
Putih dan silau sekali.
Aku tidak melihat apa-apa.
Dunia terasa kosong.
Hanya aku seorang diri di antara cahaya putih ini.
Aku di mana?
Tiba-tiba aku melihat sosok Louis dari kejauhan, berdiri terdiam sambil menatapku.
Samar-samar.
Aku langsung berlari ke arahnya.
"Louis, maafkan aku!" ucapku yang menangis sambil terus berlari ke arahnya. Namun setelah aku berlari jauh, rasanya tidak kunjung sampai.
Semakin menjauhiku.
Lalu muncul Alexa di samping Louis,
Komandan Lucian,
Kapten Jan,
Beserta Komandan Regu Clément,
Dan beberapa orang dari pasukan aliansi di belakang mereka berlima.
Memandangiku dengan tatapan kosong.
Aku terkulai lemas dan menjatuhkan diriku.
"MAAFKAN AKU," teriakku dengan air mata yang mengalir deras membasahi wajahku. "AKU MOHON!!!!"
Aku merasa aku tidak bisa sepenuhnya berkata-kata. Rasanya mulutku seperti ditutup,
Hanya menangis yang bisa kulakukan.
Tiba-tiba Louis seorang diri menghampiriku dengan satu tangan di belakang dan satu tangannya lagi mengulurkannya untuk menolongku.
Aku menatap kedua matanya,
Pandangan datar dan kosong.
"L—Louis?"
Aku langsung menggapai uluran tangannya tanpa pikir panjang dan memeluknya.
Aku rindu sekali padanya!
Namun, sesuatu terjadi padaku.
Tiba-tiba darah mengalir dari dadaku.
Louis menikamku tepat di mana jantungku berada dengan menggunakan pisau andalannya, belati.
Aku tidak menyadari bahwa dirinya menusukku secara sengaja. Akan tetapi,
Tidak ada rasa sakit sama sekali. Darah mengalir keluar dari dadaku banyak sekali. Wajah Louis seperti menyimpan dendam kesumat.
Apa yang sudah kau perbuat, Louis?
Wajahnya berubah menjadi menyeramkan, menyerupai iblis-iblis yang pernah kulihat.
Aku spontan menjauh beberapa langkah darinya.
"Tidak mungkin!"
Aku langsung terbangun.
Terbangun dari mimpi yang aneh sekali.
"Ya Tuhan," gumamku. Aku merasakan kedua pipiku basah karena air mata. Aku langsung mengusap air mataku sampai kering. Ternyata aku menangis di kehidupan nyata akibat mimpi aneh yang baru saja kualami.
Aku berusaha untuk melihat keadaan sekitar.
Aku mendapati kedua tanganku diborgol. Diriku terbaring di sebuah kasur putih yang bersih, beralaskan selimut putih yang menyelimuti tubuhku. Sel yang memanjang dan berjajar di hadapanku. Remang-remang sekali suasana di sini.
Aku berada di dalam sel penjara bawah tanah.
Kok aku bisa di sini?!!
Kedua tanganku tidak leluasa bergerak karena diborgol dalam posisi depan.
Pegal sekali!
Kedua seragamku yang awalnya lengkap dengan jaket merah dan logo aliansi Amdis, berubah menjadi pakaian kemeja putih lengan panjang dan celana coklat tua.
Aku langsung mengingat kejadian yang menimpaku.
Sialan! Kenapa aku harus berakhir seperti ini?!
Tiba-tiba 4 orang petugas sipir dengan poros badan yang tegap, menghampiriku dan membuka pintu sel menggunakan sebuah kunci khusus. Aku menyimak apa yang sedang mereka lakukan saat ini. Setelah mereka berhasil membuka sel yang kutempati ini, akhirnya mereka menghampiriku yang sedang menatap mereka bingung.
"Lho, saya mau dikemanain?" tanyaku heran,
Mereka langsung mencengkram lenganku dengan kuat dan kasar untuk segera beranjak dari kasur.
"Maaf, lengan saya jangan dicengkram gini dong!" ucapku sambil meringis kesakitan atas apa yang telah mereka lakukan padaku. "Sakit tau!"
"Kau akan diadili secara hukum!" Mereka tidak peduli atas yang telah mereka lakukan. Mereka terus menyakitiku secara fisik dan terus memaksaku untuk segera beranjak dari kasur yang berdebu ini.
"Hisshh!!"
"Kau telah membuat kekacauan di kota Azalea dan membuat gempar para penduduk setempat," ucap satunya lagi.
"Aku tidak menyangka kau ternyata seorang perempuan setengah iblis yang buruk!" ucap salah satu dari mereka dengan nada mengejek.
"MAKSUD KAU APAAN?" bentakku. "SAYA DISERANG! SAYA JUGA GAK MA—"
Salah satu dari mereka langsung menendang perutku menggunakan lutut kakinya berkali-kali sampai aku benar-benar terdiam dan mengeluarkan sedikit darah melalui mulutku.
Sungguh tersiksa diriku!
"Jangan bermacam-macam dengan kami, wahai iblis laknat!" ucap salah satu dari mereka sambil menjambak rambutku yang berantakan, mengarahkan paksa wajahku tepat di hadapan wajahnya yang jelek, kemudian melemparkan wajahku.
Aku terdiam dengan wajah yang menahan rasa sakit di area perutku yang habis ditendang oleh lututnya.
Seluruh darahku mulai naik hingga ke ubun-ubun. Aku benar-benar ingin marah rasanya.
Tapi,
Aku harus tahan. Karena bila aku berontak, mereka pasti akan membunuhku.
Akal sehatku masih berfungsi ternyata.
Aku muak sekali menatap muka mereka.
Ternyata iblis dipandang rendahan sekali oleh manusia saking bencinya mereka terhadap iblis.
Baru jadi sipir aja belagu amat!
Kami tiba di depan pintu yang besar berwarna merah tua, lengkap dengan ganggang pintu berwarna emas dan agak berkarat. Terdapat dua penjaga di depan pintu besar tersebut. Mereka membukakan pintu untuk aku dan para sipir lainnya masuk ke ruangan.
Inilah ruang pengadilan.
Semua pandangan tertuju padaku yang lusuh. Pandangan mereka seperti sedang menatap makhluk aneh yang sedang berjalan memasuki ruangan.
Pandangan benci.
Maka dari itu, aku tidak berani membalas tatapan mereka. Aku menunduk dengan tangan diborgol di depan.
Dingin sekali di sini, seperti neraka.
"Lihat itu iblisnya!"
"Aku harap dia akan segera dihukum mati!"
"Sayang sekali wajah cantiknya menipu."
Banyak sekali hinaan yang terekam oleh kedua telingaku. Diriku sakit sekali mendengar hinaan mereka. Hatiku terasa tercabik-cabik oleh ribuan pedang yang runcing.
Aku harus kuat!
Keadilan pasti akan datang!
Mereka membawaku di tengah-tengah ruangan, tepat berhadapan dengan hakim ketua. Borgolku dilepas sementara dan kedua tanganku di arahkan di belakang benda seperti tiang besi yang cukup tinggi, melebihi tinggiku kemudian diborgol lagi kedua tanganku di belakang sehingga tiang tersebut berfungsi sebagai pengganjal agar aku tetap tertahan di sana. Setelah itu mereka langsung pergi meninggalkanku.
Suasana mulai hening.
Kini aku terduduk. Kedua lututku sebagai penahan badanku di tengah-tengah tempat.
Hatiku sakit sekali!
Banyak sekali pandangan benci mengarah padaku. Aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak menangis, agar aku tidak dianggap remeh oleh mereka.
Sepertinya setelah ini aku bakal mati.
"Apakah saudari terdakwa sehat?" tanya hakim ketua padaku.
"S—sehat, Bapak Hakim Ketua!" jawabku.
"Siap mengikuti sidang hari ini?"
"Iya, Bapak Hakim Ketua!"
"Baiklah," jawabnya. "Pertama-tama saya akan membacakan identitas diri saudara terdakwa terlebih dahulu."
"Dengan nama lengkap saudari Nica Rosabelle, umur 17 tahun dari Rainville, jenis kelamin perempuan, pekerjaan saudari sebagai salah satu pasukan bagian Ignatius di Aliansi Amdis," jelasnya sambil melihat berlembar-lembar kertas di genggamannya.
"Diberitahukan kepada seluruh peserta sidang bahwa agenda sidang hari ini adalah pembacaan surat dakwaan oleh Penuntut Umum."
"Silahkan, Penuntut Umum!"
"Baik, terima kasih Majelis Hakim, saya akan membacakan surat dakwaan saudari," kata Penuntut Umum tersebut sambil membuka secarik kertas di genggamannya.
"Saudari terdakwa atas nama panggilan Nica atau Nica Rosabelle pada hari Selasa tanggal 5 September 3029 sekitar pukul 20.39 yang bertempat di Distrik Sróv telah terbukti, 'melakukan kerusuhan yang sangat membahayakan warga sekitar', perbuatan mana terdakwa lakukan dengan cara-cara sebagai berikut,"
"Bahwa awalnya pada hari Selasa tanggal 5 September 3029 sekitar pukul 19.43 saudari Nica Rosabelle keluar dari Aliansi Azalea atas perizinan dari Komandan Aliansi Azalea, Luna Jörgen yang sekaligus sebagai saksi."
"Kemudian terdakwa Nica Rosabelle mengajak teman saudari bernama Alexa Lumina sebagai saksi dalam persidangan ini untuk berjalan-jalan di luar markas Aliansi Azalea."
"Namun, karena tanggapan dari saudari Alexa Lumina menolak, maka dari itu saudari terdakwa Nica Rosabelle memutuskan untuk mengajak saudari Rin Melanie untuk keluar bersama," jelasnya lagi. "Sesampainya saudari terdakwa Nica Rosabelle dan saudari Rin Melanie di Distrik Sróv berdasarkan radar pemantau pasukan, terjadi pertikaian antarkeduanya sehingga merubah wujud antarkeduanya menjadi sosok iblis sehingga telah merusak dua bangunan ruko butik di sana, berdasarkan kemampuan Komandan Regu Aliansi Azalea, Jacob Marshall juga sebagai saksi atas masalah ini."
"Tidak ada satupun warga terluka atas insiden ini, hanya kerusakan materi saja," jelas Penuntut Umum tersebut. "Akan tetapi atas insiden ini, Aliansi Amdis terbukti telah melanggar kode etik atas perekrutan prajurit yang berwujud iblis dan melanggar hukum yang berlaku di Azalea atas kerusuhan yang dapat membahayakan nyawa manusia dan merusak manufaktur."
__ADS_1
"Maka dari itu, Aliansi Amdis terancam dibeku permanen dan saudari Nica Rosabelle terancam hukum mati sebagaimana sesuai atas pasal 25B ayat 2 yang menyatakan bahwa 'Seorang prajurit yang terbukti berkhianat atas pekerjaannya, maka akan dihukum mati.'"
"Apakah saudari terdakwa keberatan dengan apa yang telah dibacakan?" tanya Hakim Ketua.
"Saya sangat keberatan, Bapak Hakim Ketua. Ini jelas tidak seperti apa yang Hakim Ketua pikirkan, " ucapku. "Dan kepada semua peserta yang hadir hari ini."
"SAYA BERSUMPAH ATAS NAMA TUHAN BAHWA SAYA TIDAK PERNAH BERNIAT MENGKHIANATI ATAS PEKERJAAN SAYA!"
"TUJUAN SAYA ADALAH MELINDUNGI SEGENAP BANGSA DAN UMAT MANUSIA DI DUNIA INI UNTUK MEMPERJUANGKAN KEADILAN YANG NYATA," jelasku.
"RIN ADALAH SOSOK IBLIS YANG MENYAMAR DALAM WUJUD MANUSIA KEMUDIAN MENYERANG SAYA DAN DIA BERAMBISI UNTUK MENGHANCURKAN UMAT MANUSIA!!!" teriakku.
"Saya tidak ingin menjadi iblis asal kalian tahu," ucapku. "MAMA MATHILDA LAH YANG TELAH MEMBUAT SAYA MENJADI SALAH SATU BAGIAN DARI MEREKA!"
Seketika ruangan menjadi ramai dan ribut. Orang-orang di dalam persidangan ini saling berbisik-bisik satu sama lain.
"MANA ADA IBLIS YANG MAU MENGAKU KALAU DIRINYA SALAH?" bentak salah satu warga sipil.
"Sudahlah terima saja kalau kau berniat membunuh kami!"
"Percuma cantik tapi pembunuh, cuih!"
"Sudahlah hukum mati saja perempuan itu!"
"Kalian para warga sipil jangan seenaknya berpendapat," bentakku. "KALIAN OTAK UDANG!"
Saking meluapnya amarahku, sampai-sampai secara tak sadar, kuku di setiap jari-jemariku memanjang.
"Lihatlah, kukunya memanjang!"
"Dasar iblis laknat!"
"Mati saja kau!"
Perkataan-perkataan para warga sipil menusuk setiap sisi hatiku.
Sakit sekali rasanya.
Ingin sekali aku berteriak sekencang-kencangnya dan mencakar tiap tubuh mereka.
Tiba-tiba dua orang petugas sipir menghampiriku yang sudah tidak terkendali ini yang masih terborgol. Sepertinya mereka membawa sebuah suntikan.
Aku tidak tahu suntikan apa itu.
Suntikan tersebut langsung ditusukkan di leherku. Seketika aku menjadi dipaksa untuk tenang dan agak mengantuk akibat efek dari cairan suntikan tersebut.
"Semuanya diharapkan tenang!" tegas Hakim Ketua sambil mengetuk palu kayu berkali-kali. Seketika suasana berangsur-angsur menjadi lebih tenang dan lebih kondusif.
"Siapa Mama Mathilda itu?" tanya Hakim Ketua.
"Orang yang mengadopsi saya saat di Rainville."
"Apakah dirinya masih ada?"
"Dia sudah dibunuh oleh sekawanan iblis."
"Baik," Sang Hakim Ketua membersihkan tenggorokannya yang kering. "Sidang ini akan tetap diteruskan."
"Penuntut Umum, "kata Hakim Ketua. "Apakah Anda sudah siap menghadirkan para saksi sekarang?"
"Ya, Ketua Hakim, saya siap menghadirkan para saksi!"
"Baik, tolong bawakan saksi pertama!"
"Baik!"
Penuntut Umum langsung memanggil saksi pertama untuk pembuktikan masalah yang sedang disidangkan.
"Kepada saudara Clèment, silahkan duduk di kursi pemeriksaan saksi!" ucap Penuntut Umum.
Komandan Regu Clèment?!
Dirinya langsung menduduki kursi pemeriksaan.
Pandanganku menjadi kabur seketika seperti orang mabuk akibat efek dari cairan suntikan penenang yang diberikan oleh kedua sipir sehingga aku tidak jelas melihat sekitarku.
Seperti sebuah objek yang bergerak-gerak saja.
"Silahkan perkenalkan diri saudara di hadapan peserta sidang!" ucap Hakim Ketua.
"Baik," kata Komandan Regu Clèment berdiri dengan sikap tubuh yang tegap.
"Nama saya Clèment Dominique. Saya berusia 21 tahun dari Alvist. Saya sebagai komandan regu di Aliansi Amdis." jelasnya.
"Baik, saudara Clèment, silahkan duduk!" ucap Hakim Ketua. Komandan Regu Clèment pun mengikuti perintah Hakim Ketua yang diminta untuk duduk.
"Apakah saudara saksi mengenal terdakwa?" tanya Hakim Ketua.
"Ya, saya mengenal terdakwa karena dia pernah satu regu dengan saya dalam ekspedisi ke Desa Kimo yang lalu."
"Tolong kepada saudara saksi Clèment untuk menjelaskan kejadian yang saksi alami dengan terdakwa!"
"Baiklah," kata Komandan Regu Clèment sambil menatapku yang tersiksa ini. Pandangannya maut sekali!
"Persidangan ini terdapat unsur kesalahpahaman, Bapak Hakim Ketua!" kata Komandan Regu Clèment. "Saudari Nica jelas tidak bersalah."
"Dia pernah menyelamatkan saya dari terkaman sosok iblis saat ekspedisi ke Desa Kimo kemarin walaupun ternyata misi tersebut berakhir gagal."
"Tapi Anda pingsan pada waktu itu."
"Ya, saya memang pingsan. Namun, berkat micro-chip di dahi saya inilah, saya dapat menyaksikan kejadian tersebut!" jawab Komandan Regu Clèment sambil menunjukkan dahinya sebagaimana pernah ditunjukkannya kepadaku dulu.
"Dia rela sekarat demi menyelamatkan tim sayap kiri!" jelasnya.
"Saya percaya atas apa yang dikatakan saudari Nica tadi, dia diserang oleh prajurit pengkhianat bernama Rin," ucapnya.
"Tentu tidak bisa diubah, saudara Clèment!" potong Komandan Luna dari Aliansi Azalea. "Iblis tetap iblis!"
"Iblis tidak pernah berniat baik pada manusia," jelas Komandan Luna tegas. "iblis adalah musuh kita!"
"Ya, saya setuju dengan pendapat Komandan Luna!" ucap salah seorang warga sipil. "Apalagi iblis itu sudah menghancurkan toko butik milikku."
"TENTU INI TIDAK DAPAT DITERIMA!" lanjutnya.
"Iblis tersebut bila dibiarkan akan terus membahayakan keselamatan umat manusia dalam waktu kedepan!" ucap Komandan Luna tegas. "Secepatnya harus dihukum mati bagaimanapun juga!!"
"AYO HUKUM MATI DIA!" Para warga sipil beramai-ramai meneriakkan hukuman mati secara serentak. Berusaha untuk mengubah pola pikir Majelis Hakim.
"Tolong semuanya tenang!" seru Hakim Ketua menyuruh perdebatan antara Komandan Regu Clèment dan Komandan Luna untuk segera mereda serta suara bisik-bisik yang mengganggu di ruang sidang.
"Jangan memaksakan kehendak, saudari Luna! Anda sendiri tentu telah melanggar hukum karena Anda telah menuntut terdakwa untuk segera dihukum mati," jelas Komandan Regu Clèment.
"BUKTIKAN KEPADA SAYA BILA SAUDARI NICA TELAH MEMBUNUH MANUSIA!"
Semua orang terdiam.
"Kepala saya akan menjadi jaminan bila saudari Nica terbukti bersalah," lanjutnya.
Seketika jantungku terasa berhenti.
Aku tidak menyangka Komandan Regu Clèment akan mengatakan seperti itu. Dia rela mengorbankan kepalanya untuk menjadi jaminan bila diriku terbukti bersalah.
"Dan juga dalam insiden ini tidak ada korban jiwa," kata Komandan Regu Clèment.
Tiba-tiba dirinya berdiri dari kursi saksi dengan postur tubuh tegap dan bersungguh-sungguh.
"Atas nama Aliansi Amdis, kami bersedia akan mengganti segala kerugian di Azalea atas insiden yang terjadi. Akan tetapi," Komandan Regu Clèment seketika terdiam.
"Tolong lebih dipertimbangkan kembali hukuman untuk saudari Nica Rosabelle, Bapak Hakim Ketua. Terima kasih!" ucapnya, lalu duduk kembali.
Hakim Ketua dan kedua hakim lainnya langsung berunding satu sama lain atas apa yang telah mereka dengar langsung dari penjelasan Komandan Regu Clèment barusan.
K—Komandan Regu Clèment ....
Tidak dapat berkata-kata atas apa yang baru saja kusaksikan. Sulit dijelaskan!
Ternyata yang selama ini kukira dirinya yang cuek ternyata aku tertipu oleh penampilannya.
Dia sangat berbeda.
Aku telah banyak merepotkan dirinya.
Maafkan saya, Komandan Regu Clèment!
Aku menangis sambil menunduk.
"Balik ke awal topik," ucap Hakim Ketua, setelah selesai mendiskusikan masalah tadi dengan kedua hakim di kanan-kirinya.
"Di mana posisi saudara saat insiden ini berlangsung?"
"Posisi saya di dalam Aliansi Azalea, sedang berbincang bersama saudara Jan," jelasnya.
"Saya memutuskan untuk tidak ikut berjalan-jalan keluar dari wilayah Aliansi Azalea."
"Tiba-tiba saya mendapat informasi dari radar pemantau pasukan bahwa ada penyerangan di Distrik Sròv," jelasnya. "Namun, saya tidak ikut menyelidiki kejadian tersebut dan menjaga markas Aliansi Azalea."
"Baik," ucap Hakim Ketua. "Saya rasa penjelasan dari saudara Clèment sudah cukup jelas."
Tiba-tiba ada seorang petugas sambil membawa sebuah benda menuju Hakim Ketua. Aku tidak bisa melihatnya sebab benda tersebut terhalang oleh badan si petugas itu.
"Apa ini?" ucap Hakim Ketua sembari petugas tersebut melangkah menjauh dari Hakim Ketua.
Alat perekam suara milik Louis.
Ya Tuhan aku baru mengingatnya!
Awalnya kukira benda tersebut hilang.
"Itu alat perekam, Bapak Hakim Ketua!" kataku.
"Baiklah, saya akan mencoba untuk mendengarkan rekaman ini," ucapnya. Setelah tombol on diaktifkan, terdengarlah percakapan antara aku dan Rin sebelum insiden terjadi.
Tidak terlalu jelas, Namun, masih bisa dipahami.
Kami semua mengamati suara rekaman tersebut. Suasana ruangan persidangan menjadi hening dan hanya suara rekaman itu yang menggema ke seluruh ruangan. Wajah Hakim Ketua tampak serius sekali mendengar sebuah percakapan yang akan menjadi bukti untuk persidangan ini. Tiba-tiba terdengar suara berisik. Mungkin itu suara di mana aku diterpa oleh kekuatan Rin pada saat itu. Hakim Ketua langsung mendiskusikan dengan kedua hakim di kanan-kirinya terkait isi rekaman ini.
Wajah Komandan Regu Clèment tampak serius mendengar rekaman tersebut sambil menyentuh dagunya.
Tak lama kemudian, rekaman tersebut mati dengan sendirinya yang menandakan bahwa rekaman sudah berakhir.
Seisi ruangan ribut seketika.
"Harap tenang!" ucap Hakim Ketua sambil mengetuk palu beberapa kali sampai keadaan tenang.
"Apakah saudari berhasil membunuh si iblis Civa itu?"
"Saya masih tidak tahu, Bapak Hakim Ketua," jawabku. "Karena ketika saya berhasil menusuk jantungnya, wujudnya langsung menimbulkan cahaya yang terang sekali!"
__ADS_1
"Dan hilang wujudnya."
"Jadi kemungkinan ia masih hidup?"
"Ya, Bapak Hakim Ketua."
"Sudah seberapa kenalnya saudari dengan Civa ini?" tanyanya lagi.
"Sejak masih dalam pelatihan Akademi Pahlawan Courtfeig, di mana dirinya bernama Rin Melanie dan sangat pendiam sekali," jelasku. "Saya awalnya kasihan karena dirinya tidak berteman dengan siapapun, yasudah saya temenin aja."
"Baik."
"Ada masalah apa saudari terdakwa dan saudara Louis dengan Civa?"
"Saya jelas tidak tahu," jawabku. "Maka dari itu saya berusaha untuk menanyakan penyebab ia menjauh dari kami."
"Kapan dia mulai menjauh?"
"Sejak sesudah ekspedisi ke Desa Kimo yang lalu."
Seketika suasana menjadi berisik kembali. Seisi ruangan saling berbisik satu sama lain.
"Tapi saya sadar," kataku."Civa adalah iblis wanita yang menyerang regu sayap kiri."
"Saya amati gerak-geriknya ketika dirinya menyerang saya saat ekspedisi kemarin dan penyerangan di Azalea," jelasku. "Dan itu semua sama!"
"Hmm," Hakim Ketua tampak memahami perkataanku. Setelah itu para Majelis Hakim saling berdiskusi terkait perkara ini.
Tak lama kemudian,
"Baik, saya akan membacakan surat putusan terdakwa, " ucap Hakim Ketua sambil memegang sebuah kertas yang penuh tulisan. "Mohon untuk para hadirin untuk mendengarkan!"
"Demi Keadilan, pengadilan militer Azalea yang memeriksa dan mengadili perkara-perkara pidana, terdakwa terbukti secara sah tidak bersalah atas perkara ini. Namun, telah membuat kerusuhan yang merusak beberapa bangunan di Azalea tanpa menimbulkan korban jiwa,"
"Maka dari itu, telah menjatuhkan putusan sebagai berikut, dengan saudari terdakwa bernama Nica Rosabelle ditahan dan berada di Rumah Tahanan Azalea selama sebulan lamanya, potong masa tahanan," jelasnya panjang lebar. "Dan Aliansi Amdis tidak dibeku permanen, melainkan diberi ultimatum pertama terkait perkara ini."
"Pihak Aliansi Amdis akan mengganti segala kerugian yang terkait dengan perkara ini."
Sang Hakim Ketua langsung mengetuk palu 3 kali yang menyatakan keputusan ini sah.
Aku cukup senang karena aku setidaknya tidak dihukum mati.
Berkat bukti alat perekam mini tersebut,
Dan Komandan Regu Clèment ....
Aku ingin menemuinya untuk mengucapkan terima kasih atas penyataannya. Namun, beberapa petugas sipir langsung menyeretku keluar dari ruangan sidang sebagaimana sidang ini telah dinyatakan tutup dan selesai.
"Tunggu! Saya ingin ketemu dengan teman-teman saya dulu!!"
Namun, mereka tidak memperdulikanku.
Aku mencari kehadiran Louis. Namun, dirinya tidak ada sembari para peserta sidang keluar dari tempat persidangan. Aku juga tidak melihat Alexa di sana. Mungkin karena banyak sekali orang-orang yang berjalan keluar dari tempat ini.
Wajah Komandan Regu Clèment terdiam kaku dan berdiri meninggalkan lokasi. Sepertinya dirinya sedang memendam sesuatu.
Dia tidak menoleh ke arahku.
Langkah–demi–langkah, diriku keluar dari ruang sidang dengan perasaan yang masih gelisah akan kejadian kemarin. Aku harus melewati lorong yang cukup gelap dan hanya api lah yang menjadi penerangan di setiap sudut lorong yang remang ini.
Tanpa berkata-kata, 4 orang petugas sipir yang mendampingiku sampai tiba di sel tahanan, langsung medorongku masuk ke dalam sel dan mengunciku dari balik sel tahanan.
"Gak nyantai banget!" gerutuku. Untung saja gerutuku tidak terdengar oleh mereka karena mereka sibuk mengunci sel tahananku dan langsung pergi meninggalkanku. Kini tinggal aku seorang diri yang sedang terdiam sambil terduduk di sisi ranjang putih. Menatap sel tahanan yang terbuat dari besi.
Inilah rasanya berada dalam sel tahanan.
Aku bangkit dan memutuskan untuk duduk di lantai, menghadap sel tahanan sambil memeluk kedua lututku. Memejamkan kedua mataku di balik kedua lenganku. Aku menangis sejadi-jadinya.
Mengingat kejadian kemarin.
Betapa sakitnya hatiku ketika mengingatnya kembali. Seseorang yang selama ini kuanggap baik, ternyata berkhianat.
"Bodoh banget kau, Nica!" gerutuku. "Seharusnya kau dari dulu udah sadar kalau dia jahat!"
Aku mengomel kepada diriku sendiri yang telah terpincut oleh kebaikan palsu Rin. Momen di mana aku diajarkan cara memanjat pohon tinggi yang baik dan benar olehnya. Hal tersebut berhasil memancingku untuk menangis berlebih.
Memang benar!
Rasa menyesal selalu datang belakangan.
Sepertinya kehidupan yang sebenarnya akan dimulai. Kehidupan yang kejam.
Emosiku sudah memuncak. Saatnya untuk meluapkan keamarahanku dengan menangis di balik kedua lenganku sehingga baju kemeja berlengan panjang yang kupakai basah menyerap air mataku yang semakin banyak.
Aku merasakan ada seseorang datang. Aku pun langsung mendongakkan kepalaku.
Louis.
Dirinya bahkan sudah berada di dalam sel ku.
Entah aku tidak mendengar dirinya masuk dan tiba-tiba muncul saja!
Menatapku yang sedang terduduk sambil menangis. Tanpa sadar tangisanku berhenti sambil menatap matanya yang sama-sama menatapku.
"Louis, aku tahu kau membenciku," ucapku sambil merasakan dada yang sesak sekali.
"KAU BOLEH MEMBUNUHKU SEKARANG JUGA!"
Tiba-tiba dirinya langsung memelukku.
Pelukan hangat.
Seperti pelukan yang dilakukannya kepadaku saat kami bersembunyi dari kawanan iblis di Rainville.
Aku kembali menangis di dalam dekapannya. "MAAFKAN AKU KUMOHON!!"
"Aku telah merusak kepercayaanmu!"
Tangannya mengelus rambutku yang acak-acakkan.
"TENANGLAH JANGAN BERPIKIRAN KONYOL!" tegasnya sambil mencengkram kedua bahuku.
"TAPI KAU MEMBENCI IBLIS!"
"Ya, aku memang membenci iblis," sahutnya sambil mendekatkan wajahnya kepadaku yang penuh air mata yang berjatuhan.
"Tapi aku tidak akan pernah membunuhmu," ucapnya. "Sekalipun kau iblis atau bahkan monster lainnya!"
"Karena aku tahu," kata Louis. Tiba-tiba kalimatnya terhenti. Lalu berkata, "KAU TERBUKTI MEMBELA KEBENARAN!"
"Kau telah menepati janjimu untuk membela setiap umat manusia, sebagaimana yang telah kau katakan di depan Mr. William dulu," ucapnya yakin. Wajahnya tampak bersungguh-sungguh.
Aku terdiam menatapnya.
"Kau adalah harapan umat manusia, Nica!"
"Aku percaya padamu sepenuhnya."
"T—tapi .... " Aku belum menyelesaikan kalimatku. Tiba-tiba Louis langsung menciumku.
Jantungku terasa berhenti seketika.
Dalam keadaan seperti ini, dia tiba-tiba mencium bibirku. Sungguh di luar nalar sekali!
Cukup lama dalam posisi seperti ini.
Tangan kirinya menyentuh rahangku, satunya lagi mencengkram bahu kananku.
Aku tidak menyangka Louis melakukan ini.
"Aku mencintaimu, Nica!" ucapnya.
Semalam aku mimpi apa, ya?
"A—aku .... "
Jujur aku juga merasa sangat nyaman dan aman di dekatnya. Semenjak kejadian kami di hadang oleh iblis saat di Rainville,
Bertahan hidup bersama,
Gabung Akademi Pahlawan Courtfeig,
Bahkan satu aliansi juga.
Aku langsung memeluk lehernya sehingga dirinya agak terdorong ke belakang karenaku. "Aku mencintaimu, Louis! Tolong jangan pernah membenciku!"
Tanpa sadar air mataku keluar lagi.
Tiba-tiba dirinya menertawaiku.
Aku lepaskan pelukanku di lehernya.
Bau-bau kumat lagi ....
Aku langsung mencubit kedua pipinya.
"Aku lagi nangis bukannya ditenangin, malah diketawain!" gerutuku dan memasang wajah cemberut.
Louis tampak kebal dengan cubitanku. Dia langsung memegang kedua tanganku yang mencubit pipinya. Wajahnya sambil menatapku.
"Heh," katanya. "Kalau aku benar-benar membencimu, kenapa aku menyatakan cinta padamu?"
Aku terdiam. Pipiku langsung memerah.
"Istirahatlah kau pasti lelah habis dari acara persidangan tadi," katanya. "Soalnya kau mulai ngawur."
"AKU GAK NGAWUR ISSHH," ucapku kesal. Bibirku manyun. Namun, dirinya tidak menanggapinya.
Kedua tangannya langsung mengusap air mata di wajahku.
Hanya saja aku tidak ingin kehilangan dirinya yang merupakan pemicu aku untuk terus hidup. Seketika perasaanku ingin segera meledak, seperti roket yang ingin langsung terbang ke bulan yang terang.
"Oh iya," Setelah dia mengusap air mataku sampai benar-benar kering, Louis langsung mengeluarkan sesuatu dari saku jaket coklatnya.
"Secarik kertas?"
"Komandan Regu Clèment menyuruhku untuk memberimu ini." kata Louis sambil memberikanku sepucuk surat.
"Yah, padahal mau ketemu," kataku.
"Katanya ada rapat antar Komandan Regu Azalea dan Amdis hari ini."
"Oh gitu," ucapku. Aku pun langsung meraih surat tersebut dari genggaman Louis.
"Ayo sini sama-sama baca!" ajakku. Louis pun langsung mendekatkan dirinya di sampingku.
Untuk membaca isi surat dari Komandan Regu Clèment bersama-sama.
__ADS_1
Isinya adalah ....