
Pukul 16.15
Beberapa jam kemudian, setelah ekspedisi gabungan ke Desa Kimo.
Kedua tangan Louis kini sudah diobati total oleh salah satu anggota medis dari tim Greer.
"Jangan melakukan aktivitas yang terlalu berat!" perintahnya kepada Louis setelah dia membalut perban di kedua tangan Louis. "Aku yakin selama seminggu atau dua minggu infeksimu akan sembuh."
"Baik, makasih!" ucap Louis. Lalu orang itu langsung pergi meninggalkannya sambil tergesa-gesa karena dia harus mengobati prajurit lainnya yang mengalami luka pada saat ekspedisi tadi. Karena jumlah pasukan yang terluka sangat banyak, akhirnya Komandan Luna dan Komandan Lucian sepakat mendirikan tenda di luar markas Aliansi Azalea.
Louis terdiam sambil mengamati cahaya matahari yang berwarna jingga. Alam yang seakan-akan sedang mencoba menghibur hatinya yang sedang kacau.
"Louis!" panggil seorang pria dan ternyata adalah pria itu adalah Simas yang tiba-tiba berdiri di hadapan Louis tanpa disadari.
"Tangkap!"
Louis pun langsung menangkap barang yang dilempar Simas kepadanya. Berupa kraket daging dengan kentang di dalamnya.
"Maaf, hanya ini yang tersedia, selebihnya habis dan aku harap dengan makanan ini saja kau kenyang."
"Oh, gak apa-apa. Aku juga tidak terlalu lapar," ucap Louis sambil menggenggam sebungkus kraket dari Simas. "Makasih!"
Dirinya langsung membuka bungkus kraket daging tersebut dan melahapnya.
Sepertinya aku telah membohongi diriku barusan ....
"Ada apa dengan tanganmu itu?" tanya Simas yang tiba-tiba sudah terduduk di samping Louis. Matanya tertuju dengan kedua tangannya yang diperban dengan sempurna.
"Oh ini," Otaknya seketika langsung melambat seperti siput ketika dirinya sedang tidak ingin diajak berbicara dan tiba-tiba diajak berbicara.
"Kena infeksi racun iblis."
"Memang benar-benar iblis telah merencanakan ini semua!" ucap Simas sambil melahap kroket daging. "Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa kelompok iblis tadi menggunakan strategi penyergapan dan perangkap."
"Strategi itu paling ampuh menyerang manusia karena daya insting manusia yang masih terlalu lemah."
"Merepotkan sekali!" lanjutnya sambil menyeringai.
"Aku tidak tahu sampai kapan kehidupan seperti ini terus," lanjutnya lagi. "Seperti neraka dunia."
"Apakah menurutmu dunia ini akan berubah nantinya?" tanyanya kepada Louis yang sedang memandangi langit sore. Sebuah pertanyaan aneh yang tidak pernah dia dengar sebelumnya.
"Ya, aku yakin!" jawab Louis. "Seseorang yang ditakdirkan untuk menyelamatkan umat manusia yang tertindas."
"Aku harap begitu," ucap Simas yang menyimak penjelasan Louis.
Terjadi keheningan di antara mereka berdua.
"Aku juga tidak melihat Kapten Jan setelah ekspedisi tadi," lanjutnya tiba-tiba. Kalimatnya tersebut membuat ingatan Louis kembali mengingat kejadian yang baru saja menimpa dirinya yang dibuat lemah oleh sosok iblis di tengah-tengah hutan lebat dan lembab.
"Dia sudah mati," jawab Louis dengan wajah datar. Berusaha untuk melapangkan dada atas kehilangan jejak Kapten Jan untuk 'sementara waktu.'
"Kau jangan bercanda!" Tiba-tiba suaranya meninggi.
"Terserah kau mau percaya atau tidak," kata Louis sambil bangkit dari kursi kayu dan membelakangi Simas yang sedang makan kroket daging. "Bukan urusanku."
"Aku harus pergi, terima kasih atas kroketnya!"
Dirinya langsung meninggalkan Simas di tenda yang ramai dengan kesibukan tim Greer yang sedang mengobati para prajurit.
Maaf, Simas. Aku tidak bermaksud untuk menghindar atas pembicaraan ini. Namun, pembicaraan ini membuat pikiranku masuk ke peristiwa itu lagi.
Ini adalah kemauan Kapten Jan sendiri.
Maafkan aku yang telah membohongimu, kawan ....
Peristiwa mengikhlaskan kepergian orang terpenting demi misi,
Penebusan dosa.
__ADS_1
Kapten Jan, seseorang yang pertama kali mencuri perhatian Louis atas sikapnya yang konyol dan penuh candaan seakan-akan menganggap hidupnya seperti dalam film komedi di televisi. Ternyata itu semua hanyalah rekayasa agar dirinya tidak mengingat masa lalunya yang kelam. Lebih kelam dari perkiraan Louis sendiri.
Definisi yang tepat untuk 'mencari kebahagiaan dengan sekumpulan orang-orang untuk menutupi kesedihannya.'
Louis memutuskan untuk menjenguk Komandan Regu Clèment di ruangan yang sudah ditentukan.
Aku harap dia sudah lebih baikan.
Dia langsung mengetuk pintu ruang inap Komandan Regu Clèment terlebih dahulu.
TOK TOK TOK
Tidak ada jawaban.
Dia ketuk lagi,
TOK TOK
"Siapa?" tanyanya dari balik pintu.
"Ini saya, Louis, Clement." jawab Louis. "Bolehkah saya masuk?"
Terjadi keheningan seketika setelah Louis menyebutkan namanya.
"Masuklah!"
Louis langsung membuka pintu dan mulai memasuki ruangan inap Komandan Regu Clèment.
Cahaya matahari yang cukup menyilaukan menembus ke setiap sisi ruangan ini dan melakukan pemantulan dengan sebuah cermin. Aroma obat memekakkan indra penciumannya. Komandan Regu Clèment tampak habis menyantap makanannya. Kini dirinya terduduk di pinggir kasur dengan kakinya yang terjatuh mengenai lantai kayu.
"Maaf saya telah menganggu Anda," ucap Louis agak gugup. Itulah kalimat pertama yang dia lontarkan kepada Komandan Regu Clèment pada hari ini. Louis menatap wajah Komandan Regu Clèment yang lemas dan tidak berekspresi menatap pandangan matanya.
"Duduklah di sana!" perintahnya kepada Louis sambil menunjuk kursi kayu di dekat jendela.
"Tidak, aku berdiri saja," Louis menolak perintahnya.
"Oke, jadi kenapa kau ke sini?"
"Ya seperti yang kau lihat sekarang ini," ucapnya sambil melebarkan tangannya seolah-olah menunjukkan dirinya yang terlihat biasa saja. "Sudah lebih baik."
"Baguslah."
Terjadi keheningan di antara mereka berdua.
Aroma obat yang menyelimuti ruangan ini semakin lama semakin menyatu dengan indra penciuman Louis. Cahaya matahari yang terang mewarnai rambut Komandan Regu Clèment yang pirang tergerai.
"Maaf aku telah merepotkanmu di saat yang genting." Kedua mata Komandan Regu Clèment menatap setiap sudut lantai kayu.
"Aku memang lemah," ucapnya. "Yang dikatakan Jan itu benar."
Wajahnya datar tanpa ekspresi. Namun dibalik ekspresinya yang datar tersebut terdapat jiwa yang hancur.
"Ibuku pernah bilang kepadaku bahwa sewaktu aku bayi, aku terlahir prematur dan di duga dinyatakan terkena penyakit Huntington dan dokter mengatakan bahwa aku hanya dapat bertahan hidup selama kurun waktu sebulan saja."
Terjadi keheningan sesaat. Suasana ruangan inap ini berubah menjadi aura kesedihan.
"Ibuku," kalimatnya terpotong. Dirinya menangis seketika sambil mengusap matanya menggunakan lengan bajunya yang putih bersih sehingga menimbulkan noda besar bekas air mata di lengan bajunya.
"Aku butuh dirinya di sampingku!" lanjutnya dengan suaranya yang serak karena menangis. "Aku ingat di saat aku seperti sekarang ini, dirinya selalu hadir di sampingku dan menyemangatiku seakan-akan hidupnya benar-benar tidak ada beban sekalipun."
"Kenapa ibuku cepat sekali ke rumah Tuhan?!" katanya. "Kenapa ibu tega meninggalkan diriku yang seperti monyet kecil menangis?"
"Clè—"
Tiba-tiba Komandan Regu Clèment mendekatkan wajahnya kepada Louis sambil menarik kerah jaketnya. "Aku harus mencari Jan."
Kemudian dirinya langsung melepaskan kerah jaket Louis dan bergegas beranjak dari kasur yang di tumpanginya.
"Anda harus istirahat, Clèment!" ucap Louis yang setengah membentak dan berusaha mencegahnya keluar. "Anda baru saja pulih!"
__ADS_1
"DIA TELAH MEMBUNUH IBUKU, LOUIS! BAGAIMANA AKU BISA MENERIMANYA?!" bentaknya.
"Dia harus diberikan pelajaran yang setimpal bahkan lebih parah agar dirinya bisa mengerti manusia."
Komandan Regu Clèment langsung meninggalkan Louis sendirian di kamar. Dia pun langsung membuka pintu dan mendapati wujud Komandan Regu Clèment di lorong markas.
"Dirinya sudah mendapatkan hadiah setimpal seperti yang Anda bilang!" ucap Louis. Langkah Komandan Regu Clèment seketika terhenti.
"Dia sudah menyadari kesalahannya asal Anda tahu!" jelas Louis. Berusaha merubah pikirannya yang keras. "Maka dari itu dia rela berpergian sendirian melawan iblis-iblis di luar sana yang lebih kuat demi menembus dosa-dosanya."
"Saya tahu betapa sakitnya hati Anda bahkan rasa sakitnya itu tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata."
"Saya bisa merasakan emosional diri Anda!"
"Sebab nasib Anda sama seperti kehilangan orangtua saya dulu," ucap Louis sambil menahan sesak di dalam dadanya. "Kehilangan orang yang benar-benar peduli dengan kita ...."
Setetes air mata ingin segera keluar dari kedua mata Louis. Namun, rasanya tidak bisa. Wajahnya terasa kaku seperti manekin yang tidak bisa mengekspresikan wajahnya.
Di balik itu, hatinya justru terasa sakit sekali. Pikirannya kembali ke masa-masa kelam itu lagi.
Pikiran yang ingin dia lupakan dalam hidupnya.
"Tolong," Sesuatu mencekat di tenggorokannya.
"JANGAN PAKSAKAN DIRI ANDA!"
"Apakah Anda ingin membuat orang-orang terdekat dan keluarga Anda sedih jika Anda tewas sendirian di antara sekawanan iblis?"
"Apa Anda rela melihat Ayah Anda tersiksa atas kepergian Anda yang di dasarkan atas kehendak Anda yang tidak matang?"
Komandan Regu Clèment terdiam mematung membelakangi Louis.
"Maafkan saya, Clèment," kata Louis. "Anda adalah orang terpenting untuk kami,"
"Kalian?"
"Ya!"
"Benarkah?"
"Ya!" ucap Louis sekali lagi.
"Apa aku sungguh berguna untuk kalian?" tanyanya lagi.
"Tentu saja!" jawab Louis. "Berkat Anda, hukuman Nica berhasil dikurangi oleh Hakim Ketua."
"Kalau tidak ada Anda," Kalimatnya terputus.
"Mungkin Nica sudah dihukum mati."
Komandan Regu Clèment terdiam. Tubuhnya gemetaran dan tiba-tiba terjatuh dan menangis sekencang-kencangnya seperti anak kecil. Hal tersebut didukung oleh tubuh pendeknya. Baju lengan panjangnya di jadikan alat sebagai penghapus air matanya yang mengalir deras.
Louis langsung mendekati diri Komandan Regu Clèment dan memberinya sapu tangannya. Dia pun mengambil sapu tangan milik Louis dan mengusap ke wajahnya yang basah. Louis tetap menunggu sampai Komandan Regu Clèment sudah lebih tenang dengan berjongkok di sampingnya sambil menyentuh pundaknya.
Louis dapat merasakan betapa hancurnya jiwa Komandan Regu Clèment yang ditinggal oleh ibunya yang terbukti sangat berarti bagi hidupnya. Orang yang telah mengandung dan merawatnya sedari kecil tiba-tiba dibunuh oleh teman kita sendiri. Alam bawah sadar Louis tiba-tiba teringat momen-momen di mana orangtuanya dimakan oleh iblis yang menyamar sebagai orang yang menyayanginya dan menjaganya selama beberapa tahun. Air mata pun terjatuh di wajahnya. Namun, dirinya harus tegar di hadapan Komandan Regu Clèment yang sedang bersedih.
Louis tidak ingin membuat Komandan Regu Clèment ikut khawatir dengannya.
Aku harus bisa meminimalisir rasa sedihku ini.
Rasa perih di hatinya seperti diberi cairan jeruk nipis.
Perih sekali.
Tak lama kemudian, Komandan Regu Clèment tenang dan terdiam.
"Mari saya antar Anda kembali ke ruang inap Anda!" kata Louis sambil membantu Komandan Regu Clèment berdiri dan menuntunnya kembali menuju ruang inapnya yang terbuka lebar.
Dirinya tersenyum kecil dengan kedua mata yang merah akibat menangis. Pandangan matanya menatap wajah Louis yang sedang membantunya. Louis pun membalas senyumannya.
__ADS_1
Suatu hari Anda pasti bisa membalas budi ibumu, Komandan Regu Clèment. Tidak ada yang tidak mungkin, sebelum kau mencobanya!