
Seminggu kemudian,
Akhirnya sudah seminggu lebih beberapa hari aku di sini,
Aliansi Amdis
Setelah melewati masa training yang cukup sulit sekaligus seru, kami semua diberikan sebuah pin kecil berbentuk kuda emas oleh Komandan Lucian.
Logo khas kota Amdis.
Kedua kakinya diangkatkan ke langit yang melambangkan semangat dan pantang menyerah. Ini adalah sebagai arti bahwa kami secara resmi sudah menjadi anggota aliansi Amdis.
--
Pukul 10.35 pagi.
Beberapa anggota aliansi diperintahkan oleh Komandan Lucian secara mendadak untuk berkumpul di ruang rapat karena ada hal penting untuk dibahas bersama.
Aku, Louis, dan Simas diperintahkan oleh Komandan Lucian untuk segera menuju ruang rapat.
"Aku belum menghabiskan rotiku!" seru Simas, yang terburu-buru makan karena ada rapat mendadak.
Suara langkah kaki terdengar jelas disetiap sudut ruang rapat. Kebanyakan dari mereka semua belum terlalu kukenal dan hanya sebatas menyapa nama saja.
Tumben sekali Komandan Lucian memanggil kami.
Selang waktu beberapa menit, akhirnya Komandan Lucian dan Kapten Jan memasuki ruangan. Wangi coklat tercium tepat di hidungku sepintas Kapten Jan melewatiku.
Salah satu senior membawa sebuah peta besar yang sudah tua dan melebarkannya di atas meja bundar. Penuh akan kode yang tidak kumengerti dalam peta itu.
"Siang ini kita akan mengadakan ekspedisi," ucap Komandan Lucian. Tiba-tiba suasana menjadi hening seketika. Hanya ada suara Komandan Lucian yang menggema di setiap sudut ruangan. Kipas angin yang terus memutar sedang menyaksikan rapat ini.
"Ekspedisi ke Desa Kimo," lanjutnya sambil menunjukkan sebuah wilayah dengan sebuah kayu panjang.
"Kita harus mengambil alih desa tersebut dari iblis sebelum mereka menguasai lebih banyak wilayah dari manusia!" tegasnya. "Desa ini cukup dipenuhi oleh hutan tinggi dan kemungkinan besar banyak iblis yang bersarang di dalamnya."
"Siang adalah waktu yang tepat untuk melakukan ekspedisi karena mereka cukup lemah pada siang hari."
Kapten Jan hanya mengamati pembicaraan Komandan Lucian. Wajahnya tampak serius sekali.
"Berarti kita harus segera kembali sebelum waktu malam?" tanya salah satu anggota aliansi kepada Komandan Lucian sambil mengangkat tangannya.
"Ya," jawabnya singkat. Seketika ruangan rapat penuh dengan bisikan orang-orang.
"Sekarang kita akan membagi tim terlebih dahulu," tegasnya.
Setiap anggota dibagi menjadi beberapa regu dan disertai dengan pemimpin regunya. Satu regu terdapat 8 pasukan. Dalam satu regu tersebut terdapat 2 anggota Alta, 2 anggota Ignatius, 2 anggota Odora, dan 2 anggota Greer.
Komandan Regu Illyana memimpin regu garis belakang. Komandan Lucian dan Kapten Jan masuk ke dalam regu garis depan yang akan memimpin ekspedisi ini.
"Clèment, kau memimpin tim sayap kiri!" seru Komandan Lucian menyuruh Senior Clèment untuk memimpin regu sayap kiri. Wajahnya pun tanpa ekspresi dan datar saat mendengar perintah dari Komandan Lucian.
Aku satu tim dengan Komandan Regu Clèment, bersama dengan beberapa orang lainnya yang tidak kukenal. Louis dan Simas berada di regu garis sayap kanan.
Ini merupakan ekspedisi pertama kali untukku,
Aku takut.
Jantungku berdegup kencang.
Tiba-tiba ada sebuah tangan menyentuh pundakku. Louis tersenyum kepadaku.
"Jangan takut." bisiknya. "Kau pasti bisa!"
Aku pun hanya tersenyum lalu menunduk masih dengan perasaan gelisah dan berusaha meyakinkan diriku.
Kami mulai menyusun strategi ekspedisi menggunakan balok kecil berwarna-warni.
"Kita akan berpencar ketika mulai memasuki hutan di sana," ucap Komandan Lucian. "Lokasi kalian akan terdeteksi di dalam GPS yang akan kalian gunakan nanti."
"Komandan Lucian," tanyaku. "Maaf saya potong, kenapa tidak pakai semacam tembakan bubuk warna-warni?"
Seketika pandangan semua orang tertuju padaku.
"Jangan, itu bisa meransang pendengaran musuh lebih jauh!" jawabnya tegas. "Lebih baik pakai GPS untuk mendeteksi lokasi."
"Maka dari itu, sekarang kalian bergegas melakukan persiapan untuk berangkat!" seru Komandan Lucian menyuruh kami untuk bergegas mempersiapkan diri. Akhirnya rapat dibubarkan dan kami semua pun keluar dari ruangan rapat.
Aku berjalan dengan perasaan gelisah. Tidak tenang. Namun, harus kuhadapi.
Aku langsung bergegas kembali ke kamar asrama dan mengambil senapan serbu jenis AK-47, pemberian dari Mama Mathilda. Senapan itu selalu kubawa karena untuk mengenang dirinya yang telah tiada.
Lalu, kuambil juga sebuah pistol serta beberapa peluru yang sudah dirancang sedemikian rupa untuk membunuh iblis serta alat-alat lainnya yang berguna untuk ekspedisi ini.
Kulihat Alexa yang sedang memperhatikanku. Tiba-tiba dirinya memelukku dari belakang.
"Jangan tinggalkan aku!" seru Alexa dengan wajah imutnya yang bersedih. Tangan mungilnya menyentuh perutku sehingga menimbulkan efek geli dari jari tangannya.
Aku berbalik badan dan membungkuk ke arahnya.
"Aku akan kembali, Alexa!" ucapku. Berusaha untuk menghiburnya. "Lagian bentar doang."
Namun, ia hanya terdiam dan memerhatikanku yang sedang sibuk mempersiapkan diri.
"Dah!" kataku sambil mengelus rambutnya yang lucu itu dan meninggalkannya di kamar asrama.
Hanya seorang diri di tengah lorong asrama sambil membawa senapan serbu AK-47 yang kuletakkan di belakangku dan menuju luar markas aliansi. Sembari berjalan di lorong, kulihat Rin yang sedang menatap jendela.
Kuamati apa yang sedang diperhatikan olehnya. Hanya kumpulan manusia berlari ke sana-kemari dengan sibuknya mempersiapkan ekspedisi ke Desa Kimo.
"Rin?" tegurku. Ekspresi wajahnya terkejut saat aku menegurnya tiba-tiba.
"Bengong, ya?"
"M—maaf," Hanya itu saja yang keluar dari mulutnya.
"Awas kesambet!" ucapku sambil menepuk pundaknya.
"Pergi dulu, ya!" kataku langsung meninggalkan wujudnya yang masih terdiam di depan jendela.
"Hati-hati, Nica!" ucapnya, Namun aku hanya melambaikan tanganku tanpa menolehnya.
Tiba-tiba muncul sebuah perasaan aneh di hatiku belakangan ini.
Sepertinya ada yang sedang dia sembunyikan ....
"Suudzon mulu!" Aku berusaha untuk berpikir positif dan tidak berprasangka buruk terhadap Rin yang mulai bersikap aneh. Bagaimanapun juga dia memang karakternya seperti itu. Misterius.
Angin sepoi-sepoi berhembus pelan, menyambut diriku yang tiba di luar markas. Cuaca yang berawan seakan-akan mendukung kegiatan ekspedisiku untuk pertama kalinya. Banyak sekali orang-orang yang berjalan ke sana-kemari sambil membawa perlengkapan penting untuk melakukan ekspedisi ini.
Kulihat Louis yang sedang bersama kudanya.
"Hoi!" sapaku kepadanya dan menghampirinya. Dia pun menoleh ke arahku. Kulihat dirinya yang sudah lebih siap untuk melakukan ekspedisi daripadaku.
"Udah siap-siap aja!" ucapku sambil memandangi Louis dari atas sampai bawah.
"Pastinya dong!" sahutnya sambil mengepalkan tangan kanannya. "Kau juga!"
Aku hanya tertawa dengan hati yang sedang meringis.
Jangan tanya balik.
Tiba-tiba Kapten Jan menghampiri kami berdua.
"Siap!" seru Kapten Jan menyemangati kami berdua dengan senyumannya yang masih terlihat menyeramkan itu.
"Siap, Kapten!" sahut kami berdua dengan melakukan salam hormat di hadapan Kapten Jan.
"Ini adalah ekspedisi pertama kalian," katanya sambil memberikan kami sebuah alat menyerupai jam tangan yang berfungsi sebagai GPS untuk melacak lokasi masing-masing regu, seperti yang sudah dijelaskan oleh Komandan Lucian pada rapat tadi.
Kami langsung mengambil jam tangan tersebut dan memakainya di pergelangan tangan kami. Seketika alat tersebut langsung menyala dan menampilkan sekumpulan titik-titik merah yang menetap di satu tempat.
"Whoaa!" seruku sambil menatap alat GPS itu yang tiba-tiba menyala.
Louis hanya mengamati alat itu tanpa ekspresi.
"Ini untuk melacak keberadaan kalian," jelas Kapten Jan.
"Baik, terima kasih, Kapten!" ucapku sambil melaksanakan hormat di hadapannya.
"Terima kasih, Kapten!" ucap Louis ikut melaksanakan hormat.
"Lakukan yang terbaik!" Kapten Jan menepuk pundak kami berdua dan meninggalkan kami berdua. Aroma coklatnya masih tercium sampai ke dasar hidungku.
Tiba-tiba Alexa berlari menghampiriku dan Louis. Nafasnya tersengal-sengal.
"Hey jangan lari juga kali." ucapku menatap wajahnya yang memerah.
"A—aku hanya ...."
"AKU KHAWATIR DENGAN KALIAN!" seru Alexa dengan suaranya yang imut setengah berteriak sehingga beberapa prajurit yang lain menatap ke arah kami.
"Kan sudah kubilang beberapa kali, jangan khawatir!" ucapku. "Percaya dong."
"Kami berdua akan berusaha untuk berhati-hati dalam ekspedisi ini," sahut Louis memberikan sebuah senyuman tipis di bibirnya.
Alexa hanya terdiam mematung.
Waktu berjalan dengan cepat detik–demi–detik. Maka dari itu, kami harus segera melaksanakan ekspedisi sebelum matahari terbenam.
Masing-masing anggota aliansi yang dipilih untuk melakukan ekspedisi menaklukan wilayah Kimo dari iblis langsung menaiki kudanya masing-masing sambil membawa harapan terbesar untuk umat manusia.
Ini pertama kalinya aku menunggangi seekor kuda. Kuda putih seperti susu.
Cantik sekali.
"Here we go~!" ucapku dengan nada Mario. Aku berusaha untuk berpikir positif dengan keadaan yang terjadi padaku saat ini.
Kulihat Alexa yang melambaikan tangan kepadaku dengan seulas senyuman. Kujawab lambaian tangannya tersebut. Detik–demi–detik wujudnya pun menghilang karena terhalang oleh bangunan-bangunan yang seiring melintas.
Sekitar 1.000 pasukan dikerahkan demi melaksanakan misi.
Karena cuaca yang agak dingin tersebut, kami memakai tudung untuk lebih menghangatkan tubuh. Angin yang berhembus kencang melawan arah lajunya kuda. Langit berawan seakan sedang menyaksikan petualanganku yang baru dimulai. Orang-orang berlalu-lalang menatap kami dengan ekspresi bersorak-ria, menyaksikan kami yang beramai-ramai menuju gerbang kota Amdis yang cukup jauh dari letak markas Aliansi Amdis yang berada di pusat kota.
__ADS_1
Sungguh antusias sekali mereka!
Mereka terlihat menyimpan harapan kepada kami dari sorot matanya yang memukau.
"Kami akan berusaha yang terbaik untuk kalian!" ucapku. Seketika timbulah sebuah perasaan yakin dan semangat melakukan ekspedisi ini.
Terpampanglah sebuah lambang besar kuda yang sedang mengangkat kedua kakinya ke langit, tepat di dinding batu bata yang menjulang tinggi. Gerbang tersebut perlahan-lahan terbuka secara otomatis karena terdapat sebuah sensor suara dari bawah tanah dan membukakan kami jalan.
Akhirnya, kami keluar dari wilayah Amdis.
Ekspedisi dimulai!
Belum diberi aba-aba dari Komandan Lucian.
Kami terus menuju ke arah Barat. Wajah-wajah yang penuh akan ambisi dan kepasrahan terlihat jelas dari masing-masing ekspresi wajah orang-orang di sekitarku. Tidak ada pembicaraan, hanya ada suara langkah kaki kuda yang seiring bergantian.
Angin berhembus cukup kencang melawan arah. Tidak satupun kulihat rumah di sini. Hanya hamparan padang rumput yang luas, bukit hijau yang jauh di sana, dan sebuah ladang bunga matahari cantik yang sedang melihat kami melaksanakan ekspedisi.
Ternyata di luar kota Amdis indah juga pemandangannya ....
Aku memperhatikan setiap objek yang terlintas. Aroma hijau yang segar dihembuskan oleh angin sehingga memekakkan indra penciumanku.
Sudah sekitar 2 jam kami bergerak dari Amdis menuju arah Barat.
Menuju Desa Kimo.
Kulihat tepat beberapa kilo meter lagi akan memasuki wilayah hutan yang terkenal lebat dan memiliki akar pohon yang tinggi. Seperti yang telah diberitahu oleh Komandan Lucian saat rapat tadi.
"Semua regu bersiap-siap untuk berpencar!" seru Komandan Lucian mulai menyiapkan aba-aba kepada masing-masing regu.
"MULAI!"
Aku mulai mengikuti pergerakan Komandan Regu Clèment dengan menarik tali yang terikat di kudaku untuk mengendalikan arah jalanku.
Setiap regu mulai memasuki daerah hutan yang cukup luas itu. Jantungku berdegup kencang sekali. Bulu kudukku mulai berdiri ketika melihat suasana hutan yang jauh dari ekspetasiku. Hutan ini jauh lebih menyeramkan dan gelap. Sedikit sekali sinar matahari yang masuk karena terhalang oleh akar dan dedaunannya yang lebar sehingga menimbulkan banyak genangan air di tanahnya.
Aku tidak bisa melihat regu lain melalui kedua pandanganku seakan-akan kami seperti terkunci di dalam hutan ini.
Kulihat GPS di pergelangan tanganku. Titik-titik merah menyebar di setiap sudut hutan. Aneh. Hening tidak ada jejak sama sekali.
Tidak ada musuh di sini. Seketika pikiranku dipenuhi banyak pertanyaan dengan keadaan hutan ini.
"Komandan Regu Clèment!" seru salah satu anggota satu tim denganku memanggil
"Ini hening sekali!" serunya.
"Tidak ada pergerakan musuh sama sekali!" sahut satunya.
"Sepertinya mereka sedang ingin bermain-main dengan kita," jawab Komandan Regu Clèment.
Tiba-tiba muncul sosok iblis dengan badan yang besar dan berbulu dengan mata merah menyala serta bertanduk seakan-akan menantang kami berdelapan. Makhluk itu berdiri tepat di depan sana sambil menatap kami.
"A—APA ITU?!" seruku yang terkejut melihat kehadiran sosok makhluk jelek itu tiba-tiba.
"Bersiap-siap untuk menyerang!" seru Komandan Regu Clèment dengan tegas sambil mengeluarkan kartu remi andalannya.
Aku langsung mengeluarkan senapan serbu AK-47 dengan peluru yang telah dimodifikasikan untuk membunuh iblis. Siap membidik. Namun, hal mengejutkan terjadi.
Iblis itu ... menghilang tiba-tiba entah kemana.
Kami semua sontak terkejut.
"Eh?"
DHUAAARRRR
Tiba-tiba muncul sebuah ledakan misterius berhasil menumbangkan kami berdelapan. Tubuh kami terlempar saling berjauhan dan terbaring lemah di atas tanah yang lembab. Kuda kami pun ikut tumbang dan sebagian lagi kabur meninggalkan kami.
Ledakan apa tadi?
Penglihatanku tiba-tiba menjadi kabur dan cukup membuat kepalaku pusing. Kepalaku membentur permukaan tanah dengan cukup kuat.
Kabut bekas ledakan misterius tersebut menyelimuti kami berdelapan. Pemandangan sekitar hutan seketika menjadi putih–keabuan. Mataku berair dan perih ketika memaksakan untuk membuka kedua mataku lebih lebar. Kulihat Komandan Regu Clèment dan anggota lainnya terlempar jauh dariku. Mereka tidak sadarkan diri sepenuhnya.
Hanya aku seorang yang sadar.
Aku berusaha untuk bangkit dari posisiku yang lengah ini, tetapi nihil karena kaki kananku terkilir. Senjata AK-47 pemberian dari Mama Mathilda terlempar cukup jauh dari posisiku saat ini. Aku berusaha untuk menggapainya, tetapi gagal dan yang ada kakiku semakin parah sakitnya. Semua gerakan terasa berat seperti sedang memikul batu di seluruh area tubuhku.
"Oh iya, kan," ucapku. Seketika aku mengingat bahwa aku membawa pistol yang cukup mematikan juga. Namun, berat rasanya untuk mengambil benda itu seperti ditahan oleh 100 tangan.
"Sial!" Aku mulai putus asa dengan keadaanku saat ini. Kupantau GPS, namun tiba-tiba tidak berfungsi dengan baik atau error.
"Aku harus gimana lagi?!"
Tiba-tiba muncul sosok hitam pekat di antara kabut asap misterius. Sosok berambut panjang dan bertanduk. Namun tanduknya menyerupai tanduk aries. Terbang melayang sambil membawa sebuah kepala manusia. Semakin lama semakin mendekatiku.
"Komandan Regu Clèment! Bangun kek pake acara pada pingsan lagi!" gerutuku dengan perasaan panik setengah mati melihat kondisi timku yang tidak sadarkan diri semua. Aku hanya terpana melihat pemandangan mengerikan tepat di depan mata kepalaku.
Terduduk dan tanpa memegang senjata apapun.
Ia menuju ke sini!
Kuku-kukunya yang runcing dan panjang menancap kepala orang yang baru dicabutnya dan mengayunkannya maju-mundur. Pandangannya terfokus padaku yang terkulai lemah di tanah.
"Tak kusangka pasukan pembasmi iblis seperti kalian sungguh lemah." ucapnya dengan suara yang besar, meremehkanku. Tangannya fokus mengayunkan kepala orang yang baru saja dipenggalnya.
Aku tidak tahu orang itu, mungkin salah satu anggota dari garis sayap kiri.
Wanita iblis itu berjongkok di hadapanku.
Aku terdiam.
Mulutku membisu.
Namun, aku tidak bisa menerima dia mengatakan seperti itu!
Ia menyentuh wajahku menggunakan jari telunjuknya yang panjang dan menggores pipiku. Darah mulai mengalir keluar.
"Kasian sekali!" ucapnya sambil tertawa jahat. Aroma bangkai jelas tercium dari tubuhnya.
Matanya mulai memerhatikan jumlah anggota pasukan garis sayap kiri yang tidak sadarkan diri. Ia bangkit dari posisi jongkoknya dan berjalan melewatiku yang sedang lemah.
Wanita iblis itu menghampiri Komandan Regu Clèment.
Komandan Regu! Jangan sampai mati!
Dengan jantung yang berdebar-debar, aku berusaha mengambil pistol yang awalnya terasa berat karena energi dari wanita iblis itu. Aku langsung mengarahkannya tepat di jantungnya dari belakang.
"Aha, kau mengincar jantungku, ya?" seru iblis itu mengetahui tindakanku tanpa sedikitpun melihatku.
Sialan, aku salah!
Makhluk itu langsung meremas tangan kananku yang sedang menodongkan pistol ke arahnya dengan kekuatannya yang tidak biasa.
Ia mengetahui tujuanku tanpa melihatku.
"Aaakh!" Tanganku diremukkan paksa olehnya seperti diremukkan oleh seekor ular piton sehingga pistol yang tadinya kupegang, akhirnya terjatuh dari genggamanku.
Kuku tajamnya mulai menyentuh wajah Komandan Regu Clèment.
"JANGAN SAKITI DIA!"
Seketika dirinya terdiam membelakangiku.
"PERGI JAUH-JAUH LO!" bentakku kepadanya agar dirinya menjauh dari Komandan Regu Clèment. Seketika aksinya terhenti.
Bodo amat aku gak peduli, yang penting Komandan Regu Clèment selamat!
Aku berusaha bangkit dari tanah dengan sekuat tenaga. Melawan energi yang kuat dari wanita iblis itu. Pada akhirnya, aku berhasil berdiri tetapi dengan posisi yang tidak sempurna karena harus menahan rasa sakit di sekujur tubuhku.
"BY ONE DULU SINI!" tantangku.
Kepalanya berputar 360 derajat dan menatapku.
Serem banget!
Kini kami berdua saling berhadapan.
"Baru kali ini aku ditantang oleh manusia lemah sepertimu," kata wanita iblis itu. Sebuah Kepala orang yang sedari tadi dipegangnya, kini ia lemparkan tak tahu kemana.
Aku tidak peduli apakah memang aku harus mati disini, Aku harus melindungi Komandan Regu Clèment dan yang lainnya.
Bagaimanapun caranya!
Aku harus berusaha mengalahkan makhluk bengis di depanku ini.
Nica kau pasti bisa! Kau pasti bisa!
Rasa perih di kedua mataku akibat kabut asap misterius tersebut dan sakit di sekujur tubuhku harus kulawan.
Aku tidak bisa seperti ini terus. Makhluk itu terus meremehkanku.
"Aku akan memenggal kepalamu jika kau kalah!" sahutnya. Pernyataannya mencerminkan keangkuhan yang menganggap setiap lawannya lemah menghadapinya.
Tidak semudah itu, Nona Iblis!
Aku menarik napasku paling dalam dan menghembuskannya. Aku merasakan sebuah energi yang kuat menyerap ke dalam diriku.
Energi ini sungguh berbeda, seperti kekuatan besar.
Wanita iblis itu langsung mengeluarkan taringnya beserta lidahnya yang panjang. Kuku di setiap tangannya semakin memanjang dan runcing, siap menerkamku. Pandangan matanya merah menyala. Pergerakannya seketika langsung cepat menujuku.
Sambil berteriak.
--
Pukul 14.26
Regu sayap kanan pada saat ekspedisi berlangsung.
Louis's PoV
Mereka menelusuri hutan yang luas dan cukup gelap. Hawa lembab sungguh terasa sekali. Genangan air dimana-mana, karena sinar matahari yang tidak dapat menjangkau dasar hutan.
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah sinyal merah terpancar dari GPS di pergelangan tangan Louis.
"Sayap kiri sedang dalam bahaya!" seru Simas sambil melihat alat GPS di tangan kirinya.
"Nica?!" Seketika dirinya terlintas di benak otak Louis.
Gawat, dirinya dalam keadaan bahaya!
Perasaan panik sekaligus khawatir mencekat di dirinya sekarang.
Aku harus segera kesana!
"Kau jangan nekat! Bersabarlah dan terus bersama-sama," bentak Komandan Regu Lewis kepada Louis yang mengetahui pikiran anak buahnya.
Louis pun terpaksa mematuhi perintah Komandan Regu Lewis.
Nica bertahanlah!
Seketika konsentrasinya akan misi ini hancur.
"Ada segerombolan musuh datang dari arah jam satu!" seru Komandan Regu Lewis. "Bersiap-siap untuk menyerang!" tegasnya.
Stella langsung mengeluarkan perisai hijau dan menambahkan mana agar regunya dapat melancarkan aksi serang dengan baik kepada target.
Louis langsung mengeluarkan pedang besi pemberian Mr. William. Ini bukanlah pedang biasa, melainkan pedang yang sudah dimodifikasikan sehingga terdapat kandungan racun yang mematikan bagi iblis.
Tampak segerombolan iblis dengan tubuhnya yang cukup besar berlari menyerang regu sayap kanan dengan menggunakan kuku panjang mereka. Mata mereka menyala berwarna merah dan lidah mereka menjulur panjang disertai dengan taring yang panjang.
Mereka tampak lapar sekali.
Bahkan mereka sampai mengeluarkan suara yang cukup bising dan tidak enak di dengar.
Louis langsung menebas jantung mereka.
Bahkan beberapa dari mereka sampai melompat tinggi, berusaha menyergap salah satu dari regu sayap kanan. Namun, usaha mereka tidak berhasil sebab terlindungi oleh perisai yang diberikan oleh Stella yang berperan sebagai Greer dalam regu itu.
Pedang milik Louis penuh oleh darah merah iblis.
"Menjijikan!" ucap Louis ketika melihat darah kental mengalir di ujung pedangnya.
Bagaimanapun, aku harus membasmi mereka!
Akan tetapi, aneh sekali. Mereka tidak kunjung habis.
"Komandan Regu," panggil Louis kepada Komandan Regu Lewis yang sedang sibuk menebas jantung musuh menggunakan kapak besar andalannya.
"Mereka semakin bertambah banyak!" seru Louis.
"Gawat kita dikepung!" seru Senior Stanley sambil melancarkan anak panah ke jantung musuh. "Panahku sedikit lagi akan habis."
Tiba-tiba muncul gemuruh dari arah Barat.
Suara itu cukup membuat sekumpulan burung beterbangan ke langit. Suara gemuruh tersebut menggema di setiap sudut hutan.
Tiba-tiba segerombolan iblis yang menyerang kami, akhirnya berlari ke arah Barat. Ke arah sumber gemuruh tersebut.
"Suara apa itu?" tanya Louis. Tak pernah dirinya mendengar suara itu sebelumnya.
Seperti suara monster. Monster yang besar!
"Ikuti jejak mereka!" seru Komandan Regu Lewis menyuruh timnya untuk mengikuti jejak iblis yang berlarian ke sumber gemuruh tersebut. Mereka harus tetap berhati-hati.
--
Tiba di sumber suara,
"Apa-apaan ini?" ucap Louis ketika sampai di sumber suara.
Matanya membulat. Dia mematung memandangi pemandangan yang cukup menyeramkan di hadapannya.
Penuh darah.
Segerombolan iblis yang berlarian awalnya seketika tiba di sumber suara, mereka semua terbaring penuh darah. Bahkan kebanyakan dari mereka sudah terkoyak jantungnya. Salah satu dari mereka ada yang setengah terputus lehernya.
Regu sayap kanan yang baru tiba di sumber suara terdiam mematung menatap kejadian mengerikan ini.
Komandan Regu Lewis membulatkan matanya dengan mulut yang setengah terbuka. Lalu berkata, "A—ada apa yang sebenarnya terjadi?"
Tidak mungkin bila pasukan aliansi yang menebas mereka semua.
Pasti ada sesuatu.
"Periksa setiap lokasi!" perintah Komandan Regu Lewis.
"Baik, Komandan Regu!" Seluruh prajurit sayap kanan langsung menyebar ke segala sudut lokasi kejadian misterius ini.
"Nica! Dimana kau?" teriak Louis dengan penuh perasaan khawatir akan keberadaan perempuan itu. Dirinya terus mencari sampai ketemu.
Tiba-tiba Louis menemukan seorang perempuan terbaring dengan posisi setengah terlungkup. Rambut kemerahannya menutupi wajahnya.
"NICA!" seru Louis melihat tubuh Nica yang penuh darah. Terdapat banyak luka goresan di bagian perutnya. Jubah yang dipakainya sudah benar-benar robek bersama dengan jaket warna merahnya yang penuh bercak darah yang membekas.
Dirinya kehilangan banyak darah.
Louis bergegas turun dari kudanya dan menghampiri wujud Nica yang tidak sadarkan diri di atas tanah. Dia menyentuh nadi perempuan itu.
Masih berdenyut.
Namun, jantungnya berdetak pelan. Suhu tubuhnya juga mulai mendingin.
"TIDAK! NICA, BANGUNLAH!" ucap Louis panik. Dia menggoyangkan tubuh perempuan itu. Dipeluknya tubuh Nica di dekapannya. "KUMOHON!"
Tanpa sadar Louis telah meneteskan air matanya ke wajah Nica yang penuh darah.
Lalu dirinya juga melihat pasukan regu sayap kiri yang terbaring tidak sadarkan diri dan penuh darah. Termasuk Komandan Regu Clèment.
Apa yang sebenarnya terjadi disini?
Kenapa mereka semua terbaring lemah?
Dan, Iblis-iblis itu,
Kenapa mereka bisa tumbang bersamaan?
Seketika otaknya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab secepatnya.
"Louis!" panggil Dimitri, menghampiri dirinya yang bersedih sambil memeluk erat Nica yang masih tidak sadarkan diri.
Dimitri berperan sebagai Greer yang memberi healing atau mana bagi tim. Posisinya sekaligus menjadi relawan bagi pasukan yang terluka selama ekspedisi berlangsung. Dia langsung memeriksa denyut nadi di tangan kiri Nica dengan dua jarinya. Tidak ada respon darinya dan langsung beralih ke area pendarahan di perut Nica. Kedua tangannya menyentuh area pendarahan tersebut sehingga sarung tangan putihnya ternodai oleh darah merah Nica.
Darahnya bahkan terus mengalir dan tidak mau berhenti.
Rasa takut sekaligus cemas menusuk setiap diri Louis. Dia hanya melihat aksi Dimitri yang sedang memeriksa tubuh Nica yang penuh darah itu. Dimitri langsung melancarkan sebuah kekuatan dari kedua tangannya yang di arahkan di atas perut Nica yang mengalami pendarahan hebat. Wajahnya tampak membacakan suatu mantra khusus. Tiba-tiba cahaya hijau muncul dari kedua tangan Dimitri seiring dibacakannya sebuah mantra rahasia.
Hanya berselang beberapa menit saja, cahaya hijau tersebut redup dari kedua tangan Dimitri.
"Pendarahannya sudah kuhentikan," kata Dimitri sambil membuka maskernya.
"Apakah dia masih hidup?" tanya Louis yang penasaran setengah mati.
"Aku tidak yakin," jawabnya, "Karena lukanya cukup dalam dan serius, maka dia harus dirawat selama beberapa hari."
"Organnya ada yang robek dan harus dipulihkan dengan cara istirahat penuh."
Louis terdiam mendengar penjelasan Dimitri.
Nica, apa yang sudah kau lakukan?!
Tidak kuasa menahan rasa sakit di dadanya,
Sesak sekali.
Tubuh Nica pun digotong oleh Dimitri dan seorang relawan lainnya menggunakan tandu dan dibawa ke sebuah gerobak khusus yang sudah dibuat oleh para pasukan ekspedisi menggunakan kayu pohon untuk mengangkut pasukan ekspedisi yang cedera ataupun meninggal.
Para relawan Greer dan pasukan lain saling membantu mengangkat korban-korban dari ekspedisi ini untuk dimasukkan kedalam gerobak besar. Beberapa korban lainnya tidak berhasil ditemukan. Beberapa korban yang berhasil ditemukan, dimana yang sudah tidak bernyawa, masing-masing dipakaikan kantung penutup mayat yang mereka bawa dari markas.
Louis terdiam dan terduduk di dalam gerobak.
Memandang wujud Nica yang berselimut tudung berwarna merah. Wajahnya tertidur pulas sedang bermimpi indah.
Andaikan saja aku di sana bersamanya..
Louis menyesali apa yang sudah terjadi saat ini.
"Dia akan bangun sebentar lagi,"
Tanpa disadari bahwa Kapten Jan hadir secara tiba-tiba disamping Louis. "Kau tampak murung sekali."
Sepertinya dia telah mengamati tindakan Louis yang berubah.
Louis terdiam. Tidak merespon perkataan Kapten Jan dan terus menatap Nica yang masih tidak sadarkan diri. Tangan Kapten Jan menyentuh pundak Louis. Dia pun menoleh menatap Kapten Jan. Raut wajahnya tampak meyakinkan Louis.
"Aku yakin dia pasti akan baik-baik saja!" ucapnya yang penuh yakin.
Louis hanya tersenyum yang dicampur dengan kesedihan. "Terima kasih, Kapten!"
Dia pun meninggalkan Louis dan lanjut mengurus korban-korban ekspedisi ini serta berinteraksi dengan anggota pasukan lain.
Keributan
Kesedihan
Menyelimuti setiap anggota ekspedisi.
Salah satu dari mereka ada yang merasa tidak terima temannya menjadi korban dalam ekspedisi ini.
Inilah resikonya!
Untuk menjadi pasukan aliansi, maka kita harus rela menyerahkan nyawa demi melindungi manusia.
Akhirnya, Komandan Lucian memutuskan bahwa semua pasukan ekspedisi terpaksa harus kembali ke markas aliansi Amdis karena situasi yang tidak memungkinkan untuk dilanjutkan. Telah dinyatakan bahwa ekspedisi pertama untuk menaklukan kembali Desa Kimo ....
Gagal.
__ADS_1