Iparku Perusak Rumah Tanggaku

Iparku Perusak Rumah Tanggaku
Suami Siaga


__ADS_3

Willy trauma dengan meninggalnya almarhumah istrinya pada saat proses melahirkan Sita. Ia sudah begitu cinta pada Rachel. Dan tak ingin terjadi hal buruk pada istrinya.


Willy terus saja gelisah dan pada akhirnya, ia pun menceritakan kegelisahan dirinya pada orang tuanya.


"Mah-pah, aku minta doanya ya? saat ini Rachel sedang hamil dan usia kehamilannya baru berumur satu bulan. Tolong doakan selalu supaya Rachel dan sang bayi di berikan kesehatan dan keselamatan. Jujur saja aku trauma dengan meninggalnya almarhumah Mamahnya Sita," ucap Willy.


Orang tuanya sangat senang mendengar kabar baik tersebut. Mereka bahkan memberikan segudang nasehat pada Willy, supaya tidak berprasangka buruk. Tetapi justru harus selalu positif tinking. Supaya apa yang terjadi di dalam kehidupan juga positif.


"Willy, kamu jangan terus berpikiran buruk dengan apa yang pernah terjadi di masa lalu. Dan beranggapan akan terjadi di masa kini. Kamu harus yakin jika kelak Rachel dan bayimu akan selalu sehat."


"Menataplah ke depan, jangan kamu menoleh kebelakang. Supaya langkahmu tidak terhenti begitu saja."


"Kami sangat yakin, jika kehidupanmu kali ini jauh dari masa lalumu itu. Dan kami yakin istri dan anakmu akan panjang umur. Intinya perbanyak doa juga ya? supaya hatimu tenang dalam melangkah menuju ke masa depan yang bahagia bersama anak dan istrimu."


Willy sudah tak gelisah lagi setelah mendapatkan pencerahan dari kedua orang tuanya. Kini ia sudah tidak khawatir dengan kehamilan Rachel. Bahkan ia akan selalu menjadi seorang suami yang siaga.


Hari-hari ia jalani dengan penuh sukacita, dan begitu perhatian pada istrinya. Apa pun yang istrinya inginkan di saat ngidam, selalu Willy turuti tanpa ada keluh kesah sedikitpun.


Walaupun kala ia lelah dengan urusan kantor, dan tengah malam ia harus terbangun karena istrinya minta sesuatu. Ia memberikannya dengan suka cita.


Hingga pada suatu malam, Rachel akan menepuk pipi Willy untuk membangunkannya. Tetapi ia pun mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Kasihan, Mas Willy. Ia seringkali aku repotkan dengan segala permintaanku yang aneh-aneh di saat masa ngidamku ini. Aku akan mencoba itu tidak manja. Aku akan menuruti rasa ngidamku ini sendiri."


Hingga malam itu juga, di saat ia ingin makan nasi goreng. Ia pun berinisiatif bangun tanpa membangunkan suaminya. Ia perlahan melangkah menuju ke dapur. Dan secara perlahan meracik bumbu untuk membuat nasi goreng. Tetapi baru saja ia mau mengupas bumbu, tiba-tiba ia mual dan pada akhirnya muntah-muntah di dapur.


Dia merasa sakit kepala juga mencium aroma bumbu tersebut. Sejenak setelah ia muntah di toilet dapur. Ia pun sejenak duduk merenung.


'Bagaimana aku bisa makan nasi goreng dan membuatnya sendiri? bau bumbu saja seperti ini," gumamnya.


"Sayang, kenapa kamu tak membangunkan aku? jika kamu ingin sesuatu bukannya suka membangunkan aku?" tegur Willy tiba-tiba mengecup pucuk rambut Rachel yang sedang duduk kebingungan.


"Mas, kok kamu bangun sih?" tanya Rachel.


"Entah kenapa tiba-tiba aku bangun, seperti ada yang membangunkan aku. Dan pada saat aku membuka mata, kamu tidak ada di sampingku. Aku cari kemana-mana eh tahunya ada di sini. Katakan saja, apa yang sedang anak papah ini inginkan? pasti paish dengan senang hati membuatnya."


Rachel pun pada akhirnya mengatakan pada suaminya jika dirinya sebenarnya sedang ingin makan nasi goreng. Tetapi pada saat ia akan mengupas bumbu, tiba-tiba kepalanya pusing dan mual muntah karena bau menyekat dari bumbunya tersebut.


Willy tersenyum mendengar apa yang barusan di katakan oleh, Rachel. Ia pun langsung bergerak dengan meminta sang istri menunggu di kamar saja. Sedangkan ia yang akan membuatkan nasi goreng untuk istrinya.


Awalnya Rachel tak bersedia, ia akan tetap menunggu Willy di dapur saja. Tetapi Willy meminta Rachel untuk ke kamar saja.


Tak berapa lama, nasi goreng sudah siap. Willy segera membawanya ke kamar. Rachel benar-benar bersyukur karena memiliki suami yang sangat baik dan benar-benar suami yang siaga.

__ADS_1


"Sayang, ini nasi gorengnya. Semoga rasanya sesuai dengan seleramu."


Willy memberikan nasi goreng tersebut pada Rachel dengan penuh senyuman. Rachel lekas menerimanya dan menyantapnya. Ia pun merasa senang dan nikmat.


"Enak banget, mas. Terima kasih sudah bersedia repot di dapur."


"Sayang, pokoknya lain kali nggak usah sungkan ya? aku ini suamimu bukan orang lain. Lagi pula, yang meminta kan anakku. Masa iya aku akan keberatan jika anak kandungku meminta sesuatu dariku? tenang saja, suamimu ini bukanlah suami yang gampang mengeluh. Tetapi suami yang siap siaga,' ucapnya seraya terkekeh.


"Baiklah, mas. Aku akan dengarkan apa yang mas katakan barusan. Aku sudah tidak akan sungkan lagi, tapi bener ya jangan marah jika aku sering mengganggu waktu tidurmu di tengah malam seperti ini?" ucap Rachel agak ragu.


"Hheee... nggak lah sayang. Aku saja pada saat kamu belum hamil sering mengganggu waktu tidurmu bukan? tapi apa kamu marah padaku, tidak kan?" Willy mulai bersikap genit mengedipkan satu matanya.


"Hem... pasti ada maunya nech? waduh, jangan-jangan kebaikan suamiku ini ada imbalannya," goda Rachel terkekeh.


Hingga tak terasa ia telah menghabiskan nasi goreng yang ada di depan matanya. Di dalam hatinya masih ingin menambah porsinya, tetapi ia tak enak jika meminta nya lagi pada suaminya. Akan tetapi, Willy seolah tahu dengan apa yang sedang di pikirkan oleh, Rachel.


"Sayang, kurang yah? sini aku ambilkan lagi?" Willy meraih piring yang ada di hadapan Rachel.


"Hem..kok mas tahu sih? seperti cenayang saja tahu apa yang aku inginkan," ucap Rachel mengerutkan alisnya.


Willy terkekeh, ia merespon perkataan Rachel dengan mengusap pucuk rambutnya saja. Lantas ia pun berlalu pergi dari hadapan, Rachel dengan membawa piring yang telah kosong.

__ADS_1


Hanya beberapa menit saja, Willy sudah datang kembali dengan piring yang berisi nasi goreng dan memberikannya pada, Rachel.


"Aku sengaja membuat nasi goreng dengan tiga porsi. Supaya jika kamu ingin tambah lagi, aku tidak harus membuat lagi. Kasihan kan anak kita, jika sedang enek makan tapi tahu-tahu habis. Dan harus membuat lagi, hingga anak kita harus menunggu lama."


__ADS_2