
Sejak orang tuanya menasehati, Willy pun menjadi gelisah. Sebenarnya ia ingin mengatakan sesuatu pada, Rachel. Tetapi ia ragu, sejak Rachel bercerita panjang lebar tentang kehidupannya.
Tetapi ia juga tak mengingkari bahwa dirinya ada rasa terhadap, Rachel. Tetapi ia enggan untuk mengungkapkan rasa hatinya tersebut.
"Ngomong apa nggak ya? ah....kenapa aku menjadi risau seperti ini ya? padahal jarang ada wanita yang bisa meluluhkan hati, Sita," batin Willy.
Selagi dirinya melamun memikirkan Rachel, tiba-tiba Sita menghampirinya.
"Pah, aku ingin sekali bertemu dengan Mamah Rachel. Boleh nggak ketemuan sama Rachel, coba papah telepon Mamah Rachel supaya datang ke rumah. Atau kita ke rumah mamah Rachel saja Yuh, pah," rengek Sita seraya mengguncang lengan Willy.
Kebetulan orang tuanya melihat aksi Sita tersebut, karena mereka sedang melangkah menuju ke teras halaman ingin sekedar bercengkrama dengan Willy.
"Ini kan hari minggu, pasti Rachel ada di rumah kan? ajak saja ia main ke sini biar kenal sama mamah dan papah," ucap Papah Idin dari ambang pintu ruang tamu.
"Iya Willy, apa salahnya sih kamu mengajak Rachel ke sini," ucap Mamah Ika.
Sejenak Willy hanya diam saja, ia tidak menanggapi atau merespon perkataan dari orang tuanya karena ia bingung. Ia tidak percaya diri dengan kondisinya sendiri yang telah memiliki seorang anak.
"Willy, kenapa kamu diam saja tidak mengatakan sepatah kata pun pada kami? sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Rachel," tanya Mamah Ika.
Willy pun bercerita pada orang tuanya, bahwa hingga detik ini dirinya dan Rachel hanya sekedar teman saja. Ia minder dengan statusnya yang duda beranak satu setelah banyak penolakan dari para wanita yang hanya ingin cintanya saja tanpa mau menerima anaknya.
Orang tuanya berusaha menasehati Willy, supaya jangan menyerah dulu sebelum berperang. Hingga pada akhirnya saat itu juga, ia pun memutuskan untuk datang ke rumah Rachel dengan di temani oleh, Sita.
Perjalanan ke rumah Rachel tak butuh waktu lama, hanya butuh beberapa menit saja. Dengan langkah yang ragu, Willy memencet bel pintu gerbang rumah, Rachel. Dan seketika itu juga datang seorang security, terlebih dahulu menanyakan tentang maksud dan tujuan kedatangan Willy.
__ADS_1
Karena Willy baru pertama kalinya, datang ke rumah Rachel hingga security belum tahu benar dengannya. Setelah menunggu security yang melaporkan dulu kedatangannya pada, Rachel. Security tersebut lantas membukakan pintu gerbangnya dan mengizinkan mobil Willy masuk dan parkir di pelataran rumah, Rachel.
Debaran jantung Willy mulai berdetak, ia begitu gelisah karena bukan hanya bertenu dengan Rachel, tetapi juga dengan orang tuanya dan kakaknya.
"Mas Willy-Sita, ayok silahkan masuk."
Sapa Rachel seraya menuntun Sita yang dari jauh sudah memanggil Rachel dengan sebutan mamah.
"Mah, Sita kangen sama mamah. Jadi minta mamah supaya antar Sita kemari," ucapnya polos.
"Ya nggak apa-apa, yok ketemu sama Opa dan Oma serta Om Rama dulu ya,X ajak Rachel menuntun Sita masuk ke ruang tengah dimana ada keluarga Rachel sedang bersantai ria.
Sebenarnya Rachel sudah menceritakan tentang Sita dan Willy pada keluarganya. Hingga mereka pun tidak kaget pada saat melihat kedatangan, Sita. Bahkan sangat welcome pada Sita.
Rachel juga mengatakan pada keluarganya jika saat ini Willy sendirian di ruang tamu. Orang tua Rachel serta Rama melangkah keluar untuk sejenak menyapa Willy.
"Iya, om. Saya kadang ingin kemari tapi khawatir ganggu waktu Om dan Tante," ucap Willy masih terasa tak enak hati.
"Nak Willy, seharusnya nggak usah sungkan. Jika ingin bermain kemari tinggal datang saja, kebetulan setiap hari libur kami semua ada di rumah," ucap Mamah Nana.
Sejenak orang tua Rachel dan juga Rama bercengkrama dengan Willy. Mereka membicarakan banyak hal, terutama tentang kisah masa lalu Willy di mana dirinya menduda begitu lama.
"Jadi Mamahnya Sita meninggal pada saat melahirkan Sita? padahal sudah lima tahun berlalu, tetapi kenapa Nak Willy tidak membuka hati untuk segera berumah tangga kembali?" tanya Mamah Nana
"Hust, Mamah jangan ngomong seperti itu. Maafkan istri saya ya, Nak Willy," ucap Papah Sony merasa tak enak hati.
__ADS_1
Willy pun mengatakan yang sejujurnya kepada orang tua Rachel, kenapa ia tidak juga menikah lagi hingga detik ini tanpa ada yang ia tutupi sama sekali.
Bahkan orang tua Rachel merasa kagum dan salut dengan sikap keramahtamahan yang dimiliki oleh Willy.
Setelah cukup lama berada di rumah Rachel, pada akhirnya Willy mengajak Sita untuk pulang ke rumah. Walaupun sebenarnya Sita masih kerasan bermain di rumah Rachel, tetapi Willy merasa tidak enak jika berlama-lama.
Seperginya Willy dan Sita, barulah Rama dan orang tuanya berkomentar panjang lebar pada Rachel.
"Kalau menurut Papah, Willy itu orangnya sopan dan baik hati serta setia. Itu terlihat dari dia hingga lima tahun bertahan dengan kesendiriannya, mungkin jika lelaki lain sudah berpacaran sana sini," ucap Papah Sony.
Bahkan komentar positif juga di lontarkan oleh Mamah Nana dan juga Rama. Semuanya setuju jika memang Rachel akan menjalin hubungan serius dengan, Willy. Mereka sama sekali tidak mempermasalahkan status Willy yang sudah beranak satu. Bagi keluarga Rachel yang terpenting pria itu setia dan tanggung jawab.
"Rachel, sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadap Willy?" tanya Mamah Nana yang membuat Rachel gelagapan.
Rachel bingung harus berkata apa pada mamahnya. Ia juga bingung dengan dirinya sendiri. Ia tak ingin salah penafsiran dalam mengartikan persabatannya dengan Willy.
Melihat sikap diamnya, Rachel. Membuat Rama iseng menggodanya.
"Kalau di lihat dari raut wajahnya, Rachel itu telah jatuh cinta bukan hanya pada anaknya tapi terutama pada Papahnya. Intinya mereka sama-sama memendam rasa tapi juga sama-sama malu untuk berterus terang," goda Rama terkekeh.
Wajah Rachel berubah merona merah bak kepiting rebus. Sontak saja tingkah Rachel yang gelagapan itu membuat orang tuanya terkekeh.
"Rachel, kami tidak akan melarangmu untuk menjalin hubungan serius dengan, Willy atau dengan pria mana pun. Yang terpenting pria itu setia dan tanggung jawab," ucap Papah Sony.
Tetapi Rama protes dengan hal itu.
__ADS_1
"Aduh...yang ada nanti Rachel menikah duluan. Seharusnya kamu tunggu aku mendapatkan jodoh, baru kamu yang menikah," protes Rama manyun.
"Makanya, buka hatimu bukalah sedikit saja untuk wanita. Supaya kamu tidak lama menduda seperti ini. Kamu sebagai orang tua kan ingin lekas menimang cucu dari kalian berdua," ucap Mamah Nana di sertai gelak tawa Papah Sony.