
Pada saat mendengar apa yang di katakan oleh, Rocky. Rachel sama sekali tak menghiraukannya, ia malah berlalu pergi menjauh darinya.
"Sayang, tadi itu mantanmu yang....
"Iya, mas." Rachel memotong pembicaraan dari Willy karena tak ingin dirinya berkata panjang lebar tentang Rocky.
"Sayang, jika kamu tak nyaman ada di sini sebaiknya kita cari tempat yang jauh dari mereka," ucap Willy bijaksana.
"Iya, mas. Karena ucapannya itu tidak pantas dan tidak layak di dengar oleh anak seusia Sita. Jika saat ini aku sedang tidak bersama, Sita. Pasti aku akan balas semua yang ia katakan padaku, mas. Tapi aku lebih baik menghindar daripada rame dan tak ada ujungnya kan malu juga di lihat orang," ucap Rachel.
Willy bangga punya istri yang bijaksana, mampu menahan rasa amarah dan kekesalannya pada mantan suaminya. Saat itu juga Willy merangkul Rachel dan menuntun Sita mencari lokasi yang kira-kira jauh dari mantan suami, Rachel.
Dua jam berada di kebun binatang, Sita pun merasa lelah dan mengajak orang tuanya pulang. Tetapi sebelum pulang, Willy mengajak makan anak dan istrinya terlebih dahulu di sebuah cafe langganan keluarga Willy.
Sita sangat bahdgua sejsk Willy menikah dengan Rachel. Sorot matanya berbinar indah, kini keceriaan selalu terpancar di wajah Sita. Hal ini bisa di lihat oleh Willy. Di dalam hatinya ia bersyukur karena telah menemukan wanita yang luar biasa kasih sayangnya terhadap Sita dan dirinya.
"Aku yakin saat ini Almarhumah istriku bahagia dan tenang di alam sana setelah melihat Sita punya mamah sambung yang sangat baik dan perhatian seperti, Rachel."
'Alhmdulillah, terima kasih ya Allah. Atas segala kebaikanMu. Setelah lima tahun aku menduda pas akhirnya di pertemukan dengan wanita yang luar biasa."
"Padahal aku sempat berpikir jika aku tidak akan menikah lagi. Karena setiap aku bertemu dan dekat dengan para wanita, selalu saja mereka tidak tulus cinta padaku."
__ADS_1
"Mereka hanya cinta aku tapi tidak kepada anakku. Semua berubah begitu saja pada saat Sita bertemu tak sengaja dengan, Rachel."
"Bahkan baru beberapa kali bertemu, Rachel. Sita langsung lengket dengannya dan memanggilnya, mamah."
Selagi terus saja melamun senyam senyum sendiri, tangannya di teluk oleh Sita.
"Papah."
"Iya Sita, ada apa?" tanya Willy menutupi rasa gugupnya karena kedapatan melamun.
"Makan, pah. Kenapa dari tadi senyam senyum sendiri sih?" tegur Sita.
"Hheee karena papah lagi happy banget. Happy sejak ada Mamah Rachel," ucap Willy seraya melirik ke arah Rachel.
Willy pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal mendengar apa yang barusan di katakan oleh, Sita. Sementara Rachel hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum ke arah Willy.
Karena dari bayi, Sita sama sekali tak pernah merasakan kasih sayang seorang mamah. Hingga kini setelah punya Mamah Rachel, ia pun begitu manja. Makan pun minta di suapi oleh, Rachel. Tetapi Rachel sama sekali tidak ada rasa kesal atau enggan.
Dengan kelembutan dan penuh kasih sayang, ia menyuapi Sita. Padahal ia sama sekali belum berpengalaman punya anak, karena ia belum pernah hamil. Tetapi ia mampu membawa dirinya hingga bisa dekat dengan Sita.
Sejenak setelah makan bersama di sebuah cafe, mereka pun memutuskan untuk pulang rumah. Sepanjang perjalanan pulang, Sita terus saja bernyanyi besar dengan Rachel. Willy sesekali tersenyum di sela ia mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
Hingga tak terasa mereka telah sampai di rumah. Rasa lelah menyelimuti diri, Sita. Ia pun langsung pamit ke orang tuanya untuk segera tidur siang.
Willy pun merangkul Rachel melangkah ke dalam kamarnya. Dan tak lupa mengunci pintunya. Setelah itu Willy meraih kedua tangan Rachel dan mengatakan sepatah kata.
"Sayang, terima kasih untuk kebahagiaan yang tak terkira yang kamu berikan padaku dan juga terutama pada, Sita. Terima kasih sudah mau menikah dengan duda lapuk ini."
Rachel terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Willy, membuat Willy memicingkan alisnya.
"Sayang, kenapa kamu terkekeh? memangnya apa yang aku katakan barusan lucu ya?" tanyanya heran.
"Heee... nggak kok, mas. Tapi entah kenapa aku ingin terkekeh saja melihat wajahmu yang sangat menggemaskan sekali."
Rachel mencubit kecil kedua pipi Willy, seperti rasa gemas ke anak kecil. Hal ini membuat Willy ingin melahap Rachel saat itu juga.
Willy menuntun Rachel ke tepi ranjang, dan ia mengangkat tubuh Rachel duduk di pangkuannya. Dan saat itu jga ia mencium bibir Rachel dengan sangat rakus seraya satu tangan menopang punggung Rachel dan satu tangannya meraba dan meremas dua benda kenyal yang ada di dadanya.
Ciuman yang sangat panas menambah suasana menjadi panas di siang hari. Hingga tak terasa keduanya sudah polos tanpa sehelai benangpun. Di siang panas seperti itu, sepasang suami istri melakukan aktifitas ranjang.
Willy pintar mencari waktu yang tepat untuk bisa melakukan aktifitas ranjang dengan, Rachel. Karena kerap kami terganggu oleh Sita. Hingga di kala Sita tidur, kesempatan ini tak di sia-siakan oleh Willy.
Keduanya sangat menikmati pergumulan pergulatan mereka di ranjang, bahkan hingga sprei tak terasa menjadi berantakan tak karuan. Permainan mereka kali ini begitu lama. Bukan hanya sekali dua kali mencapai *******, tetapi berkali-kali. Rachel harus melayani besarnya hasrat suaminya. Maklum saja selama lima tahun menduda, hingga pada saat menikah. Ia menerkam Rachel seperti singa yang telah lapar dan haus akan belaian buaian kasih sayang dari seorang wanita.
__ADS_1
Selepas percintaan mereka, segera mereka mandi bersama dan merapikan sprei bersama. Karena mereka tak ingin tiba-tiba pintu kamar di ketuk oleh, Sita seperti yang sering kali terjadi. Setelah merasa badan segar, merek tak lantas tidur. Tetapi sejenak bercengkrama. Dengan sangat manja, Rachel berbaring dengan kepala bersender di dada bidang, Willy seraya memainkan jemarinya di dada Willy.
"Sayang, jika kamu memainkan jarimu ini nanti adikku terbangun lagi bagaimana?" canda Willy terkekeh.