
Hari berganti hari dan minggu berganti minggu. Hingga tak terasa berganti bulan. Tak terasa sudah dua bulan pernikahan, tapi Rachel belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Ia pun merasa tak enak hati dengan suaminya.
"Mas Willy, aku minta maaf ya?" ucapnya tertunduk lesu.
Willy merasa heran kenapa istrinya tiba-tiba minta maaf dan terlihat sedih. Ia pun memeluk istrinya seraya mengecup pucuk rambut istrinya.
"Istriku tersayang, kok murung dan tiba-tiba minta maaf? memangnya kamu buat salah apa padaku?" tanya Willy memicingkan alisnya.
"Mas, aku tahu saat ini mas ingin sekali punya anak lagi bukan?"
Perkataan Rachel tercekat, sejenak ia menarik napas panjang. Hingga membuat Willy semakin penasaran.
"Memangnya kenapa jika aku ingin punya anak darimu? bukannya wajar kan, jika seseorang menikah pasti yang nomor utama adalah anak?" ucap Willy.
"Iya mas, aku tahu kok. Aku bukan tak ingin punya anak darimu. Justru aku juga ingin lekas punya anak, tapi permasalahannya hingga kini aku belum hamil juga. Aku minta maaf ya," ucap Rachel merasa bersalah.
Willy pun terkekeh pada saat mendengar apa yang barusan di katakan oleh Rachel. Ia sama sekali tidak pernah menuntut istrinya untuk lekas hamil. Karena ia sudah paham, kehamilan seseorang itu sudah ada yang mengaturnya yakni sang penguasa alam pemberi kehidupan.
Willy memberikan penghiburan pada istrinya, dengan mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak memaksakan pada Rachel untuk lekas hamil. Dan juga menasehati Rachel supaya jangan terlalu stres memikirkan kehamilan yang ada malah nanti nggak hamil-hamil juga.
"Sayang, mulai sekarang aku minta padamu jangan seperti ini lagi ya. Jalani rumah tangga kita ini secara rileks dan jangan menjadi keinginan punya anak jadi beban pikiran. Kalau terus saja memikirkan anak, malah yang ada nanti jadi susah punya anak. Ih amit-amit jangan sampai. Aku ingin kamu menikah dengan diriku tidak ada beban pikiran apa pun," ucap Willy mencoba menasehati Rachel.
Willy juga mendapatkan pada istrinya, jika di luaran sana malah banyak sekali yang sudah menikah bertahun-tahun tepi belum di karuniai anak sama sekali. Tetapi mereka tetap langgeng dan hidupnya tidak ada suatu tekanan sama sekali. Apa lagi pernikahan dirinya dengan Rachel yang baru sebiji sawi. Baru menikah dua bulan.
__ADS_1
Rachel sedikit lega mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Ia kini akan menuruti kemauan suaminya untuk tidak memikirkan tentang kehamilan. Supaya ia lekas bisa hamil.
Berbeda situasi dengan Rama, kini ia baru benar-benar bisa dekat dengan seorang wanita. Wanita ini masih lajang, tetapi masih sangat muda sekali. Wanita ini baru saja lulus SLTA. Hingga orang tua Rama merasa kurang yakin jika Rama akan serius menjalani hubungan dengan seorang gadis belia.
"Rama, kami selaku orang tuamu senang mengetahui jika saat ini kamu sudah benar-benar bisa move on dari Reta. Tetapi apa kamu sudah yakin untuk memilih Mia sebagai pendamping hidupmu?" tanya Mamah Nana.
"Memangnya ada yang salah dengan, Mia? ia kan wanita juga, mah," protes Rama.
"Rama, papah dan mamah tahu jika Mia itu wanita. Maksud kami, Mia kan masih gadis belia dan biasanya seusia Mia itu masih labil. Apa kamu benar-benar sudah yakin?" tanya Papah Sony.
"Mah-pah, setahu diriku umur itu tidak bisa untuk menjamin seseorang itu bersikap dewasa. Banyak juga kan yang umurnya sudah tua tapi sifatnya masih ke kanak-kanakan? sedangkan aku melihat pada Mia itu berbeda. Walaupun ia masih sangat muda yakni baru sembilan belas tahun. Tetapi ia sangat dewasa," ucap Rama meyakinkan pada orang tuanya jika pilihannya tidaklah salah.
Hingga pada akhirnya, orang tua Rama sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Kini mereka membebaskan Rama dan memberikan restu jika memang Rama tetap akan menikah dengan, Mia. Mereka hanya bisa berdoa semoga pernikahan Rama kami ini langgeng selamanya dan hanya maut yang memisahkan.
Kring kring kring kring kring
Satu panggilan telepon masuk ke nomor ponsel Mia. Ia yang kebetulan sedang menyuapi ibunya yang sakit, sejenak menghentikan aktifitasnya.
"Bu, sebentar ya. Mas Rama menelpon."
Ibunya hanya menganggukkan kepalanya pelan seraya menyunggingkankan senyuman. Mia lekas mengangkat panggilan telepon dari Rama, dengan ia sedikit menjauh dari ibunya.
"Hallo, Mas Rama. Ada apa ya?"
__ADS_1
"Mia, aku sudah mengatakan pada orang tuaku tentang niatku untuk menikah dengan dirimu. Dan mereka setuju, lantas apakah kamu sudah siap jika kita menikah secepatnya?"
"Alhamdulillah jika begitu, mas. Aku sudah siap, kapanpun kamu mau. Tapi kita menikah sederhana saja ya, mas. Karena melihat kondisi ibuku yang sedang sakit."
"Astaga, jadi ibumu belum sembuh juga? waktu itu kamu bilang ibumu sudah sembuh."
Sejenak keduanya bercengkrama di dalam panggilan telepon. Dan Rama pun akan membawa ibunya Mia ke rumah sakit untuk segera di obati. Walaupun pada awalnya, Mia menolaknya. Tetapi ia juga ingin ibunya lekas sembuh.
Setelah cukup lama bercengkrama di balik panggilan telepon. Rama langsung berlalu pergi ke rumah Mia. Ia tidak ingin terlambat dalam menolong calon mertuanya.
Rama berkenalan dengan Mia pada saat Mia sedang berjualan keliling. Dengan mengenakan seragam sekolah. Karena setiap pulang sekolah, Mia pasti mampir ke rumah kepala sekolah. Dimana kepala sekolah punya usaha warung nasi juga.
Mia berjualan keliling nasi bungkus. Dan pada saat itu, Rama hampir saja menabrak dirinya. Hingga sejak itu mereka semakin dekat dan dekat.
Dari awal bertemu, Mia sudah merasakan getaran cinta apa lagi ini yang pertama kalinya bagi Mia. Waktu itu Mia masih duduk di bangku kelas dua SLTA.
Apa yang di rasakan oleh Mia, juga sempat di rasakan oleh Rama. Ia pun merasakan getaran cinta. Hingga entah bagaimana, keduanya tiba-tiba berpacaran. Padahal umur mereka memang terpaut sangat jauh.
Kini umur Mia genap sembilan belas tahun, sedangkan Rama kini berumur tiga puluh delapan tahun. Tapi karena rasa cinta, mengalahkan segalanya.
Selama satu tahun mereka berpacaran, hingga sudah hapal dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Rama sangat kagum dengan Mia. Di usia mudanya, ia harus berjuang sendiri demi bisa sekolah. Ia berjualan dan tak gengsi menjadi buruh cuci gosok.
Bahkan ia harus menghidupi adiknya juga yang saat ini sekolah di sebuah sekolah dasar dan sebentar lagi akan lulus. Sedangkan ibunya sakit-sakitan, ayahnya pergi entah kemana sejak ibunya hamil adik Mia.
__ADS_1