjadi perwakilan?!" bentakku.


"Ini adalah jalan emas kita untuk mengakhiri dunia yang kejam ini, Komandan Regu Illyana!"


"Maafkan saya, Komandan Regu Illyana,"


"Tekad saya benar-benar sudah bulat. Saya ingin segera mengakhiri situasi ini," jelasku. Kedua matanya menatap ke arahku dan menimbulkan setetes air mata yang menggumpal.


Seketika dirinya langsung memelukku dengan erat.


"Jangan khawatir, Komandan Regu Illyana. Semua akan segera berakhir, " kataku sambil menepuk punggungnya.


Dirinya langsung melepaskan pelukannya kepadaku dan tersenyum. Tak lama kemudian, dirinya kembali ke tempat duduknya.


Pandangan Komandan Regu Clèment mengarah padaku sambil mengulas senyuman di wajahnya.


Senyuman terharu atas tindakanku.


Aku pun membalas senyumannya. Setelah itu, kualihkan pandanganku kembali kepada setiap anggota yang hadir pada rapat malam ini.


"Waktu kita hanya sedikit," ucapku. Seketika suaraku berhasil memecahkan keheningan dan seluruh mata menuju ke arahku yang masih berdiri di tempat.


"Dengan melihat jumlah anggota seluruh aliansi yang semakin sedikit," jelasku. "Kita harus membentuk aliansi gabungan."


"Aliansi ini dinamakan 'Aliansi Gabungan Orion', yaitu aliansi gabungan seluruh anggota dari kelima aliansi yang ada."


"Apa ada yang ingin menyela?" tanyaku sambil menatap mereka yang tampak sedang mencerna penjelasanku.


"Kenapa namanya harus 'Orion'?"


"Arti nama 'Orion' sendiri berasal dari nama suatu rasi bintang," jelasku. "Rasi bintang adalah sekumpulan bintang yang saling berhubungan antara satu dengan lainnya sehingga membuat suatu pola kebersamaan yang indah di angkasa."


"Sama halnya seperti kita yang bersama-sama bersatu untuk melawan iblis demi mengakhiri penindasan umat manusia," lanjutku.


"Maafkan saya, bila saya terkesan terlalu frontal dalam pengajuan diri sebagai perwakilan umat manusia tadi. Keinginan saya untuk mengubah dunia sudah berada di puncak dan saya ingin segera mengakhiri dunia yang kejam ini, " jelasku. Hatiku gemetar dan seketika kedua mataku ingin meneteskan air mata di saat yang tidak tepat.


Namun, aku harus tegar dan menahan emosiku.


"Saya juga ingin membantu Komandan Regu Clèment dalam memimpin umat manusia," kataku sambil menatap Komandan Regu Clèment yang masih berdiri di depanku.


Pandangannya terkejut sekaligus tidak menyangka atas pernyataanku.


"Saya ingin membalas kematian para pahlawan yang telah semaksimal mungkin berjuang melawan kaum iblis yang semakin hari bertambah banyak."


"Rencana perjanjian perdamaian yang dikemukakan Raja Loritz XI tadi tidak boleh kita sepenuhnya percaya!" jelasku. "Sebaik-baiknya iblis pasti ada maksud tersembunyi."


"Maka dari itu, kita harus menyusun strategi khusus selama perjanjian perdamaian berlangsung untuk mewaspasai tindakan mereka!"


"Di sinilah insting kita diuji," kataku sambil menunjuk kepalaku.


"Mari kita saling bekerja sama untuk mengakhiri penindasan ini dan menciptakan peradaban baru yang lebih baik!"


Permainan tumpah darah akhir dari dunia akan dimulai.

__ADS_1


__ADS_2