
Sejak saat itu Rachel semakin dekat dengan Sita, layaknya seorang anak dekat dengan ibunya.
Rachel merasa iba dengan Sita yang masih kecil sudah ditinggal pergi ibunya untuk selama-lamanya.
Sita harus kehilangan ibunya pada saat dirinya dilahirkan. Hingga saat Sita bayi sampai detik ini belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.
"Tante Rachel, boleh nggak kalau aku memanggil tante dengan sebutan mamah?" pinta Sita dengan mimik wajah yang sangat memelas, membuat Rachel tak tega dibuatnya.
Belum juga Rachel menjawab permintaan dari Sita, Willy berkata.
"Sita, kamu tidak boleh seperti itu sama Tante Rachel. Itu namanya tidak sopan," tegur Willy Papahnya Sita.
Sita hanya diam saja, ia merasa sedih dengan menundukkan kepalanya. Bibirnya ditekuk setelah mendengar teguran dari Papahnya.
"Mas Willy, biarlah Sita memanggil aku Mamah. Aku sama sekali tidak keberatan kok, aku bisa memahami jika kita pasti ingin sekali sosok seorang mamah."
"Mas Willy, aku mohon maaf sebelumnya ingin menanyakan sesuatu padamu tolong jangan tersinggung ya?"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Rachel sebenarnya Willy sangat tidak enak hati padanya.
"Terima kasih ya Rachel, dan sekali lagi aku minta maaf atas kelancangan anakku yang ingin memanggilmu dengan sebutan mamah. Jika kamu ingin menanyakan sesuatu tak usah sungkan, jika aku bisa menjawabnya akan aku jawab," ucap Willy.
Sejenak Rachel melihat jika ada Sita, hingga ia pun mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang privasi.
"Hehehe nanti saja ya Mas, kalau saat kita berdua. Aku tadi lupa jika ada anak kecil," ucap Rachel lirih supaya Sita mendengar.
__ADS_1
"Sita, mulai sekarang boleh memanggil tante dengan sebutan mamah ya?" ucap Rachel mensejajarkan tubuhbya setara dengan Sita yang dari tadi terus saja tertunduk.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Rachel, Sita pun langsung sumringah. Ia mendongakkan wajahnya dan menyunggingkan senyuman serta langsung memeluk Rachel.
"Asik terima kasih, Mamah Rachel. Aku senang sekali karena bisa merasakan punya mamah seperti teman-temanku yang lainnya," ucapnya polos.
"Sama-sama, sayang. Mamah Rachel juga senang punya anak yang pintar dan penurut seperti, Sita."
Rachel mengusap lembut surai hitam Sita.
Sita berpamitan kepada Rache, ia akan tidur siang. Saat itu juga ia melangkah masuk ke dalam rumah dituntun oleh baby sitternya. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Rachel untuk menanyakan sesuatu hal yang tadi sempat ia urungkan.
"Mas Willy, aku ingin menanyakan yang tadi ingin aku tanyakan tetapi tidak jadi karena ada Sita," ucap Rachel.
"Baiklah Rachel tanyakan saja."
"Jujur saja ya Rachel, sebenarnya pada saat setahun meninggalnya almarhumah istriku, aku sudah berusaha membuka hatiku untuk wanita lain. Tetapi kerap kali ada wanita yang dekat denganku mereka itu tidak tulus mencintaiku sepenuh hati."
"Selalu saja aku mendapati wanita yang dekat denganku itu bersikap kasar terhadap anakku. Mereka lembut halus pada anakku jika ada diriku di dekatnya saja. Bahkan anakku juga selalu tidak suka jika aku dekat dengan para wanita itu."
"Kalau tidak salah sudah tiga kali aku mencoba dekat dengan para wanita lajang dan pernah juga dekat dengan janda beranak satu, tetapi sama saja. Selalu anakku tersisih. Janda itu tidak tulus sayang dengan anakku."
"Maka dari itu, aku pun memutuskan untuk sendiri seperti ini. Karena percuma saja jika aku dekat dengan wanita. Aku tak ingin wanita itu hanya sayang padaku, tetapi kasar pada anakku. Intinya aku ingin punya pendamping hidup yang bisa tulus dan mengambil hati anakku."
"Anakku juga tripikal tidak mudah akrab dengan seseorang. Hanya denganmu saja, Sita akrab dan bahkan memintamu untuk mengizinkan ia memanggil mamah. Makanya aku tadi sempat kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Sita."
__ADS_1
Setelah mendengar kejujuran yang dikatakan oleh Willy, Rachel pun sudah tidak penasaran lagi. Ia hanya merespon segala perkataan dari Willy dengan berhooh ria saja.
********
Willy adalah seorang pengusaha di bidang properti yang sangat sukses, tetapi kerap kali jika ia berangkat ke kantor anaknya turut serta. Jika pada saat pulang dari sekolah, Sita selalu saja menyambangi kantor Willy bersama dengan baby sitternya.
Sebenarnya di rumah masih ada orang tua, Willy. Tetapi kadang kala Sita lebih suka berada di kantor. Sita kerap kali bosan jika berada di rumah saja.
Hingga suatu hari, di saat hari libur. Dimana Willy sedy bersantai dengan orang tuanya. Ia pun mendapatkan teguran dari orang tuanya.
"Willy apa hingga detik ini kamu belum menemukan seseorang yang benar-benar bisa mencintaimu setulusnya dan menerima dirimu telah mempunyai seorang anak?" tanya Papah Idin.
"Iya Willy, sudah lima tahun berlalu dari meninggalnya istrimu tetapi kamu masih saja bertahan dengan kesendirianmu seperti ini, kasihan juga Sita ya pasti membutuhkan sosok seorang ibu," Mamah Ika ikut berkata.
Sejak Willy dekat dengan Rachel, ia belum pernah bercerita pada orang tuanya. Bahkan Rachel juga belum pernah di bawa ke rumah untuk di kenalkan pada orang tuanya. Hingga orang tuanya tidak tahu jika anaknya saat ini sedang dekat dengan seorang wanita.
"Pah-mah, sebenarnya aku sedang dekat dengan seseorang. Ia adalah seorang janda muda tanpa anak bahkan Sita telah akrab dengannya."
Kemudian Willy menceritakan kepada orang tuanya bagaimana awal mula ia berkenalan dengan Rachel, dan hingga kini mereka akrab dengan Rachel.
"Kenapa kamu tidak jujur dari awal jika telah berkenalan dengan seorang wanita? dan kenapa pula tidak kamu bawa pulang untuk dikenalkan pada kami?" serentetan pertanyaan keluar dari bibir Papah Idin.
"Karena aku belum yakin dengannya, pah. Dan juga aku tidak tahu apakah ia mau di ajak menikah olehku. Karena selama ini kami dekat hanya sebatas teman saja," ucap Willy.
Orang tuanya heran dengan Willy, padahal hanya dengan mendengar cerita dari Willy saja, orang tuanya bisa menyimpulkan jika Sita cocok dengan Rachel. Sita bisa merasakan seseorang tulus atau tidak pada dirinya. Karena hati seorang anak kecil itu peka, tidak bisa di bohongi.
__ADS_1
"Willy, jika anakmu telah akrab dengan Rachel. Dan bahkan memanggilnya dengan sebutan mamah, kenapa tidak kamu tanyakan saja padanya. Kamu yakin Rachel pasti bersedia menjadi mamah sambung bagi, Sita," ucap Papah Idin.
"Iya, Willy. Karena susah kan, untuk mencari seseorang wanita yang benar-benar tulus bisa menyayangi Sita. Berapa kali kamu gagal kan, membina hubungan dengan wanita karena semua tidak tulus padamu? sekaranglah kamu telah menemukan wanita itu yakni, Rachel," ucap Mamah Ika.