Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 71 Masa Lalu


__ADS_3

"Aku tadi bertemu dengan Davina." ucap Amel.


UHUK!


Nathan tersedak kemudian segera meneguk minumannya.


"A-apa yang kau katakan, Sayang?" tanya Nathan.


"Kau pasti sudah melihatnya lebih dulu bukan?" tebak Amel curiga.


"Hem.. Aku memang melihat dia tadi." jawab Nathan jujur.


"Apa kau berharap dia menyapamu?" tanya Amel penuh selidik.


"Apa maksudmu?" tanya Nathan heran.


"Jawab saja pertanyaanku! Apa kau tadi berharap dia melihatmu lalu memanggilmu?" tanya Amel lagi.


"Apa yang kau pikirkan, Sayang? Jangan konyol!" jawab Nathan tak suka.


"Kau masih menyimpan perasaan kepadanya kan?" tanya Amel lagi semakin membuat Nathan kesal.


"Jangan ajukan pertanyaan-pertanyaan yang memancing keributan." ucap Nathan memperingatkan.


"Jadi benar kan tebakanku? Kau jujur saja." kata Amel semakin menggila.


Nathan menghembuskan nafas kasar.


"Jangan menebak-nebak sesuatu yang membuat hatimu tersakiti. Aku memang melihatnya tapi semua tuduhanmu itu benar-benar konyol." ucap Nathan.


"Lalu kenapa kau tidak langsung memberitahuku kalau kau melihat Davina?" tanya Amel lagi.


"Aku tidak memberitahumu karena tidak ingin membuatmu overthinking." ucap Nathan mencoba untuk sabar.


Amel menatap Nathan serius seolah mencari kebohongan diwajah suaminya itu.


"Lagipula aku melihatnya bersama seorang pria. Dan aku kesini juga bersamamu, untuk menemanimu." tambah Nathan lagi.


"Apa kau kecewa? Atau jangan-jangan kau memang merindukan mantan kekasihmu itu? Apakah menemaniku kesini hanyalah sebagai kedok untukmu karena tujuanmu sebenarnya untuk mengenang masa lalumu, iya kan?" tuduh Amel lagi-lagi membuat Nathan emosi.


"Jangan ngawur! Aku sudah berkata jujur tapi kau terus-terusan menuduhku. Apa sebenarnya inginmu?" tantang Nathan yang sudah sangat kesal dengan pemikiran bodoh istrinya.


"Kenapa kau marah? Kalau memang tuduhanku tidak benar, kau tidak perlu emosi seperti itu!" kata Amel.


"Astaga! Apa yang harus kulakukan, hah?" tanya Nathan lelah.


"Tuh kan, kau marah lagi. Dugaanku pasti benar." tuduh Amel lagi.


"Entahlah, terserah kau mau berpikiran apa saja. semua yang aku katakan tetap saja salah. Anggap saja semua dugaanmu itu benar." sahut Nathan.


"Jadi benar kan? Sekarang kau mengakuinya?" tanya Amel membuat kedua bola mata Nathan melotot.

__ADS_1


"TERSERAH!" sahut Nathan setelah itu menuju kasir untuk membayar lalu meninggalkan Amel begitu saja.


"Hei, kau mau kemana?" teriak Amel bingung.


"Apa jangan-jangan dia benar-benar ingin mengejar Davina? Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." gumam Amel bergegas menyusul suaminya.


...****************...


"Ayah sudah bertemu dengan Vina?" tanya Sera menyambut kedatangan Adam Carlos.


"Iya, sudah." jawab Adam.


"Bagaimana keadaannya? Baik-baik saja kan?" tanya Sera memastikan.


Setelah mendengar kabar kalau Davina bertemu dengan Anton, tak bisa dipungkiri Sera sangat khawatir.


"Tenang saja istriku, anak kita baik-baik saja. Lagipula aku juga sudah bertemu dengan suami anak kita." jawab Adam.


"Ayah tidak menakuti menantu kita kan?" tanya Sera khawatir.


"Tidak. Aku hanya memberikan salam perkenalan kepadanya." jawab Adam dengan senyum menyeringai.


"Dasar orangtua jahil! Ingat umur." ucap Sera.


"Hei, umur boleh tua tapi semangat tetap muda. Lagipula penampilanku saat masih muda lebih keren daripada anak muda Harris itu. Entah bagaimana putri kita bisa jatuh cinta padanya. Jelas-jelas ayahnya ini sepuluh kali lipat lebih tampan dari suaminya." kata Adam menyombongkan diri.


"Dasar narsis! Ayah saja yang terlalu menilai tinggi diri sendiri. Aku yakin selera putri kita sangat bagus dan tidak mengecewakan." sahut Sera.


"Tentu saja. Sama seperti selera ibunya kan?" goda Adam.


"Haih.. Kau masih saja tidak mau mengakuinya." ucap Adam.


"Iya iya. Suamiku yang tampan, gagah perkasa dan bijaksana." kata Sera membuat Adam terkekeh.


"Aku mencintaimu, istriku." ucap Adam seraya memeluk Sera.


"Masih merasa anak muda saja. Love you too, suamiku." sahut Sera malu-malu.


"Sepertinya nanti malam aku akan mendapat hadiah istimewa." goda Adam.


"Mimpi saja!" kata Sera segera melepaskan diri lalu meninggalkan Adam.


"Sayang, kau mau kemana?" tanya Adam namun tak mendapat sahutan dari Sera.


"Istriku benar-benar menggemaskan. Apalagi kalau malu-malu seperti itu." gumam Adam menyeringai.


"Sayang, tunggu aku!" teriak Adam lalu bergegas mengejar istrinya.


"Permisi Tuan, ada yang ingin saya sampaikan." ucap Darwin tiba-tiba menghentikan langkah Adam.


"Ayo ke ruanganku." ajak Adam.

__ADS_1


"Baik Tuan." sahut Darwin kemudian berjalan dibelakang tuannya.


"Katakan." titah Adam setelah keduanya berada diruangan kerja.


"Ada laporan kalau Tuan Millano berada dikota K." ucap Darwin.


"Kau tahu apa yang ia lakukan disini?" tanya Adam.


"Kami masih menyelidikinya, Tuan." jawab Darwin.


"Kau laporkan padaku lagi jika informasinya sudah lengkap." titah Adam dingin.


"Baik Tuan." sahut Darwin patuh.


"Satu lagi, pastikan bahwa Anton tidak akan mengetahui identitas Davina. Karena pria itu sudah pernah menemui putriku, aku yakin ia akan sangat tertarik dengan kepribadian Davina dan menyelidikinya. Jangan sampai identitas anakku bocor!" ucap Adam memperingatkan.


"Baik Tuan. Saya pastikan identitas Nona aman." sahut Darwin.


"Oke, jangan kecewakan aku." ucap Adam setelah itu mengibaskan tangannya agar Darwin keluar dari ruangannya.


"Sepertinya aku harus memperingatkan si tikus kecil itu. Aku harap dia benar-benar bisa melindungi putri kesayanganku." batin Adam.


"Ariana, harus berapa lama lagi aku menutupi kebenaran ini?" gumam Adam menghembuskan nafas kasar lalu menyandarkan punggungnya.


...****************...


"Bagaimana? Apakah ada informasi tentang istri dan anak Carlos?" tanya Anton.


"Saya tidak bisa menemukan apapun Tuan." jawab Robert.


"Dasar bodoh! Sepertinya aku perlu mengganti posisimu." ancam Anton.


"Jangan, Tuan. Berikan saya waktu lagi." sahut Robert ketakutan.


"3 hari. Aku ingin kau bisa menemukan identitas istri dan anak Carlos dalam waktu 3 hari." kata Anton.


"Baik Tuan." sahut Robert setelah itu meninggalkan Anton.


"Tak kusangka kemampuanmu lumayan hebat. Tapi darah keturunan Millano pasti mampu melawanmu, Carlos." batin Anton menyeringai.


Anton membuka lacinya lalu mengambil sebuah bingkai foto dan menatapnya dengan sendu.


"Seandainya kau tidak jatuh cinta pada pria itu, pasti kau masih ada disini bersamaku." ucap Anton lirih.


"Kenapa? Kenapa yang ada dihatimu bukan aku?" tanya Anton yang mulai menitikkan airmatanya.


"Kenapa kau memilih mengakhiri hidupmu demi pria yang tak mencintaimu?" tangis Anton semakin pecah seraya memeluk bingkai foto erat-erat.


"Tenang saja. Aku pasti akan membuat perhitungan dengan pria bajingan itu. Aku tidak akan membiarkannya hidup bahagia diatas penderitaanmu." ucap Anton penuh tekad.


"Davina. Istri anak muda Harris itu menarik juga. Aku akan menemuinya setelah urusanku dengan Carlos selesai." gumam Anton yang tiba-tiba teringat pertemuannya dengan Davina.

__ADS_1


"Aku juga harus menyelidiki identitasnya. Jangan sampai kecolongan sedikitpun. Aku harap dugaanku salah gadis kecil." batin Anton.


-BERSAMBUNG


__ADS_2