
Di saat makan siang, di jam istirahat kantor. Tiba-tiba Willy datang ke kantor Rachel. Ia ingin mengajak makan siang dan mengatakan hal penting pada, Rachel.
Mereka makan di sebuah cafe yang sedang menjadi trend di kalangan anak muda. Setelah sejenak menyantap makan siang mereka tanpa ada sepatah katapun. Barulah Willy mengatakan banyak hal yang sempat ia tunda tadi.
"Rachel, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Semoga apa yang akan aku kata ini tidak lantas membuatmu pergi menjauh dariku seperti para wanita yang pernah dekat denganku," ucap Willy nevers.
'Katakan saja, Mas Willy. Tak usah sungkan dan tak usah ragu."
Willy pun mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam dan tak berani ia ungkapkan karena ia tak percaya diri.
"Rachel, apakah kamu bersedia menikah denganku? selama ini aku cinta dan sayang padamu. Tapi jujur saja, aku minder dan takut kamu menolakku karena aku punya anak. Tetapi sekarang aku sudah tak peduli dengan hal itu. Jika kamu menolakku, aku sudah siap," ucap Willy tertunduk malu.
"Mas Willy, apakah kamu serius dengan yang kamu katakan? bukan karena selama ini Sita dekat denganku dan kamu ingin menjadikan aku mamah sambung nya saja? karena jujur saja, aku tak mau jalani hubungan hanya karena sebuah keterpaksaan belaka. Karena itu ujung-ujungnya tidak baik," ucap Rachel menyelidik.
Willy pun mengatakan pada Rachel, bahwa dirinya benar-benar serius dengan apa yang dikatakannya barusan. Ia benar-benar cinta dan sayang padanya. Pernikahan yang ingin ia lakukan bukan karena dorongan rasa dari Sita yang telah cocok dengan kehadiran Rachel dan mengaggap dirinya mamah.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Willy, kini tak membuat Rachel ragu lagi padanya. Ia pun pada dasarnya sudah cocok dengan Willy. Apa lagi Willy orangnya tidak banyak tingkah dan begitu sayang pada Sita. Hingga Rachel yakin jika Willy bisa menjadi suami yang setia dan sepenuhnya tanggung jawab padanya.
Rachel menerima ajakan Willy untuk menikah dengannya. Willy sangat antusias dan senang sekali karena gayung bersambut.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Rachel. Kamu mau menerimaku menjadi calon suamimu."
Rachel hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis. Pancaran sinar kebahagiaan kini jelas terlihat di wajah Willy dan Rachel. Keduanya kini sedang merasakan indahnya jatuh cinta.
__ADS_1
Rachel sudah benar-benar bisa move on dari, Rocky. Dan ia sudah menghilangkan rasa traumanya karena kegagalan rumah tangganya bersama Rocky. Begitu pula dengan Willy. Ia kini sudah tidak minder lagi, apa lagi Rachel benar-benar tulus cinta dirinya apa adanya.
"Mas Willy, tapi ada satu permintaan dariku padamu. Dan aku harap kamu bisa menerimanya," ucap Rachel.
"Katakan saja apa permintaan darimu, aku akan berusaha mengabulkannya," ucap Willy sudah tidak minder lagi.
"Mas, jika kita menikah. Aku tak ingin ada pesta mewah, karena kita ini kan sudah tidak muda lagi. Apa lagi kura ini janda dan duda. Aku ingin pernikahan yang sederhana saja," ucap Rachel.
Willy pun menyetujui kemauan dari Rachel. Dan saat itu juga, Willy membawa Rachel menghadap ke orang tuanya untuk mengutarakan niatnya menikahi Rachel.
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di rumah Willy. Dan langsung saja Willy mengutarakan pada orang tuanya tentang keinginannya menikahi, Rachel. Orang tuanya sangat setuju.
Bahkan mereka yang akan mengatur semuanya, Willy dan Rachel di minta hanya untuk duduk diam saja. Walaupun pernikahan yang akan di selenggarakan hanya sebatas akad nikah saja.
"Rachel, kami selaku orang tua dari Willy mengucapkan terima kasih karena kamu mau menerima Willy apa adanya. Dan kamu tak permasalahkan jika saat ini Willy punya seorang anak," ucap Papah Idin.
"Om-tante, tak perlu berterima kasih. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih pada Om dan Tante yang sudah mau menerima data sebagai calon menantu, padahal saya juga bukan lajang. Pada awalnya saya juga minder," ucap Rachel tertunduk malu.
"Astaga...jadi sebenarnya kalian ini mempunya kesamaan ya? sama-sama kurang percaya dengan diri sendiri alias minder," goda Papah Idin terkekeh.
Kini orang tua Willy sudah lega, setelah mengetahui jika anak semata wayangnya akan menikah. Mereka sudah tidak gelisah lagi. Rasa bahagia kini sedabg melanda di dua keluarga.
*******
__ADS_1
Satu bulan kemudian, acara ijab kabul di langsungkan di rumah, Rachel. Dengan hanya mengenakan kebaya warna putih dan di rias sesuai adat Jawa, membuat kecantikan Rachel semakin terpancar. Willy sempat terpana dan tak berkedip di buatnya.
"Wah, Mamah Rachel sangat cantik sekali seperti princess," ucap polos Sita.
Dia sangat bahagia karena kini sudah punya mamah sambung. Apa lagi, Rachel sudah memutuskan jika setelah menikah ia akan fokus menjadi ibu rumah tangga saja. Supaya suami dan anaknya tidak terbengkalai begitu saja.
Acara ijab kabul berjalan sangat lancar, tidak ada kendala atau halangan apapun. Kedua keluarga kini merasa benar-benar bahagia melihat kedua anak mereka sudah sah menjadi suami istri.
Hanya Rama saja yang msth protes karena ia di langkahi oleh Rachel.
"Ayah kamu curang, Rachel. Masa iya menikah duluan? seharusnya aku yang menikah dulu, karena aku anak sulung," protesnya manyun.
"Salah siapa tidak lekas mencari seorang wanita. Jika aku menikah menunggu Mas Rama menikah duluan ya lama. Yakni tahun gajah."
Mendengar ocehan dari pengantin wanitanya, semua yang hadir di acara ijab kabul tak bisa lagi menahan tawanya. Begitu juga dengan Rama, ia hanya bercanda saja di dalam berkata. Sekarang ini ia juga turut bahagia melihat adiknya bahagia.
Rama menghampiri, Rachel dan memberikan sesuatu.
"Rachel, ini ada dua tiket untuk ke Swiss. Aku sengaja memberikan ini sebagai hadiah pernikahan kalian. Honeymoon lah ke Swiss, karena aku tahu selama ini kamu ingin sekali pergi ke Swiss."
"Aku hanya memberikanmu dua tiket karena kata kedua mertuamu, Sita tidak akan ikut di acara honeymoon kalian berdua. Kata mereka supaya kalian berdua tidak terganggu, hingga kalian segera punya anak."
Hati Rachel merasa terharu, sampai sebegitunya Rama sebagai seorang kakak mengetahui keinginan pribadi dirinya. Padahal selama ini ia hanya memikirkan di dalam hatinya.
__ADS_1
"Bagaimana Mas Rama tahu jika aku sedanh ingin ke negara Swiss?" tanya Rachel penasaran.
"Hemmm...kamu tak perlu tahu. Intinya nanti kamu menikmati saja honeymoon nya. Dan lekas beri aku keponakan tapi jangan cuma satu yang banyak ya," ucap Rama terkekeh.