
"Apa kata dokter? Apa aku sudah boleh pulang?" tanya Davina.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tapi kau masih harus melakukan pemeriksaan untuk kembali memastikan bahwa benturan dikepalamu tidak membahayakan. Mungkin kau masih harus menginap disini sehari dua hari lagi." jawab Marvin serius.
Davina menghembuskan nafas kasar.
"Apakah kau bosan?" tanya Marvin membelai rambut panjang istrinya.
"Iya, aku bukanlah orang yang bisa berdiam diri." jawab Davina jujur.
"Aku tahu, Sayang. Tapi bersabarlah demi kesembuhanmu, oke?" sahut Marvin lembut.
"Hem.. Baiklah." ucap Davina pasrah.
"Kau ingin makan sesuatu?" tanya Marvin menawarkan.
Davina melirik buah segar yang ada dinakas.
"Aku mau apel." jawab Davina.
"Baiklah." sahut Marvin.
Davina tersenyum menatap Marvin yang sedang fokus mengupas dan memotong apel untuknya.
"Tidak menyangka kalau Tuan Muda Harris yang arogan ternyata bisa juga mengupas apel." ucap Davina.
"Kau meremehkan diriku?" tanya Marvin menoleh sekilas lalu kembali fokus dengan apel ditangannya.
"Hehe.. Tidak. Hanya saja aku cukup takjub dengan sisi lain dirimu." jawab Davina terkekeh pelan.
"Aku anggap itu pujian." sahut Marvin setelah itu menyuapkan potongan apel kepada Davina.
"Yang harus kau ingat adalah aku hanya menunjukkan sisi lainku hanya kepadamu." tambah Marvin.
"Baiklah. Aku memang menyukai suamiku yang bersikap lembut dan tersenyum hanya kepadaku." sahut Davina.
"Kau menggodaku?" tanya Marvin menarik pelan hidung mungil Davina.
"Aaw.. Kau ini, lama-lama hidungku bisa melebihi pinokio!" protes Davina kesal.
"Haha kau terlihat menggemaskan kalau kesal seperti itu." goda Marvin.
"Mas!" seru Davina memberikan tatapan tajam.
"Baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi." ucap Marvin menyadari kedua pipi istrinya sudah semerah tomat.
"Makanlah." kata Marvin kembali menyuapkan apel.
BRAK!
Tiba-tiba pintu terbuka cukup keras mengejutkan Marvin dan juga Davina. Munculah Julia dan Sera yang datang dengan tergesa.
"Sayang, bagaimana kabarmu?" tanya Sera segera menghampiri putrinya.
"Kau baik-baik saja, Nak?" tanya Julia menyusul dibelakangnya.
Davina tersenyum, Marvin memberikan ruang kepada kedua wanita itu.
"Davina baik-baik saja Bu, Nek." jawab Davina lembut.
"Apa kepalamu masih sakit?" tanya Sera khawatir.
Davina menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Apa kata dokter? Apa ada sesuatu yang berbahaya?" tanya Sera lagi.
"Ibu tenang saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Davina baik-baik saja." jawab Davina lagi.
"Syukurlah." sahut Sera kemudian memeluk putrinya erat-erat.
"Aku juga ingin memeluk cucu menantuku." sela Julia membuat ketiga wanita itu terkekeh bersamaan.
"Dimana Ayah?" tanya Davina.
"Ayahmu masih mengurus sesuatu." jawab Sera.
"Apa Ayah menemui Tuan Anton?" tanya Davina yang dijawab anggukan oleh Sera.
"Apakah Ayah tidak memberi kabar Ibu? Aku khawatir terjadi sesuatu." tanya Davina lagi.
"Kau tenang saja, Ayahmu itu sudah terbiasa melakukan itu. Ibu juga sudah memperingatkannya agar berhati-hati. Biarkan saja mereka menyelesaikan kesalahpahaman dimasalalu mereka." jawab Sera santai.
"Apakah Ibu juga tahu permasalahan apa yang terjadi antara Ayah dan Tuan Anton?" tanya Davina penasaran.
"Tentu saja. Apakah Ayahmu itu berani menyembunyikan sesuatu dariku?" kata Sera membuat Davina terkekeh.
"Haha Ibu benar. Jika Ibu ngambek sedikit saja Ayah sudah pasti galau setengah mati." sahut Davina membenarkan.
Suasana diruangan itu menjadi sangat hangat. Marvin yang sedari tadi melihat interaksi ketiga wanita dihadapannya ikut merasakan perasaan hangat lalu tersenyum lega.
...****************...
"Apa kau puas dengan menyanderaku seperti ini?" tanya Anton.
"Tidak. Aku hanya ingin memastikan kau merasakan akibatnya karena sudah mencelakai putriku." jawab Adam menyeringai.
"Sudah aku katakan kalau aku tidak melukai putrimu." sahut Anton membela diri.
"Ya, kali ini kau harus percaya padaku dan izinkan aku menemui putrimu." pinta Anton.
"Jangan harap! Tidak akan aku biarkan kau mendekati putriku!" seru Adam tegas.
"Heh.. Karena aku bertemu dengan putrimu membuatku tidak ingin membalas dendam kepadamu. Jangan lupa kalau aku belum meminta pertanggungjawabanmu karena telah membunuh orang terpenting dalam hidupku." ucap Anton.
Adam terkekeh pelan kemudian mendekati Anton yang sudah terikat disebuah kursi.
"Aku tidak pernah membunuhnya. Justru kaulah pembunuh sesungguhnya!" kata Adam membuat Anton mendelik.
"APA KATAMU?!" tanya Anton tak terima.
"Heh.. Bukankah kau sudah menerima surat yang kuberikan kepadamu? Jangan bilang kau belum membacanya? Atau kau memang terlalu pengecut untuk menerima kebenarannya?" tanya Adam menarik dagu Anton.
"Kau! Apa maksudmu?" tanya Anton lagi.
"Surat itu adalah surat yang ditulis Ariana sendiri sebelum ia bunuh diri. Aku tidak menduga jika orang yang dulu mengaku mencintainya justru menjadi penyebab utama untuk mengakhiri hidupnya." jawab Adam.
"Hentikan omong kosongmu itu! Kau sama sekali tidak pantas membahas dirinya!" seru Anton marah.
"Kau bisa membuktikannya sendiri setelah membaca surat itu. Kau masih menyimpannya bukan?" kata Adam mengingatkan.
Anton seketika terdiam. Mencoba mengingat kembali kenangan beberapa tahun silam.
"Masih ada waktu sebelum aku benar-benar menghabisimu." ucap Adam dingin.
"Pastikan dia dan anak buahnya tidak kabur!" pesan Adam memperingatkan.
"Baik Tuan!" sahut Thomas yang juga mengukiti Adam atas perintah Marvin.
__ADS_1
"Ayo kerumah sakit. Aku merindukan putriku." ajak Adam.
"Baik Tuan." sahut Orkan patuh.
"Apa maksud perkataannya? Apakah selama ini aku sudah salah menuduh?" Anton bertanya-tanya dalam hati.
"Tidak! Aku ingat sekali kalau dia yang menyakiti hati Riana." gumam Anton.
Anton teringat dengan sebuah surat yang masih tersimpan dijasnya yang belum sempat ia baca.
Ada keraguan juga ketakutan yang tiba-tiba menyelimuti dirinya.
"Bagaimana jika yang dikatakan Adam benar?" tanya Anton dalam hati.
...****************...
"Ayah?" sapa Davina melihat kedatangan Adam.
"Bagaimana keadaan putriku?" tanya Adam menghampiri Davina dan memberi belaian lembut dikepalanya.
"Aku baik-baik saja. Apakah Ayah sudah bertemu Tuan Anton?" tanya Davina penasaran.
"Ya, Ayah juga sudah memberinya sedikit pelajaran." jawab Adam santai.
"Hem... Apakah Ayah sudah tahu apa motifnya menargetkan kami?" tanya Davina lagi.
"Dia masih tidak mau mengakuinya. Tapi tenang saja, Ayah pasti akan membuatnya buka mulut." jawab Adam.
"Baiklah. Ayah harus tetap berhati-hati." ucap Davina mengingatkan.
"Oh apa ini? Aku baru saja mendengar putriku akhirnya mengkhawatirkanku?" goda Adam.
"Ayah... Aku hanya tidak mau Ibu sedih. Jadi Ayah harus menjaga diri baik-baik." sahut Davina.
"Ah.. Apa yang aku harapkan, ternyata putriku tidak peduli padaku. Benar-benar menyakitiku." ucap Adam dengan ekspresi sedih.
"Haha berhenti bercanda Ayah. Wajah Ayah sama sekali tidak cocok bertingkah manja seperti itu." ledek Davina.
Percakapan ayah dan anak itu sontak memancing tawa kecil Julia, Sera dan juga Marvin.
"Sudahlah jangan mengganggu putrimu. Biarkan dia beristirahat." sela Sera.
"Hem, ibumu benar Nak. Istirahatlah agar cepat sembuh." ucap Adam lembut lalu mengecup kening putrinya.
"Ada beberapa hal yang masih harus kuselesaikan." tambah Adam.
"Kau ikutlah keluar denganku!" ucap Adam menatap Marvin serius.
"Baik, Yah." sahut Marvin patuh mengikuti ayah mertuanya.
"Apa yang ingin dilakukan Ayah?" tanya Davina membuat langkah Adam dan Marvin terhenti.
"Jangan khawatir, ini urusan pria." jawab Adam menyeringai.
"Awas saja kalau Ayah menyakiti suamiku." ucap Davina memperingatkan.
"Astaga, tega sekali kau mengancam Ayah? Sepertinya posisiku memang sudah tergantikan." sahut Adam memancing tawa kecil Sera dan Davina.
"Tenang saja, Ayah pastikan tidak akan ada yang berkurang dari tubuh suamimu." kata Adam lagi.
"Hem. Aku percaya pada Ayah." sahut Davina.
-BERSAMBUNG
__ADS_1