Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 117 Harmonis


__ADS_3

"Sssh.."


"Sudah kubilang tunggu dimeja makan saja, tapi keras kepala sekali. Lihatlah lukamu terbuka lagi." kata Davina marah saat melihat perban dilengan Marvin ada bercak merah.


"Nak, jangan terlalu galak dengan suamimu." ucap Sera menasehati.


"Duduklah." kata Davina.


"Cih, manja sekali!" cibir Adam yang tiba-tiba sudah berada diruang makan.


"Bukankah Marvin terluka karena ulah Ayah?" sindir Davina membuat Adam meringis.


"Hanya luka kecil saja sudah manja begitu. Bagaimana dia bisa melindungimu dimasa depan?" cibir Adam lagi membuat Sera memberi tatapan tajam kepadanya.


"Iya beruntung semalam pelurunya meleset. Bagaimana kalau lukanya fatal? Apakah Ayah berniat untuk membunuh menantu Ayah?" tanya Davina kesal.


"Aku hanya menguji kemampuannya, pantas untuk menjadi suamimu atau tidak." jawab Adam tak mau kalah.


"Ehem! Kau tidak lupa janjimu semalam kan?" sela Sera mengingatkan.


Adam menghembuskan nafas kasar kemudian menatap Davina dan Marvin bergantian.


"Vina, Marvin... Maafkan Ayah, Nak." ucap Adam.


"Hanya itu saja?" ucap Sera dingin.


"Ayah sudah tahu salah. Maafkan Ayah ya?" kata Adam lagi.


Marvin terdiam ia tidak tahu harus berkata apa dan memilih untuk menganggukkan kepalanya dengan senyuman canggung.


"Kali ini Vina maafkan Ayah. Tapi tidak jika ada lain kali." ucap Davina.


"Baiklah. Kau dengar, Sayang? Putriku sudah bisa mengancam ayahnya sendiri demi pria yang baru dikenalnya." kata Adam mengadu kepada istrinya.


"Biarkan saja. Itu semua karena ulahmu sendiri." sahut Sera dingin.


"Ah kalian membuatku tersiksa." gumam Adam.


"Sayang lihatlah dua anak muda itu. Kau tidak ingin menyuapiku juga?" rengek Adam yang melihat kemesraan anak dan menantunya.


"Cepatlah makan sebelum dingin." kata Sera.


"Kau tidak lagi peduli padaku?" tanya Adam dengan wajah memelas seketika membuat Davina dan Marvin menahan tawanya.


"Kau memalukan sekali. Ingatlah umurmu." ucap Sera jengah dengan kelakuan suaminya.


Melihat Sera yang hanya memberikan tajam kepadanya, mau tidak mau Adam mulai menyantap makanannya sendiri. Davina dan Sera menggeleng-gelengkan kepalanya sedangkan Marvin hanya diam tak bereaksi apapun karena takut dengan Adam.


"Rupanya Tuan Carlos memiliki sisi lain yang lucu juga." gumam Marvin.


Setelah sarapan, Sera kembali kekamar disusul Adam yang masih berusaha membujuk istrinya.


"Kau tunggu disini, aku mau mengambil perban dulu setelah itu kita jalan-jalan ke taman belakang." ucap Davina yang diangguki oleh Marvin.


Tak berselang lama, Davina kembali membawa kotak P3K kemudian mengajak Marvin menuju ke taman belakang kediaman Carlos. Davina dan Marvin duduk di gazebo yang terdapat ditaman itu. Davina meminta Marvin untuk membuka kaosnya. Davina melepas perban dilengan Marvin dan menyeka darahnya dengan hati-hati lalu kembali membalutnya dengan perban baru.

__ADS_1


"Bunga-bunga disini indah sekali. Terlihat dirawat dengan baik." ucap Marvin takjub.


"Iya, ibuku sangat menyukai taman ini." sahut Davina.


Davina mengerutkan kening saat melihat ekspesi Marvin berubah sendu.


"Mas kenapa? Apakah lukanya masih sakit?" tanya Davina panik.


Marvin menggelengkan kepalanya kemudian menarik Davina kedalam pelukannya.


"Aku hanya merindukan orangtuaku." ucap Marvin lirih.


Davina tersentuh. Davina bisa merasakan kerinduan Marvin, ia pun membalas pelukan dan membelai lembut punggung suaminya.


"Kita akan mengunjungi orangtuamu setelah pelatihanmu selesai." kata Davina mencoba menghibur suaminya.


"Iya, istriku. Terimakasih." sahut Marvin.


"Jangan sedih lagi, oke?" ucap Davina melepas pelukannya dan menatap lekat wajah tampan suaminya.


"Terimakasih, Sayang." kata Marvin lembut.


"Untuk?" tanya Davina.


"Berkatmu, aku bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga lagi." jawab Marvin membuat Davina tertegun.


Davina tersenyum kemudian mengecup pipi Marvin bergantian.


"Aku senang kau mau menunjukkan sisi lemahmu kepadaku." kata Davina membuat Marvin terkekeh.


Kali ini Davina yang terkekeh pelan.


"Bukan begitu maksudku, Mas. Aku senang kau mau mengatakan isi hatimu kepadaku, berbagi suka duka kepadaku. Saat bersamaku, kau benar-benar bukan Marvin Harris seperti yang dirumorkan. Aku curiga apakah kau sedang bersandiwara dihadapanku atau dihadapan orang lain?" kata Davina membuat Marvin tersenyum.


"Hanya bersamamu, aku bisa menjadi diriku sendiri. Sedangkan dihadapan orang lain, aku terlahir sebagai penerus keluarga Harris. Aku harus membuat orang lain takut kepadaku." ucap Marvin jujur.


"Tak berbeda dengan dirimu. Aku tahu kau terlahir sebagai keturuan Carlos tapi aku sangat berharap kau bisa lebih bersikap manja kepadaku." kata Marvin lagi.


Davina menatap Marvin lekat kemudian merapikan rambut suaminya itu.


"Maaf kalau aku masih bersikap acuh tak acuh padamu. Tapi aku akan terus berusaha untuk menjadi istri yang baik bagimu. Berikan aku waktu, oke?" ucap Davina.


Marvin mengecup kening Davina cukup lama.


"Jangan terlalu memaksakan dirimu. Aku tidak keberatan sama sekali. Bagiku, kau sudah mau membuka hatimu untukku itu sudah cukup. Biarkan waktu yang memumpuk cinta kita, Sayang. Tetaplah menjadi dirimu sendiri." kata Marvin seketika membuat Davina tak bisa berkata-kata.


"Aku benar-benar beruntung menikah denganmu." ucap Davina memeluk Marvin.


"Kita sama-sama beruntung, Sayang." sahut Marvin.


Setelah puas menghabiskan waktu berdua, Davina baru teringat akan Nenek Julia.


"Astaga, Nenek belum sarapan. Ayo kita kekamar Nenek." ajak Davina.


"Baiklah." sahut Marvin terkekeh.

__ADS_1


Davina membawa nampan yang sudah berisi sarapan untuk Julia.


TOK TOK!


Melly membukakan pintu dan mengambil alih nampan yang dibawa Davina.


"Nenek sudah bangun?" tanya Davina.


"Sudah Nyonya Muda. Nenek sedang mandi." jawab Melly sopan.


"Kau mandilah dulu dan juga sarapan." ucap Davina.


"Baik, saya permisi." kata Melly berpamitan.


CEKLEK!


Julia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar.


"Nenek, bagaimana keadaan Nenek?" sapa Davina.


"Nenek baik-baik saja, Sayang." sahut Julia membuat Davina bernafas lega.


"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Julia kepada cucunya.


"Marvin baik-baik saja, Nek." jawab Marvin.


"Nenek, maafkan Vina." ucap Davina seketika membuat Julia bingung.


"Maaf untuk apa, Nak?" tanya Julia heran.


"Marvin terluka karena melindungi Vina. Kejadian semalam merupakan rencana Ayah untuk menguji kemampuan Marvin. Nenek maafkan Ayah Vina, ya?" kata Davina merasa bersalah.


Julia menatap Marvin dan diberi anggukan oleh cucu semata wayangnya itu. Julia tersenyum kemudian menghampiri Davina. Julia mengusap lembut kepala Davina.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Nak. Kau tidak usah merasa bersalah. Nenek paham maksud ayahmu." ucap Julia lembut.


"Nenek tidak marah?" tanya Davina memastikan.


Julia menggelengkan kepalanya.


"Untuk apa Nenek marah? Meskipun kejadian semalam tidak direncanakan oleh ayahmu, Nenek juga tidak akan keberatan. Marvin adalah suamimu, sudah seharusnya dia melindungimu." jawab Julia.


"Lagipula identitasmu tidaklah biasa, Nak. Benar kalau ayahmu ingin menguji kemampuan Marvin." tambah Julia lagi.


"Apakah Nenek tidak akan menyalahkan aku kalau Marvin terluka karena melindungiku?" tanya Davina membuat Julia terkekeh.


"Dia adalah suamimu, Nak. Sudah sepatutnya dia mengorbankan nyawanya untukmu. Nenek rasa Marvin akan menjadi gila kalau kau yang terluka." jawab Julia sambil melirik Marvin yang tersenyum kikuk.


Davina tersenyum lega mendengar perkataan Julia.


"Nenek harap kalian selalu bahagia, Nak. Semoga kalian saling mencintai sampai maut memisahkan kalian. Hanya itu harapan Nenek untuk kalian." ucap Julia membuat Davina dan Marvin tersentuh.


"Aku pasti akan menjaga istriku dengan baik, Nek." ucap Marvin bertekad.


"Terimakasih, Nek." sahut Davina.

__ADS_1


-BERSAMBUNG


__ADS_2