Iparku Perusak Rumah Tanggaku

Iparku Perusak Rumah Tanggaku
Pernikahan Rama


__ADS_3

Mia tenang karena ibunya saat ini sudah di bawa ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan medis. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi membalas budi baik Rama yang sering sekali membantu dirinya.


"Mas Rama, terima kasih ya. Kamu selalu saja membantu kesusahanku, aku minta maaf telah membebani dirimu," ucap Mia malu-malu.


'Mia, kamu tak usah berterima kasih karena ibumu sudah aku anggap seperti ibuku sendiri. Apa lagi sebentar lagi kita kan akan menikah," ucap Rama menyunggingkan senyuman termanisnya.


Mia pun membalas senyuman Rama. Beberapa saat kemudian, datanglah orang tua Rama untuk menjenguk ibu Mia. Dan menurut dokter ibu Mia harus segera di operasi.


"Mia, jadi selama ini ibumu punya penyakit serius? lantas kenapa kamu tidak mengatakan padaku? jika aku tahu dari awal pasti aku akan meminta ibumu untuk segera melakukan operasi," ucap Rama.


Mia mengatakan bahwa ibunya tidak pernah mau di operasi, karena ia takut dan juga tidak ada biaya. Mia juga bukan tripikal gadis yang suka memanfaatkan situasi dengan mengiba pada, Rama.


"Mia, sebaiknya di lakukan tindakan operasi sekarang juga untuk pengangkatan penyakit tumor ibumu," saran Papah Sony.


Selagi Mia diam, tiba-tiba ibunya membuka matanya. Dan ia sempat mendengar saran dari Papah Sony. Ia pun menolak halus saran tersebut.


"Pak, saya nggak mau di operasi karena itu percuma saja. Hanya membuang biaya saja. Nak Rama, apa kamu serius akan menikah dengan, Mia?" tanyanya lirih.


"Iya, Bu. Saya akan menikahi Mia. Setelah ibu sembuh ya," ucap Rama lembut.


Ibu Mia meminta Rama menikahi Mia saat itu juga di rumah sakit. Karena ia sudah merasa bahwa ajalnya sudah dekat. Orang tua Rama pun mengizinkan, bahkan mereka segera membanti untuk proses pernikahan di rumah sakit.


Mamah Nana mengurus Mia untuk meminta para kenalan baiknya me make up Mia sedemikian rupa. Walaupun pernikahan di rumah sakit, tetapi orang tua Rama ingin memberikan kesan tersendiri. Tidak asal menikah saja.

__ADS_1


Sementara Papah Sony, segera menghubungi pihak KUA. Untuk datang ke rumah sakit, bahkan ia meminta salah satu anak buahnya untuk menjemput. Dan juga mengurus surat-surat yang di perlukan.


Berbeda dengan Rama, ia meminta izin kepada pihak rumah sakit untuk ikut mengadakan acara ijab kabul di rumah sakit di salah satu ruang rawat pasien. Karena atas permintaan dari salah satu pasien. Dan bahkan Rama meminta tolong pada beberapa perawat dan dokter yang merawat ibunya Mia untuk menjadi saksi pernikahan Rama dan Mia.


Satu jam kemudian, semua sudah siap sedia di ruang rawat Ibunya Mia. Susah datang pak penghulu dan juga beberapa saksi dari dokter dan perawat. Acara ijab kabul segera di mulai.


Dan hanya beberapa menit saja telah selesai. Semua mengucapkan syukur alhamdulilah. Karena acara lancar tidak ada halangan sama sekali.


"Nak Rama, bapak dan ibu. Saya selaku ibunya Mia mengucapkan terima kasih ya. Saya titip Mia dan Rido, adiknya. Mohon maaf bila saya merepotkan, tetapi waktu saya sudah tidak lama lagi."


"Mia, kamu jaga adikmu baik-baik. Satu pesan ibu sebelum pergi, kamu jadi istri yang penurut bukan penuntut. Jadilah istri yang Solehah ya. Layani suamimu dengan baik. Dan juga hormat pula pada kedua mertuamu. Jika suatu hari nanti kamu bertemu dengan ayahmu, kamu tidak boleh benci padanya. Bagaimana pun, ia adalah ayahmu. Tak perlu kamu cari, pasti ia akan datang sendiri jika memang ia masih hidup."


Setelah mengucapkan pesan sepatah dua patah kata, ibu Mia menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.


*********


Beberapa jam setelah meninggalnya ibu Mia, dan setelah di kebumikan juga. Rama mengajak Mia dan Rido tinggal di rumah mewahnya.


"Mas, apa nggak apa-apa jika aku bawa adikku?" tanya Mia ragu.


Orang tua Rama menyunggingkan senyuman. Mereka sama sekali tidak keberatan jika Mia mengajak Rido tinggal di rumah mereka.


"Mia, kamu tak usah ragu dengan kami ya. Sekarang kami ini pengganti orang tuamu. Dan Rama sudah menjadi suamimu. Jika adikmu tidak ikut tinggal denganmu, lantas ia akan tinggal dengan siapa? lagi pula tidak mungkinnya jika kamu tetap tinggal di rumah Almarhumah ibumu hanya dengan adikmu saja," ucap Papah Sony.

__ADS_1


"Iya, Mia. Kami ini cuma tinggal bersama Rama. Karena anak bungsu kami, ikut bersama suaminya. Jika kamu dan adikmu tinggal bersama kami. Itu justru membuat kami senang. Karena suasana rumah menjadi tambah hangat dan ramai," ucap Mamah Nana berusaha meyakinkan Mia.


"Mia-Rido, kalian nggak usah sungkan nanti ya. Kalau sudah tinggal di rumahku," ucap Rama.


Hingga pada akhirnya, Mia bersedia ikut bersama Rama dengan mengajak serta Rido. Ia kini sudah tidak ragu lagi. Tetapi ia di dalam hatinya sudah berjanji akan bekerja walaupun sudah punya suami. Ia akan bekerja untuk biaya sekolah adiknya yang baru saja lulus SD. Ia ingin menyekolahkan adiknya setinggi mungkin.


Dia tidak ingin adiknya berpendidikan rendah seperti dirinya. Apalagi adiknya seorang lelaki, yang kelak akan menjadi tulang punggung keluarga, jika sudah berumah tangga.


Hingga pagi menjelang, setelah Mia menyiapkan semua kebutuhan untuk suaminya. Ia tiba-tiba akan berpamitan untuk ke rumah kepala sekolah dimana saat ia masih SLTA.


"Mas, aku izin ya. Aku mau ke rumah pak kepala sekolah. Aku akan berdagang dan juga akan mencuci baju serta seterika punya tetangga di sana ya," ucap Mia dengan polosnya.


Mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Mia, membuat Rama terkekeh.


"Mia sayang, hari ini aku akan ajak kamu honeymoon. Dan kamu sebenernya tak usah menyiapkan semua ini, karena aku libur ngantor. Maaf ya, aku tidak mengatakannya padamu."


"Dan satu hal lagi, aku tidak mengizinkan kamu untuk bekerja lagi. Kamu cukup bekerja padaku, dengan menjadi istri Solehah itu saja sudah cukup."


"Semua kebutuhan dirimu dan Rido biar aku yang tanggung. Aku minta kamu menurut loh ya?"


Mia sangat terharu mendengar apa yang barusan di katakan oleh Rama. Ia sama sekali tidak menyangka jika Rama mau menanggung semua biaya sekolah Rido.


Setelah menikah, Rama juga tidak menempati rumah yang penuh kenangan buruk. Begitu lupa dengan orang tuanya. Karena mereka tidak cuma memiliki satu rumah tapi ada beberapa rumah. Hingga mereka tidak bingung pada saat Rama ingin pindah rumah.

__ADS_1


Rumah yang penuh dengan kenangan buruk, di jual oleh orang tuanya. Mereka juga tidak ingin melihat kenangan buruk jika rumah itu masih di miliki oleh mereka.


__ADS_2