
"Tumben sekali kau berinisiatif mengajakku?" tanya Marvin.
"Apakah aku tidak boleh melakukannya?" tanya Davina membuat Marvin tersenyum.
"Tentu saja kau boleh melakukan apapun yang kau mau." jawab Marvin.
"Sudahlah fokus dengan kemudimu." sahut Davina.
"Dia masih saja terlihat sangat menggemaskan kalau tersipu begitu. Aku jadi ingin memakannya saja." gumam Marvin dengan senyum menyeringai.
"Apa yang sedang dipikirkan pria ini? Ekspresinya mencurigakan sekali." batin Davina menyadari keanehan suaminya.
Setelah mengganti pakaian, Davina dan Marvin kembali melanjutkan perjalanannya.
"Kemana tujuan kita sekarang?" tanya Marvin.
"Tidak jauh lagi, aku akan memberitahumu kalau sudah sampai." jawab Davina.
"Baiklah." sahut Marvin menuruti istrinya.
"Berhentilah disini." ucap Davina seketika Marvin menghentikan mobilnya.
"Disini?" tanya Marvin heran saat melihat tempat yang tidak asing baginya.
"Ayo turun." ajak Davina dan diikuti oleh Marvin.
"Kenapa kau kesini?" tanya Marvin.
"Bukankah ini adalah tempat dimana kau pertama kali melihatku?" tanya Davina mengingatkan Marvin.
"Benar. Saat itu aku melihat gadis yang duduk seorang diri dan menangis." jawab Marvin jujur.
"Apakah saat itu aku terlihat sangat menyedihkan?" tanya Davina malu.
"Itu wajar bagi seorang gadis muda yang sedang patah hati sepertimu." jawab Marvin.
"Kau benar. Tapi aku hanya menangisi diriku yang sangat bodoh. Bisa tertipu dengan seorang pria." sahut Davina.
"Apakah kau baik-baik saja? Apakah kau masih tidak bisa memaafkannya? Biar aku yang memberi pelajaran kepada orang-orang yang berani menyakitimu." ucap Marvin tegas.
Davina terkekeh kemudian menarik lengan suaminya.
"Kau berlebihan sekali. Semua itu sudah berlalu. Jika tidak ada kejadian itu, aku tidak akan sadar tentang perasaanku sendiri. Selain itu, aku juga tidak akan mengenalmu bukan?" ucap Davina membuat Marvin tersenyum.
__ADS_1
"Apakah kau tidak menyesal bersamaku?" tanya Marvin.
"Apa yang membuat suamiku bicara seperti itu? Apakah kau tidak yakin dengan kemampuanmu sendiri?" tanya Davina membuat Marvin terdiam.
Davina mencubit hidung mancung suaminya dengan gemas.
"Apakah Tuan Muda Harris sangat lemah jika berhadapan dengan masalah perasaan? Kau begitu tidak percaya diri." ucap Davina.
"Bukan aku tidak percaya diri, hanya saja aku masih tidak menyangka kalau kau akhirnya menerimaku." sahut Marvin jujur.
"Apakah kau merasa seperti mimpi?" tanya Davina lagi.
"Bisa dibilang begitu." jawab Marvin membuat Davina merasa bersalah.
"Maaf, sepertinya aku tidak cukup baik memperlakukanmu selama ini. Maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama dan berjuang sendirian demi hubungan ini." kata Davina menyandarkan kepalanya dibahu suaminya.
"Apa yang kau katakan? Tidak perlu ada maaf diantara kita. Lagipula semua yang kulakukan sekarang tidak sia-sia bukan?" kata Marvin memancing senyum diwajah Davina.
"Ya, kau benar. Mulai hari ini aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian. Kita akan menghadapi segalanya bersama. Kau mau kan?" ucap Davina.
"Baiklah, aku patuh apapun kata istriku." sahut Marvin menyentil hidung mungil Davina.
"Aaw sakit." rengek Davina.
"Kau terlihat sangat manis kalau seperti itu. Aku senang kau tidak lagi menjaga jarak denganku dan bisa menunjukkan sisi lembutmu kepadaku." ucap Marvin puas.
"Apakah kepalamu baru saja membentur sesuatu? Kau tidak lupa dengan tingkah liarmu itu kan? Bahkan berkali-kali kau pernah menyerangku." ucapan Marvin membuat Davina terkekeh.
"Haha baiklah-baiklah. Aku salah. Maaf, kedepannya aku pasti akan bersikap lembut padamu." sahut Davina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak perlu memaksakan dirimu. Aku tidak keberatan dengan sifatmu. Apapun itu aku akan tetap menerimamu. Jadilah dirimu sendiri." kata Marvin membuat Davina tertegun.
"Terimakasih suamiku, kau baik sekali." puji Davina seketika memberikan pelukan hangat kepada suaminya.
Marvin membalas pelukan itu dan tersenyum puas.
"Aku akan mencintaimu seumur hidupku, kelinci liarku." gumam Marvin bertekad dalam hati.
"Ckck.. Benar-benar kisah cinta yang sangat indah. Aku jadi terharu melihatnya." ucap Anton yang sedari tadi mengawasi Davina dan Marvin.
"Aku jadi penasaran bagaimana pasangan muda seperti kalian bisa bertahan dengan goncangan yang akan aku timbulkan." batin Anton menyeringai.
"Ayo jalan." titah Anton.
__ADS_1
"Baik Tuan." sahut Robert patuh lalu menginjak gasnya.
...****************...
"Ayah baik-baik saja?" tanya Sera khawatir.
"Apa yang kau khawatirkan? Bukankah suamimu ini kembali dengan utuh?" tanya Adam.
"Kau sudah membuatku tidak tenang. Bagaimana kau bisa mengambil cara beresiko seperti ini? Bagaimana kalau Anton tidak melepaskanmu? Apa kau sama sekali tidak memikirkanku?" protes Sera memarahi suaminya.
"Maaf aku yang tidak mempertimbangkannya dengan baik dan membuatmu cemas. Tapi kalau tidak mau masuk kekandang musuh bagaimana kita mau melawannya?" sahut Adam.
"Percuma saja aku mengkhawatirkanmu." gerutu Sera memanyunkan bibirnya.
"Jangan marah lagi. Aku sudah tahu kalau aku salah. Maafkan suamimu ini ya?" ucap Adam lembut.
"Hem.. Kali ini aku akan memaafkanmu. Tapi kalau kedepannya seperti ini lagi, aku tidak akan segan untuk menghukummu." kata Sera memperingatkan.
"Baiklah, aku patuh." sahut Adam mengalah.
"Apakah kau yakin cara ini akan berhasil?" tanya Sera kembali khawatir.
"Aku tidak yakin. Tapi setidaknya bisa memberinya peringatan agar tidak menggangu anak kita." jawab Adam.
"Aku rasa dia tidak akan menyerah begitu saja." ucap Sera.
"Kau benar. Tapi setidaknya kita sudah mencoba untuk meluruskan kesalahpahaman ini. Entah dia akan menerimanya atau tidak, biarlah itu menjadi urusannya. Asalkan dia tidak lagi mengusik keluarga kita maka aku tidak akan bertindak." kata Adam tegas.
"Baiklah. Semoga saja masalah ini cepat selesai. Aku sangat ingin hidup tenang dan menanti kehadiran cucu kita." harap Sera.
"Ngomong-ngomong masalah cucu, aku jadi ingat sesuatu." ucap Adam menyeringai.
"Apa itu?" tanya Sera penasaran.
"Aku ingin memberikan adik untuk putri kita." jawab Adam membuat Sera terkejut.
"Dasar tidak tahu malu! Ingat usia kita sekarang! Lagipula kau sudah membuatku khawatir setengah mati, jangan harap aku berbaik hati padamu!" umpat Sera kesal meninggalkan Adam penuh amarah.
"Istriku masih cantik saja kalau marah seperti itu. Aku ingin melihat seberapa kuat kau bisa menahan godaan suami tampanmu ini." gumam Adam menyeringai.
"Dasar pria mesum! Sudah berapa umurnya kenapa masih saja bertingkah seperti itu! Apakah seorang pria semakin tua semakin pandai merayu?" gerutu Sera dalam hati.
"Apa aku dulu buta? Mau menikah dengan pria sepertinya? Bagaimana kalau seluruh dunia tahu sikap asli seorang Adam Carlos? Aku rasa mereka pasti akan menertawakannya. Seorang mafia yang terkenal sangat kejam ternyata sangat tidak tahu malu." batin Sera mengutuk suaminya sendiri.
__ADS_1
"Davina, cepatlah kau melahirkan seorang cucu untuk kami. Ibumu ini sungguh tidak sanggup melawan ayahmu yang mesum itu." harap Sera.
-BERSAMBUNG