
Sebenarnya tak melakukan hal itu pun, Rama sudah tidak marah. Ia hanya ingin usil terhadap istrinya yang sangat polos tersebut. Mia memang gadis muda yang benar-benar polos dan paling takut jika Rama berlama-lama marahnya.
Setelah melakukan percintaan tersebut, mereka tidak langsung tidur. Rama sejenak mengajak bercengkrama istrinya. Dengan posisi Mia bersandar di dada bidangnya.
"Sayang, ternyata kamu mahir juga ya? aku sangat teramat puas sekali."
Rama mencium kening istrinya.
"Mas Rama bisa saja, aku kan baru tahap berlatih. Sebenarnya aku sendiri kagok melakukan hal itu karena menurutku aneh gitu, mas. Tapi mas Rama benar-benar sudah nggak marah kan?"
Rama terkekeh mendengar perkataan dari istrinya," hheee aku sama sekali tidak marah denganmu. Sengaja aku berpura-pura, supaya kamu mau bersikap seperti tadi. Ist, aku suka aku suka."
"Aahhh... jahat dech Mas Rama!"
Mia terus saja memukul-mukul dada bidang suaminya seraya perlahan, wajahnya bersemu merah karena rasa malunya.
Tak terasa mereka pun kini terlelap dalam tidur nyenyaknya hingga menjelang pagi hari.
Mia yang terlebih dahulu bangun dari tidurnya. Ia pun seperti biasa melakukan aktifitas paginya dengan membantu memasak di dapur.
Beberapa menit kemudian, barulah Rama terbangun dari tidurnya. Seperti biasanya, ia pasti bersandar terlebih dahulu pada ranjang seraya melihat acara televisi di kamarnya.
*****
Pada hari libur kantor, di saat Rama akan mengajak Mia untuk jalan-jalan ke taman mereka dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang tak asing lagi yakni Reta.
Rama yang akan melangkah ke garasi terhenyak kaget pada saat melihat sosok Reta yang sedang melangkah dari pintu gerbang menuju ke pelataran rumah.
"Astaga... dari mana ia tahu rumah ini, apakah waktu itu papah yang memberitahunya? pagi-pagi datang kemari membuat mood aku jadi berubah seperti ini!" batin Rama hanya melirik kedatangan Reta.
__ADS_1
Sementara saat ini Mia juga telah melangkah keluar dari rumah. Ia pun melihat keberadaan Reta yang sedang melangkah dan tersenyum ke arahnya. Mia pun membalas senyuman dari Reta. Ia bingung harus bagaimana menghadapi kedatangan Reta, sementara Reta sama sekali tidak melihat adanya Rama di dalam garasi mobil.
Pada saat Mia akan menyala Reta, tiba-tiba datang kedua mertuanya. Mereka pun saling bertatapan satu sama lain, melihat kedatangan Reta.
"Pah, bagaimana bisa Reta tahu rumah kita yang baru? jangan bilang papah yang memberitahunya!" bisik Mamah Nana.
"Memang papah yang telah memberi tahunya. Papah jadi menyesal, mah. Tapi pada saat itu, papah benar-benar nggak tega melihat tangis Reta."
Papah Sony balas berbisik.
"Pah-mah, maaf ya aku datang sepagi ini kemari. Mas Ramanya ada nggak ya?"
Belum juga salah satu dari orang tua Rama berkata. Tiba-tiba suara klakson mobil berbunyi, dan Rama melambaikan tangannya pada Mia. Ia hanya menatap tajam ke arah Reta.
Mia pun lekas menyalami kedua mertuanya dan ia lekas berlari ke arah dimana Rama memarkirkan mobilnya. Mia hanya tersenyum kecil pada Reta.
Tetapi Rama sama sekali tak menghiraukan panggilan dari Reta. Justru ia malah lekas melajukan mobilnya supaya Reta tidak mendekatinya.
Reta lekas berlari ke arah mobil Rama yang sedang melaju lambat keluar dari pintu gerbang. Tetapi Reta tak juga berhasil menjangkau mobil Rama, ia justru terjatuh karena terburu-buru. Dan membuat lututnya terluka.
Pada saat Papah Sony akan melangkah untuk menolong Reta, tiba-tiba Mamah Nana mencekal lengannya seraya memberikan kode dengan menggelengkan kepalanya. Hingga akhirnya Papah Sony mengurungkan niatnya untuk menolong Reta yang terjatuh.
Dengan mata yang berkaca-kaca, Reta pun bangkit sendiri dari jatuhnya dan ia segera melangkah menemui kedua mantan mertuanya untuk berpamitan kepada mereka.
"Mah-pah, aku pamit pulang ya." Reta menyalami kedua mantan mertuanya.
Sebenarnya kedua mantan mertuanya agak sungkan, tetapi mereka terpaksa menerima uluran tangan dari Reta. Setelah itu Reta pergi dengan langkah tertatih karena satu lututnya terluka.
"Ya Allah, apakah selamanya aku akan seperti ini? tidak mendapatkan pintu maaf sama sekali dari Mas Rama? aku tidak bisa bersikap masa bodoh dengan apa yang pernah aku lakukan dulu pada, Mas Rama. Selamanya aku akan merasa berdosa. Ya Allah, tolong bantu aku meluluhkan hati Mas Rama. Karena hanya Engkau saja yang mampu membolak-balik hati manusia," batin Reta.
__ADS_1
Tak kuasa air matanya tertumpah begitu derasnya. Selagi dirinya melangkah, sudah sampai di depan pintu gerbang. Ia berpapasan dengan mobil yang di tumpangi oleh Rachel dan suaminya.
Reta lekas meminggirkan tubuhnya. Dan Rachel merasa heran pada saat melihat Reta.
"Dari mana ia tahu rumah ini? padahal waktu itu aku sama sekali tidak memberi tahu tentang rumah baru ini?" batin Rachel di penuhi tanda tanya.
Reta berusaha tersenyum pada Rachel, tetapi senyumannya tidak di respon oleh Rachel. Justru ia memalingkan wajahnya ke arah orang tuanya yang sedang berdiri di depan pintu rumah.
"Ya Allah, Rachel. Dia juga masih marah padaku. Apa aku mati saja ya kalau begini? dari pada aku terus saja di hantui oleh rasa bersalah yang mendalam seperti ini?"
Reta sudah putus asa, ia seolah tak punya lagi harapan untuk bisa mendapatkan pintu maaf dari Rachel dan Rama. Ia begitu frustrasi dan berpikiran yang aneh-aneh.
Tetapi ia sejenak sadar jika dirinya bunuh diri bukannya akan memperbaiki diri. Justru dosanya akan semakin bertambah banyak. Ia melangkah pergi seraya air mata sudah tidak bisa di tahan lagi.
Sementara Rachel menghampiri kedua orang tuanya. Dan ia bertanya tentang kedatangan, Reta.
"Mah-pah, kok bisa wanita tadi kemari? siapa memang yang sudah memberitahu tentang rumah ini? padahal saat wanita itu bertemu denganku dan menanyakan rumah ini, aku sama sekali tidak memberi tahunya."
Mamah Nana menunjuk ke arah Papah Sony yang tertunduk lesu. Karena ia pasti akan mendapatkan amarah dari, Rachel. Dan dugaannya memang benar.
Rachel terus nyerocos marah-marah pada, Papah Sony.
"Pah, kenapa sih malah memberi tahunya? bukannya kalian pindah rumah supaya bisa menghilangkan kenangan buruk di rumah itu atas perselingkuhan mereka! jika seperti ini pasti, Mas Rama marah dan tak bisa lupa akan masa lalu pahitnya."
Pada saat Rachel akan terus marah-marah, Willy mencoba meredam amarah istrinya.
"Sayang, kamu ini sedang hamil. Dan tak boleh marah-marah seperti ini. Nggak baik loh, sayang. Minta maaf sama papah."
Rachel pun sadar karena ia terlalu terbawa emosi dan ia lekas minta maaf pada, Papah Sony.
__ADS_1