
31 Maret 3027
Aku hampir terjatuh dari pohon saat pengambilan tes kecepatan memanjat pohon. Pohon-pohon ini memiliki ketinggian di atas rata-rata pohon pada normalnya. Aku paling lemah dalam hal memanjat sejujurnya. Sampai suatu ketika tiba-tiba aku terpleset saat kakiku mengenai ranting yang basah karena sisa air hujan semalam. Namun, tanganku ditarik oleh perempuan itu yang ternyata namanya adalah Rin Melania.
"Bertahanlah. Aku akan menarikmu ke atas!" ucapnya sambil menggenggam tanganku untuk tetap bertahan. Akhirnya, dia menarik tanganku sekuat tenaga sampai akhirnya tiba di salah satu ranting bersamanya.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya.
Aku masih dalam keadaan shock dan hanya mengangguk saja.
"Hati-hati, rantingnya cukup licin!" ujarnya.
"Iya m—makasih," jawabku.
Hari demi hari, kami mulai dekat. Dirinya mulai membuka dirinya untuk berteman dengan semua orang. Rin yang selama ini kukira kaku, ternyata orangnya lumayan easy-going.
Dia sangat handal dalam hal panah dan memanjat pohon.
Alexa Lumina, gadis bersayap kecil yang telah membuatku salah fokus, kini sekarang jauh lebih dekat dengan aku dan Louis sejak kejadian tersedak makanan. Walau Louis tetap dengan sikap kakunya, tetapi dia sudah lebih sedikit ramah kepada semua orang. Ini berkat nasihatku padanya mengenai tips untuk bersosialisasi.
"Loulou!" panggil Alexa kepada Louis yang sedang fokus membaca buku. Bahkan untuk menoleh saja tidak mau.
Akhirnya dia menggoyangkan lengan Louis sampai raut wajah Louis berubah.
"Apa, sih, kau mengangguku saja!"
"Ada kucing!" sambil menunjuk ke arahku yang sedang menggendong anak kucing dari tempat sampah yang kutemukan bersama Alexa. Louis langsung beranjak dari kegiatan santainya dan menjauh dari anak kucing yang berada di pelukanku.
Louis alergi terhadap kucing.
"Tolong jangan berikan kepadaku!"
Namun, hal tersebut tidak mempan kepadaku dan terus berusaha mendekatinya.
"Tidak semudah itu, Loulou!" Panggilan khusus Louis dari Alexa. Entah sejak kapan Alexa memanggilkan nama itu. Aku juga terkadang suka memanggilnya dengan nama itu.
Lucu saja di pendengaranku.
Louis langsung berlari menghindariku.
"Kejar dia, Nikki!" seru Alexa memanggilku dengan sebutan khasnya. Dia selalu memanggil semua orang dengan sebutan khasnya, selain lidahnya yang cadel, tak jarang orang-orang suka mengolok-ngoloknya.
Kau ingat Galen Favian? si 'Lelaki Masker'?
Dia sekarang masih sama saja bahkan lebih pendiam daripada Rin. Dan lebih mengejutkannya lagi ternyata mereka berdua sama-sama berteman!
Aku tidak pernah menegurnya. Akan tetapi, dirinya cukup gesit dalam mematikan target hanya dengan tangan kosong!
Setiap sebulan sekali kami mengadakan tes teori dan praktek.
Sejauh ini, aku unggul dalam tes teori ketimbang prakteknya. Bahkan aku selalu menempati peringkat pertama dalam tes akademis dengan nilai sempurna.
Peringkat kedua disusul oleh Louis.
"Selamat, Rosabelle. Lagi-lagi kau menempati posisi nilai terbaik!" puji Mr. Julian, di saat kami semua ditampilkan layar yang berisi nilai, peringkat dan nama kami dalam pelajaran anatomi iblis menggunakan proyektor.
"Selamat, Nica!" ucap Louis sambil tersenyum.
"Selamat kawan!" ucap Rin sambil merangkulku secara tiba-tiba.
Sedangkan dalam hal praktek, aku cukup lemah, salah satunya adalah kegiatan kecepatan memanjat. Aku selalu tiba paling akhir. Louis menempati peringkat memanjat tercepat. Walau dirinya sudah mengajariku memanjat berkali-kali, tetap saja aku tidak bisa. Sulit bagiku untuk memanjat pohon dalam waktu yang singkat. Perasaan panik selalu menyelimuti diriku di saat kegiatan praktek apapun itu. Namun, dalam praktek menembak. Aku cukup handal dari semua orang dan selalu menetap di peringkat dua setelah Michael. Kami semua saling bersaing demi mendapatkan nilai bagus dan mengincar aliansi yang lebih aman.
--
1 November 3027
"Arah jam tiga ada dua iblis!" seru Martin sambil membawa sebuah pedang dan tameng.
Kami bersembunyi di balik salah satu bangunan tua. Tempat ini sudah di atur sedemikian rupa oleh pihak akademi. Setiap tim terdapat tiga orang dengan kemampuan yang berbeda. Kemampuan tersebut berdasarkan dari diri kita yang unggul dalam tes kekuatan sebelumnya. Masing-masing tim ditempatkan ke lokasi yang berbeda. Maka dari itu, kami harus selamat dari sergapan para 'iblis' yang muncul dari berbagai arah secara tiba-tiba.
'Iblis-iblis' tersebut hanyalah sebuah replika yang bergerak menggunakan alat yang mengendalikannya yang dilengkapi dengan sensor dengar.
"Iblis dari arah Timur mulai mendekat!" kata Simas, langsung bersiap-siap melancarkan serangan panah ke target yang mulai mendekat ke arah kami bertiga.
Jantungku berdebar kencang seperti ingin lepas.
Baiklah, aku terbawa oleh arus simulasi ini.
Dalam hitungan mundur, dengan sekali sergap, aku langsung menembakkan peluru tepat mengenai bagian jantungnya. Senapan serbu ini dilengkapi dengan peredam suara dan peluru yang telah dimodifikasikan untuk membunuh iblis.
"Jangan habiskan pelurumu!" tegas Martin sebagai ketua tim.
"Maaf!" jawabku.
Kami langsung berpindah lokasi dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara agar iblis palsu itu tidak dapat mendeteksi keberadaan kami. Kami harus bertahan dari kumpulan 'iblis' yang siap menyantap kami dalam waktu 4 jam lamanya.
Siapa yang bertahan paling lama, itulah pemenangnya. Kami harus menggunakan strategi agar bisa memenangkan simulasi ini.
"TIM 9 GUGUR."
Tampak tulisan besar di langit siang buatan yang cerah.
"Sudah tiga tim gugur kawan, semangat!" seru Simas menyemangati kita demi memperoleh kemenangan.
"Yosh!" sahut aku dan Martin.
Kami beranjak mencari tempat yang aman.
"Sisa satu jam tiga menit lagi!" kataku sambil menatap jam tangan untuk memantau waktu yang sudah terlewat selama simulasi perang berlangsung.
"Lamanya ...." seru Martin dengan wajah malasnya.
"Emang lama, masa cepat?" ejek Simas.
Tiba-tiba sosok 'iblis' muncul tepat di hadapan kami. Akhirnya 'iblis' tersebut tumbang karena bagian jantungnya berhasil ditikam oleh Martin. Kami harus mengincar bagian jantungnya agar memperoleh poin lebih.
Seketika sebuah perasaan asing menyelimuti diriku sekarang. Aku sekilas mengingatnya,
__ADS_1
Peristiwa yang mencekam.
Sangat tidak jelas. Akan tetapi, aku bisa merasakannya.
Kapan ini?
Simulasi ini mengingatkanku pada sesuatu yang pernah kurasakan sebelumnya.
"Nica, apakah menurutmu benda ini bisa dimakan?" Seketika Simas membuyarkan lamunanku dan membuat pandanganku teralihkan ke arah benda yang dia tunjuk di halaman sebuah gedung tua.
"Seperti buah beri," lanjut Martin.
"Lebih baik jangan!" jawabku. "Karena menurutku ini jebakan bagi orang-orang yang suka makan seperti kalian."
"Hey, lihatlah badanku tidak gendut!" ucap Martin sambil menunjukkan badannya yang agak gendut. Akan tetapi, dirinya menahan napas agar terlihat kurus.
"Ditahan itu jelas ketahuan!" ucap Simas yang ketawa melihat perilaku Martin. Aku pun juga ikut tersenyum melihat tingkah laku keduanya yang masih saja bercanda di situasi seperti ini.
Kami mulai melanjutkan aksi sergap-menyergap musuh. Tulisan besar menit–demi–menit terpapar di langit yang cerah.
Sudah banyak target kami bunuh, tapi tidak kunjung habis. Kulihat sisa peluruku yang semakin sedikit. Aku hanya diberikan 120 buah peluru banyaknya dalam waktu 4 jam.
Kini hanya tersisa dua tim. Semakin tegang dalam memperebutkan posisi pertama. Hawa semakin panas. Lelah mulai menghasut kami bertiga, tapi kami tak akan pantang menyerah begitu saja.
Kami harus menang!
Tiba-tiba sosok iblis abnormal berlari menyergap kami berdua. Kami mulai dikepung musuh dari segala arah. Aku mengerahkan segala kekuatanku untuk menyerang target-target dari arah Utara
Ada yang berlari kencang,
Ada yang lambat.
"Aku bisa!" Aku tanamkan pikiran seperti itu di benak otakku.
Termotivasi untuk menang,
Yakin!
TIM 2 PASTI MENANG!
"BERTAHANLAH KAWAN! WAKTU SISA 10 MENIT LAGI!" teriakku.
"SERANG!" Semangat Martin sambil mengerahkan tamengnya dan menyerang musuh dengan pedang besinya yang runcing.
"Anak panahku tersisa 5 buah lagi." jelas Simas khawatir.
"Kau di belakang di antara aku dan Martin!" jelasku. "Serang sebisamu tapi tepat mengenai jantung target!"
"Baiklah!" jawabnya. Simas langsung berdiri tepat di antara aku dan Martin.
Martin tampak sibuk menghabiskan kawanan 'iblis' tepat dari arahnya. Sedikit–demi–sedikit berhasil kami tumpas. Kini jumlahnya mulai berkurang.
Waktu terus berjalan.
Semakin tegang saja dalam memperebutkan posisi pertama dalam simulasi perang ini.
Kami semua lelah sekali.
Hening.
Hanya terdengar suara nafas masing-masing yang tersengal-sengal.
"Apakah kita berhasil?" tanya Simas.
Aku dan Martin terdiam.
"SELAMAT KEPADA TIM 2 ATAS KEBERHASILAN KALIAN DALAM SIMULASI PERANG!"
Tulisan besar mewarnai langit jingga yang disertai dengan daftar peringkat masing-masing tim dan skor yang diperoleh setiap tim. Kami memperoleh skor 12893 dengan critical 1189. Potongan-potongan kertas mengkilat berwarna-warni saling berjatuhan mewarnai area simulasi.
"Kita berhasil kawan!" ucap Simas yang senang sekali sehingga menimbulkan kerutan tipis di wajahnya.
"Kerja bagus Simas, Martin!" seruku sambil melakukan high-five bersama.
"Kalian memang hebat!" seru Martin.
"Aku sayang kalian sekali!" lanjutnya sambil merangkul kami berdua dengan erat.
Senyuman lebar menghiasi wajah bahagia kami bertiga.
--
Malamnya,
Kami merayakan kemenangan tim 2 dengan makan daging BBQ bersama. Ramai sekali akan para murid dari Harpia dan Durya di aula akademi. Sementara yang lain sedang mabuk, Aku, Louis, dan Alexa berbincang-bincang mengenai simulasi perang tadi siang.
Kami bertiga saling menceritakan kejadian-kejadian unik yang kami alami saat melakukan simulasi perang.
"Parah sekali. Timku terjebak semua karena makan buah beri di pinggir sungai!" seru Alexa kesal. Seperti biasa, bila ia kesal, wajahnya mengerucut seperti dalam karakter Bubbles dalam kartun Powerpuff Girls sambil melipatkan tangannya di dada.
"Awalnya juga Simas begitu!" sela ku sambil meneguk segelas jus jeruk. "Tapi karena dia tanya aku dulu jadi dia tidak memakan benda itu."
"Kok aku tidak lihat ada beri, sih, waktu itu?" tanya Louis.
"Kalau di lokasi tempatku simulasi ada di sebuah halaman di gedung tua gitu. Cuman ada beberapa doang," jelasku.
"Hey, Nica!" seru Martin tiba-tiba yang sedang mabuk berat karena terlalu banyak meneguk minuman beralkohol. "Ayo minum vodka bersama!"
Temannya yang satu menahan badannya yang semakin memberontak. Simas tampak terdiam lemas sambil meletakkan posisi kepalanya di atas meja dengan satu tangannya yang tepat di sisi gelas wine merah.
"Gak, sana lu!" seruku sambil menatap wajahnya yang mabuk itu. Temannya terlihat kesusahan mengendalikan Martin yang sedang mabuk berat itu. Pandangan Louis dan Alexa tiba-tiba tertuju ke Martin yang sedang teler itu.
"Itu teman satu timmu?" tanya Alexa heran.
"Hmm."
"Bahkan dia setiap kali tidur sungguh berisik sekali!" jelas Louis sambil mengamati Martin yang sedang mabuk berat.
__ADS_1
Aku dan Alexa tertawa mendengar perilaku Martin yang sebenarnya. Tidak menyangka bahwa ternyata Martin sungguh liar ketika tidur.
"Yah begitulah, well, teman timku pada mabuk semua. Maafkan!" ucapku.
Kulihat Rin yang sudah semakin ada improvisasi dengan orang-orang sekitar.
Tiba-tiba dirinya melihatku.
"Sini!" kata Rin sambil mengibaskan tangannya dari jauh.
"Gak deh, Rin. Nanti aja," kataku menolaknya.
Aku tidak enak bila mengganggu dirinya yang sedang mengobrol dengan teman-temannya. Selain itu juga aku terlalu malas untuk menghampirnya.
Aku menghela nafas sambil memikirkan kejadian simulasi perang tadi siang. Sepertinya aku pernah mengalami kejadian seperti itu sebelumnya,
Tapi dimana?
Aku berusaha untuk mikir keras tentang hal itu.
Akan tetapi,
Aku tidak bisa mengingatnya.
Bukan ingat, melainkan kepalaku menjadi pusing seketika.
Lagi-lagi pusing!
"Nica!" seru Louis. Wajahnya mendekatiku. Jari-jari tangannya menyentuh kepalaku. "Apa kau baik-baik saja?"
Alexa yang sedang memakan marshmallow, ikut menatapku.
"Astaga! Apa yang harus kita lakukan?!" seru Alexa panik.
"Udah, tenang aja kalian!" kataku sambil menatap ekspresi raut wajah mereka berdua yang khawatir. "Aku hanya butuh udara segar."
"Aku akan keluar sebentar." Tiba-tiba tanganku di tarik oleh Louis.
"Aku ikut!" tegasnya. Mata biru tuanya menjelaskan sebuah kekhawatiran yang tersirat.
Aku terdiam sambil menatapnya. Tidak menyangka bahwa Louis menarik tanganku tiba-tiba.
"Biarkan aku ikut bersamamu!" katanya sekali lagi.
"Alexa, tunggu sebentar, ya!" ucap Louis kepada Alexa yang sedang panik.
"Tapi a—"
Louis langsung menepuk pelan kepala Alexa yang mungil. Hal tersebut membuat Alexa menurut dan tidak beralasan lagi. Louis memberikan senyuman hangat kepada Alexa sehingga membuat diri Alexa menjadi luluh. "Aku akan mentraktir kau kue coklat."
Makanan tersebut adalah favorit Alexa sehingga hal tersebut sering dijadikan jaminan bagi dirinya.
"Dah!" Louis langsung meninggalkan Alexa di tempat.
"Oke!" jawab Alexa dengan penuh senyuman di wajahnya. Karena dia tahu bahwa sehabis ini, dirinya akan ditraktir kue coklat kesukaannya.
Tiba di luar aula,
Udara sejuk menyelimuti kota Courtfeig. Bintang-bintang gemerlap menghiasi langit.
Aku dan Louis duduk di tangga luar.
Sepi sekali di sini karena ini sudah waktunya untuk tidur, tetapi kami diberi waktu sampai pukul 02.00 malam untuk merayakan kemenangan tim 2 atas simulasi perang.
Hanya ada suara jangkrik di sini.
"Segarnya udara di malam hari!" ucapku ketika udara sejuk ini memasuki bulu hidungku. Kulitku seraya menerima sapuan angin yang bertiup pelan.
"Nica," Louis tiba-tiba menyebut namaku. "Pusing lagi?"
Aku mengangguk. "Setiap kali aku memikirkan sesuatu secara paksa, pasti pusing."
"Sepertinya aku mengalami deja vu, " jelasku.
"Tapi aku tidak yakin juga."
"Deja vu?"
"Iya, jadi waktu aku dalam simulasi perang tadi. Tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benak otakku," jelasku. "Hanya saja ingatan tersebut tidak jelas."
"Aneh sekali," jawabnya.
"Bahkan masalah ini tidak bisa terpecahkan oleh para dokter di dunia," katanya. "Dulu ada pasien Mama yang mengalami sama sepertimu, tapi karena dia terlalu sering mengalami seperti itu ...."
"..... Gila." kata Louis. Nadanya mencekam.
"Jadi gila maksudnya?" tanyaku sekali lagi.
"Iya, Dia jadi gila," kata Louis. "Apakah kejadian ini sama seperti saat kita menepi di danau dulu?"
Aku mengangguk pelan.
"Lebih baik kau jangan paksakan dirimu untuk mengingat hal itu lagi!" seru Louis.
"Ini demi dirimu!" lanjutnya sambil menggenggam tanganku. Nadanya setengah membentak.
Aku terdiam mematung.
Gila?
Kalimat tersebut selalu mengelilingi pikiranku.
Kami berhadapan satu sama lain. Namun, kepalanya sengaja menunduk. Aku melepaskan genggamannya dan menyentuh wajahnya.
"Louis," kataku. Aku mencairkan suasana yang mencekam di antara kami berdua. "Aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi."
"Aku tidak akan gila."
__ADS_1
Pandangannya mulai menatap kedua mataku. Wajahnya tampak sedih dan khawatir. Aku menyodorkan jari kelingkingku. Dia pun membalas jari kelingkingku yang menandakan 'perjanjian.'