Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 7 Tuan Muda Harris


__ADS_3

Suara dering ponsel memecahkan fokus Marvin yang sibuk dengan berkas dimejanya. Marvin mengambil ponselnya dan tertera nama neneknya yang sedang menelpon.


"Halo, Nek." sapa Marvin sopan.


"Kau tidak lupa dengan agendamu sore nanti kan?" tanya Julia mengingatkan.


"Nek, sudah berapa kali kubilang jangan adakan kencan buta lagi untukku." protes Marvin.


Mungkin ini sudah gadis yang ke 30 yang dikenalkan oleh sang nenek.


"Tahun ini umurmu sudah 30 tahun tapi belum ada tanda-tanda kalau kau menjalin hubungan dengan seorang gadis. Apa salahnya Nenek mencoba mencarikanmu jodoh?" kata Julia memberi alasan.


"Nek.. Apakah nenek mengira aku ini tidak laku?" gerutu Marvin.


"Memang kenyataannya seperti itu. Sampai sekarang kau tidak pernah membawa gadis kerumah dan mengenalkannya kepada Nenek." sahut Julia membenarkan.


Marvin menghela nafas panjang, apa yang dikatakan neneknya memang benar. Tapi bukan berarti Marvin tidak laku. Banyak gadis yang mengejar dan berusaha mendekati dirinya, tak terkecuali gadis-gadis dari keluarga terpandang. Hanya saja Marvin sangat risih dengan gadis-gadis yang menempel kesana kemari dan mudah sekali memberikan tubuhnya kepada seorang pria. Bagi Marvin, gadis yang bisa menjaga marwahnya adalah yang paling tepat untuk dijadikan pasangan hidup.


"Tenang saja, kali ini gadis yang dipilih Nenek pasti tidak mengecewakan." ucap Julia meyakinkan.


"Nek, bisakah aku menolaknya?" tanya Marvin mencoba bernegosiasi dengan neneknya.


"Apa kau punya alasan yang bisa membuat Nenek merubah keputusan?" kata Julia balik bertanya.


"Aku sudah menemukan calon istriku, Nek." jawab Marvin lembut.


"Siapa? Gadis yang menyakitimu kemarin? Gadis yang namanya saja tidak kau ketahui? Jangan konyol!" ucap Julia memberondong.


"Aku sudah tahu namanya, Nek. Aku pastikan gadis pilihanku akan membuat Nenek senang." sahut Marvin percaya diri.


"Kau tidak berbohong pada Nenek, kan?" tanya Julia penuh selidik.


"Tidak, Nek. Aku Marvin Harris akan mendapatkan cucu menantu terbaik untuk Nyonya Besar Harris." jawab Marvin mantap mengundang tawa kecil Julia.


"Sejak kapan cucuku menjadi narsis begini?" tanya Julia heran.


"Nenek pasti akan terpesona dengan gadis yang sedang aku kejar ini." ucap Marvin meyakinkan.


"Sepertinya kau yakin sekali?" ucap Julia meremehkan.


"Aku akan membuktikannya, Nek. Gadis yang ku temui ini sangatlah menarik." kata Marvin antusias.


"Bagaimana kalau gadis itu tidak bisa membuat Nenek tertarik?" tanya Julia.


"Aku akan menikah dengan gadis pilihan Nenek. Tapi tolong beri Marvin waktu satu tahun untuk mengejar gadis itu." jawab Marvin membuat Julia tercengang.


"Gadis seperti apa yang membuatmu begitu berani, Cucuku? Nenek menantikan bertemu dengan gadis pujaanmu itu." gumam Julia.


"Baik, Nenek setuju." ucap Julia mantap.


"Terimakasih Nenekku sayang. Jadi mulai hari ini dan selama satu tahun ini, Nenek tidak akan menjadwalkan kencan buta untukku lagi." jelas Marvin.


"Oke, Nenek menantikan siapa gadis yang membuat bujang lapuk sepertimu percaya diri sekali." ejek Julia.


"Nenek tega sekali mengatai cucunya sendiri." gerutu Marvin tak terima dengan perkataanya neneknya.

__ADS_1


"Itu kenyataan. Yasudah berjuanglah menaklukkan calon cucu menantuku itu." ucap Julia memancing senyuman diwajah Marvin.


"Oke, Nek." sahut Marvin bersemangat, setelah itu panggilan suara pun berakhir.


Marvin menghembuskan nafas lega kemudian munculah senyum tipis diwajahnya.


"Namanya Davina. Kos dan kampusnya aku sudah mengetahuinya. Hanya saja gadis itu punya kepribadian yang sangat kuat. Serangannya kemarin saja masih membekas sampai sekarang. Harus bagaimana aku mendekatinya?" gumam Marvin penuh pertanyaan.


"Apakah aku harus bertanya pada Johan bagaimana menjinakkan wanita? Ah tidak mungkin. Johan saja selalu berada disisiku. Setahuku dia juga tidak pernah berkencan dengan siapapun." ucap Marvin dalam hati.


"Davina.. Davina.. Harus bagaimana aku mulai mengejarmu?" tanya Marvin yang bingung.


Entah dengan cara apa Marvin akan menaklukan Davina? Rahasia dong! 🤗


*


*


*


Hari sudah sore, Davina yang sudah selesai kelas bergegas kembali menuju kosnya. Namun didepan gerbang kampus, Luna menghentikan langkahnya.


"Ada apa lagi, Lun?" tanya Davina tanpa ekspresi.


"Aku ingin membahas sesuatu yang penting." jawab Luna dengan wajah serius.


"Pembahasan seperti tadi pagi yang kau maksud?" sindir Davina.


"Tidak. Ini tentang keselamatanmu." jawab Luna membuat Davina mengernyitkan keningnya.


"Kita bicara di kafe saja." ajak Davina yang langsung disetujui oleh Luna.


Setelah memesan dua jenis minuman dan beberapa makanan ringan, Davina langsung memberikan tatapan tajam kepada Luna.


"Jangan menatapku seperti itu. Kau menakutkan sekali." ucap Luna bergidik ngeri.


"Jelaskan apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Davina tanpa basa-basi.


"Sebenarnya ini belum pasti sih. Masih sebatas tebakanku saja. Aku hanya ingin memperingatkanmu." jawab Luna membuat tatapan Davina semakin tajam kepadanya.


"Baik, baik. Aku akan menceritakannya. Tapi tolong jangan menatapku seolah-olah aku ini adalah mangsa yang ingin kau terkam." ucap Luna ketakutan.


"Aku akan memakanmu kalau ceritamu tidak memuaskan untukku." kata Davina dingin.


"Kenapa aku mau berteman dengan manusia sepertimu?" tanya Luna heran namun hanya didalam hati.


Luna mencoba mengatur nafasnya kemudian mulai menyusun kata-kata yang akan disampaikan kepada Davina.


"Tadi pagi setelah kita ngobrol dan kau kembali ke kelas ada seorang pria yang menghampiriku." kata Luna memulai ceritanya.


"Dia menyatakan cinta padamu?" tanya Davina datar.


"Hey! Itu tidak mungkin." jawab Luna spontan.


"Lalu?" tanya Davina malas.

__ADS_1


"Pria itu mencoba menyelidiki tentangmu." jawab Luna membuat Davina memicingkan matanya.


"Menyelidiki aku?" tanya Davina yang tetap berwajah dingin.


"Iya. Dia bertanya padaku tentang dirimu. Tapi bukan menyelidiki juga sih, katanya dia ingin mengejarmu." jawab Luna jujur.


"Lalu apa yang kau katakan padanya?" tanya Davina penasaran.


"Awalnya aku sudah berusaha untuk tidak mengatakan apapun tentangmu. Tapi saat aku mengetahui siapa dia, terpaksa aku menyebutkan namamu." jawab Luna merasa bersalah.


"Siapa pria itu?" tanya Davina.


"Dia adalah tuan muda keluarga Harris, Marvin Harris." jawab Luna lirih tidak ingin ada orang lain yang mendengar ucapannya.


Nama Harris tidak bisa sembarangan orang bisa menyebutkan namanya. Apalagi kalau ada yang menyinggungnya, sudah dapat dipastikan orang itu tidak akan baik-baik saja.


"Umurnya yang 30 tahun itu sudah tidak bisa disebut muda lagi." ucap Davina ketus.


"Hey! Pelankan suaramu jangan sampai orang lain mendengarnya. Siapa tahu ada mata-mata dari keluarga Harris, tamatlah kita." bisik Luna ketakutan.


"Apa kau mengenalnya?" tanya Luna tersadar.


"Tidak. Hanya saja artikel tentangnya pernah muncul di beranda sosmedku." jawab Davina tak acuh.


"Oh aku pikir kau sudah mengenalnya. Sepertinya dia tertarik padamu." ucap Luna.


"Hah? Mana mungkin. Aku hanyalah gadis biasa, bagi keluarga Harris aku hanyalah butiran debu." elak Davina.


"Aku serius. Dia bilang ingin mengejarmu." ucap Luna menambahkan.


"Aih! Jangan mudah percaya omongan pria! Tampan, mapan, punya kekuasaan. Mungkin dia hanya ingin mencari mangsa untuk bermain-main saja." kata Davina.


"Tapi tampilannya tidak mencerminkan citra seorang palyboy sih." ucap Luna mengingat sosok Marvin yang baru saja ia temui tadi pagi.


"Jangan tertipu dengan covernya. Seekor serigala saja bisa berbulu domba." kata Davina yang disetujui oleh Luna.


Seorang pelayan datang membawa pesanan Davina dan menyajikannya diatas meja dengan rapi.


"Maafkan aku tadi sudah memberitahu namamu kepada pria itu. Aku ketakutan saat berhadapan dengannya. Aku terpaksa, Vin." ucap Luna kembali merasa bersalah.


"Oh iya, aku baru ingat. Latar belakang keluarga Harris sangat berbahaya. Aku juga merasa takut kalau ternyata pria itu punya niat buruk terhadapmu. Maaf atas kecerobohanku." tambah Luna merutuki kebodohannya.


"Sudahlah. Aku bisa mengatasinya." kata Davina namun tetap tanpa ekspresi.


"Apa kau marah padaku?" tanya Luna khawatir.


"Tidak. Sudah jangan bahas itu lagi." jawab Davina tersenyum tipis hanya untuk menenangkan temannya itu. Kalau tidak, bisa-bisa terjadi drama permohonan maaf hingga esok hari.


"Terimakasih, Vina. Kau memang temanku yang paling murah hati." puji Luna yang sudah lega.


"Sebagai gantinya, kau yang mentraktirku kali ini." ucap Davina membuat kesenangan Luna runtuh saat itu juga.


"Dasar kau! Baru saja aku memujimu. Kau teman yang perhitungan sekali." gerutu Luna kesal.


Davina tidak menanggapi ocehan temannya itu. Davina hanya fokus dengan hidangan yang ada dihadapannya. Luna yang menyadari Davina tidak mempedulikannya hanya semakin kesal dibuatnya.

__ADS_1


Dalam hati Davina ingin tertawa sangat keras, namun dirinya bisa menahannya. Sedari kecil, Davina sudah diajarkan bagaimana mengelola emosinya. Keluarga Carlos mengharuskan anggotanya untuk dapat menyembunyikan emosi mereka agar tidak mudah ditebak oleh musuh. Untuk itu Davina hanya memberikan tatapan datar dan dingin kepada orang-orang yang tidak akrab dengannya. Mungkin Luna bisa menjumpai senyuman Davina hanya beberapa kali saja.


-BERSAMBUNG


__ADS_2